Perkawinan Sejenis Makin Banyak, Kelompok LGBT Mewabah, HIV/AIDS Meningkat

Pujoko10/09/2019

Perkawinan Sejenis Makin Banyak, Kelompok LGBT Mewabah, HIV/AIDS Meningkat

Pujoko10/09/2019
Prof. Aida

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Amanat dalam undang-undang (UU) memperlihatkan tidak ada ruang bagi terjadinya perkawinan sejenis. Namun kenyataannya perkawinan sejenis banyak terjadi. Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (FEMA-IPB), Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala S. Hubers menerangkan amanat UU mengenai perkawinan misalnya ada pada UU No.1 Tahun 1974.

Disebutkan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa

“Fungsi keluarga salah satunya adalah reproduksi. Melahirkan. ini hanya bisa dilakukan perempuan, hanya bisa dilakukan melalui perkawinan karena amanat UU. Dari amanat UU ini tidak ada ruang sebenarnya bagi perkawinan sesama jenis. Tapi diam-diam banyak. Saya tidak tahu disini (di Solo). Di Bogor ada 39 komunitas. Itu di Bogor. Belum di Padang, belum di Sukabumi,” ungkap Prof. Aida dalam Seminar Nasional Menyelamatkan Generasi Penerus Bangsa dari Malapetaka Moral pada Perilaku Menyimpang Hubungan Seksual Sejenis, Kamis (5/9/2019) di Auditorium Moh. Djazman kampus I UMS.

Seminar nasional mengenai bahaya perilaku seksual menyimpang ini merupakan kerjasama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam penyampaian materinya, Prof. Aida menampilkan data tertulis mengenai perkembangan fenomena LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) di Indonesia yang dihadirkan kepada peserta seminar melalui proyektor. Data tersebut dikumpulkan oleh Departemen Sains Komunikasi dan pengembangan Masyarakat (SKPM) FEMA-IPB ,tempat Prof. Aida mengajar.

Guru Besar Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) FEMA IPB tersebut menulis LGBT kian marak setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat mengeluarkan keputusan melegalkan lesbian, homoseksual, biseksual dan transgender di seluruh wilayah AS. Dan ini berdampak pada seluruh belahan dunia.

Sementara itu, di Indonesia, fenomena LGBT mewabah di hampir seluruh provinsi.  Tahun 2009, populasi gay di Indonesia hanya sekitar 800 ribu yang berlindung di balik ratusan ormas yang mendukung hubungan seks sesama jenis.

Kemudian data Kemenkes tahun 2012 memperlihatkan ada sebanyak 1.095.970 lelaki berhubungan seks dengan lelaki (LSL) alias gay yang tersebar semua daerah.

“Jawa Barat adalah provinsi dengan LSL terbanyak. 300.150 orang terindikasi gay dan 4.895 orang diantaranya terpapar HIV/AIDS. DI Jawa Tengah memiliki sebanyak 218.227 gay dan 11.981 orang terindikasi HIV/AIDS. Di DKI Jakarta ada sebanyak 27.706 orang gay dan sebanyak 5.550 orang diduga menderita HIV/AIDS,” tulis Prof. Aida.

Prof. Aida juga menampilkan data mengenai organisasi-organisasi pendukung LGBT. Seperti Support Group and Research Center on Sexuality Studies (SGRC) yang salah satu aktifitasnya adalah mendampingi kaum LGBT.

“Sampai akhir tahun 2013, ada dua jaringan nasional organisasi LGBT yang menaungi 119 organisasi di 28 provinsi,” ungkap Prof. Aida.

Dua jaringan berskala nasional tersebut adalah jaringan Gay, Waria dan LSL (GWSLS) yang didirikan Februari 2007 yang memperoleh dukungan organisasi internasional. Jaringan berikutnya adalah Forum LGBTIQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, interseksual dan Queer) Indonesia yang didirikan tahun 2008. Jaringan ini memiliki tujuan memajukan program hak-hak seksual lebih luas dan memperluas jaringan agar mereka mencakup organisasi organisasi lesbian, wanita biseksual dan pria transgender.

Prof. Aida menandaskan kita saat ini tengah berperang melawan organisasi-organisasi yang mendukung LGBT. Salah satunya dengan kita sosialisasi bahwa perilaku seksual menyimpang itu merupakan pelanggaran berat.

Di Bogor, menurut Prof.Aida, sekarang sudah jadi gaya hidup, menikahi anak perempuan orang hanya untuk status sosial. Ini kenapa bisa terjadi? Karena dia gay. Maka KUA di Bogor punya ide kalau ada perceraian yang istrinya tidak pernah disentuh, tidak punya idah.

“Kalau kita terlahir sebagai laki-laki, sampai jadi lansia tetap laki-laki. Saya punya foto-foto banyak tentang lansia di Amerika. Kakek kakek sama nenek-nenek. Mereka bukan berteman. Tapi pasangan. Jadi sudah sampai seperti itu. Apakah kita akan menunggu bangsa kita seperti itu,” ujar Prof. Aida.

Prof Aida menandaskan, intinya ada di komunikasi dalam keluarga untuk mencegah perilaku penyimpangan seksual. “Komunikasi dalam keluarga itu ibarat darah. Kalau tidak ada darah,mati.” (*)