Pranyata-SE.jpg?fit=189%2C221&ssl=1
10/08/2019

Oleh: Pranyata, SE*

 

ASSALAMU’ALAIKUM WR WB

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jama’ah shalat Idul Adha yang semoga dirahmati oleh Allah,

 

Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT  Yang Maha Rahman dan Maha Rahim,  yang  telah melimpahkan segala nikmat Rahmat dan hidayah –Nya, terlebih nikmat Iman dan Islam.

Shalawat dan salam semoga selalu  tercurah kepada junjungan dan suri teladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabat dan kepada orang yang mengikuti  Nabi hingga akhir zaman.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jama’ah shalat Idul Adha yang semoga dirahmati oleh Allah,

Allah Swt. menurunkan firman-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia. (Al-Mumtahanah: 4)

Benar apa yang difirmankan Allah SWT, bahwa Nabi Ibrahim sangat cocok  sebagai suri teladan. Nabi Ibrahim adalah Abul Anbiya (bapaknya para Nabi), karena semua nabi setelah nabi Ibrahim adalah keturunan Nabi Ibrahim. Selain itu, ketaqwaan dan perjuangannya bisa menjadi cermin bagi manusia di segala jaman, termasuk ketaqwaan dan perjuangannya membangun Ka’bah dan  Makkah yang semula daerah gersang tak berpenduduk menjadi kota besar dan pusat agama.  Keluarga ini telah membangun peradaban agung yaitu membangun kemajuan  kebudayaan yang dilandasi oleh ilmu pengetahuan dan akhlak serta kehalusan budi pekerti.

Kisah Nabi Ibrahim membangun kota Makkah diawali sejak  istrinya melahirkan Ismail.  Allâh memerintahkannya agar isterinya Hajar dan putranya  Ismail yang baru lahir itu tinggal di Makkah. Daerah  ini  tak ada  air, tanah pun gersang dan tandus serta sepi tak berpenghuni.  Karena ketaqwaannya, Nabi Ibrahim pun  melaksanakan perintah tersebut. Ia antar  isteri dan anaknya ke Makkah.

Tak lama kemudian  Nabi Ibrahim lalu  pamit pulang.  Namun Istrinya mengikuti Nabi Ibrahim dan berkata, “Wahai Ibrahim! Kemana engkau hendak pergi meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni dan tak ada apapun di sini?” Hajar mengucapkan kata-katanya berulang kali, namun Nabi Ibrahim tidak juga menolehnya. Akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allâh yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Nabi Ibrahim menjawab, “Benar.” Hajar menimpali, “Kalau begitu, Allâh tidak akan menyia-nyiakan kami.” kemudian Hajar kembali ke tempat semula.

Inilah jawaban istri yang tawakal. Dia ikhlas menerima perintah Allah untuk tinggal di Makkah yang  hanya ditemani seorang bayi. Sebetulnya Nabi Ibrahim pun berat meninggalkan isteri dan anak satu-satunya itu. Anak itu lama ia dambakan, giliran lahir ternyata Allah memerintahkan untuk berpisah. Nabi Ibrahim berdo’a. Do’a ini dimonumentalkan Allah dalam Al-Qur’an dalam Surat Ibrahim (14) ayat 37,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ .

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Do’a tersebut menggambarkan kekhawatiran seorang  kepala keluarga  terhadap keluarga dan keturunannya yang ia tinggalkan. Ia berharap agar keluarganya tetap beriman dan diberikan rezeqi, serta diberikan  kemakmuran. Do’a tersebut Allah monumentalkan dalam Al-Qur’an agar apa yang dilakukan Nabi Ibrahim benar-benar bisa dicontoh orang sesudahnya.

Kita pun diingatkan Allah dalam firman-Nya dalam surat  An Nisa:9

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعافاً خافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً (9

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah. yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Kata” hendaklah takut kepada Allah” di awal ayat adalah bentuk perintah Allah agar manusia  itu bertaqwa dengan cara meninggalkan anak keturunan yang kuat dan sejahtera.  Karena kata  takut kepada Allah adalah salah satu arti dari kata taqwa.    Apalagi kelanjutan dalam ayat tersebut ada perintah Allah “hendaklah mereka bertakwa kepada Allah”,  ini memperkuat perintah untuk bertaqwa. Sehingga ayat ini secara keseluruhan menjelaskan bahwa meninggalkan keturunan atau anak  yang kuat dan sejahtera adalah salah satu bentuk  ketaqwaan  seseorang  kepada Allah.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Apa teladan  keluarga Nabi Ibrahim berikutnya? Setelah beberapa waktu Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, muncul masalah baru. Air yang ditinggalkan Nabi ibrahim mulai habis . Hajar mulai merasa kehausan, begitu pula putranya Ismail yang masih bayi merah. Hajar menatap putranya yang meronta-ronta.

Karena tak sanggup melihat keadaan putranya, Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan air. Hajar berlarian meninggalkan putranya menuju bukit Shafa, bukit terdekat darinya. Ia naik lalu berdiri di sana dan memandangi lembah disekelilingnya,  ia berharap ada  air di sekitar bukit atau ada orang lain di sana. Ternyata tidak ada seorangpun selain mereka berdua dan juga tak ada air. Ia turun dari bukit Shafa dan terus berlari kecil melewati lembah sehingga sampai ke bukit Marwah. Ia berdiri di sana untuk memeriksa, apakah ada air atau ada orang di sekitar bukit.  Namun tidak ada seorang pun dan juga tak ada air. Ia melakukan hal itu sampai 7 kali.

Setiap pengulangan dalam  mendaki bukit Shafa dan Marwah adalah bentuk memperbaiki strategi dan langkah untuk berhasil. Ketika usaha yang kedua kali gagal ia lakukan yang ketiga dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan bahwa langkah kali ini berhasil. Namun ternyata belum berhasil juga. Hajar tidak putus asa dan tidak bosan untuk mengulang langkahnya. Bahkan sampai tujuh kali.

Man Jadda Wajada (barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan keberhasilan).  Allah tidak akan tinggal diam terhadap hambanya yang  bersungguh-sungguh dalam usaha yang dilandasi dengan taqwa dan yakin akan karunia-Nya. Janji Allah kepada orang yang bertaqwa adalah:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

 

2….. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.

  1. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …..(QS. At Thalaq:2-3)

Setelah berulang tujuh kali Hajar berjalan antara bukit Shafa dan Marwah, Allah melunasi janjinya kepada orang yang bertaqwa dengan memberikan jalan keluar bagi Hajar.  Karunia Allah yang di luar dugaan yaitu keluarnya mata air Zam-Zam dari tanah yang diinjak  Ismail putranya.

Berbahagialah Hajar dengan mata air yang melimpah tersebut. Bahkan dengan banyaknya air itu, burung pun ikut menikmati.  Melihat banyak burung yang terbang di sekitar Makkah, para khafilah/ pedagang yang lewat di padang pasir menandai di situ ada mata air. Maka ada sekelompok orang  dari Jurhum lewat meminta air dan  selanjutnya ada yang menetap di daerah Makkah.

Dalam perjalanan waktu, setelah Ismail dewasa diajaknya oleh Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah.  Lama kelamaan Makkah  yang  dulu tidak berpenduduk berubah menjadi kota. Inilah peran Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam membangun peradaban.

Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim,  Hajar, dan putranya Ismail  yang yang begitu sungguh-sungguh, dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan  telah bisa membangun kota Makkah yang diberi julukan Al-Mukarramah , karena Makkah  merupakan kota yang dimuliakan Allah.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jamaah Shalat ‘Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Kisah Nabi Ibrahim tersebut dapat untuk menjadi teladan bagi kita. Umat Islam sekarang bagaikan dalam kegersangan. Tandus dari ilmu pengetahuan, inovasinya kalah dengan bangsa lain.  Akibatnya kesejahteraan umat juga kurang.

Kalau ingin lebih sejahtera harus bekerja. Untuk mencari kerja harus memiliki ilmu pengetahuan.  Maka agar umat Islam mudah mendapatkan pekerjaan atau mampu menciptakan lapangan harus pandai dan memiliki ilmu pengetahuan.

Di era pasar bebas dan keterbukaan ini, apabila ada yang  memiliki ilmu pengetahuan bisa mencari kerja ke negara manapun sesuai dengan konsensus antar negra. Konsekuensinya pekerja dari negara lain juga bisa mencari kerja di negara kita. Inilah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap  generasi milenial saat ini, sebagaimana kekhawatiran Nabi Ibrahim ketika meninggalkan isteri dan anaknya.

Tetapi kaum muslimin tidak boleh tinggal diam. Seharusnya segera menyusul ketertinggalan ilmu pengetahuan  untuk mencapai kejayaannya. Mengejar ketertinggalan bukanlah hal yang tabu. Dahulu negara Jepang, Korea Selatan dan China juga pernah tertinggal dengan negara-negara barat. Mereka  hanya butuh waktu kurang lebih 40-50  tahun untuk mampu berkompetisi dengan negara barat. Umat Islam pun seharusnya begitu. Kalau sekarang tertinggal, maka untuk mengejar  peradaban yang dicapai negara maju saat ini, umat harus dengan semangat menuntut ilmu.

Kuncinya umat Islam harus menguasai ilmu pengetahuan  yang  didasarkan pada ketaqwaan seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Keluarganya. Usaha keras berdasarkan  petunjuk Islam.

Agama mengajarkan bahwa mencari ilmu itu wajib. Rasulullah SAW.  bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim “(HR. Ibnu Majah, shahih).

Kalau menuntut ilmu hukumnya wajib berarti kita akan mendapatkan pahala yang besar kalau kita menuntut ilmu dan kita akan berdosa kalau tidak menuntut ilmu. Kita dosa kalau kita tidak sejahtera gara-gara kita bodoh.

Saudaraku, Kita akan sukses kalau kita menguasai ilmu. Derajat kita bisa terangkat kalau kita menguasai ilmu pengetahuan. Allah  berjanji dalam Al-Qur’an Surat  58 Al Mujadilah: 11

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

  1. ….. niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Inilah janji Allah dan Allah tidak pernah ingkar janji. Perhatikan ayat di atas, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu.

Tertarikkah kita dengan janji Allah tersebut. Kalau kita belum yakin akan janji tersebut, perhatikanlah buktinya yaitu orang-orang yang sukses yang ada di lingkungan kita atau orang sukses yang kita ketahui, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang pandai dan menguasai ilmu pengetahuan. Seharusnya hal ini menjadikan kita yakin akan firman Allah dalam surat Al-Mujadillah ayat 11 tersebut, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu.

Selanjutnya,  dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa langkah-langkahnya  orang yang menuntut ilmu akan memudahkan dirinya  untuk masuk surga. Rasulullah SAW bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَىالْجَنَّةِ

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Namun perlu diketahui bahwa dalam menuntut ilmu kita akan mendapatkan tantangan. Sebagaimana Hajar, dia pun mendapat tantangangan. Kalau bagi Hajar bahwa  semua tantangan dan perjuangan adalah sumber pahala, maka kita pun harus begitu. Kalau Hajar untuk meraih Cita-cita mendapatkan air tidak putus asa bolak-balik dari bukit Shafa dan Marwah sampai tujuh kali, kitapun harus tidak putus asa dalam menuntut ilmu dengan pengorbanan apa pun. Ini adalah sunatullah, untuk sukses harus melalui perjuangan. Allah berfirman:

{فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا}

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Alam Nasyrah: 5-6)

Dari ayat ini, bahwa dibalik kesulitan itu ada kesuksesan. Kita harus yakin ini adalah janji  Allah, kesuksesan kita itu tergantung seberapa kegigihan kita dalam menghadapi tantangan hidup. Itulah jiwa yang harus dimiliki calon pemenang dalam  persaingan global. Allah berfirman dalam Surat Ar Ra’d ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (11) }

…. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Agar kita berubah menjadi sukses, kita harus  berubah dengan menyiapkan jalan-jalan  untuk diturunkannya kesuksesan Allah kepada kita dengan jalan gigih menuntut ilmu.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jama’ah shalat Idul Adha yang semoga senantiasa istiqamah di jalan Allah,

Kurang apa Islam dalam memotivasi umatnya untuk menuntut ilmu agar maju. Orang  yang menuntut ilmu akan dimudahkan jalan masuk surga, akan diangkat derajatnya. Berarti akan lebih sejahtera, akan lebih makmur.  Umat yang pandai dan maju, sekaligus akan mengangkat derajat agama Islam. Orang yang pandai akan mendapatkan pahala yang lebih banyak. Kalau dengan janji seperti ini umat Islam masih enggan menuntut ilmu, umat ini menghendaki motivasi yang seperti apa lagi.

Orang tua juga punya kewajiban. Agar anak sukses, orang tua wajib mendorong dan membiayai anak untuk menuntut ilmu. Para orang tua tidak cukup hanya khawatir akan masa depan anaknya, tetapi perlu dipikirkan bagaimana solusinya akan masa depan anak agar cerah dan sejahtera, sehingga orang tua tidak dosa karena meninggalkan keturunan yang lemah. Maka tugas orang tua adalah  mendorong anak untuk lebih tekun dalam menuntut ilmu. Nabi SAW bersabda:

“مَنْ دَعَا إِلَى هَدْيٍ كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنِ اتَّبَعَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa yang mengajak ke jalan petunjuk, baginya pahala semisal dengan semua pahala orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat; hal tersebut tanpa mengurangi pahala mere­ka barang sedikit pun.

Jadi kalau kita menyuruh anak untuk belajar menuntut ilmu, kemudian anak itu mau untuk menuntut ilmu, maka orang tua yang menyuruh akan mendapatkan pahala yang terus mengalir  sampai hari kiamat. Apalagi kalau kita menyuruh sekaligus membiayai, pahalanya akan jauh lebih banyak.

Akhirnya marilah memohon kepada Allah Ta’ala agar dalam diri kita muncul semangat baru dalam menuntut ilmu untuk membangun peradapan Islam yang lebih bagus, sebagaimana semangatnya Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail dalam membangun peradaban baru kota Makkah.

Mari kita tutup khutbah Idul Adha ini dengan doa, semoga Allah perkenankan setiap doa kita di hari penuh kebaikan ini.

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اللّهمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ

اللهم عذِّبِ الكَفَرَةَ الذين يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ ويُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ ويُقاتِلُونَ أوْلِيَاءَكََّ

اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين

اللهم فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِرٍ إنَّكَ رَبُّنَا عَلَى كلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ يَا رَبَّ العالمين

اللهمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ على الأَمْرِ والعَاقِبَةَ الحَسَنَةَ والعَافِيَةَ مِنْ كُلِّ بَلِيَّةٍ والسَّلاَمَةَ مِنْ كلِّ إِثْمٍ والغَنِيْمَةَ مِنْ كل بِرٍّ والفَوْزَ بِالجَنَّةِ والنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سيدِنا مُحَمّدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ وَسلّم والحمدُ لله

 

 

___________________________________________________

*Penulis adalah Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kab. Cilacap dan Pemerhati Ekonomi-Sosial

 

 

 

Buku.jpg?fit=238%2C317&ssl=1
05/08/2019

Oleh: Adhitya Yoga Pratama

Judul

Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan

Penulis

Abdul Munir Mulkhan

Waktu Terbit

Pertama, 2015

Jumlah Halaman

XII + 208

Penerbit

Global Base Review STIEAD Press

Kita mungkin masih ingat pada suatu kesempatan, Presiden Suharto dalam pidato Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta, bertanya: Siapakah yang tidak tahu Muhammadiyah? Kita tak bisa membayangkan bagaimana perasaan warga Muhammadiyah mendengar pertanyaan Suharto itu menggema di Stadion Sriwedari pada tahun 1984. Atas nama Muhammadiyah dalam sebuah pidato, Suharto faktanya mengesampingkan kenyataan sejarah dan ideologi bahwa Muhammadiyah sudah ada sejak lama, tumbuh seiring dengan gagasan dan etos K.H. Ahmad Dahlan menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Sudah lama orang tahu bahwa Muhammadiyah adalah organisasi keagamaan Islam terbesar di Indonesia, karena memang amal usahanya banyak berdiri dimana-mana. Sudah lama pula kita memaklumi bahwa Muhammadiyah dikenal sebagai jamaah yang berjami’yah, karena memang banyak orang dari umat Islam tertarik untuk mengaji di organisasi ini, baik karena materi-materi pengajiannya dipandang kontekstual dan kontemporer bagi para anggota atau karena simpatisan bekerja di amal usahanya. Sejak dulu orang-orang bahkan mengetahui bahwa Muhammadiyah adalah organisasi Islam modern karena terdapat pula organisasi Islam tradisional, ketika masyarakat Indonesia mulai dikategorisasikan oleh ilmuwan Barat yang mengkaji Islam Indonesia.

Namun, dalam pandangan Suharto karakteristik Muhammadiyah semacam itu dipandang tidak cukup, bahkan mungkin tidak penting terutama jika dikaitkan dengan relasi kekuasaan yang terpusat. Karena itu, rezim Orde Baru perlu menerapkan asas tunggal Pancasila yang lebih bersifat struktural kepada seluruh organisasi kemasyarakatan. Rezim yang secara politik cenderung ultrakanan ini menular juga ke dalam tubuh Muhammadiyah yang mengidap sindrom otak takhayul, bid’ah, dan churafat; terobsesi pada ideologi Islam, sehingga konflik internal di Muhammadiyah perlu disederhanakan oleh K.H. A.R. Fakhrudin melalui politik helm kepada penguasa.

Itulah mengapa, adanya gejala pergantian dan penambahan tujuan dalam organisasi sering menimbulkan perbedaan pendapat yang menjurus menjadi konflik. Dengan demikian sinyalemen dan kontatasi tentang “kemandekan” dalam Muhammadiyah (kalau ada) sebenarnya bukan karena adanya inovasi ide, tapi adanya jebakan struktural karena pandangan dogmatik terhadap organisasi sebagai instrumen gerakan. Maka permasalahan kesadaran berorganisasi akan muncul dan pada saat itulah loyalitas anggota dan para pemimpinnya dengan organisasi akan diuji (Djazman, 63-64: 2019).

Pemerintah versi Orde Baru memang sudah selesai. Tapi, hasrat birokrasi untuk melakukan efisiensi, efektifitas, dan tujuan asas tunggal tidak pernah selesai. Bahkan, kalau menengok ke belakang hasrat semacam itu adalah peninggalan nenek moyang yang berkembang seiring dengan lahirnya negara-bangsa. Jauh hari sebelum Indonesia merdeka pemerintah kolonial sudah terlebih dahulu menerapkan kebijakan asosiasi sebagai bagian dari sebuah program pendidikan yang luas. Snouck Hurgronje selaku pendukung utama politik etis percaya bahwa program-program pendidikan—diiringi dengan proses yang bertahap menuju “indonesianisasi”aparat administratif—menunjukkan kepada penduduk Hindia Belanda bagaimana peradaban Barat akan menguntungkan mereka. Selain itu kebijakan asosiasi itu akan menciptakan sebuah kelas penduduk bumiputera berpendidikan Barat yang progresif dan setia pada Belanda (Abdullah, 64: 2018).

Karena itu, tidak berlebihan jika Suharto mengatakan kepopuleran Muhammadiyah tidak identik dengan hadirnya sosok Ahmad Dahlan, tokoh pragmatis dalam tesis Alfian (2010) yang melakukan kegiatan-kegiatan dalam melaksanakan misi dan karya-karyanya untuk membangun gerakan Muhammadiyah. Berbeda dengan Sukarno yang membaca gagasan Ahmad Dahlan dalam forum pengajian di rumah Tjokroaminoto, pengakuannya sebagai murid telah memperoleh pengertian yang lain tentang agama Islam dari seorang guru. Maka ide otentik Ahmad Dahlan tampaknya penting bagi organisasi Muhammadiyah dari masa ke masa yang sering terserang sindrom TBC.

Potret Tindakan Otentik

     Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan karya Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan pada akhirnya seperti menunjukkan kepada kita tentang tindakan-tindakan otentik yang dilakukan Ahmad Dahlan melalui naskah yang terbit dengan judul “Tali Pengikat Hidup Manusia”. Secara ideologis bentuk kegiatan amal usaha Muhammadiyah sudah dimulai sejak gerakan ini dipimpin oleh pendirinya. Bagi mereka yang kritis mudah menyebut tidak banyak inovasi baru dalam AUM, yang kini tidak terkesan memihak rakyat kecil, tidak memihak wong cilik, dan kaum proletar (hal. ix). Tetapi secara otentik terutama dalam hal relasi teori dan praktik, tindakan-tindakan yang dilakukan Ahmad Dahlan sesungguhnya berorientasi (ideologi) program/kegiatan persyarikatan ini adalah membela kaum tertindas dan mencerdaskan semua lapis umat melalui gerakan pendidikan (hal. 41).

Boleh jadi dalam ijtihad pendidikan Ahmad Dahlan seperti itulah Mohammad Djazman Al-Kindi, pada suatu kesempatan ketika menanggapi perubahan drastis dalam masyarakat dan organisasi Muhammadiyah sendiri. Berharap bahwa di dalam Muhammadiyah akan muncul orang-orang dengan kategori man of think sekaligus man of action. Sehingga pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh lama yang mengandung pemikiran intelektual sekaligus juga pemikiran yang bijak, arif, dan bagaimana Muhammadiyah itu harus dibangun mesti dimunculkan. Dengan demikian tindakan-tindakan otentik tokoh-tokoh lama merupakan konsep pikir universal yang bisa diwariskan pada generasi muda yang akan datang. Apakah mungkin kita sewa satu kamar di Hotel Mandarin kemudian kita dirikan Muhammadiyah Ranting Hotel Mandarin? (Djazman, 58-59: 2019).

Jawaban itu setidaknya ditampilkan secara bernas oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan dalam Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan. Dari halaman pertama buku ini kita dapat membaca pidato Ahmad Dahlan yang berjudul “Tali Pengikat Hidup Manusia”, sampai halaman terakhir kita disuguhkan dokumen tulisan dr. Sutomo berjudul “Cinta-Kasih Vs Darwinisme”. Buku ini seperti mengajak pembaca berfikir reflektif dan kritis, karena secara konsisten harus diakui Abdul Munir Mulkhan memborbardir kita dengan argumentasi dan fenomena-fenomena Muhammadiyah menyangkut tindakan-tindakan otentik Ahmad Dahlan. Beliau seperti hendak mengatakan bahwa Muhammadiyah, dalam kondisi kapan saja selalu mengidap sindrom yang sama; takhayul, bid’ah, dan churafat. Dalam pandangannya tidak ada yang dikafirkan, diharamkan, dan dimusuhi Muhammadiyah kecuali kebodohan dan keterbelakangan umat akibat pemimpin Islam yang lupa caranya berpikir. Sepanjang hidup Ahmad Dahlan, hal-hal semacam itulah yang berurusan dengan gerakan Muhammadiyah.

Melalui konsep pendidikan inilah, Ahmad Dahlan berusaha menerobosetos guru dan murid sebagai sifat orang Islam dalam dua kewajiban yang harus dijalani yaitu belajar dan mengajar. Maka gerakan Muhammadiyah masa Dahlan adalah gerakan kebudayaan yang berfokus pada penyadaran umat akan peran dan tanggung jawab kemanusiaan dan sejarah. Pendidikan adalah media utama gerakan kebudayaan yang fokusnya ialah penyadaran umat melalui makrifat ketuhanan. Tujuan pokoknya tindakan otentik Ahmad Dahlan adalah pembebasan umat dari kebodohan dan keterbelakangan. Seolah-olah Paulo Freire tentang prinsip pembelajaran membaca kembali tekline Ahmad Dahlan tentang sifat utama seorang muslim, yaitu “menjadi guru sekaligus murid”. Faktanya Freire lahir saat Ahmad Dahlan meminta legalitas politik gerakan pendidikan kepada publiknya (hal. 40).

Di mata H.M Sudja’ sebagai seorang murid, maksud dan tujuan Ahmad Dahlan mewujudkan pendidikan yang teratur secara modern pada prinsipnya ialah hendak melaksanakan umat yang baik sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT. Surat Ali Imran ayat 110 sebagaimana maksudnya, keadaan kamu sekalian adalah sebaik-baiknya umat yang dilahirkan untuk kepentingan manusia. Perintahkanlah dengan perkara yang baik dan cegahlah akan perbuatan yang munkar dan percayalah kamu sekalian kepada Allah SWT. Kalau mereka orang kafir ahli kitab sama percaya, sungguh ada akan lebih baik bagi mereka, dari pada mereka sebagian ada yang mukmin, tetapi kebanyakan dari mereka sama berdosa.

Sampai disini, kita bisa merasakan bagaimana Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan mengajak kita untuk memahami ide dasar dan tindakan otentik Ahmad Dahlan, jika bukan menelanjangi ruang kosong yang selama ini menjadi optik Muhammadiyah dalam memandang organisasi sekaligus menjalankan amal usahanya. Sejak dari komersialisasi pendidikan hingga mahalnya biaya rumah sakit, Muhammadiyah terobsesi menyaksikan takhayul, bid’ah, dan churafat semakin mewabah ke dalam struktur sosial masyarakat. Dengan kata lain, melalui buku ini sebenarnya Abdul Munir Mulkhan sedang mengatakan bahwa Muhammadiyah, dalam kondisi kapan saja ditakdirkan untuk mengidap sindrom obsesive compulsive disorder (OCD), sebuah perilaku aneh yang tidak mau membela wong cilik atau kaum tertindas.

Penutup: Etika Welas Asih?

     Sebagaimana buku-buku Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan sebelumnya, dalam Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan, pada akhirnya juga merayakan etika welas asih, yang kali ini dideklarasikan sebagai gerakan. Gerakan ini menjadikan pembelaan pada kaum tertindas melalui pendekatan ke-welas-asihan sebagai implementasi nilai kerahmatan Islam bagi seluruh segi dan ranah kehidupan (alamien). Ke-welas-asihan menjadikan gerakan ini bekerja untuk semua orang dari semua latar belakang etnis dan kepemelukan agama. Suatu cara kerja yang sekarang mungkin banyak disebut kaum liberal (hal. 19). Beliau secara lugas mengatakan bahwa gerakan yang didasarkan atas etika welas asih sesungguhnya jauh lebih rasional dibandingkan dengan gerakan yang didasarkan atas logika dan prinsip humanisme Barat. Pada bagian awal, secara napak tilas beliau banyak membandingkan gagasan-gagasan gerakan sosial antara pemikir-pemikir Timur Tengah dan Barat dengan ide Ahmad Dahlan, tetapi pada bagian penutup beliau melakukan kemunduran yang sulit dipahami oleh pembaca dengan diksi “revolusi kebudayaan” terhadap organisasi Muhammadiyah.

Membaca buku ini kita akan merasakan bagaimana Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan melakukan idealisasi terhadap pemikiran dan tindakan otentik Ahmad Dahlan di satu sisi dan memandang sinis terhadap Muhammadiyah disisi lain, pilihan sikap yang justru dihindari oleh Toynbee (1987) dalam Perjuangkan Hidup: Sebuah Dialog. Dalam pandangan saya, kedua buku tersebut menyasar persoalan yang sama tentang kecerdasan insani yang dilakukan oleh seorang intelektual, meski berakhir dengan tekanan yang tidak sama. Jika Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan tetap belum beranjak dari cara pandang lama hingga terus mengidealisasikan Ahmad Dahlan sebagai pembaharu Islam modern, tidak demikian dengan Toynbee yang justru menawarkan “kehormatan menuntut tindakan mulia” yang merupakan aturan cocok bagi tindakan para cendekiawan dan seniman. Karena itu, dibeberapa tulisan belum terpotret oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan: tindakan otentik.

Meski begitu, Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan adalah buku yang sangat kaya data dan analisis, sebagaimana lazimnya Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, selalu menggugat kemapanan-kemapanan berpikir, terutama dalam hal rekonstruksi gagasan Ahmad Dahlan. Setelah Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah yang menggunakan cara pandang filsafat, kali ini Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan mencoba memandang lebih kontekstual. Seperti disinggung sebelumnya, hasilnya tidak berbeda. Jawaban bagi segenap persoalan yang dihadapi oleh Muhammadiyah pada ide dasar Ahmad Dahlan adalah etika welas asih. Jadi Prof. Munir tetaplah Prof Munir, yang selalu memperbaharui gagasan Ahmad Dahlan dan menawarkan pendekatan keagamaan, jawaban yang sebenarnya justru mengundang pertanyaan-pertanyaan baru terutama di era sekarang ketika pendekatan keagamaan justru dianggap sebagai piranti perusak akidah Muhammadiyah!.

Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik. 2018. Sekolah dan Politik: Pergerakan Kaum Muda di Sumatera Barat, 1927-1933. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Alfian, 2010. Politik Kaum Modernis: Perlawanan Muhammadiyah terhadap Kolonialisme Belanda. Jakarta: Al-Wasat.

Alkindi, Mohammad Djazman, 2019. Ilmu Amaliah-Amal Ilmiah: Muhammadiyah Sebagai Gerakan Ilmu dan Amal. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Arifin, MT. 1990. Muhammadiyah: Potret Yang Berubah. Surakarta: Institut Gelanggang Pemikiran Filsafat Sosial Budaya dan Kependidikan Surakarta.

Mulkhan, Abdul Munir. 2015. Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan. Jakarta: Global Base Review dan STIEAD Press.

Sudja, H.M. 2018. Cerita Tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan: Catatan Haji Muhammad Sudja’. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Toynbee, Arnold dan Daisaku Ikeda. 1987. Perjuangkan Hidup: Sebuah Dialog. Jakarta: PT. INDIRA Anggota IKAPI.

 

Ilustrasi-Pixabay.jpg?fit=589%2C340&ssl=1
01/08/2019

Oleh: Pranyata, SE *

Allah menyampaikan bahwa seseorang yang berilmu akan diangkat derajatnya. Firman-Nya, “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Al-Mujadillah: 11). Kita yakin apa yang dijanjikan Allah ini sangat benar. Bisa diperhatikan di lingkungan kita, bahwa orang-orang yang sukses kebanyakan karena mereka berilmu.

Manusia adalah makhluk pilihan Allah untuk mengelola Bumi. Hal ini ditegaskan ketika Dia berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. 2: 30). Pengertian khalifah secara umum adalah makhluk yang dipilih Allah sebagai penguasa dan pemimpin atas makhluk lainnya, seperti  binatang, tumbuhan, bumi , bahkan jagad raya seisinya. Namun kata khalifah bisa juga berarti sesuatu yang menggantikan. Maknanya kepemimpinan manusia itu akan saling menggantikan, yaitu pergantian penguasaan antar waktu atau antar generasi.

Bekal yang diberikan Allah kepada khalifah tersebut adalah ilmu, sebagaimana firman-Nya “ dan Dia mengajarkan kepada Adam” (QS. Al-Baqoroh:31). Kata mengajarkan menunjukan bahwa Allah memberikan ilmu. Dan inilah bekal utama Nabi Adam untuk menjadi khalifah. Dengan ilmu ini Nabi Adam bisa mengungguli makhluk lain termasuk para malaikat, sehingga  ketika diminta untuk menjelaskan nama-nama, Nabi Adam lebih tahu dibanding malaikat.

Ini menggambarkan kalau ilmu itu dalam Islam sangat sentral. Dalam konsep illahiyah, ilmu adalah dasar keunggulan manusia. Untuk itu seharusnya setiap muslim  itu rajin menuntut ilmu. Dan perlu diketahui bahwa agama mewajibkan agar setiap umat Islam menuntut ilmu. Nabi Muhammad bersabda “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim “(HR. Ibnu Majah).

Fakta yang terjadi saat ini bahwa masyarakat Islam hampir di seluruh pelosok dunia terbelakang. Penyebab utamanya adalah karena umat Islam tidak menguasai ilmu seperti orang Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Korea maupun China. Umat tidak mengamalkan perintah agamanya yang mewajibkan menuntut ilmu.

peradaban Keemasan Islam

Kewajiban menuntut ilmu  dalam Islam pernah diamalkan oleh umat di masa lalu dan ternyata  membuat peradaban Islam mengalami kejayaan dan mengungguli bangsa lain. Itulah zaman keemasan Islam. Banyak ahli sejarah mencatat, zaman itu ada pada rentang tahun 750-1258 atau sekitar 500 tahun, yaitu ketika berkuasanya Dinasti Abbasiyah.

Dasar-dasar pemerintahan Dinasti  Abbasiyah yang modern diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas as-Saffah dan al-Manshur. Dalam naungan Dinasti ini  umat Islam banyak mendapatkan pencerahan ilmu. Kemajuan demi kemajuan banyak mereka capai, baik secara individu maupun kolektif. Puncak keemasan dinasti ini ada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi , al-Hadi,  Harun Ar-Rasyidal-Ma’munal-Mu’tashimal-Watsiq, dan al-Mutawakkil.

Pada masa al-Mahdi, kemakmuran dicapai dengan  peningkatan irigasi pertanian dan eksplorasi pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Pengembangan perdagangan saat itu juga menjadi prioritas. Maka dibangunlah kota  Bashrah menjadi pelabuhan dan ternyata kota ini kemudian menjadi  terkenal di dunia terkait lalu lintas perdagangan dan ekspor impor antara Timur dan Barat.

Kesejahteraan masyarakat melalui ilmu pengetahuan terus ditingkatkan. Perkembangan ilmu pengetahuan mencapai puncak keemasan pada pemerintahan  Harun Ar-Rasyid  (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). Pemerintahan Harun Ar-Rasyid banyak membiayai pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan.

 

Pranyata, SE

Setelah Harun Ar-Rasyid wafat diganti putranya Al-Ma’mun. Pada masa ini digalakkan pengembangan pendidikan dengan  banyak mendirikan sekolah. Yang monumental adalah pemerintah membangun Baitul Hikmah, yaitu  pusat penerjemahan buku-buku asing yang sekaligus berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Sehingga negara Islam saat itu mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia.

Pengembangan ilmu pengetahuan melahirkan banyak tokoh. Tokoh-tokoh  yang terkenal diantaranya Ibn Sina (ahli filsafat, kedokteran, astronomi, bukunya yang terkenal “The Canon of Medicine” yang   jadi buku pegangan utama para mahasiswa kedokteran di penjuru Eropa sampai abad ke-18),  Al Kindi (ahli menerjemahkan sekaligus penulis 260 buku, keahlian monumentalnya di bidang optik dan  kimia terkait produksi alkohol), Al Khwarizmi (ahli matematika yang mengembangkan persamaan linear dan kuadrat, yang kita kenal dengan nama Aljabar. Bukunya yang terkenal “al-Ardh”, orang Barat lebih mengenal  dengan judul “geography”).

Namun masa keemasan tersebut berakhir pada  tahun 1258 karena diserang bangsa Mongol. Kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan.

Revolusi Industri 4.0

Dunia saat ini sedang memasuki babak awal revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemajuan dalam kecerdasan buatan, robotika, pencetakan 3D, dan Internet of Think (IoT). Diakui bahwa pendekar teknologi dalam revolusi industri 4.0 bukanlah dari kaum muslimin.

Tetapi kaum muslimin tidak boleh tinggal diam. Seharusnya segera menyusul ketertinggalan untuk mencapai kejayaannya kembali, seperti dahulu kaum muslim pernah jaya selama 500 tahun karena didukung ilmu pengetahuan. Sehingga saat itu masyarakat dunia berkiblat kepada kaum muslimin.

Mengejar ketertinggalan bukanlah hal yang tabu. Dahulu negara Jepang, Korea Selatan dan China juga pernah tertinggal dengan negara-negara barat. Mereka  hanya butuh waktu kurang lebih 40-50  tahun untuk mampu berkompetisi dengan negara barat. Umat Islam pun begitu, kalau sekarang tertinggal, maka untuk mengejar peradaban yang dicapai negara maju saat ini juga bisa pasang target waktu, misal pada kisaran 50 tahun.

Islam mengajarkan bahwa mencari ilmu itu wajib dan untuk meningkatkan derajatnya harus menguasai ilmu. Ini adalah doktrin yang bisa didorong kepada seluruh umat untuk meraih sukses melalui penguasaan ilmu. Para Ulama, da’i, mubaligh, guru, dan orang tua seharusnya menggelorakan semangat menuntut ilmu bagi setiap muslim untuk mengejar ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan di seluruh bidang, baik teknologi, kesehatan, pertanian, perdagangan, maupun kebudayaan. Semua itu dilandasi ilmu agama yang kuat. Kita harus yakin kalau kesuksesan kita bisa diraih hanya dengan menguasai ilmu pengetahuan.

 

 

——————————————-

*Penulis adalah Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kab. Cilacap dan Pemerhati Ekonomi-Sosial

 

Arswendo.jpg?fit=820%2C450&ssl=1
20/07/2019

Oleh: Alfian Mujani*

Berita duka datang dari wartawan senior dan pemerhati budaya-sosial, Arswendo Atmowiloto yang meninggal dunia pada Jumat (19/7/2019) pada pukul 17.50 WIB usai  satu tahun terakhir menderita kanker prostat.

Arswendo Atmowiloto (lahir Solo, 26 November 1948) mempunyai nama asli Sarwendo. Ndo, panggilannya, dari kecil senang mendalang. “Dari situ saya berkenalan dengan seni,” katanya. Ayahnya, pegawai balai kota Surakarta, sudah meninggal ketika Arswendo duduk di bangku sekolah dasar. Ibunya, meninggal pada 1965. Arswendo pun yatim piatu di usia 17 tahun, ketika masih duduk di bangku SMA.

Ilustrasi-mebel.jpg?fit=1040%2C780&ssl=1
18/07/2019
Reporter: Rani Setianingrum
MENTARI.NEWS, SOLO – Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok yang saat ini tengah terjadi diharapkan bisa menjadi kesempatan emas bagi Indonesia untuk menarik permintaan barang dari kedua negara yang terlibat perselisihan tersebut.