Desa-dalam-perspektif-Islam.jpg?fit=768%2C753&ssl=1
26/06/2019

Oleh: Adhitya Yoga Pratama*

Setiap kaum Muslim di seluruh dunia pasti mempunyai kehendak menginjakkan kakinya di Mekkah sebagai perwujudan rukun Islam yang kelima. Bahkan panggilan Allah SWT dalam bentuk menunaikan ibadah haji ini dengan prasyarat mampu, mereka akan berangkat ke tanah suci tanpa dibeda-bedakan golongan, suku, bangsa, kelas, dan jenis kelamin apapun yang membebani.

Sungguh, yang demikianlah orang dikumpulkan menjadi satu secara bersama-sama melakukan ihram, wukuf di Padang Arafah, tawaf ifadah, sa’i, tahallul, dan tertib haji. Keberadaan kaum muslim di Kota Mekkah inilah menandakan sebuah wilayah yang penuh historisitas dan spiritualitas dari aspek religius menunaikan ibadah suci dengan khusyu’.

Pada bulan Dzulhijjah diketahui tanda-tanda Mekkah sebagai kota sudah terbukti dengan berbondong-bondongnya umat Islam dari berbagai negeri mengerjakan ibadah haji. Terlebih tanda-tanda keramaian kota yang hiruk-pikuk namun penuh khidmat berserah diri kepada Allah Swt bagi hamba-Nya itu dapat terlihat jelas ketika kaum muslim mengelilingi Ka’bah.

Berangkat dari rumah Allah SWT inilah suasana damai, tentram, tenang, dan sungguh-sungguh menyelimuti bathin manusia yang mengharap ridha Illahi dari keselamatan dunia dan akhirat, yang kenyataannya berbanding terbalik dengan letak geografis yang padang pasir serta pusat ekonomi-politik di Jazirah Arab yang sangat kompetitif pada masa jahiliyah.

Pertemuan antara ajaran langit dan kontradiksi di bumi ini merupakan titik konfrontatif dimana Islam, dan umat Islam secara konsekuen, tidak dapat lagi diam dan mesti menyikapi persoalan imajinasi sosiologis masyarakat pada konteks perebutan ruang kehidupan.

 

Adhitya Yoga Pratama. (dok.pribadi)

Sabda Nabi Muhammad Saw dalam memandang Kota Mekkah sebagai kota yang mulia di antara kota-kota yang lainnya (sekalipun Madinah) sangat termaktub jelas melalui hadits yang berbunyi; “Demi Allah, Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintai-Nya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu) (HR. At-Tirmidzi).

Nada penyesalan Rasulullah SAW terbukti nyata ketika beliau memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk segera hijrah ke Kota Madinah, sementara Nabi dan Ali Bin Abi Thalib menyusul hari berikutnya kala rumah dikepung oleh para musuh. Atas pertolongan Allah Swt, Rasul dan keponakannya berhasil keluar dari Kota Mekkah dalam keadaan selamat tanpa suatu halangan sekalipun.

Membaca sunnah dan kisah Rasul saat hijrah pertama kali ke Kota Madinah diatas, bukan berarti membuat kita begitu saja menafsirkan Mekkah sebagai entitas politik sarat metropolitan dan kosmopolitan semata.

Tetapi dari sinilah kita akan memandang Kota Mekkah sebagai ruang publik yang diperebutkan wacana politiknya oleh kelompok kepentingan yang berada di sekitar Ka’bah. Terutama sistem nilai dan struktur kebudayaan yang terkandung di dalamnya, sejak dibangun oleh Ibrahim dan Ismail pada masa kenabian.

Mengingat kajian Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat di antara para ilmuwan, fokus desa dalam perspektif Islam sesungguhnya berusaha menggali jejak-jejak pra-Islam memandang dinamika sosial yang ada di dalam kebudayaan Islam itu sendiri.

Mengutip pendapat Woodward (1989) bahwa Islam adalah unsur dominan dalam kepercayaan dan upacara keagamaan orang Jawa, yang membentuk karakter interaksi sosial dan kehidupan keseharian di seluruh segmen masyarakat Jawa. Maka Ka’bah adalah unsur dominan dalam kepercayaan dan upacara keagamaan umat Islam, yang membentuk karakter interaksi sosial dan keseharian di seluruh segmen masyarakat Islam di seluruh dunia.

 

Nilai-Nilai Keislaman

Sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul ternyata ia sudah terlibat dalam peristiwa pembentukan suatu komunitas yang aman, tentram, damai, dan toleran. Menurut Syed Ameer Ali dalam karya terkenalnya The Spirit of Islam (2008), keterlibatan Muhammad dalam peristiwa pembentukan komunitas itu terjadi karena adanya kesewenang-wenangan berupa perampokan di jalanan Kota Mekkah.

Atas permintaannya, keluarga Hasyim, Muthalib, Zuhra, dan Taym mengikatkan diri. Keluarga-keluarga tersebut mengangkat sumpah untuk membela setiap orang, baik mereka itu orang Mekkah atau orang asing, orang merdeka atau budak, dari segala bentuk kesewenang-wenangan di wilayah Mekkah. Mereka juga bertekad untuk menuntut balas atau meminta ganti rugi dari orang yang telah berbuat jahat terhadap mereka.

Selain itu ketika tengah memperbaiki Ka’bah terjadi perselisihan di antara keluarga-keluarga bangsawan Arab yang andil dalam pembangunan, yang mana konflik itu sangat mungkin menimbulkan pertumpahan darah. Namun, berkat Muhammad perselisihan itu dapat diselesaikan dengan cara damai. Sehingga kita tahu setelah itu ia mendapat julukan Al-Amin (Yang Terpercaya) membuat iri musuh-musuhnya, pertanda bahwa anak bangsa Arab kelak akan menjadi Nabi dan Rasul.

Hanya hal-hal di ataslah yang kita ketahui tentang perbuatan dan keterlibatan Muhammad di depan umum selama lima belas tahun. Sifatnya yang lembut, tegas, kekerasannya dalam menjaga kesucian hidup, kehalusan budinya, kesiap-sediaannya membantu si miskin dan lemah, rasa kehormatannya, kesetiannya yang besar, dan rasa kewajibannya yang begitu besar. Kesemua itu pada waktunya ia akan memiliki watak sosial yang tabligh, amanah, fathonah, dan sidiq.

Pada titik inilah Muhammad sebagai manusia yang memiliki tubuh membawa kabar gembira dan memberi teladan baik bagi semesta alam melalui tutur kata dan tindakan. Manusia bangsa Arab ini dapat dipastikan dalam kesehariannya tidak mampu melakukan kecerobohan yang merugikan orang lain. Penggembala kambing itu selalu waspada dan penuh perhatian terhadap kaum lemah.

Meski di depannya terbentang sebuah negeri berlumuran darah yang tercabik-cabik oleh perang saudara dan pertikaian antar suku. Mereka kecanduan ritual takhayul dan mesum, sekaligus kejam dan sewenang-wenang.

Pengalaman-pengalaman sebelum kerasulan inilah yang membentuk daur hidup manusia untuk menciptakan suatu ruang yang tenang, tentram, damai, dan toleran. Siapa sangka keberadaan agama dan kepercayaan masyarakat Arab yang saling bertengkar dan menghancurkan di hadapan Rumah Allah Swt itu didekonstruksi oleh Muhammad dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab setelah kenabian.

Alhasil, Mekkah menjadi suatu tempat yang paling banyak dikunjungi orang untuk sekedar berumrah atau menunaikan ibadah haji,yang membawa suasana kejiwaan manusia resah menjadi satu dalam nuansa persaudaraan menghadap Ka’bah. Nilai-nilai keislaman inilah yang sesungguhnya membawa situasi desa dalam perspektif Islam dibentuk. Sebab Muhammad dengan Ka’bah merupakan komitmen keharmonisan meningkatkan keimanan kita untuk berbagi pengalaman spiritual dengan para pengikutnya. Demikian.

 

*Penulis adalah peminat kajian sejarah kebudayaan Islam  & pegiat gerakan ekologi dan politik pedesaan dalam perspektif Islam

           

IMG-20190617-WA0002.jpg?fit=1200%2C676&ssl=1
17/06/2019

Reporter Rani Setianingrum
MENTARI.NEWS,SOLO-1085 Mekanik, 264 Service Advisor, 3.259 siswa Sekolah Menengah Kejuaruan (SMK) kelas XI, dan 242 guru SMK Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) Astra Honda ikuti Kontes Mekanik, Service Advisor dan SMK tingkat Regional yang ke-26.

Ilustrasi_-Nyantri.jpg?fit=1007%2C583&ssl=1
17/06/2019

Oleh: Yohanes Nasution*

Anak kami ada tiga. Yang sulung laki-laki, Cahya panggilannya, sudah lulus dari Gontor Ponorogo dan saat ini masih kuliah di Fisipol UMY semester (mau masuk) tujuh. Anak kedua putri, Zika panggilannya, baru lulus dari Gontor Putri pada Ramadhan kemarin dan mau meneruskan kuliah di UNIDA (Universitas Islam Darussalam) Gontor. Anak ketiga putri juga, Alya panggilannya, baru lulus SD dan saat ini sedang berjuang agar bisa diterima nyantri di Gontor Putri mengikuti jejak kakaknya.

Aku dan istriku sering mendapat pertanyaan dari teman tentang anak-anak kami yang nyantri di Pondok Gontor. Macam-macam pertanyaannya, tapi yang paling sering seperti ini, “Bagaimana cara supaya anak mau mondok di Pesantren?” Atau, “Anaknya sudah hafal berapa juz?” Atau, “Kalau masukkan anak di pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?”

Sungguh tidak mudah menjawab pertanyaan seperti itu karena itu soal mindset orang tua tentang pendidikan anak. Pada umumnya orang tua mencita-citakan anaknya setelah besar nanti menjadi dokter, insinyur, pegawai negeri, karyawan perusahaan dengan gaji besar, atau bahkan menjadi pejabat dan politisi kondang. Itulah makanya mereka memasukkan anaknya ke sekolah favorit sejak SD hingga SMA unggulan agar nanti bisa melanjutkan ke universitas terkenal. Bahkan ada juga ortu yang mencita-citakan anaknya menjadi artis terkenal, maka anak-anaknya diikutkan kursus musik, menyanyi, modelling, dsb, lalu si anak pun sering diikutkan lomba atau festival hingga menjadi juara dan bila beruntung bisa menjadi bintang/artis terkenal dan kaya raya.

Begitulah wajarnya orang tua menuntun anaknya agar kelak hidup sukses dengan profesi mentereng sesuai dengan konsepsi tentang sukses saat ini. Hal itu berbeda dengan wali santri yang memilih memasukkan anaknya ke Pondok Pesantren Gontor, misalnya. Kami, juga beberapa wali santri yang pernah ngobrol degan kami, pada umumnya hanya menginginkan anak-anaknya menjadi shalih dan shalihah. Tidak lebih. Tidak berani mencita-citakan anak akan menjadi ini menjadi itu seperti umumnya ortu. Kami hanya meyakini bahwa setelah lulus dari Gontor anak-anak mampu beradaptasi dengan dunia yang dihadapinya, entah dunia kampus/kuliah atau dunia kerja. Kami yakin hahwa anak-anak kami akan mampu istiqamah menghadapi dunia pergaulan yang penuh intrik, hoax dan fitnah rebutan hal-hal duniawi.

Kalau mindset atau konsepsi ortu tentang pendidikan anak masih standar alias konvensional, jangan masukkan anak ke Gontor. Berat, Bro. Anda pasti akan merasa kecele dan kecewa kalau tidak punya setelan layaknya seorang santri. Baru dalam proses pendaftaran saja Anda akan merasa kurang terhormat karena harus antri berhari-hari dan bermalam-malam tanpa fasilitas memadai. Ortu harus siap tidur klesetan di lantai bersama ribuan ortu dan calon santri lain, antri kamar mandi seperti jamaah haji sedang wukuf di Mina, antri makan di kantin yang dikelola santri klas 5-6 dengan menu seadanya, dsb. Bagi yang punya tenda agak lumayan bisa mendirikan tenda di teras gedung atau di halaman dan bawah pohon seperti orang camping sehingga agak punya privacy. Bagi yang datang duluan bisa menempati gazebo-gazebo yang dibangun di bawah pohon pinggir lapangan.

Begitulah, semua ortu calon santri harus bermental santri, sanggup hidup bersahaja setidaknya untuk beberapa hari sampai anaknya dapat kepastian diterima atau tidak. Bila anaknya diterima, ortu pun harus ikhlas anak diterima di Gontor Putri (GP)1, 2, 3 (ketiganya di Ngawi, Jatim), atau di GP 5 di Kediri. Harus manut. Tidak boleh protes. Kalau tidak manut, silahkan anak dibawa pulang seperti halnya anak-anak yang memang tidak diterima karena tidak lulus ujian seleksi masuk. Itulah ujian pertama bagi ortu santri Gontor.

Ujian berikutnya terjadi ketika harus berpisah dengan anak, meninggalkan anak hidup di pondok. Ini jelas berat, Bro, terutama ketika si anak nangis-nangis karena mungkin belum bisa enjoy di pondok. Namanya juga anak, harus berpisah dengan ortu tanpa fasilitas seperti di rumah yang serba komplit dan terpenuhi semua kebutuhannya. Maka tidak jarang ortu di rumah terus kepikiran anaknya sampai-sampai gak bisa makan enak karena membayangkan anaknya menderita di pondok. Padahal, pikiran dan kekhawatiran ortu semacam inilah yang justru membuat anaknya jadi gelisah dan tidak nyaman sehingga prosesnya menjadi santri terganggu. Di sinilah perlunya ortu harus TETEG dan TEGEL alias kuat hati dan tega mengikhlaskan anak berproses di pondok bersama ribuan teman barunya. Dan jangan lupa, sebenarnya anak-anak memiliki kemampuan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya dibandingkan ortu. Maka IKHLASKAN saja anak berproses di pondok. Percayalah bahwa pondok punya SOP pendidikan anak yang sudah teruji kedahsyatannya.

Pertanyaan berikutnya, “Anaknya di Gontor sudah hafal Al Quran berapa jus?” Perlu dipahami bahwa Gontor bukanlah Pondok Tahfidz sehingga tidak mewajibkan santrinya menghafalkan Al Quran. Ada banyak pilihan kegiatan santri di sana. Ada Pramuka, jurnalistik, sastra, bermacam-macam olah raga, qiro’ah/seni baca Al Quran, musik, pertamanan, kebersihan lingkungan, dan lain-lain, salah satunya adalah kegiatan tahfidz Al Quran. Biasanya anak akan mengambil kegiatan sesuai dengan minat dan bakatnya, meski ada juga yang sekadar ikut temannya. Boleh juga kalau ortu mengarahkan anaknya agar ikut kegiatan tahfidz, dan syukur bila si anak mau dan berminat. Kalau tidak berminat ya jangan dipaksakan.

Pertanyaan berikutnya, “Kalau masukkan anak ke pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?” Sekali lagi, sejak awal kami tidak berani memproyeksikan anak akan jadi apa, kecuali jadi anak yang shalih-shalihah yang berbakti dan bisa mendoakan ortunya setelah meninggal nanti. Tidak lebih. Soal rejeki, pasti Allah SWT akan memberikan rejeki sesuai dengan kapasitas dan ikhtiarnya. Sudah ada ratusan ribu alumni Gontor. Mereka masuk ke berbagai sektor kehidupan. Ada yang jadi ulama seperti alm. K.H. Hasyim Muzadi (PBNU), Prof. Din Syamsuddin (Muammadiyah), alm. Dr. Nurcholis Madjid, dll. Ada juga yang jadi politisi ‘hebat’ seperti Hidayat Nur Wahid (PKS) dan Lukman Hakim Syaifuddin (PPP). Ada juga alumni/jebolan yang sulit diidentifikasi karena perannya yang menonjol/jenius di lintas sektoral dan istiqamah menemani umat seperti Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Ada juga yang dianggap ‘mbahnya teroris’ seperti Ustadz Abu Bakar Basyir yang hingga usianya yang sudah uzur pun masih dipaksa hidup di penjara. Ada juga yang jadi diplomat hebat seperti Aji Surya. Banyak juga alumni yang jadi udtadz dan pimpinan Ponpes di berbagai daerah. Bahkan, konon ada juga alumni yang jadi pimpinan/raja preman di satu kota besar.

Ah, jadi teringat puisi Kahlil Gibran, “Anakmu bukan anakmu. Dialah putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri….dst.”

#catatanwalisantrigontor
#sambilnemanianakdaftargontorputrimantingan

Limbah-kayu-1.jpg?fit=823%2C518&ssl=1
17/06/2019

Reporter : Novia Tri Astuti
MENTARI.NEWS, SOLO –  Grajen merupakan nama yang digunakan untuk menyebut limbah dari serbuk kayu.  Di tangan Trisno serbuk kayu yang biasanya hanya menumpuk sebagai limbah mampu diubah menjadi lukisan mewah.

Lukisan serbuk kayu yang di buat oleh Trisno ini menjadi daya tarik yang cukup besar bagi penggemar seni.

Di ceritakan oleh Trisno, lukisan serbuk kayu yang menjadi produk unggulan UKM dari kelurahan Gilingan ini awalnya dibuat hanya sekedar coba-coba.  Trisno yang juga merupakan lulusan DKV UNS tahun 1997 merasa ingin membuat kreativitas yang dapat menarik pasar.

“Berbagai macam media saya olah, untuk mencari mana yang akan di terima oleh pasar, ” terang Trisno..

Trisno mengawali usahanya pada 2006. Pada masa awal, diakui oleh Trisno masih mengalami kesulitan di pasar.  Pada 2-3 tahun pertama masih sangat minim respon.

 

Trisno memperlihatkan sejumlah karya lukis yang ia buat dari grajen kayu itu. (mentari.news)

Sampai pada akhirnya, waktu itu lukisan atau foto siluet lah yang menjadi pasar pertama yang ia dapatkan.

“Meskipun gagal saya tetap berinovasi dan mencoba terus. Hingga akhirnya foto siluet atau lukisan siluet menjadi pembuka modal awal mendapatkan pasar,” ungkap Trisno.

Mulai dari situlah lukisan grajen ini menjadi bentuk inovasi dari lukisan sebelumnya.  Trisno menjual lukisannya ini mulai dari harga 300 ribu rupiah.

Sampai saat ini Trisno mengerjakan berbagai jenis lukisan itu sendiri. Trisno hanya menggunakan sistim bagi job atau bagi order dengan teman teman yang lainnya.  Trisno juga membuka peluang bagi yang ingin belajar dan membuat lukisan dari gergajen tersebut ditempat biasa ia produksi.

Trisno biasa memasarkan lukisan serbuk kayu ini melalui instagram dan facebook. Selebihnya melalui pameran-pameran seperti pada UKM Expo seperti yang ia ikuti di atrium Paragon Mall Solo pada Rabu-Sabtu (12-15/06/2109).

Kepandaian Trisno membuat lukisan dari serbuk kayu tersebut membuat ia beberapa kali memperoleh  pesanan Wali kota Solo, untuk dibuatkan berbagi karater lukisan. (*)

KWT-Putri-Mandiri.jpg?fit=732%2C544&ssl=1
15/06/2019

Reporter : Rosita Maya Purnamasari
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Hidup segan mati tak mau. Ungkapan itu tepat menggambarkan kondisi UKM usaha pengolahan biji wijen jadi minyak wijen dan kecap wijen di Dukuh Jurangsari RT 01 RW 02, Desa Jagan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo.

Pegadaian-Cokronegaran.jpg?fit=825%2C576&ssl=1
11/06/2019

Reporter: Rani Setianingrum
MENTARI.NEWS,SOLO – Seusai Lebaran, tingkat gadai di Pegadaian Cokronegaran Jebres meningkat. Menurut Pimpinan Cabang Pegadaian Cokronegaran, Joko Wiratno, sejak hari pertama dibuka setelah libur Lebaran banyak nasabah yang datang untuk melakukan gadai.

Ilustrasi-pesawat.jpg?fit=960%2C642&ssl=1
11/06/2019

Reporter Rani Setianingrum
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO- Jumlah pemudik yang memanfaatkan moda transportasi pesawat terbang tahun ini mengalami  penurunan yang signifikan dari tahun sebelumnya.

salaman.png?fit=1200%2C716&ssl=1
09/06/2019

Oleh: Yohanes Nasution*

“Om, atur sungkem taklim, sugeng riyaya Idul Fitri, sedaya lepat kula nyuwun pangapunten,” kata Sasa sambil menyalamiku dengan takzim tadi sore.

“Hiyo podho-podho, Sa. Salahku akeh banget neng awakmu. Aku yho njaluk pangapuramu. Mugo-mugo dosa awake dhewe dingapura dening Gusti Allah. Aamiin….,” jawabku dengan susunan kata sebisaku.

Sebenarnya sangat tidak enak menerima kunjungan dan badan atau ucapan lebaran dari sahabatku tadi. Usia Sasa lebih tua dariku, maka mestinya aku yang sowan ke rumahnya untuk menghaturkan permohonan maaf kepadanya. Syukur-syukur bisa membawakan buah tangan untuk keluarganya. Beda soal kalau, misalnya, Sasa masih terhitung kerabatku dan awu atau garis nasabnya lebih muda dariku. Maka dia yang harus sowan, sebagaimana banyak ponakan-ponakanku yang datang berlebaran ke rumahku meski usianya lebih tua. Begitulah budaya kami, budaya wong Jowo di pedesaan yang masih setia dengan tradisi.  Sasa sama sekali tidak ada kaitan kerabat denganku. Kami hanya sahabat, teman glenak-glenik dan rerasan tentang berbagai hal. Itu pun aku lebih banyak berposisi sebagai ember penampung limbah dari kegelisahannya yang sering menggumpal. Lha kok dia yang datang ke rumahku. Sungguh tidak enak rasanya.

“Sa, mestinya aku yang ke rumahmu, tapi betul-betul memang belum sempat karena masih banyak tamu,” kataku sambil mempersilakan Sasa minum kopi dan mencicipi kue di depannya.

“Gak apa-apa, Om. Ndelalah waktuku memang longgar, maka aku yang sowan ke sini,” jawabnya sambil tangannya bersiap menyulut rokok.

Sambil menikmati kopi sore, kami mulai ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai hal yang ringan-ringan. Sasa bercerita tentang puasanya yang tahun ini bisa full 30 hari tanpa bolong, tentang sholat tarawih di mesjid kampungnya yang tetap ramai sejak awal hingga akhir Ramadhan, tentang anak-anak yang rajin tadarus setiap bakda tarawih, tentang sholat Ied di lapangan yang bacaan imamnya sangat bagus dan khotibnya tidak nyinggung politik sama-sekali, tentang jalan Boyolali-Jatinom-Klaten yang padat merayap sejak 3 hari sebelum lebaran, dan sebagainya.

Kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba datang ponakanku yang biasa dipanggil ustadz Wildan karena sering ngisi pengajian di kampung-kampung, pintar qiroah dan muazin utama di Mesjid Agung.

“Assalaamu’alaikum….,” Wildan mengucap salam dan kami jawab “Wa’alaukumasalam.”

“Dari mana, Wil?,” tanyaku.

“Dari rumah, Om. Tadi kulihat Pak Sasa lewat depan rumah, kupikir pasti mau ke sini. Makanya aku ke sini pengin ikut ngobrol, Om,” jawab Wildan.

“Wah kebetulan ada ustaz ini. Nderek tepang, saya Sasa tukang parkir Soto Kartongali,” Sasa mencoba memperkenalkan diri.

“Njih, Pak Sasa. Siap. Saya sudah kenal Njenengan kok, si juru parkir teladan Nasional dari Jolotundo. Ngaturaken Sugeng Riyadi, sedaya lepat nyuwun pangapunten.”

“Njih sami-sami….tapi Ustadz mbok jangan ngece, to.”

“Bukan ngece, Pak Sasa. Memang Njenengan pantas mendapatkan gelar itu. Saya ini sudah biasa bepergian ke berbagai kota, sudah ketemu banyak sekali juru parkir, tapi belum ada yang profesional seperti Sampeyan. Iya to, Om?,” Wildan minta persetujuanku.

“Profesional bagaimana, Ustadz? Lha wong saya ini ya cuma bekerja, ngibadah, melakukan yang seharusnya saya lakukan sebagai tukang parkir, memberi aba-aba supaya orang bisa markir kendaraan dengan rapi dan nyaman.”

“Lha ya itu kelebihan Pak Sasa.”

“Kok kelebihan?”

“Pak Sasa bekerja dengan hati yang tulus dan total membantu orang mau parkir atau keluar dari parkiran. Profesional. Bahkan orang-orang bilang Pak Sasa tidak mata-duitan, tidak butuh duit, karena kadang menolak dikasih uang parkir.”

“Wah mbok jangan gitu to, Ustaz. Saya masih butuh duit, kok. Makanya bekerja tiap hari.”

“Pak Sasa, semua orang memang butuh duit. Tapi banyak orang yang bekerjanya tidak sungguh-sungguh dan tidak jujur. Tidak profesional. Banyak orang hanya mencari duit, tapi tidak serius kerjanya. Tidak tulus dan terkesan tidak ikhlas. Bahkan karena sedemikian penginnya cepat kaya, pengin cepat punya harta banyak, dia berani mengambil yang bukan haknya.”

“Berani mencuri ya, Ustaz?”

“Ya mencuri, merampok, atau korupsi. Karena apa, Pak Sasa? Karena orang tidak punya lagi sifat jujur dan ikhlas. Puasa Ramadhan kita sebenarnya untuk melatih jujur dan ikhlas itu. Coba kalau kita tidak jujur dan tidak ikhlas, bisa saja kita sembunyi di kamar agar tidak ada orang melihat kita makan minum atau merokok. Iya to, Pak Sasa? Tapi sayangnya setelah Ramadhan kita tidak kuat untuk istiqamah.”

“Iya bener itu, Ustaz. Jan-jane puasa itu memang berat kok, ya.”

“Memang berat, Pak Sasa. Makanya setelah Lebaran orang jadi merasa sudah bebas lagi melakukan apa saja, bahkan berani melakukan sesuatu yang jelas dilarang.”

“Wah alhamdulillaah, Om, beruntung sekali sowanku ke sini sore ini bisa dapat ilmu dari Ustadz Wildan. Matur nuwun ya, Ustaz. Kapan-kapan kalau Njenengan pas nyoto, saya mau ngaji lagi.”

Obrolan sore pun kami akhiri karena Wildan mau adzan maghrib. Sasa pamit pulang juga karena harus bertugas menjadi imam maghrib di masjid kampungnya. Donga-dinonga yho, Sa….

 

#serialsasa

______________________________________________________

 

*Penuils adalah Anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah