Arifin-Ilham.jpg?fit=700%2C393&ssl=1
23/05/2019

By Arief Budiman

 

Innalillahi wa inna ilahi roojiuun. Semua yang dari Allah SWT pasti akan kembali jua kepada Nya. Tanggal 23 Mei ini bertepatan dengan 17 Ramadhan 1440 Hijriah, Ustad yang lembut, sejuk, dan kharismatik, Muhammad Arifin Ilham, menghadap Ilahi robbi. Rakyat Indonesia berduka cita mendalam. Salah satu ulama muda keturunan syeh Banjar, kelahiran Banjarmasin 49 tahun lalu,  telah dipanggil menghadap dzat yang menghidupkan dan yang mematikan untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan selama di dunia. Semoga beliau Khusnul khotimah.

 

Suatu waktu, pertengahan Nopember 2018, pukul 03.00 dinihari, sampailah saya di masjid Az Zikra yang megah di Bogor. Di tengah rerimbunan pohon halaman belakang masjid, seorang ibu bermukena putih berjalan gesit sendirian dari rumah tidak jauh masjid. Kami mencegat langkahnya. Kemudian saling memperkenalkan diri. Beliau menyebut nama Hajjah Nurhayati, ibunda Ustadz Arifin Ilham. Tinggalnya di Banjarmasin namun sudah beberapa hari ini berada di Bogor. “Ustadz lagi sakit, maka saya datang menunggui sampai beliau sembuh,” kata ibu Hajah Nuriyati sambil membimbing saya dan istri menuju lift untuk naik ke lantai 2.

 

Sampai di ruang atas saya berjalan ke arah kanan menuju tempat shalat untuk laki-laki. Sementara istri  bersama Hj. Nurhayati memasuki ruang jamaah putri yang bersekat.

 

Adzan Subuh berkumandang. Beberapa santri Az Zikra mulai berdatangan dari tempat asrama tidak jauh dari masjid. Saya lihat beberapa santri kecil kelas SMP yang tidur di sudut masjid berselimut sarung,  juga mulai menggeliat kemudian bangun menuju tempat berwudhu.

 

Setelah shalat Tahiyatul Masjid dan Sunnah Fajar saya bergeser duduk di shaf depan di atas karpet tebal dibalut sejuknya udara pagi. Tak beberapa lama, lelaki tengah baya memakai surban dan gamis putih berjalan menuju tempat imam. Saya sempat mencuri pandang. Wajahnya saya tidak kenal. Yang jelas bukan Ustadz Arifin Ilham. Saya semakin yakin, beliau dalam kondisi fisik yang kurang sehat.

 

Sesaat kemudian Iqomah dilantunkan. Jamaah merapatkan barisan. Shalat subuhpun dimulai. Setelah membaca Al Fatehah, Imam melantunkan ayat-ayat suci Al Quran dengan begitu merdu. Suaranya menggema memenuhi ruang masjid yang luas melalui sound system yang sangat bersih, sehingga detail mahrojnya juga terdengar fasih.

 

Setelah selesai shalat, tak beberapa lama, saya mundur ke shaf belakang. Wajah yang tak asing sedang duduk sambil berdoa. Berkopyah putih bergamis bersih. Saya mendekatinya. Beliau memandang dengan senyum hangat. Biarpun dalam kondisi sakit namun Ustadz Arifin Ilham tetap mengutamakan shalat subuh berjamaah.  Saya memperkenalkan diri kemudian mencium tangan kanannya.

 

Tanggal 10 januari 2019, Ustadz Arifin Ilham diterbangkan ke Penang Malaysia untuk menjalani perawatan karena kanker kelenjar getah bening. Saat dirawat beliau sempat dijenguk tokoh-tokoh penting Indonesia. Beliau sempat menulis puisi tentang perpisahan yang menghebohkan media massa. Semua muslimin berdoa untuk kesembuhannya. Namun takdir telah memilihkan jalannya.

 

Sekarang beliau sudah bertemu dengan dzat yang ia rindukan,  Allah Ajja Wajjalla dengan membawa bekal dan amal saleh yang sudah dipersiapkan selama beliau hidup.

 

Keranda warna hijau bertuliskan syahadatain membawa jenazah beliau ke alam barzah. Gema dzikir bersahutan memadati jalanan menuju pusara.

 

Di ruang saya mengetik ini, sebuah ayat suci terdengar : “ Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepda Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai.” QS : Al Fajr 27 : 28.

 

Apabila orang saleh mati, ia akan dikenang dengan kebaikanya dan didoakan sepanjang masa. Sebaliknya, apabila orang jahat mati, akan diingat keburukanya serta dicemooh oleh semua makhluk baik di dunia maupun di akherat.

Ilustasi-Ramadhan.jpg?fit=960%2C635&ssl=1
14/05/2019

By: Arief Budiman

Waktu begitu cepat berjalan. Tidak terasa hari-hari pertama Ramadhan telah kita lalui. Pada 10 hari pertama ini Allah SWT mencurahkan rahmat kepada para hamba yang menunaikan ibadah puasa. Ibadah yang juga diwajibkan pada ummat terdahulu pada jaman nabi dan rasul sebelum Muhammad SAW.

Bagi sebagian orang dan mungkin termasuk kita, bahwa pada 10 hari pertama puasa adalah hari yang berat. Karena seseorang harus melakukan adaptasi yaitu dari hari-hari yang “ bebas makan”  ke hari-hari yang harus menahan lapar dan dahaga. Mungkin ini fase yang cukup sulit, karena merupakan fase peralihan dari kondisi fisik yang normal ke pola baru yaitu tidak diperbolehkan makan dan minum sejak dari waktu subuh sampai waktuh magrib. Disinilah terjadi seleksi awal. Apakah 10 hari pertama ini seseorang tetap bertahan serta mampu mengatasi godaan jasmaniah, atau gagal dan lebih menuruti hawa nafsunya.

Ibadah puasa bukan saja ibadah jasmani, namun sekaligus pelatihan jiwa. Dalam 1 tahun sekali di bulan Ramadhan, seorang muslim wajib untuk menjalankan puasa.  Bulan Ramadhan ini waktu untuk “menghidupkan”  jiwa yang mungkin mengalami redup selama 11 bulan sebelumnya. Nur jiwa redup karena tertindih oleh hawa nafsu di kehidupan keseharian. Nur itu tidak mampu menyala terang menyinari. Sehingga seseorang berjalan dalam cahaya yang remang-remang. Ia sulit melihat mana putih mana hitam. Yang tampak adalah warna abu-abu. Penglihatan hati menjadi kurang jelas disebabkan cahaya nur seperti kelap-kelip api lilin.

Allah SWT dan Rasulnya sangat memahami bahwa manusia adalah tempat lupa dan khilaf. Bahwa manusia juga banyak kelemahan. Melalui kwajiban berpuasa Ramadhan ini, kaum muslimin dituntut untuk menghidupkan kembali nur jiwa yang redup, agar kembali terang memberi sinar dalam perjalanan hidup.

Dalam 10 hari pertama ini, Allah mencurahkan rahmat kepada para hamba Nya yang bersemangat untuk menghidupkan jiwanya, agar kuat dan memiliki energi sehingga tidak mudah dikendalikan oleh kemauan hawa nafsu.

Perjalanan masih dua etape lagi. Semoga pada 10 hari pertama Ramadhan ini kita mampu mengikuti ketetapan peraturan dengan benar. Kita juga mampu menghidupkan kembali nur jiwa dan berhasil memimpin hawa nafsu.

Ilustrasi-Puasa.png?fit=960%2C600&ssl=1
06/05/2019

By : Arief Budiman

Seperti halnya menunaikan rukun Islam lainya, beberapa teman saya menunaikan ibadah puasa ada yang tekun, ada yang puasa kendang ( hanya puasa di awal ramadhan dan tanggal akhir menjelang Iedul Fitri).
Bahkan ada yang sama sekali tidak berpuasa. Alasanya macam-macam. Ada yang mengaku tak kuat menahan haus, ada yang mengaku sakit maagh. Padahal teman ini shalatnya rajin. Lima waktu tak pernah ketinggalan. Tapi giliran wajib berpuasa di bulan Ramadhan, ia mengaku angkat tangan. Jam 4 pagi ia ikut sahur bersama keluarga. Siang makan di warung. Saat bedug magrib ia ikut berbuka.

Sebaliknya, ada teman yang tinggal di Banjarmasin, ia menjalani puasa Ramadhan full 1 bulan penuh, namun shalatnya tidak lengkap alias sering lalai, kecuali hari jumat.

Di Kota Sampit, ada teman yang sudah 6 tahun menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Masih disambung puasa 6 hari di bulan syawal. Di luar Ramadhan ia rutin puasa Senin-Kamis. Namun teman saya ini sama sekali belum bersedia menjalankan shalat, termasuk shalat jumat.

Berpuasa dan ibadah wajib lainya, adalah rukun Islam yang telah ditetapkan serta diwajibkan bagi pemeluknya. Berat-ringan suatu ibadah tergantung keimanan masing-masing.
Ada yang sebenarnya mendapat ruhsoh ( keringanan, boleh tidak berpuasa) namun tetap menjalankanya meskipun ia sebagai pekerja bangunan. Kerja keras bukan halangan untuk berpuasa, begitu alasanya.

Namun disisi lain, ada yang membatalkan puasa karena mengaku sebagai musafir. Ia bepergian meskipun jarak yang ditempuh tidak jauh serta menggunakan mobil ber ac. Agar ada alasan untuk tidak berpuasa, maka ia mengaku sebagai musafir.

Di Indonesia durasi berpuasa sekitar 15 jam. Sementara saudara kita yang tinggal di belahan dunia lainya, mereka bisa menjalani puasa hingga 20 jam lebih. Mereka tetap taat menjalankanya tanpa mengeluh atau merasa menjadi beban.

Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat istimewa. Hanya diri sendiri dan Allah yang tau apakah ia berpuasa secara benar dan sesuai tuntunan atau tidak. Atau apakah ia hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Atau memang ia puasa lahir batin. Hanya diri sendiri dan Allah yang mengetahui.
Karena ibadah puasa ini sangat istimewa, maka hadiahnya pun istimewa. Itu akan diberikan kepada mereka yang menunaikan ibadah puasa secara sungguh-sungguh, yaitu bertambahnya ketaqwaan kepada Allah SWT.

Jika kita pelajari, sebenarnya berat atau ringan seseorang dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul terletak pada tingkat kepasrahan. Disinilah sebenarnya kita bisa membaca berapa persen jiwa raga kita, diserahkan kepada Nya. Kita bisa mengukur itu.

Karena itu perlu kiranya kita meluangkan waktu untuk mengevaluasi tingkat kepasrahan tersebut. Perlu menyisihkan waktu di tengah kesibukan yang kadang memperbudak.
Dan pada bulan Ramadhan ini adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi menuju tingkat pasrah yang lebih total kepada Nya.

Isra-Miraj.jpg?fit=1200%2C778&ssl=1
04/04/2019

By : Arief Budiman

Bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi pada tahun 621 M. itu adalah peristiwa haq yang sudah final dan menjadi kelengkapan keimanan seorang muslim. Sebab peristiwa mulia yang terjadi tanggal 27 rajab itu jelas difirmankan Allah dalam Al Quran dan disabdakan Rasulullah dalam Hadist mutawatir. Tidak ada lagi keraguan bagi mukmin muslim mengimani peristiwa yang sangat bersejarah tersebut.

Peristiwa itu terjadi tahun ke 10 nubuah. Disebut juga sebagai tahun kesedihan karena pada tahun itu wafat Abu Thalib dan Khadijah, dua backing kuat dan berwibawa dalam perjuangan Rasulullah. Dalam kondisi terpuruk itulah Rasulullah di Isra’ Mi’raj-kan oleh Allah SWT.

Saat Rasulullah menceritakan pengalamannya maka sebagian orang yang mendengar merasa sangat aneh, sebab cerita itu tak masuk akal. Mereka menganggap Muhammad mengalami halusinasi akibat depresi tinggat tinggi. Bahkan tokoh jahil Abu Jahal menganggap Rasulullah sudah terkena gangguan jiwa.

Mereka berpikir, mana mungkin perjalanan yang sangat jauh antara Mekkah – Palestina dilanjutkan mi’raj ke Sidratul Muntaha kemudian kembali lagi ke Masjidil Haram hanya ditempuh dalam waktu semalam. Bagi yang memahami hanya dengan akal logika pasti sulit mempercayainya. Namun Abu Bakar langsung percaya apa yang disampaikan dan dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah suatu fakta.

Para pemikir muslim mengimani hal itu merupakan mu’jizat yang diberikan Allah hanya kepada Muhammad SAW. Jika Allah berkehendak apapun bisa terjadi. Tidaklah sulit bagiNya berbuat terhadap segala yang diciptakanNya.
Namun tidak sedikit yang mencoba mengurai perjalanan yang luar biasa tersebut dengan pendekatan Ilmiah. Ada yang menyampaikan itu merupakan perjalanan menembus dimensi ruang dan waktu. Sebagian yang lain merujuk teori fisika modern Einstein dengan rumus yang terkenal E=MC 2, yaitu materi bisa dilenyapkan menjadi energi.

Berbagai analisa itu mungkin dimaksudkan bahwa kejadian Isra’ wal Mi’raj bisa diterjemahkan dalam kerangka ilmu pengetahuan. Sebab Al Quran tidak pernah bertentangan dengan sains modern. Bahkan sains justru didorong untuk terus berkembang menguak informasi yang termaktub dalam Quranul Kariem.

Pendekatan metafisika juga ditulis Ir. Agus Mustofa dalam bukunya Terpesona di Sidratul Muntaha. Dalam buku itu antara lain Agus menerjemahkan ulang tentang kendaraan yang membawa terbang Rasulullah ke Masjidil Aqsa berupa hewan Buraq yang di dalam hadist digambarkan sebagai hewan mirip keledai yang bersayap. Rasulullah terbang naik hewan itu dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Agus lebih cenderung menafsirkan perjalanan tersebut dengan teori teleportasi. Yaitu fisik Rasulullah diubah oleh Allah menjadi gelombang cahaya, agar berhasil melesat cepat dalam hitungan detik.

Soal Buraq yang digambarkan dalam hadis sebagai binatang bersayap, memang itu cara Rasulullah memberi penjelasan yang sangat sederhana atas peristiwa yang musykil diterima akal waktu itu.

Hemat saya, pendekatan ilmiah atau metafisika atau
apapun, asalkan itu berujung untuk menambah keimanan kepada Maha Kuasa Allah itu sah-sah saja.

Dalam perjalanan suci tersebut Rasulullah ditemani malaikat Jibril. Jibril diciptakan dari unsur cahaya. Dalam beberapa kesempatan Jibril berubah fisik dari unsur cahaya menjadi unsur tanah seperti halnya manusia.

Ini juga dialami oleh utusan Allah yang lain, antara lain Nabi Luth yang kedatangan 2 orang tamu masuk ke dalam rumahnya dan ternyata mereka adalah malaikat. ( QS. Huud : 77). Nabi Ibrahim juga kedatangan tamu malaikat. ( QS . Adz Dzariyat : 24-28).

Persahabatan Rasulullah dengan Jibril sudah berlangsung lama yaitu sejak awal menerima wahyu pertama kali di Gua Hira, dan terus berlanjut ke wahyu berikutnya hingga 30 juz. Jibril bertugas menyampaikan wahyu dari firman Allah SWT kepada Rasulullah SAW.
Dan Jibril pula yang ditugaskan oleh Allah untuk menjemput Rasulullah dalam menjalankan Isra’ Mi’raj.

Dalam catatan sejarah, Rasulullah beberapa kali kedatangan malaikat dalam wujud manusia. Bagi Allah Sang Maha Pencipta, tidak lah sulit merubah fisik malaikat yang terbuat dari unsur cahaya menjadi fisik jasmani manusia. Nah, dengan demikian, apa sulitnya bagi Allah merubah fisik jasmani Rasulullah dari unsur tanah, dirubah menjadi unsur cahaya?

Maka saat Isra’ Mi’raj, Rasulullah telah dirubah fisiknya oleh Allah, dari unsur tanah menjadi unsur cahaya. Beliau masuk ke dalam kapsul cahaya yang disebut Buraq yang membawa perjalanan dengan kecepatan luar biasa. Dan setelah peristiwa ritual itu selesai, Allah kembali merubah wujud Rasulullah menjadi fisik jasmani manusia. Wallahua’lam bissawab.

Ilustrasi-lelaki-bergaya-wanita.jpg?fit=600%2C300&ssl=1
28/03/2019

By: Arief Budiman

Deddy Corbuzier tampak begitu terkesima menatap dua tamunya yang fenomenal. Lelaki tulen namun berparas ayu. Tubuh mereka ramping dibalut kebaya coklat dan bersuara merdu. Dalam acara Hitam Putih itu, Deddy mengundang Mas Panut dan Mas Sukimin untuk diwawancarai. Keduanya saat ini lagi viral di media sosial.

Dua pria asal Klaten ini lagi naik daun di panggung hiburan tradisional. Profesinya aneh, yaitu sebagai pesindhen, sebuah profesi yang langka.

Menurut Sukimin itu lebih merupakan strategi marketing untuk menjual jasa. Mereka melakukan kreatifitas baru yang belum pernah ada di dunia sindhen. Pesindhen pria memang sesekali ada namun tetap berpenampilan pria.

Profesi yang langka dengan suara tak kalah dengan pesindhen wanita yang ada, ditambah kepiawaian memberi suasana riuh gelak tawa penonton membuat dua pesindhen itu padat jadwal manggung di  berbagai kota di Jawa termasuk di Jakarta. Malah kabarnya, fansnya hingga luar negeri.

Di atas panggung nama Panut diganti Apri. Sedangkan nama Sukimin diganti Mimin. Keduanya warga Klaten, Jawa Tengah. Di youtube mereka banyak mendapatkan like serta subscribe.

Beberapa waktu lalu, Apri dan Mimin diajak dalang Ki Manteb Sudarsono untuk nyindhen di UNS Solo. Suara Apri yang merdu dipadu joke Mimin yang humoris, membuat keduanya mampu menjadi daya tarik dalam pagelaran wayang malam itu.

Sebenarnya fenomena ini bukan berita baru di dunia entertainment. Sekitar tahun 80-an ada seniman Sukardjo pemain dagelan Srimulat yang lebih akrab dipanggil Kardjo Ac-Dc. Ia selalu tampil di panggung dengan peran sebagai pembantu mengenakan baju daster dan wig. Lalu dilanjutkan oleh Kabul yang populer dengan nama Tessy.

Di Jogjakarta ada Didik Hadiprayitno yang akrab dengan panggilan Didik Nini Thowok. Secara biologis mereka adalah laki-laki. Tetap saat menjadi pekerja seni, mereka membuat nama dan penampilan sebagai wanita.

Bagaimana Islam melihat hal ini? Secara tegas Islam melarang seseorang lelaki yang menyerupai wanita atau sebaliknya. Banyak hadist shoheh yang kesemuanya menjelaskan bahwa Rasulullah melaknat perilaku tersebut.

“Rasulullah melaknat laki-laki menyerupai wanita, dan wanita yang menyerupai laki-laki.” HR. Bukhari.

Dalam hadist lain, “Rasulullah SAW melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki.” HR.Abu Dawud.

Semua dalil di atas jelas secara tegas melarang kaum laki-laki memakai pakaian wanita, meskipun tujuannya untuk bermain-main, karnawal atau drama.

Syekh DR. Wahbah al Zuhaili menafsirkan bahwa larangan tersebut juga meliputi gaya rambut, perhiasan, penampilan, gaya bicara, cara berpakaian, pemakaian sepatu dan lain sebagainya.

Pada hadist di atas terkandung maksud agar seseorang mensyukuri atas ketetapan dari Allah. Bagi lelaki berpenampilan sesuai karakternya. Sebaliknya seorang perempuan juga berpenampilan sesuai kodratnya. Jika seseorang tidak mensyukuri hal itu, pasti akan ada efek negatif di belakangnya.

Dalam psikologi ada teori tentang conditioning. Yaitu apabila seseorang selalu terkondisi dengan perilaku tertentu, maka ia akan terbiasa dengan perilaku tersebut untuk waktu selanjutnya. Lingkungan akan mengontrol  perilaku seseorang. Disini kita memahami bahwa miliu sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang kepribadian individu.

Pada kasus ini, apabila seseorang lelaki terbiasa dirinya dengan busana, gaya, perilaku wanita maka lambat laun kepribadiannya akan terkondisi sebagai wanita. Semula ia memang lelaki, namun berangsur akan berkurang sifat dan karakternya sebagai lelaki yang notabene tegas, kuat, berani  dll.

Islam melarang seorang pria berperilaku kemayu. Itu dikhawatirkan akan berpengaruh pada kondisi psikologis dan kemungkinan membuka peluang negatif terjadinya perilaku seksual menyimpang yang diharamkan. Hadist Rasulullah di atas harus dipahami sebagai upaya preventif.

Fenomena maraknya perilaku menyimpang belakangan ini seperti lesbian, gay, biseksual, dan transgender, jelas sangat memprihatinkan.

Bagi yang mengaku sebagai seorang muslim, sudah seharusnya patuh secara suka rela dalam segala hal, pada apa yang telah dianjurkan atau yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Kreatifitas tidak perlu mengabaikan aturan. Dan mencari rizqi masih banyak cara serta pilihan untuk dilakukan.

Wallahua’alam bissawab.

image-from-rawpixel-id-578923-jpeg.jpg?fit=1200%2C832&ssl=1
22/03/2019

By: Agus Sumiyanto

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat/49: 6).

Kita sekarang hidup pada era digital, yang di dalamnya penuh dengan limpahan informasi dari berbagai belahan dunia.

Sejak alam dunia terbentang, umat manusia tidak pernah luput dari yang namanya informasi. Nabi Adam as diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi karena memiliki keunggulan di bidang informasi (al-asmaa’), dibanding para malaikat.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa selain informasi yang benar, tak sedikit pula informasi yang beredar di tengah masyarakat mengandung unsur kepalsuan (hoaks).

Pada awal era Islam, manusia sekelas Nabi Muhammad Saw saja pernah terpapar informasi hoaks, yakni isu tentang perbuatan keji antara Aisyah (istri Nabi) dengan seorang sahabat, Safwan Ibnu Mu’attal. Keduanya tertinggal dari rombongan, sebab Aisyah harus mencari kalungnya yang hilang, akhirnya keduanya terlambat tiba di Madinah. Namun isu hoaks tersebut dikoreksi oleh Al Quran (QS. An Nur/24: 11-22).

Mengingat arus deras informasi dewasa ini semakin tak terbendung, maka beberapa tips berikut ini dapat dijadikan pegangan dalam menyeleksi informasi yang tidak benar:

  1. Meminjam teori kritik hadis tentang SANAD (aspek informan) maupun MATAN (isi pesan), kita bisa mengkritisi subjek atau sumber informasinya memang kredibel dan materi informasi sesuai dengan akal sehat atau data, fakta, rujukan atau tautan yang valid, terlebih lagi bila terkait kasus hukum. Namun, bisa saja orang yang kredibel tetap terpapar informasi hoax, sebaliknya orang yang tidak kredibel boleh jadi memberikan informasi yang benar (seperti kesaksian Nazarudin dalam kasus Hambalang).
  2. Melakukan tabayyun langsung (direct clarification) kepada orang yang terkait dengan isu yang berkembang tentang dirinya.
  3. Umumnya informasi yang benar tidak menggunakan kata-kata yang bombastis, sarkastis dan sejenisnya.
  4. Sejauh analisis subjektif tentang seorang figur yang bersifat negative campaign, tentu masuk pada aspek criticism yang bisa diterima. Hanya informasi yang berbau fitnah (black campaign) yang tidak dibenarkan dan bisa dijerat oleh UU ITE maupun pidana lainnya.
  5. Idealnya, penerima informasi jangan langsung percaya pada sebuah materi atau sumber informasi yang diperoleh, tetapi harus membandingkannya dengan sumber informasi resmi lainnya. Misalnya, membaca atau mendengar berita tidak cukup dari satu portal berita/TV saja, tetapi jauh lebih baik membandingkan dengan portal berita/TV yang lain.
  6. Terkadang kita menerima kiriman sebuah gambar yang boleh jadi itu hasil editan atau gambar yang berbeda tahun dan tempat kejadiannya. Untuk kasus ini tautan Google Image bisa membantu untuk klarifikasi. Demikian pula tentang video yang boleh jadi sudah mengalami editan.
  7. Jika kita menolak sebuah ide atau informasi dari seseorang, fokuslah pada ARGUMEN yang disampaikan, hindarilah sikap yang apologetik dan JUDGEMENT.
  8. Terkait isu keagamaan, harus dicermati apakah sang informan sedang memosisikan diri sebagai INSIDER (lebih kental keterlibatan emosionalitas keberagamaan yang subjektif) atau sebagai OUTSIDER (lebih mengkaji atau melakukan analisis sebagai “pengamat”).
  9. Dinamika dunia IT yang sangat berubah cepat tentu membutuhkan reformasi hukum terkait UU ITE, cyber crime, dsb.
  10. Setiap orang tentu wajar saja memosisikan diri sebagai LOVER ataupun HATER terhadap suatu isu atau figur tertentu. Jika terjadi pro kontra suatu informasi yang tak bisa didamaikan, maka jalur yuridis-konstitusional merupakan jalan terbaik untuk dijadikan solusi. Apa pun keputusan hukum, harus diterima dengan lapang dada oleh para pihak yang bertikai. Itulah cara berdemokrasi yang baik.
  11. Secara global, ada dua isu besar yang dihadapi masyarakat dunia dewasa ini: global Capitalism (para penguasa modal plus media) yang umumnya melahirkan ketimpangan sosial, dan global Salafism (global Conservativism) yakni munculnya kelompok perlawanan yang umumnya bernuansa politik tetapi sering kali dibungkus dengan jubah keagamaan yang sektarian. Hal ini sering kali berkaitan dengan apa yang dikenal dengan istilah proxy war.
  12. Imam Syafi’i, bapak ushul fiqih, Ia menyebut kegiatan menyebarkan informasi yang belum diketahui benar-tidaknya sebagai al-kadzib al-khafiy (kebohongan tak terlihat/samar). dalam kitab Ar-Risâlah:

أن الكذب الذي نهاهم عنه هو الكذب الخفي، وذلك الحديث عمن لا يُعرفُ صدقُه

“Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat, yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas kejujurannya.”

Akhirnya, menurut Menkominfo, saat ini ada sekitar 800.000 situs hoaks yang beredar di internat. Maka, jagalah diri dan keluargamu dari panasnya neraka hoaks. Salam demokrasi religius.

image-from-rawpixel-id-427393-jpeg.jpg?fit=1200%2C743&ssl=1
10/03/2019

By :  Arief Budiman

Andrei Subono, Promotor Artis Dunia Pemilik Java Musikindo Tetap Setia dengan Handphone Jadulnya. Begitu judul koran harian yang saya baca di tengah penerbangan dari Semarang menuju Surabaya siang itu.

Di bawah judul itu dilengkapi foto Bung Andrie dengan handphone merek Nokia diletakkan di atas jidatnya yang lebar.

Alasan Bung Andrei, ia lebih nyaman menggunakan handphone jadul karena tidak ribet. Yang penting bisa berfungsi untuk komunikasi baik telepon atau SMS dengan koleganya saat menjalankan roda bisnisnya.

Apa susahnya seorang Andrei membeli smartphone. Mengapa tetap memilih menggunakan handphone jadul?

Handphone jadul ini lebih membawa keberuntungan,” kilahnya.

Seorang bapak usia 60 tahun yang duduk di kursi sebelah, melirik judul berita yang saya baca. Saya lalu menyodorkan koran barangkali bapak ini juga ingin membaca. Namun ia menolak.

“Tiga tahun lalu saya sebenarnya juga lebih suka menggunakan handphone lawas. Memang lebih praktis dan simpel. Hanya ada dua fungsi saja yaitu untuk telepon dan SMS. Tapi karena tuntutan pekerjaan, akhirnya saya terpaksa menggunakan smartphone. Jujur saja kadang saya merasa kehidupan dan perilaku sehari-hari, yaitu sejak bangun tidur sampai menjelang tidur diatur oleh makhluk baru yang bernama smartphone, ” kata bapak itu.

Saya melipat koran lalu memasukkan di kantong kursi.

“Maaf ya mas, boleh nggak saya cerita sedikit pengalaman saya dengan smartphone?”  tanya bapak tua itu. Saya mengangguk mempersilakan.

Alhamdulillah, semenjak saya bisa menjaga jarak dengan smartphone rasanya saya bisa terbebas dari kesibukan rutin yang membebani. Bahkan ada satu hari di mana saya merasa merdeka. Hari itu sama sekali saya tidak menyentuh smartphone,” ujar bapak ini membuka cerita.

” Meskipun hanya sehari tanpa smartphone, bagi saya itu sudah membahagiakan. Sebab selama itu saya sangat tergantung dengannya. Sepertinya ia telah mengendalikan separuh jiwa saya.”

Saya mengangguk-angguk.

“Tiga tahun lalu, terus terang saya merasakan seolah diperbudak oleh smartphone. Sejak bangun tidur lalu membuka mata, aktivitas yang saya lakukan pertama kali yaitu tangan meraih smartphone. Sambil masih berbaring saya membukanya. Membaca pesan yang masuk tengah malam. Saya screen roll ke atas. Saya pilih pesan yang kiranya penting. Jika ada yang urgen segera saya balas. Pesan yang lain kadang saya balas juga. Ada yang menanyakan kabar, ada yang janjian bisnis ada yang kirim foto, dan lain-lain. Selain itu saya juga baca komentar teman di grup karena sebelum tidur saya sempat forward  video lucu.”

“Jujur mas, kalau ingat waktu itu saya menyesal, karena saya mengutamakan smartphone daripada menunaikan salat subuh.“

“Kalau lagi di toilet daripada bengong saya isi waktu membaca berita di koran online. Kadang penasaran juga membuka berita politik dengan judul-judul yang mengejar click bait semata.”

“Selanjutnya saat sarapan pagi, smartphone harus tetap mendampingi. Sambil mengunyah makanan saya baca komen di grup. Jika ada mencolek nama saya, segera saya balas.”

“Menjelang berangkat kerja, smartphone salah satu teman penting yang jangan sampai ketinggalan masuk ke dalam tas. Saya juga harus membawa charger kalau di kantor. Jangan sampai smartphone mati, kalau tidak mau ketinggalan informasi. Power bank tidak boleh lupa yang siap menjaga smartphone tetap hidup termasuk siap kuota.”

Menarik juga mendengar cerita bapak ini, pikir saya dalam hati. Saya berusaha menjadi pendengar yang setia, dan bapak tua ini semakin semangat berbicara.

“Di saat travelling, smartphone tidak mungkin ketinggalan. Saya juga harus memotret dan membagikan di media sosial bahwa saya ada di vila yang indah, atau saya sedang di tempat yang unik dan belum banyak orang datang ke tempat ini.”

“Di rumah saat malam, aktivitas saya selalu tak bisa dipisahkan dari smartphone. Sekitar pukul 00.00 mata baru terpejam.”

“Parah sekali bapak ini,” kata saya.

“Betul sekali. Saat itu saya terlalu dikuasai smartphone sehingga kadang sulit membedakan mana yang penting mana yang tidak penting. Komunikasi dengan keluarga juga hampir kurang karena porsinya direbut oleh smartphone.. Like di media sosial lebih saya pentingkan daripada senyum keluarga di rumah.”

“Sekarang saya sudah merasa merdeka setelah berlatih menjaga jarak dengan smartphone. Benda itu saya gunakan sebagai alat bekerja dan urusan yang sifatnya penting saja.”

Cerita bapak tua ini sedikit terganggu oleh pengumuman pramugari bahwa pesawat tak lama lagi mendarat.

“Jika kita pikir secara cerdas,” ia melanjutkan, “perkembangan teknologi komunikasi ini memang banyak sekali positifnya. Namun pada sisi lain kadang kita dibuat tergantung. Bahkan kita tidak bisa lepas dan membutuhkannya.”

“Mungkin memang smartphone ini didesain sedemikian rupa agar pengguna tidak bisa lepas darinya. Contohnya seperti saya ini … ha ha ha, ” ujarnya mengakui.

“Semua kebutuhan hidup cukup bisa diselesaikan dengan jari tangan. Baik mencari informasi, memilih hotel, wisata kuliner, bahkan memastikan arah kiblat. Memilih hiburan sangatlah mudah tinggal buka youtube tanpa harus beranjak dari tempat duduk.”

Smartphone bagi manusia modern dianggap sebagai separuh nyawa. Orang tidak lengkap hidupnya tanpa smartphone.”

“Yang lebih parah lagi, kepribadian seseorang juga bisa dibentuk oleh media sosial ini. Jika di dunia nyata dikenal ramah, saat tampil di media sosial bisa berubah garang.”

“Sebab di facebook siapa pun bisa bersembunyi dibalik profile palsu. Seseorang bebas posting tanpa takut ketahuan profile aslinya. Kadang seseorang punya 4 akun facebook. Yang 3 akun palsu.”

Cerita bapak tua ini sangat bermanfaat. Yaitu memandang smartphone dengan kacamata yang bijak. Namun apakah pengguna usia remaja dan anak-anak mampu tidak tergantung dengan smartphone?

Sementara di negara-negara produsen, tiap pekan mereka berkompetisi mengeluarkan produk baru yang semakin canggih dan memanjakan.

Roda pesawat perlahan menyentuh landasan bandara Juanda Surabaya. Kami saling tukar kartu nama. Koran Andrei Subeno dibawa Bapak tua itu.