Syariah-Hotel-Solo.jpg?fit=1024%2C683&ssl=1
04/07/2019

Reporter:Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Pada tahun 2030 mendatang, diperkirakan jumlah penduduk Muslim mencapai 25 persen dari penduduk dunia. Hal tersebut memberi harapan bagi tumbuhnya pariwisata halal di tanah air mengingat bagian paling besar penduduk di Indonesia adalah Muslim. Namun begitu, problem yang dihadapi untuk pengembangan wisata halal didalam negeri sangatlah besar.

Tenaga pengajar Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta, Imron Rosyadi menjelaskan potensi yang dimiliki Indonesia untuk mengembangkan wisata halal sangat besar.

Mulai dari jumlah penduduk Indonesia yang ddominasi Muslin hingga hampir 90 persen sampai banyaknya obyek wisata yang ada di tanah air.

Wisatawan dari Timur Tengah, menurut Imron Rosyadi, lebih menyukai obyek wisata non pantai seperti tempat-tempat bersejarah Islam misalnya museum peradaban Islam,dll dimana di Indonesia itu banyak sekali tempatnya.

“Wisatawan Timteng suka wisata yang non laut, tapi liat sejarah, museum. Pantai sudah mulai bosan, tapi melihat tempat-tempat mengenai sejarah islam itu dia suka. Jawa tengah punya potensi karena Jawa Tengah, Yogyakarta itu terkait dengan sejarah Mataram Islam. Solo juga bisa loh. Karena punya kraton, punya kasunanan. Itu bisa dikembangkan,” jelas Imron saat ditemui mentari.news di ruang dosen FEB UMS belum lama ini.

Namun masalahnya, orang Timur Tengah itu inginnya saat berada di daerah wisata bisa memperoleh jaminan kehalalan produk yang mereka gunakan.

Misalnya, ketika wisatawan itu berwisata ada tempat ibadah yang representatif. Demikian pula saat makan harus ada makanan halal. Begitu pula dengan hotel tempat menginap juga harus ada jaminan halal.

“Ketika makan ya ada jaminan halal, ketika dia di  hotel ya harus ada jaminan di hotel itu tidak ada orang berpasangan yang masuk tanpa surat nikah. Karena mereka berkeyakinan bahwa kalau ada perbuatan maksiat di kamar hotel, maka kamar kanan kiri, depan belakang terkena dampak. Ini mereka kena (dosa) gitu. itu jelas. Itu memang hadis, hadisnya jelas. Maka mereka harus yakin bahwa hotel pun harus syariah. Tidak ada orang yang masuk ke situ untuk berzina,” terang Imron Rosyadi.

Menurut Imron Rosyadi, di Jawa Tengah, angka kunjungan wisatawan dari luar negeri terutama dari Timur Tengah masih sedikit. Mereka lebih suka berwisata di Malaysia. Karena mereka disambut dengan baik, disambut produk halal disambut dengan suasana Islami.

“Di Indonesia problemnya itu saya melihatnya, satu, namanya juga orang Jawa, merasa risih dengan seperti itu, harus halal, harus syariah,. Belum in dengan itu. Itu kalau orang Jawa,” ujar Imron Rosyadi.

Wisata halal di Indonesia saat ini dalam pandangan Imron Rosyadi memang belum bisa menyambungkan industri hulu dengan hilir. Di Malaysia industri wisata halalnya sudah bisa mengintegrasikan hulu ke hilir.

“Contoh industri kecantikan (di Malaysia) dari hulu ke hilir nyambung, lokal semua. Di Indonesia belum nyambung seperti itu. Jangan kan solo atau jateng. Indonesia belum nyambung,” ujar Imron.

“Saya menganalisa pernyataan Menteri Pariwisata Arif Yahya, dia optimis jadi nomer dalam hal wisata halal. Cuma Yang jadi problem itu kata dia, infrastruktur belum mendukung. Artinya antara hulu dan hilir putus, ngga nyambung,” tambah Imron Rosyadi. (*)

 

MEKSI-2019-2024.jpg?fit=1200%2C798&ssl=1
15/05/2019

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, JAKARTA – Presiden Joko Widodo meluncurkan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) 2019-2024 pada Selasa (14/5/2019).

MEKSI 2019-2024 diharapkan memberi pedoman terhadap pembangunan ekonomi syariah di Indonesia pada lima tahun ke depan agar mampu menjadi pelaku utama ekonomi syariah  dunia.

Peluncuran MEKSI 2019-2015 dilakukan di Gedung Saleh Afif, Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta.

Presiden Jokowi  mengatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar bertransformasi menjadi salah satu negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada 2045 mendatang. Demikian disebutkan beberapa studi yang telah dilakukan baik di dalam maupun luar negeri.

“Tapi untuk menuju ke sana juga bukan pekerjaan mudah. Banyak tantangan, banyak persoalan besar yang harus kita selesaikan,” kata Presiden dalam keterangan yang dikirim Bey Machmudin, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden

Salah satu kunci utama untuk mewujudkan hal itu telah dimiliki Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, yakni ekonomi syariah. Maka, pertumbuhan ekonomi nasional dan penyejahteraan umat harus dilakukan dengan salah satunya memajukan perekonomian syariah di dalam negeri.

“Kunci itu adalah ekonomi syariah. Ekonomi syariah sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional, ekonomi syariah sebagai sumber kesejahteraan umat,” ujar Presiden Jokowi dalam sambutannya.

Diperkirakan, di level global, ekonomi syariah memiliki sumbangan ekonomi global yang sangat besar. Tahun 2023 mendatang, sumbangsih ekonomi syariah terhadap perekonomian dunia diperkirakan bakal bernilai setidaknya USD3 triliun. Hal itu merupakan potensi yang harus dapat dimanfaatkan oleh negara kita.

“Sayangnya, ini menurut Global Islamic Economy Indicator, di tahun 2018 Indonesia masih menempati urutan yang ke-10 dalam peringkat negara-negara yang menyelenggarakan ekonomi syariah,” tuturnya.

Jokowi mengatakan ekonomi syariah Indonesia masih di belakang Malaysia, Uni Emirat Arab, Bahrain, Arab Saudi, Oman, Jordania, Qatar, Pakistan, Kuwait. Inilah yang menurut Presiden, menjadi  pekerjaan besar di Indonesia.

Oleh karenanya, melalui Komite Nasional Keuangan Syariah yang dibentuk oleh Presiden Joko Widodo pada 2016 lalu, pemerintah berupaya membangkitkan potensi ekonomi syariah nasional dan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah di tingkat global.

“Saatnya sudah tiba bagi kita untuk membangkitkan potensi ekonomi syariah di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah terkemuka di dunia. Karena kita memang negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia,” kata Presiden.

Suasana peluncuran MEKSI 2019-2024 di Gedung Gedung Saleh Afif, Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta.

4 langkah MEKSI 2019-2024

MEKSI 2019-2024 merumuskan empat langkah dan strategi utama untuk mewujudkan kekuatan ekonomi syariah nasional. Pertama, menguatkan rantai nilai halal dengan fokus pada sektor yang dinilai potensial dan berdaya saing tinggi. Kedua, menguatkan sektor keuangan syariah di dalam negeri.

Langkah ketiga ialah menguatkan sektor UMKM sebagai penggerak utama rantai nilai halal tersebut. Sementara yang keempat dengan menguatkan ekonomi digital yang utamanya melalui perdagangan elektronik sehingga mendorong pencapaian strategi keuangan syariah lainnya.

“Kita akan terus menguatkan rantai nilai halal dengan fokus pada sektor makanan dan minuman, fesyen, pariwisata, media, rekreasi, serta farmasi dan kosmetika. Sebagai pendukungnya kita akan kuatkan keuangan syariah, kita akan terus kuatkan UMKM kita, kita kuatkan ekonomi digital kita,” ujar Presiden.

Dengan MEKSI 2019-2024 yang telah dirumuskan tersebut, Presiden Joko Widodo berharap agar seluruh pihak memiliki semangat dan visi yang sama dalam mengimplementasikan kebijakan pengembangan ekonomi syariah Indonesia untuk mencapai tujuan yang telah dicita-citakan. (*)

 

Tausiyah-dan-Gathering-Akbar-Perumahan-Syariah.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1
07/05/2019

Reporter: Novia Tri Astuti
MENTARI.NEWS, SOLO – Bisnis perumahan syariah mulai berkembang di Soloraya. Masyarakat yang hendak membeli rumah di perumahan syariah memperoleh  kemudahan.  Kemudahan cara beli menjadi daya tarik tersendiri.

KH-Maruf-Amin.jpg?fit=575%2C340&ssl=1
01/03/2018

Jakarta, MENTARI.NEWS – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin menyebut banyak pihak yang memunculkan wacana negatif mengenai kondisi Bank Muamalat agar masyarakat tidak mempercayai pelopor industri keuangan syariah di tanah air itu.

Ustaz-Yusuf-Mansur.jpg?fit=662%2C426&ssl=1
28/02/2018

Jakarta, MENTARI.NEWS – Ustaz Yusuf Mansur mengajak masyarakat beramai-ramai membuka rekening tabungan di PT Bank Muamalat Tbk. Ustaz yang juga entrepreneur itu menargetkan  1.000 rekening baru di bank syariah perdana di Indonesia itu.

Pasar-Muslim.jpg?fit=758%2C507&ssl=1
01/02/2018

MENTARI.NEWS – Singapura menjadi tuan rumah Konvensi Pengusaha Muda Muslim (YIEC) pada pertengahan Desember 2017. YIEC berfungsi sebagai platform para pengusaha dan pemimpin bisnis dari seluruh dunia dapat berkumpul dan mendiskusikan tren terkini di pasar Islam.

Bank-Aceh-Syariah.jpg?fit=1024%2C682&ssl=1
16/12/2017

Jakarta, MENTARI.NEWS  –  Sebanyak 21 Unit Usaha Syariah (UUS) bersiap memisahkan diri dari perusahaan induk (spin off). Saat ini UUS tersebut sedang mempercepat langkah memenuhi kewajiban melakukan spin off..

Fenomena-212.jpg?fit=848%2C564&ssl=1
16/12/2017

Sukoharjo, MENTARI-ONLINE – Pertumbuhan perbankan syariah pada tahun 2018 dinilai akan mengalami stagnasi (kemandekan). Jika pun ada pertumbuhan, tidak akan besar. Apa yang menyebabkan seperti itu?