Latar Belakang Pertemuan Pertama kali Habibie dengan Soeharto (Dari Buku Biografi Ibnu Sutowo)

Pujoko11/09/2019

Latar Belakang Pertemuan Pertama kali Habibie dengan Soeharto (Dari Buku Biografi Ibnu Sutowo)

Pujoko11/09/2019
Ibnu Sutowo

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SOLO – Presiden RI ke-3, Bacharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia pada Rabu (11/9/2019) sore. Putra kedua Habibie, Thareq Kemal Habibie memberi konfirmasi atas meninggal ayahanda tercintanya.

“Saya harus menyampaikan ini, Ayah saya, Presiden RI ke-3, BJ Habibie meninggal dunia pukul 18.05,” ungkap Thareq seperti dilaporkan Kompas.com.

Sebelum meninggal, pria kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 tersebut diketahui telah menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto.

BJ Habibie menjadi  Presiden RI ke-3 setelah menggantikan mantan Presiden RI ke-2, alm. Soeharto setelah lengser dari kursi kepresidenannya.

Bagaimana cerita pertama kali BJ Habibie bertemu dengan Soeharto? Ceritanya bisa diambil dari buku biografi Ibnu Sutowo, orang dekat mantan Presiden Soeharto pada jamannya.

Dalam buku biografi mengenai Ibnu Sutowo, Direktur Utama Pertamina pertama yang ditulis penulis biografi ternama, Ramadhan KH berjudul  Ibnu Sutowo, Saatnya Saya Bercerita! diterbitkan tahun 2008.

Dikisahkandalam buku tersebut, pertemuan Ibnu Sutowo dengan BJ Habibie sebagai pintu masuk pertemuannyadengan Presiden Soeharto kala itu.

Latar belakang pertemuan Habibie dengan Presiden Soeharto kala itu ditulis Ramadhan KH pada Bab 83 hal.303-308.

Ibnu Sutowo,menurut Ramadhan KH mendengar pertama kali nama Habibie dari dokter Sanger. Habibie saat itu bekerja di perusahaan pembuat pesawat terbang di Hamburg bernama Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB).

Ibnu Sutowo juga mendengar Habibie ingin menyumbangkan pengetahuan teknologi yang dipunyainya untuk pembangunan Indonesia.

Ibnu Sutowo mengetahui Habibie dari Duta Besar RI untuk Jerman di Bonn, Achmad Tirtosudiro. Itu terjadi tahun 1973.

Duta besar menceritakan kepandaian seorang Habibie dan ingin melamar untuk bekerja di Indonesia.

Ibnu Sutowo berfikir perusahaan mana di Indonesia yang bisa membayar gaji orang yang sudah bekerja di MBB?

Ibnu Sutowo yang sebelumnya, melalui Pertamina yang ia pimpin, telah mengirimkan SDM Indonesia keluar negeri untuk meningkatkan pendidikannya agar ikut serta membangun negara, meminta Achmad Tirtosudiro untuk dipertemukan dengan Habibie.Achmad pun segera menelpon Habibie untuk melakukan pertemuan dengan Ibnu Sutowo.

Sehari setelah pertemuan dengan Achmad Tirtosudiro tersebut, akhirnya Ibnu Sutowo bisa bertemu dengan Habibie. Pertemuan yang juga diikuti Achmad Tirtosudiro ini terjadi pukul sembilan pagi di Hotel Hilton Dusseldorf.

Dalam pertemuan tersebut, Ibnu Sutowo banyak bicara tentang Pertamina. Namun, tulis Ramadhan KH, Habibie tidak bisa mengikuti keterangan Ibnu Sutowo mengenai Pertamina.

Habibie menurut Ibnu Sutowo, seperti ditulis Ramadhan KH (dengan mengambil tulisan dalam buku IPTN,Carrying Indonesia Toward High Technology yang diterbitkan A Panggal Book, Desember 1988) sudah terlalu lama berada di luar negeri, dan tidak berfikiran memegang peranan penting dalam skala nasional. Habibie hanya ingin memberikan sumbangan kecil untuk tanah airnya.

Ibnu Sutowo mengaku kesal terhadap Habibie yang mengenal seorang Ibnu Sutowo yang menjadi salah satu orang kepercayaan Presiden Soeharto kala itu. Ibnu Sutowo hingga harus menyebut Habibie sebagai ‘orang ganjil’alias aneh.

“Itu keterlaluan. Ia orang ganjil,” kata Ibnu Sutowo (Ibnu Sutowo, Saatnya Saya Bercerita!, hal 305).

Pertemuan berikutnya terjadi setelah Ibnu Sutowo bertemu dengan Kanselir Jerman kala itu Willy Brandt-hal yang membuat Habibie, menurut Ibnu Sutowo, tersentak.

Pada pertemuan kedua ini, yang juga diikuti Achmad Tirtosudiro, dokter Sanger dan dua orang lainnya, Habibie sudah banyak mengetahui tentang Ibnu Sutowo serta Pertamina. Hal yang membuat Ibnu Sutowo berfikir Habibie memang sosok yang pandai.

Dalam pertemuan tersebut, Ibnu Sutowo menetapkan Habibie sebagai penasehat teknologi untuk dirinya.

Usai pertemuan tersebut, Ibnu Sutowo meminta Dubes dan dr Sanger mengatur kepulangan Habibie ke Indonesia.

Ketika sudah berada di tanah air lagi, Ibnu Sutowo merencanakan adanya divisi teknologi sebagai divisi baru di Pertamina dengan stafnya.

Satu bulan berselang, pada awal Januari 1974, divisi yang dipersiapkan untuk Habibie tersebut sudah berdiri.

Adanya divisi baru di Pertamina tersebut dilaporkan Ibnu Sutowo kepada Presiden Soeharto yang kemudian menyepakati adanya divisi baru yang dibentuk Ibnu Sutowo.

Ternyata, menurut Ibnu Sutowo, tulis Ramadhan KH, Presiden Soeharto kenal baik dengan orang tua Habibie saat bertugas di Ujungpandang (sekarang Makassar) dan meminta Ibnu Sutowo untuk secepatnya memanggil Habibie untuk pulang.

Tanggal 26 Januari 1974, Habibie tiba di Jakarta. Lalu mendatangi kantor Ibnu Sutowo yang berada di Jalan Perwira.

“Selamat datang,” kata Ibnu Sutowo. “Pak Harto mau menerima you sore nanti pukul tujuh.” (*)