Sigiit-Purnomo-Adi.jpg?fit=1200%2C566&ssl=1
19/05/2019

Reporter : Novia Tri Astuti
MENTARI.NEWS, SOLO – Berawal dari diangkat menjadi wakil Green kampus Universitas Sebelas Maret,  Sigit Purnomo Adi, bertranformasi menjadi pegiat ramah lingkungan sekaligus pebisnis lingkungan yang berhasil.

Ditemui pada Jumat, (17/5/2019) Sigit yang juga berprofesi sebagai dosen seni terapan,  merasa resah dengan banyaknya wacana kampus hijau yang dtelitli di skripsi mahasiswa namun tidak ada yang bisa direalisasikan.

Akhirnya Sigit bergerak mewujudkan daur ulang sampah yang disulap menjadi produk yang bernilai guna. Nah, Salah satu hasil karyanya yang telah banyak dikenal  yaitu kerajinan bodi gitar dari daur ulang limbah.

Segala macam jenis limbah seperti plasik, kertas maupun jenis limbah yang lain, di tangan Sigit, mampu disulap menjadi produk bernilai artistik tinggi.

Tawaran kerja sama  oleh pengrajin gitar Mancasan, Baki, Sukoharjo, makin memberi keuntungan besar bagi Sigit dari hasil penjualan gitar dengan bodi dari daur ulang limbah tersebut.

Gitar dengan bodi daur ulang limbah tersebut dijual dengan kisaran harga mulai dari Rp 500 ribu – Rp 1 juta. Namun demikian, diakui Sigit,  tujuan awal pengelola limbah ini bukan pada bisnis dan profit.

“Tujuan awal saya sebenarnya mewujudkan wacana-wacana go green di kampus UNS,  banyak skripsi mahasiswa yang membahas limbah, tapi masih menjadi wacana. Dari sini saya mencoba membuatnya menjadi aksi nyata. Kalau pun ada pasar yang masuk itu bonus, bukan tujuan utama, ” terang Sigit. (*)

 

Batik-Mahkota_.jpg?fit=815%2C537&ssl=1
19/05/2019

Reporter: Novia Tri Astuti
MENTARI.NEWS, SOLO – Batik Mahkota Laweyan telah berdiri sejak tahun 1940,  sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Berada di Jalan Sayangan Kulon no. 9 Laweyan, Solo. Batik Mahkota hingga saat ini sudah berjalan sampai generasi ke 3.

Alpha Febela merupakan generasi ke 3 dari Puspowidjoto.  Ayah dari Muhammad Taufan Wicaksono ini juga merupakan anak menantu dari Puspowidjoto yang kembali menghidupkan Batik Mahkota.

Muhammad Taufan Wicaksono  menceritakan bahwa Batik Mahkota pernah vakum pada tahun 80-an. Hal itu terjadi karena batik tulis kalah bersaing dengan batik printing.

“Karena banyaknya produksi batik printing, membuat produksi batik turun. Sebab harga jual batik printing yang murah dan mampu bersaing dengan pesat dipasar,” kata Muhammad Taufan saat ditemui mentari.news, Selasa (15/5/2019).

Setelah sekian lama vakum, Batik Mahkota kembali menampakkan sinarnya pada tahun 2005, bersamaan dengan berdirinya Kampung Batik Laweyan melalui Alpha Febela yang mencoba kembali memunculkan batik Mahkota dan berjalan sampai saat ini.

 

Pengrjain batik di Batik Mahkota. (mentari.news)

“Batik Mahkota masih konsisten pada batik tulis, yakni pada produk tulis modern, tradisional, batik etnik,  cap dan juga batik Abstrak,” terang Taufan.

Sejauh ini meskipun pemasaran batik Mahkota masih dalam skala Nasional. Namun nyatanya mampu eksis hingga saat ini, dengan omset perbulan lebih dari 20 an juta.

Taufik juga mengaku pemasaran Batik Mahkota  sudah masuk ke market place seperti Lazada, Shoppie,  dan beberapa market place lain. Mahkota Batik juga mengunakan media sosial pribadi agar makin mengembangkan produk batik tulis  tersebut untuk makin dilirik pasar.  (*)

DSC8225.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1
15/05/2019

Reporter: Novia Tri Astuti
MENTARI.NEWS, SOLO – Berawal dari usaha sablon lantai di tahun 2010, Surya Harjono kemudian beralih ke usaha suvenir. Saat ini, Surya Harjono berhasil membesarkan usahanya yang diberi nama Lanvia Souvenir itu menjadi pemasok kepada pelaku usaha souvenir lainnya di berbagai kota di Indonesia.

DSC8218.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1
15/05/2019

Reporter: Novia Tri Astuti
MENTARI.NEWS, SOLO – Keunikan dari kerajinan kaca tiup ini adalah memiliki bentuk yang unik, dimana satu dengan yang lainnya tidak akan pernah memiliki bentuk yang sama.  Kerajinan kaca tiup ini dikerjakan Topa Cahyo Saputra. Anak muda kreatif ini mengaku menjadi pengrajin kaca tiup yang pertama di Solo.

Kerajinan-gitar_.jpg?fit=1200%2C900&ssl=1
15/05/2019

Reporter: Rosita Maya Purnamasari
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Daerah Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo terkenal sebagai sentra industri gitar. Di daerah ini sebagian besar warganya bekerja sebagai pengrajin gitar.

Souvenir-kaca.jpg?fit=960%2C540&ssl=1
12/05/2019

Reporter: Novia Tri Astuti
MENTARI.NEWS, SOLO –  Usaha kerajinan seni kaca Risang Aji Art Glass yang dijalankan Mintorogo makin populer ketika mendapat pesanan dari Iriana Jokowi yang ingin dibuatkan souvenir dan seserahan dari kaca untuk pernikahan anak keduanya Kahiyang Ayu dengan Boby Nasution, November 2017.

DSC8191.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1
11/05/2019

Reporter: Novia Tri Astuti
MENTARI.NEWS, SOLO – Berawal dari hobi sang istri, Ruby Yanto mulai menekuni bisnis kostum boneka Berbie Muslim sejak 5 tahun yang lalu. Ruby dan istri mengembangkan bisnis kreatif rumahan ini bersama 2 karyawan.  Pesanan datang tidak hanya dari Solo dan sekitarnya tapi juga Surabaya bahkan pernah sampai ke Malaysia.