istiqamah.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1
17/07/2019

Oleh: Agus Sumiyanto

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka istiqamah , maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih;dan bergembiralah kamu dengan memperoleh sorga yang dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung –pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang  (QS.Fushshilat 41: 30-32)

Secara etimologis, istiqomah berasal dari kata istaqama-yastaqimu, yang berarti tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konskuen. Dalam terminology Ahlaq , istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Seorang yang istiqamah adalah laksana batu karang di tengah lautan luas ,yang tidak bergeser meskipun dihantam gelombang yang bergulung-gulung.

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat yang bernama Sufyan ibn Abdillah meminta kepada Rasulullah SAW supaya mengajarkan kepadanya inti sari ajaran Islam dalam sebuah kalimat yang singkat, padat dan menyeluruh, sehingga ia tidak perlu lagi menanyakan hal tersebut kepada siapapun pada masa yang akan datang. Memenuhi permintaan sahabat tersebut, Rasulullah baersabda ,” Qul, amantubillahi, Tsummastaqim  (“Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah” (HR Muslim).

Iman yang sempurna adalah iman yang mencakup tiga dimensi: hati, lisan dan perbuatan. Seorang yang beriman haruslah istiqamah dalam ketiga dimensi tersebut. Dia selalu menjaga kesucian hatinya, kebenaran perkataannya dan kesesuaian perbuatannya dengan ajaran Islam. Ibarat berjalan, seorang yang istiqamah akan selalu mengikuti jalan yang lurus, jalan yang paling cepat mengantarkannya ketujuan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh adDarami dari IbnMas’udra, diterangkan bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari membuat satu garis lurus di hadapan beberapa sahabat. Kemudian beliau membuat pula garis melintang di kanan kiri garis lurus tersebut. Sambil menunjuk garis lurus itu, beliau bersabda ,”Inilah jalan Allah”.

Kemudian beliau menunjuk pada garis-garis yang banyak yang ada di kiri kanan garis lurus itu dan berkata,” Inilah jalan-jalan yang bersimpang, pada setiap jalan itu ada syaithan yang selalumenggoda”.Setelahitubeliaumembaca Al Qur’an :

Sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia;dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa (QS.AlAn’am/ 6:153)

UjianKeimanan

Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa setiap orang yang beriman pasti

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman”, padahal keimannya belum diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka sehingga dengan ujian itu) sungguh Allah mengetahui orang-orang yang dusta terhadap keimanannya  (QS Al Ankabut /29:2)

Ujian keimanan itu tidak selamanya dalam bentuk yang tidak menyenangkan. Keberhasilan bisnis juga ujian seperti kebangkrutannya. Pujian juga ujian seperti celaan. Seorang mukmin yang istiqamah tentu akan tetap teguh dengan keimannya menghadapi dua macam ujian tersebut. Dia tidak mundur oleh ancaman, siksaan, dan segala macam hambatan lainnya.

Tidak terbujuk harta, pangkat, kemegahan, pujian dan segala macam kesenangan. Itulah yang dipesankan Rasulullah kepada sahabat Sufyan di atas. Beriman dan istiqamah

Buah dari Istiqamah

Pada empat ayat S. Fushilat tersebut diatas dijelaskan bahwa orang yang beristiqamah dijauhkan  Allah dengan rasa takut dan sedih yang negatif.Dia tidak takut menghadapi masa depan dan tidak sedih dengan apa yang telah terjadi pada masa lalu.Dia  tidak takut menyatakan kebenaran,takut akan masa depan yang tidak pasti atau takut mengalami kegagalan. Dia juga dapat menguasai sedih yang manusiawi seperti kehilangan keluarga atau kegagalan usaha.Dia bisa menghindari kesedihan yang berlarut-larut yang menyebabkan kehilangan semangat dan penyesalan.Pada ayat itu juga dijanjikan Allah perlindunganNya bagi orang istiqamah.Lindungan Allah itu berarti jaminan untuk mendapatkan sukses hidup dan perjuangan seperti sahabat-sahabat Nabi yang memenangkan perang Badar atau Fathul Makkah.

Pada urusan akhirat,ada hadits yang diriwayatkan oleh al Barra’ ra, bahwa pada saat kematian  malaikat yang berkata kepada orang mukmin “ Keluarlah wahai ruh yang baik yang ada di tubuh yang baik pula yang telah kamu diami. Keluarlah menuju wangi-wangian dan Allah SWT yang Maha Rahman”.Zaid bin Aslam mengatakan bahwa para malaikat memberi kabar gembira kepada orang mukmin pada saat kematiannya ,di dalam kuburnya,dan pada saat dibangkitkan dari kubur.Firman tersebut mengandung maksud bahwa para malaikat mengatakan kepada orang mukmin ketika akan meninggal” Kami adalah penolong kalian dan teman kalian dalam kehidupan dunia.Kami mendorong,memberi petunjuk dan menjaga kalian agar tetap dalam keadaan taat kepada Allah. Kami juga akan menemani dalam kehidupan akhirat .Menghibur,menemani dalam kubur dan ketika terompet tanda kiamat ditiup.Kami akan membuat kalian  merasa aman pada saat dibangkitkan,melewati shirathal mustaqim dan mengantarkan kalian menuju surga yang penuh kenikmatan.Di dalam surga itu kalian mendapat apa yang diinginkan berupa kesenangan nafsu dan kesenangan hati.Tersedia semua yang kamu minta  didepan mata sebagai hidangan Allah yang telah mengampuni dosa kalian.

Wallahu a’lam bishawab

 

Ilmu-Amaliah-Amaliah-Ilmu.jpg?fit=619%2C877&ssl=1
12/07/2019

 

Oleh: Muhammad Afriansyah*

[Mohamad Djazman Al-Kindi; Ilmu Amaliah Amal Ilmiah, Bagian Pertama, Bab III Muhammadiyah sebagai Gerakan Amal dan Pemikiran, halaman 58]

Latar belakang studinya adalah sastra dan kebudayaan serta geografi UGM, tapi ia juga berbicara sejarah, pemikiran Islam, pendidikan, manajemen, perkaderan, Muhammadiyah, keorganisasian, politik kebangsaan, komunis, katolik, perubahan sosial, orientalis, ateisme, konsili Vatikan, dan yang tak kalah menarik, ia juga berbicara tentang anak muda dan peran strategisnya!

Sosok yang komplet ini pernah dimiliki oleh Muhammadiyah 20 tahun tahun lalu. Kini ia sudah berpulang dengan meninggalkan banyak warisan berharga, tapi sepertinya warisan yang ia tinggalkan tidak menarik untuk diperebutkan.

Ia yang merupakan cicit dari Kyai Dahlan, menjelma menjadi seorang ideolog yang berpikiran dan berwawasan luas melampaui latar belakang akademiknya. Pencetus dan pemimpin pertama BPK (kini MPK, Majelis Pendidikan Kader) menelurkan produk perkaderan berupa wahana perkaderan lanjutan dari Mu’allimin/Mu’allimat di tingkat mahasiswa yaitu Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran di Makamhaji, Kartasura.

Mohamad Djazman Al-Kindi, nama yang tidak asing lagi bagi segenap kader dan pimpinan persyarikatan, juga bagi setiap civitas akademika UMS, minimal dikenal sebagai salah satu gedung pertemuan megah di area kampus 1 UMS, sebelah barat Masjid Fadlurrohman, Auditorium Moh. Djazman. Beliau sebagai rektor pertama UMS, telah meletakkan banyak sekali dasar-dasar pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah dari segi manajemen akademik, pengembangan kemahasiswaan, mewujudkan wahana pencetak kader-kader persyarikatan, dll.

Dalam salah satu tulisannya di Bab III berjudul Muhammadiyah sebagai Gerakan Amal dan Pemikiran, Mohamad Djazman mengkritik adanya fenomena di kalangan kita yang menciptakan polarisasi antara man of think dan man of action. Dalam hal ini Mohamad Djazman telah menjadi keduanya, pemikir dan penggerak bagi persyarikatan Muhammadiyah. Sebagai penggerak, ia adalah pencetus sekaligus pimpinan pertama BPK sebagai wadah untuk mensistematisasikan perkaderan Muhammadiyah secara nasional.

Selain sistem perkaderan, perhatiannya terhadap dunia pendidikan tinggi juga diwujudkan dalam gagasannya dalam pembentukan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang). Tidak cukup di situ wujud perhatiannya bagi perguruan tinggi Muhammadiyah, Mohamad Djazman terjun langsung merintis sekaligus memimpin salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah terbesar di Indonesia sebagai rektornya yang pertama, UMS, yang merupakan gabungan dari IKIP Muhammadiyah dan Intitut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM). Sehingga, namanya diabadikan sebagai nama Auditorium Moh. Djazman. Fakultas Geografi UMS pun disebut-sebut sebagai peninggalannya yang fenomenal, sebagai bentuk dedikasi dan tanggung jawab akademisnya.

Singkatnya, sebagai penggerak, kiprah dan kontribusinya sudah tidak bisa lagi dipertanyakan. Lantas bagaimana dengan perannya sebagai seorang pemikir (man of think)? Inilah yang harus kita gali dan kita jaga nyala api perjuangannya. Tak banyak yang benar-benar memahami bahwa ia adalah pemikir ulung yang produk pemikirannya tersebar dalam berbagai tempat dan wujud. Selain UMS, MPK, dan Majelis Diktilitbang sebagai produk pemikiran yang berupa wahana, ia juga menelurkan produk pemikirannya dalam bentuk wacana yang tersebar di berbagai media dan tema pembahasan.

Luas dan berpikiran terbuka, namun tetap teguh pada prinsip dan ideologi yang dipegang. Demikian kesan pertama saya ketika bercengkerama dengan beliau lewat wacana-wacana yang diproduksi. Berbagai tema nyaris tidak luput dari jangakuan analisisnya, meliputi sejarah, pemikiran Islam, pendidikan, manajemen, perkaderan, Muhammadiyah, keorganisasian, politik kebangsaan, komunis, katolik, perubahan sosial, orientalis, ateisme, konsili Vatikan, serta mahasiswa dan peran strategisnya.

Lebih dari itu, produk pemikirannya yang berupa wacana yang masih tersebar dan belum terkodifikasi menjadikan kita cukup kewalahan mengenal dan mengarungi dunianya. Agus Sumiyanto, salah satu orang terdekat sekaligus kader beliau sudah sejak lama diamanahi untuk menuliskan tentang Mohamad Djazman, namun baru setelah lebih 20 tahun, amanah tersebut tuntas ditunaikan dengan hadirnya buku Ilmu Amaliah Amal Ilmiah, Muhammadiyah sebagai Gerakan Ilmu dan Amal, terbitan Suara Muhammadiyah, sebagai buku yang memuat tulisan-tulisan beliau yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Abdi Djazman (Djazman Research Institute), sekelompok kader-kader IMM UMS yang terdiri dari kader-kader IMM Cabang Kota Surakarta dan IMM Cabang Sukoharjo.

Tim serupa sempat terwacanakan di kalangan kader-kader beliau terutama yang berkarier di UMS, untuk mengenang sekaligus tetap menjaga nyala semangatnya. Tercatat selain Agus Sumiyanto, ada Djalal Fuadi yang kini menjabat Wakil Dekan II FKIP UMS juga merupakan kader beliau. Namun ternyata sampai buku ini terbit, tim itu tidak pernah terwujud.

Terdiri dari 40 tulisan dengan beragam tema pembahasan, kader tulen yang diamanahi PP Muhammadiyah sebagai bidan kelahiran IPM dan IMM ini, mencurahkan segenap gagasan-gagasannya yang brilian. Keempat puluh tulisan tersebut dibagi menjadi 3 bagian yaitu Bagian Pertama Muhammadiyah sebagai Gerakan Ilmu dan Amal; Bagian Kedua Kaderisasi Muhammadiyah: Prospek dan Pembaharuan; dan Bagian Ketiga Islam dan Perubahan Sosial. Agus Sumiyano yang juga editor buku ini dalam Pengantar Editor (halaman xii) menyatakan “Buku ini memang tidak mencantumkan daftar pustaka sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Dengan demikian, daftar pustaka yang kami cantumkan di belakang merupakan judul tulisan Mohamad Djazman dan dari mana sumber tulisan itu kami peroleh.”

 

Muhammad Afriansyah, (dok.pribadi)

Haedar Nashir dalam epilog buku ini (Epilog: Mengenal Pak Djazman Al-Kindi, halaman 252) mengatakan bahwa pak Djazman terbentuk dalam dua proses, yaitu pertama, kultural sosiologis. Latar belakang keluarga dan masa kecilnya di Kauman, membuatnya kental dengan nuansa dan aroma Muhammadiyah sedari dini. Modal sosiologis ini yang tidak dimiliki oleh banyak tokoh lain, yang memang lahir dan besar di luar Kauman, demikian tulis Haedar Nashir.

Kedua, struktural organisatoris. Kiprahnya di persyarikatan sedari muda belia semakin memantapkan ideologi Muhammadiyah yang dipegangnya secara teguh. Karier organisasi sebagai bidan IPM & IMM (sekaligus menjadi ketua DPP IMM yang pertama), Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, penggagas sekaligus Ketua BPK pertama, Rektor UMS pertama, penggagas Majelis Diktilitbang, serta “tinggalan”nya yang fenomenal adalah UMS yang kini memiliki 30.000 an lebih mahasiswa per tahun ini.

Sebagai orang yang berpikiran maju dan terbuka, beliau tidak ragu untuk bersentuhan dengan pemikiran “non-Islam” dan “sekuler”, macam Julien Benda, Nurcholis Madjid, Sir Robert Thompon, Max Weber, beberapa Paus sebagai pimpinan Gereja Vatikan, dan lain-lain.

Buku ini menyajikan segelintir gagasan fenomenal di banyak disiplin ilmu, menggambarkan betapa perhatiannya pada khazanah ilmu pengetahuan duniawi dan ukhrawi sangat luar biasa. Sampai di sini kita sudah membuktikan bahwa apa yang dicita-citakan oleh beliau untuk menghapus stigma polarisasi antara man of think dan man of anction sebenarnya sudah terlaksana sekaligus mewujud dalam dirinya sendiri, seorang pemikir sekaligus penggerak, meminjam istilah Anhar Gonggong. Maka tinggal bagaimana peran kita untuk melanjutkan kembali kiprah beliau sekaligus melahirkan kembali Djazman-Djazman selanjutnya.

Gagasan-gagasan besar yang brilian nan fenomenal dari cicit Kyai Dahlan ini agaknya bisa menjadi tonggak awal kodifikasi gagasan-gagasan para tokoh persyarikatan lainnya sebagai media pembelajaran dan penggalian ide-ide masa lampau untuk mengembalikan arah gerak persyarikatan, pedoman etos kerja kepemimpinan dan perjuangan dalam Muhammadiyah, pun bagi semua ortom dan AUM-nya.

Terkhusus bagi segenap kader IMM di penjuru tanah air, ideolog yang satu ini menitipkan kawah intelektual persyarikatan ini lengkap dengan warisan tulisannya yang terdapat pada Bab IX Refleksi dan Masa Depan IMM, berjudul Mengislamkan Umat Islam Kembali: Refleksi Milad IMM VIII; Bukan Organisasi Hura-Hura: Refleksi Milad IMM 1988; IMM dan Masa Depan: Sebuah Refleksi; dan Peranan Mahasiswa dalam Menegakkan Nilai-Nilai Kemanusiaan. Singkat namun mendalam dan sangat reflektif, demikian harapan para bidan IMM di masa-masa awal kelahirannya.

Amat besar harapan segenap kalangan persyarikatan, terlebih Tim Abdi Djazman (Djazman Research Institute) sebagai tim yang menghimpun naskah beliau yang tercecer dan tersebar di berbagai tempat, agar karya ini menjadi suplemen pembakar api semangat perjuangan bagi segenap warga persyarikatan, terkhusus bagi kader dan pimpinannya, sebagai ujung tombak perjuangan. Sehingga kelak lahir Djazman-Djazman selanjutnya yang lebih berpikiran dan bergerak maju, membawa dan membumikan nilai-nilai Islam yang berkemajuan, sebagai pelanjut misi Rasulullah yaitu rahmat bagi sekalian alam.

Billahi fii sabilil haq fastabiqul khairat

 

____________________________________________________________________

 Penulis adalah:  *Tim Abdi Djazman/Djazman Research Institute (Tim Penghimpun Naskah-Naskah Mohamad Djazman Al-Kindi)

*Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Surakarta periode 2018/2019

 

Presiden-Joko-Widodo.jpg?fit=809%2C620&ssl=1
04/06/2019

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SOLO – Presiden Joko Widodo menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idulfitri bagi seluruh rakyat Indonesia yang merayakan. Dengan berlatar suasana mudik menjelang hari raya, Presiden juga menyampaikan harapannya agar Idulfitri 1440 H ini dapat menjadi ajang untuk mempererat kembali semangat persatuan dan persaudaraan bangsa baik di dalam keluarga maupun antarmasyarakat.

Anang-Rikza-Masyhadi.jpg?fit=756%2C553&ssl=1
30/05/2019

Anang Rikza Masyhadi*

Wakaf merupakan salah satu instrumen penting dalam ajaran Islam yang bertujuan memberdayakan potensi ekonomi kaum muslimin. Berbeda dengan zakat yang sifatnya wajib dan menjadi rukun Islam, wakaf bersifat sunnah muakkadah (sunah yang sangat dianjurkan).

Zakat dibagikan kepada delapan golongan sebagaimana ditentukan sendiri oleh Allah SWT dalam surat At-Taubah [9]:60, sehingga zakat cenderung habis didistribusikan. Sedangkan wakaf adalah menahan aslinya dan mengalirkan manfaatnya.

Pengertian wakaf adalah menahan harta baik secara abadi maupun sementara, untuk dimanfaatkan langsung atau tidak langsung, dan diambil manfaat hasilnya secara berulang-ulang di jalan kebaikan, baik umum maupun khusus. Yang dimaksud menahan harta adalah seperti orang yang wakaf tanah atau bangunan, maka selama tanah atau bangunan tersebut masih ada, dapat diambil manfaatnya secara berulang-ulang untuk waktu yang tak terbatas, seperti untuk masjid, sekolah, jalan umum, dan lain sebagainya.

Contoh-contoh wakaf sudah banyak diketahui dalam literatur fiqh maupun sejarah Peradaban Islam. Masjid Nabawi yang ada di Madinah, misalnya, dahulu tanahnya adalah milik dua anak yatim dari Bani Najjar. Semula akan dihibahkan kepada Rasulullah SAW, tetapi Beliau menolaknya, mungkin karena pertimbangan ia adalah milik anak yatim yang harus dilindungi, dan Rasul memutuskan untuk membelinya dengan harga 10 Dinar Emas, yang dibayarkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Sungguh, kolaborasi yang luar biasa: Rasul yang membeli, Abu Bakar yang membayar.

Pada zaman Nabi, luas Masjid Nabawi hanya 35 x 35 m, dan setelah Perang Khaibar pada tahun 7 H dimana jumlah kaum muslimin semakin bertambah, maka Masjid Nabawi diperluas menjadi 50 x 50 m. Itulah perluasan Masjid Nabawi terakhir hingga wafatnya Nabi. Perluasan itu menuju ke sisi utara di atas tanah yang telah diwakafkan oleh pemiliknya yaitu Abdurrahman bin Auf RA, saudagar kaya raya yang menjadi sahabat setia Rasul hingga akhir hayatnya.

Selain mewakafkan tanahnya untuk perluasan Masjid Nabawi, Abdurrahman bin Auf RA yang saat itu memiliki tiga rumah, salah satunya ia gunakan untuk menempatkan tamu-tamu Rasulullah yang menginap, karena rumahnya termasuk yang paling megah yang ada di Madinah. Inilah yang disinyalir sebagai jenis wakaf manfaat pertama dalam sejarah Islam.

Utsman bin Affan RA mewakafkan sumur yang bernama ‘Bi’ru Ruumah’, untuk dipergunakan memberi minum kaum muslimin. Sebelumnya, pemilik sumur adalah seorang Yahudi dan mempersulit warga yang mau membeli air, karena mematok harga tinggi. Maka, Rasulullah menganjurkan untuk membelinya, dan menjanjikan bahwa yang membeli sumur tersebut akan masuk surga. “Barangsiapa yang membeli sumur Ruumah, maka Allah SWT mengampuni dosa-dosanya.” (HR. An-Nasai) Lalu, tergeraklah hati Usman bin Affan RA.

Abu Thalhah RA mewakafkan kebun terbaiknya, yaitu perkebunan ‘Bairuha’, padahal perkebunan itu adalah harta yang paling dicintainya. Dicintai karena paling menghasilkan dan paling produktif. Abu Thalhah termotivasi oleh ayat yang sebelumnya baru saja diturunkan kepada Rasulullah SAW yang berbunyi: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (Qs. Ali Imran [3]:92)

Umar bin Khattab RA juga mewakafkan tanah di Khaibar. Tanah Khaibar ini sangat disukai olehnya karena subur dan banyak hasilnya. Umar RA meminta nasehat kepada Rasulullah, maka Rasul menyuruh agar Umar menahan pokoknya dan memberikan hasilnya kepada fakir miskin, dan Umar pun melakukan hal itu. Ini terjadi pada tahun ke-7 Hijriah.

Ketika Umar bin Khattab RA menjadi khalifah, ia mencatatkan wakafnya dalam akte wakaf yang dipersaksikan kepada para saksi dan mengumumkannya kepada masyarakat luas. Sejak saat itu banyak keluarga Nabi SAW dan para sahabat yang lain yang mewakafkan tanah dan perkebunannya.

Orang-orang Barat dan Eropa terkesima dengan kenyataan sejarah ini. Maka, mereka pun akhirnya mengakui bahwa Islam adalah penggagas pertama wakaf keluarga, dan hal itu secara terang-terangan dinyatakan di dalam Ensiklopedia Amerika, dimana sebelumnya tidak pernah dikenal dalam perundang-undangan manapun baik di dunia Barat maupun Eropa.

Itulah sekelumit kisah para sahabat yang selalu mewakafkan sebagian harta yang dicintainya untuk kemaslahatan umat. Karena itulah, Rasulullah memberi kabar gembira dalam hadisnya yang masyhur bahwa ada 10 orang sahabatnya yang dijamin masuk surga: diantaranya adalah para saudagar kaya raya seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Thalhah, dan Abdurrahman bin Auf (radhialLaahu ‘anhum).

Sedangkan Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqqas, Zaid bin Tsabit, dan Abu Ubaidillah bin Jarrah memiliki peran lain sebagai tokoh intelektual, birokrat dan panglima perang. Ali bin Abi Thalib RA bahkan oleh Rasul disebut sebagai pintu gerbang ilmu pengetahuan. Ibaratnya, kata Rasul, “aku adalah kota ilmu, Ali adalah pintu gerbangnya”.

Zaid bin Tsabit terkenal sebagai Sekretaris Pribadi Rasulullah SAW. Setiap kali wahyu turun, Rasulullah mendiktekannya kepada Zaid, lalu menuliskankan di kayu, pelepah kurma dan bahan-bahan lain, mengingat waktu itu belum ada kertas.

Demikianlah, para sahabat Nabi itu menjadikan wakaf sebagai life style (gaya hidup). Mereka selalu berlomba dalam berwakaf dan memberikan harta terbaiknya untuk kemaslahatan umum. Jika umat membutuhkan gerakan, para sahabat itulah yang berebut mengambil peran dalam berwakaf.

Semoga di tengah-tengah kita saat ini, akan lahir kembali manusia-manusia seperti halnya Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Abdurrahman, Abu Thalhah, Zaid agar kita pun dijamin masuk surga-Nya.

 

_________________________________________________________________

 

*Penulis adalah Pimpinan Pondok Modern Tazakka Batang, Jawa Tengah.

IMG-20190527-WA0000-1.jpg?fit=1087%2C1280&ssl=1
27/05/2019

Mengapa wakaf produktif kurang bisa berkembang di kalangan kaum muslimin?

Buku yang membahas tema wakaf produktif juga belum begitu banyak, kalah dengan buku yang membahas persoalan lainya.  Padahal, ajaran ini sebenarnya sudah dipraktekkan sejak jaman Rasulullah dan diikuti oleh para sahabat lainnya.

Dari Jabir bin Abdillah, bahwa semua sahabat Rasulullah yang memiliki harta, mereka melakukan wakaf, tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan.

Misalnya Umar bin Khatab yang mewakafkan sebidang tanah di Khaibar, Abu Thalhah mewakafkan kebun kurma Bairoha, Utsman bin Affan mewakafkan sumur Raumah, Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanah Yanbu’, Zubair bin Awwam mewakafkan rumahnya, dan sahabat Rasulullah yang lain seperti Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Aisyah Ummul Mu’minin, Asma bin Abu Bakar, Saad bin Abi Waqqas, Khalid bin Walid, Jabir bin Abdillah, Saad bin Ubadah, Uqbah bin Amir, juga Abdullah bin Zubair.

Para sahabat Rasulullah itu sepertri berlomba untuk mewakafkan hartanya karena ingin memperoleh keutamaan wakaf yang pahalanya terus mengalir dari manfaat harta yang diwakafkan tersebut.

Sabda Rasulullah, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalanya kecuali tiga perkara yaitu; sedekah jariyah, ilmu yang bermanafaat dan doa’anak yang soleh.” HR, Muslim.

Sedekah jariyah dalam hadits tersebut dimaknai sebagai wakaf, karena pokok harta yang diwakafkan ditahan, yang disalurkan hanyalah hasil ekonominya.

Buku setebal 209 halaman ini ditulis oleh Dr. Fahruroji Lc.MA. Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1996, Universitas Al Azhar Kairo 2003, Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (S2 tahun 2009 dan S 3 tahun 2015).  Saat ini sebagai dosen Program Magister Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Sekolah Kajian strategis dan Global UI.

Membaca buku ini sangat bermanfaat, karena membuka wawasan yang luas, khususnya persoalan wakaf yang masih belum menjadi perhatian penting dalam menggerakkan ekonomi ummat.

Selama ini wakaf baru ditafsirkan yaitu berupa penyerahan sebidang tanah untuk dikelola sebuah yayasan Islam, dan diperuntukkan pembangunan masjid, musholla, rumah yatim, atau sekolahan.  Penafsiran wakaf sebagai penggerak roda ekonomi ummat, tampaknya perlu disosialisasikan secara merata dan serius.

“Sebagian orang masih menganggap wakaf produktif sebagai istilah baru bahkan istilah asing yang tidak dikenal dalam perwakafan. Padahal wakaf produktif memiliki akar sejarah yang kuat dimana Rasululah SAW  telah memerintahkannya bahkan telah melaksanakanya.” ( hal 137).

Dalam buku yang diberi judul Wakaf Kontemporer  ini dibahas secara detail persoalan wakaf antara lain Wakaf untuk selamanya atau sementara ( hal 51). Apa yang disebut sebagai wakaf musytarak ( hal 57). Istibdal wakaf di Singapura dan Malaysia ( hal 99.107). Tentang kekekalan harta benda wakaf ( hal 129), Investasi wakaf dan resikonya ( hal 133). Wakaf manfaat ( hal 167).  Wakaf profesi ( hal 173) dan masih banyak pembahasan lainya.

DR Fahrorroji juga melengkapi data beberapa tanah wakaf yang telah dikelola oleh Pondok Gontor secara produktif. Yang dari hasilnya dapat digunakan untuk membiaya pendidikan.

Pada halaman 183 dijelaskan, “ bahwa fakta sejarah mencatat peranan wakaf dalam mendukung majunya dunia pendidikan pada masa klasik. Setiap sekolah mempunyai penghasilan sendiri yang diperoleh dari harta wakaf produktif yang diperuntukkan  membiayai beasiswa maupun memberi gaji para guru dan dosen. Sebagai contoh, Madrasah Nizamiyah dan Madrasah Muntasiriyah di Bagdad. Madrasah an Nassiriyah di Kairo, Madrasah An Nuriyah di Damaskus.

Di jelaskan juga bahwa Universitas Al Azhar Kairo mempunyai wakaf yang sangat luas sehingga mampu mengutus para ulama ke seluruh dunia dan memberikan ribuan beasiswa bagi pelajar dari berbagai belahan dunia untuk belajar di Al Azhar.

Buku ini sangat penting untuk dipahami, termasuk para pegiat ZIS-W ( Zakat Infak Sedekah dan Wakaf.) Namun sayangnya buku ini tidak dijual umum. Buku dicetak untuk badan wakaf Al Husna seperti tertera di cover depan. Sementara di cover belakang  tertulis; support by Kospin Jasa Syariah. ( Arief Budiman).

Seminar-Halal-MUI-.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1
19/04/2019

Reporter: Rosita Maya Purnamasari
MENTARI.NEWS, SOLO – Salah satu rangkaian acara dari Halal Lifestyle & Edu Expo yang bertempat di Solo Grand Mall adalah Seminar Halal MUI pada Kamis (11/4/2019). Seminar Halal MUI ini membahas tentang pentingnya halal dalam mengkonsumsi, halal dalam memakai dan juga halal dalam bertransaksi.

 

Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag, selaku Wakil Direktur 1 Pengembangan Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika MUI Jateng menjadi pembicara dalam Seminar halal MUI tersebut.  Ahmad Izzudin menjelaskan tentang sangat pentingnya sertifikasi halal, kejelasan akan suatu produk baik pangan, obat-obatan dan juga kosmetika di era modern saat ini.

Kehidupan di era modern saat ini sangat sulit untuk menentukan produk mana yang halal dan yang haram.  Untuk itu, masyarakat harus benar-benar mampu melakukan seleksi terhadap produk yang benar-benar halal.

“Terutama untuk hal pangan, obat-obatan dan kosmetika pada era saat ini sangat berbeda sekali dengan pada zaman Rasulullah yang terjamin murni dari alam. Karena sepaham kita bersama semua apa yang diciptakan oleh Allah itu semua halal sebenarnya. Kecuali yang diharamkan, ” kata Ahmad Izzudin yang juga Ketua Halal Research Center UIN Walisongo itu.

Ahmad melanjutkan ada pertanyaan dari masyarakat mengapa harus ada sertifikasi halal jika yang halal itu lebih banyak dari pada yang haram sehingga yang dibeli produk yang halal saja, produk haram tidak dibeli.

Dari pertanyaan tersebut, Ahmad menjelaskan pada kenyataannya di era modern yang penuh dengan perkembangan teknologi pada saat ini pemahaman yang semacam itu perlu kita koreksi bersama. Bahwa, ternyata kita tidak cukup memberi ketegasan untuk yang haram di sertifikasi halal.

“produk-produk pangan, obat-obatan, dan kosmetik yang tercampur antara yang halal dengan yang haram itulah yang disebut dengan syubhat. Barang siapa yang memakan makanan syubhat itu sama saja memakan makan haram.” Kata Ahmad.

Ahmad menambahkan bahwa dalam perfektif hukum islam barang siapa yang mengkonsumsi produk yang syubhat maka sama saja mengkonsumsi pruduk haram. Oleh karena itu pentingnya mendapatkan produk-produk yang terjamin kehalalannya. (*)

Cholidi-Asadil-Alam.jpg?fit=960%2C540&ssl=1
12/04/2019

Reporter: Novia Tri Astuti
MENTARI.NEWS, SOLO – Aktor Muhammad Cholidi Asadil Alam datang ke Kota Solo. Bintang film Ketika Cinta Bertasbih itu menjadi nara sumber Bincang Gaya Hidup Halal pada gelaran Halal Lifestyle and Edu Expo di Atrium Solo Grand Mall, Kamis (11/4/2019).