Pranyata-SE.jpg?fit=189%2C221&ssl=1
10/08/2019

Oleh: Pranyata, SE*

 

ASSALAMU’ALAIKUM WR WB

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jama’ah shalat Idul Adha yang semoga dirahmati oleh Allah,

 

Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT  Yang Maha Rahman dan Maha Rahim,  yang  telah melimpahkan segala nikmat Rahmat dan hidayah –Nya, terlebih nikmat Iman dan Islam.

Shalawat dan salam semoga selalu  tercurah kepada junjungan dan suri teladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabat dan kepada orang yang mengikuti  Nabi hingga akhir zaman.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jama’ah shalat Idul Adha yang semoga dirahmati oleh Allah,

Allah Swt. menurunkan firman-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia. (Al-Mumtahanah: 4)

Benar apa yang difirmankan Allah SWT, bahwa Nabi Ibrahim sangat cocok  sebagai suri teladan. Nabi Ibrahim adalah Abul Anbiya (bapaknya para Nabi), karena semua nabi setelah nabi Ibrahim adalah keturunan Nabi Ibrahim. Selain itu, ketaqwaan dan perjuangannya bisa menjadi cermin bagi manusia di segala jaman, termasuk ketaqwaan dan perjuangannya membangun Ka’bah dan  Makkah yang semula daerah gersang tak berpenduduk menjadi kota besar dan pusat agama.  Keluarga ini telah membangun peradaban agung yaitu membangun kemajuan  kebudayaan yang dilandasi oleh ilmu pengetahuan dan akhlak serta kehalusan budi pekerti.

Kisah Nabi Ibrahim membangun kota Makkah diawali sejak  istrinya melahirkan Ismail.  Allâh memerintahkannya agar isterinya Hajar dan putranya  Ismail yang baru lahir itu tinggal di Makkah. Daerah  ini  tak ada  air, tanah pun gersang dan tandus serta sepi tak berpenghuni.  Karena ketaqwaannya, Nabi Ibrahim pun  melaksanakan perintah tersebut. Ia antar  isteri dan anaknya ke Makkah.

Tak lama kemudian  Nabi Ibrahim lalu  pamit pulang.  Namun Istrinya mengikuti Nabi Ibrahim dan berkata, “Wahai Ibrahim! Kemana engkau hendak pergi meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni dan tak ada apapun di sini?” Hajar mengucapkan kata-katanya berulang kali, namun Nabi Ibrahim tidak juga menolehnya. Akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allâh yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Nabi Ibrahim menjawab, “Benar.” Hajar menimpali, “Kalau begitu, Allâh tidak akan menyia-nyiakan kami.” kemudian Hajar kembali ke tempat semula.

Inilah jawaban istri yang tawakal. Dia ikhlas menerima perintah Allah untuk tinggal di Makkah yang  hanya ditemani seorang bayi. Sebetulnya Nabi Ibrahim pun berat meninggalkan isteri dan anak satu-satunya itu. Anak itu lama ia dambakan, giliran lahir ternyata Allah memerintahkan untuk berpisah. Nabi Ibrahim berdo’a. Do’a ini dimonumentalkan Allah dalam Al-Qur’an dalam Surat Ibrahim (14) ayat 37,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ .

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Do’a tersebut menggambarkan kekhawatiran seorang  kepala keluarga  terhadap keluarga dan keturunannya yang ia tinggalkan. Ia berharap agar keluarganya tetap beriman dan diberikan rezeqi, serta diberikan  kemakmuran. Do’a tersebut Allah monumentalkan dalam Al-Qur’an agar apa yang dilakukan Nabi Ibrahim benar-benar bisa dicontoh orang sesudahnya.

Kita pun diingatkan Allah dalam firman-Nya dalam surat  An Nisa:9

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعافاً خافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً (9

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah. yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Kata” hendaklah takut kepada Allah” di awal ayat adalah bentuk perintah Allah agar manusia  itu bertaqwa dengan cara meninggalkan anak keturunan yang kuat dan sejahtera.  Karena kata  takut kepada Allah adalah salah satu arti dari kata taqwa.    Apalagi kelanjutan dalam ayat tersebut ada perintah Allah “hendaklah mereka bertakwa kepada Allah”,  ini memperkuat perintah untuk bertaqwa. Sehingga ayat ini secara keseluruhan menjelaskan bahwa meninggalkan keturunan atau anak  yang kuat dan sejahtera adalah salah satu bentuk  ketaqwaan  seseorang  kepada Allah.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Apa teladan  keluarga Nabi Ibrahim berikutnya? Setelah beberapa waktu Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, muncul masalah baru. Air yang ditinggalkan Nabi ibrahim mulai habis . Hajar mulai merasa kehausan, begitu pula putranya Ismail yang masih bayi merah. Hajar menatap putranya yang meronta-ronta.

Karena tak sanggup melihat keadaan putranya, Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan air. Hajar berlarian meninggalkan putranya menuju bukit Shafa, bukit terdekat darinya. Ia naik lalu berdiri di sana dan memandangi lembah disekelilingnya,  ia berharap ada  air di sekitar bukit atau ada orang lain di sana. Ternyata tidak ada seorangpun selain mereka berdua dan juga tak ada air. Ia turun dari bukit Shafa dan terus berlari kecil melewati lembah sehingga sampai ke bukit Marwah. Ia berdiri di sana untuk memeriksa, apakah ada air atau ada orang di sekitar bukit.  Namun tidak ada seorang pun dan juga tak ada air. Ia melakukan hal itu sampai 7 kali.

Setiap pengulangan dalam  mendaki bukit Shafa dan Marwah adalah bentuk memperbaiki strategi dan langkah untuk berhasil. Ketika usaha yang kedua kali gagal ia lakukan yang ketiga dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan bahwa langkah kali ini berhasil. Namun ternyata belum berhasil juga. Hajar tidak putus asa dan tidak bosan untuk mengulang langkahnya. Bahkan sampai tujuh kali.

Man Jadda Wajada (barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan keberhasilan).  Allah tidak akan tinggal diam terhadap hambanya yang  bersungguh-sungguh dalam usaha yang dilandasi dengan taqwa dan yakin akan karunia-Nya. Janji Allah kepada orang yang bertaqwa adalah:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

 

2….. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.

  1. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …..(QS. At Thalaq:2-3)

Setelah berulang tujuh kali Hajar berjalan antara bukit Shafa dan Marwah, Allah melunasi janjinya kepada orang yang bertaqwa dengan memberikan jalan keluar bagi Hajar.  Karunia Allah yang di luar dugaan yaitu keluarnya mata air Zam-Zam dari tanah yang diinjak  Ismail putranya.

Berbahagialah Hajar dengan mata air yang melimpah tersebut. Bahkan dengan banyaknya air itu, burung pun ikut menikmati.  Melihat banyak burung yang terbang di sekitar Makkah, para khafilah/ pedagang yang lewat di padang pasir menandai di situ ada mata air. Maka ada sekelompok orang  dari Jurhum lewat meminta air dan  selanjutnya ada yang menetap di daerah Makkah.

Dalam perjalanan waktu, setelah Ismail dewasa diajaknya oleh Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah.  Lama kelamaan Makkah  yang  dulu tidak berpenduduk berubah menjadi kota. Inilah peran Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam membangun peradaban.

Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim,  Hajar, dan putranya Ismail  yang yang begitu sungguh-sungguh, dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan  telah bisa membangun kota Makkah yang diberi julukan Al-Mukarramah , karena Makkah  merupakan kota yang dimuliakan Allah.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jamaah Shalat ‘Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Kisah Nabi Ibrahim tersebut dapat untuk menjadi teladan bagi kita. Umat Islam sekarang bagaikan dalam kegersangan. Tandus dari ilmu pengetahuan, inovasinya kalah dengan bangsa lain.  Akibatnya kesejahteraan umat juga kurang.

Kalau ingin lebih sejahtera harus bekerja. Untuk mencari kerja harus memiliki ilmu pengetahuan.  Maka agar umat Islam mudah mendapatkan pekerjaan atau mampu menciptakan lapangan harus pandai dan memiliki ilmu pengetahuan.

Di era pasar bebas dan keterbukaan ini, apabila ada yang  memiliki ilmu pengetahuan bisa mencari kerja ke negara manapun sesuai dengan konsensus antar negra. Konsekuensinya pekerja dari negara lain juga bisa mencari kerja di negara kita. Inilah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap  generasi milenial saat ini, sebagaimana kekhawatiran Nabi Ibrahim ketika meninggalkan isteri dan anaknya.

Tetapi kaum muslimin tidak boleh tinggal diam. Seharusnya segera menyusul ketertinggalan ilmu pengetahuan  untuk mencapai kejayaannya. Mengejar ketertinggalan bukanlah hal yang tabu. Dahulu negara Jepang, Korea Selatan dan China juga pernah tertinggal dengan negara-negara barat. Mereka  hanya butuh waktu kurang lebih 40-50  tahun untuk mampu berkompetisi dengan negara barat. Umat Islam pun seharusnya begitu. Kalau sekarang tertinggal, maka untuk mengejar  peradaban yang dicapai negara maju saat ini, umat harus dengan semangat menuntut ilmu.

Kuncinya umat Islam harus menguasai ilmu pengetahuan  yang  didasarkan pada ketaqwaan seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Keluarganya. Usaha keras berdasarkan  petunjuk Islam.

Agama mengajarkan bahwa mencari ilmu itu wajib. Rasulullah SAW.  bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim “(HR. Ibnu Majah, shahih).

Kalau menuntut ilmu hukumnya wajib berarti kita akan mendapatkan pahala yang besar kalau kita menuntut ilmu dan kita akan berdosa kalau tidak menuntut ilmu. Kita dosa kalau kita tidak sejahtera gara-gara kita bodoh.

Saudaraku, Kita akan sukses kalau kita menguasai ilmu. Derajat kita bisa terangkat kalau kita menguasai ilmu pengetahuan. Allah  berjanji dalam Al-Qur’an Surat  58 Al Mujadilah: 11

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

  1. ….. niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Inilah janji Allah dan Allah tidak pernah ingkar janji. Perhatikan ayat di atas, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu.

Tertarikkah kita dengan janji Allah tersebut. Kalau kita belum yakin akan janji tersebut, perhatikanlah buktinya yaitu orang-orang yang sukses yang ada di lingkungan kita atau orang sukses yang kita ketahui, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang pandai dan menguasai ilmu pengetahuan. Seharusnya hal ini menjadikan kita yakin akan firman Allah dalam surat Al-Mujadillah ayat 11 tersebut, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu.

Selanjutnya,  dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa langkah-langkahnya  orang yang menuntut ilmu akan memudahkan dirinya  untuk masuk surga. Rasulullah SAW bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَىالْجَنَّةِ

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Namun perlu diketahui bahwa dalam menuntut ilmu kita akan mendapatkan tantangan. Sebagaimana Hajar, dia pun mendapat tantangangan. Kalau bagi Hajar bahwa  semua tantangan dan perjuangan adalah sumber pahala, maka kita pun harus begitu. Kalau Hajar untuk meraih Cita-cita mendapatkan air tidak putus asa bolak-balik dari bukit Shafa dan Marwah sampai tujuh kali, kitapun harus tidak putus asa dalam menuntut ilmu dengan pengorbanan apa pun. Ini adalah sunatullah, untuk sukses harus melalui perjuangan. Allah berfirman:

{فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا}

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Alam Nasyrah: 5-6)

Dari ayat ini, bahwa dibalik kesulitan itu ada kesuksesan. Kita harus yakin ini adalah janji  Allah, kesuksesan kita itu tergantung seberapa kegigihan kita dalam menghadapi tantangan hidup. Itulah jiwa yang harus dimiliki calon pemenang dalam  persaingan global. Allah berfirman dalam Surat Ar Ra’d ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (11) }

…. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Agar kita berubah menjadi sukses, kita harus  berubah dengan menyiapkan jalan-jalan  untuk diturunkannya kesuksesan Allah kepada kita dengan jalan gigih menuntut ilmu.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jama’ah shalat Idul Adha yang semoga senantiasa istiqamah di jalan Allah,

Kurang apa Islam dalam memotivasi umatnya untuk menuntut ilmu agar maju. Orang  yang menuntut ilmu akan dimudahkan jalan masuk surga, akan diangkat derajatnya. Berarti akan lebih sejahtera, akan lebih makmur.  Umat yang pandai dan maju, sekaligus akan mengangkat derajat agama Islam. Orang yang pandai akan mendapatkan pahala yang lebih banyak. Kalau dengan janji seperti ini umat Islam masih enggan menuntut ilmu, umat ini menghendaki motivasi yang seperti apa lagi.

Orang tua juga punya kewajiban. Agar anak sukses, orang tua wajib mendorong dan membiayai anak untuk menuntut ilmu. Para orang tua tidak cukup hanya khawatir akan masa depan anaknya, tetapi perlu dipikirkan bagaimana solusinya akan masa depan anak agar cerah dan sejahtera, sehingga orang tua tidak dosa karena meninggalkan keturunan yang lemah. Maka tugas orang tua adalah  mendorong anak untuk lebih tekun dalam menuntut ilmu. Nabi SAW bersabda:

“مَنْ دَعَا إِلَى هَدْيٍ كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنِ اتَّبَعَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa yang mengajak ke jalan petunjuk, baginya pahala semisal dengan semua pahala orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat; hal tersebut tanpa mengurangi pahala mere­ka barang sedikit pun.

Jadi kalau kita menyuruh anak untuk belajar menuntut ilmu, kemudian anak itu mau untuk menuntut ilmu, maka orang tua yang menyuruh akan mendapatkan pahala yang terus mengalir  sampai hari kiamat. Apalagi kalau kita menyuruh sekaligus membiayai, pahalanya akan jauh lebih banyak.

Akhirnya marilah memohon kepada Allah Ta’ala agar dalam diri kita muncul semangat baru dalam menuntut ilmu untuk membangun peradapan Islam yang lebih bagus, sebagaimana semangatnya Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail dalam membangun peradaban baru kota Makkah.

Mari kita tutup khutbah Idul Adha ini dengan doa, semoga Allah perkenankan setiap doa kita di hari penuh kebaikan ini.

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اللّهمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ

اللهم عذِّبِ الكَفَرَةَ الذين يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ ويُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ ويُقاتِلُونَ أوْلِيَاءَكََّ

اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين

اللهم فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِرٍ إنَّكَ رَبُّنَا عَلَى كلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ يَا رَبَّ العالمين

اللهمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ على الأَمْرِ والعَاقِبَةَ الحَسَنَةَ والعَافِيَةَ مِنْ كُلِّ بَلِيَّةٍ والسَّلاَمَةَ مِنْ كلِّ إِثْمٍ والغَنِيْمَةَ مِنْ كل بِرٍّ والفَوْزَ بِالجَنَّةِ والنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سيدِنا مُحَمّدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ وَسلّم والحمدُ لله

 

 

___________________________________________________

*Penulis adalah Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kab. Cilacap dan Pemerhati Ekonomi-Sosial

 

 

 

Buku.jpg?fit=238%2C317&ssl=1
05/08/2019

Oleh: Adhitya Yoga Pratama

Judul

Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan

Penulis

Abdul Munir Mulkhan

Waktu Terbit

Pertama, 2015

Jumlah Halaman

XII + 208

Penerbit

Global Base Review STIEAD Press

Kita mungkin masih ingat pada suatu kesempatan, Presiden Suharto dalam pidato Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta, bertanya: Siapakah yang tidak tahu Muhammadiyah? Kita tak bisa membayangkan bagaimana perasaan warga Muhammadiyah mendengar pertanyaan Suharto itu menggema di Stadion Sriwedari pada tahun 1984. Atas nama Muhammadiyah dalam sebuah pidato, Suharto faktanya mengesampingkan kenyataan sejarah dan ideologi bahwa Muhammadiyah sudah ada sejak lama, tumbuh seiring dengan gagasan dan etos K.H. Ahmad Dahlan menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Sudah lama orang tahu bahwa Muhammadiyah adalah organisasi keagamaan Islam terbesar di Indonesia, karena memang amal usahanya banyak berdiri dimana-mana. Sudah lama pula kita memaklumi bahwa Muhammadiyah dikenal sebagai jamaah yang berjami’yah, karena memang banyak orang dari umat Islam tertarik untuk mengaji di organisasi ini, baik karena materi-materi pengajiannya dipandang kontekstual dan kontemporer bagi para anggota atau karena simpatisan bekerja di amal usahanya. Sejak dulu orang-orang bahkan mengetahui bahwa Muhammadiyah adalah organisasi Islam modern karena terdapat pula organisasi Islam tradisional, ketika masyarakat Indonesia mulai dikategorisasikan oleh ilmuwan Barat yang mengkaji Islam Indonesia.

Namun, dalam pandangan Suharto karakteristik Muhammadiyah semacam itu dipandang tidak cukup, bahkan mungkin tidak penting terutama jika dikaitkan dengan relasi kekuasaan yang terpusat. Karena itu, rezim Orde Baru perlu menerapkan asas tunggal Pancasila yang lebih bersifat struktural kepada seluruh organisasi kemasyarakatan. Rezim yang secara politik cenderung ultrakanan ini menular juga ke dalam tubuh Muhammadiyah yang mengidap sindrom otak takhayul, bid’ah, dan churafat; terobsesi pada ideologi Islam, sehingga konflik internal di Muhammadiyah perlu disederhanakan oleh K.H. A.R. Fakhrudin melalui politik helm kepada penguasa.

Itulah mengapa, adanya gejala pergantian dan penambahan tujuan dalam organisasi sering menimbulkan perbedaan pendapat yang menjurus menjadi konflik. Dengan demikian sinyalemen dan kontatasi tentang “kemandekan” dalam Muhammadiyah (kalau ada) sebenarnya bukan karena adanya inovasi ide, tapi adanya jebakan struktural karena pandangan dogmatik terhadap organisasi sebagai instrumen gerakan. Maka permasalahan kesadaran berorganisasi akan muncul dan pada saat itulah loyalitas anggota dan para pemimpinnya dengan organisasi akan diuji (Djazman, 63-64: 2019).

Pemerintah versi Orde Baru memang sudah selesai. Tapi, hasrat birokrasi untuk melakukan efisiensi, efektifitas, dan tujuan asas tunggal tidak pernah selesai. Bahkan, kalau menengok ke belakang hasrat semacam itu adalah peninggalan nenek moyang yang berkembang seiring dengan lahirnya negara-bangsa. Jauh hari sebelum Indonesia merdeka pemerintah kolonial sudah terlebih dahulu menerapkan kebijakan asosiasi sebagai bagian dari sebuah program pendidikan yang luas. Snouck Hurgronje selaku pendukung utama politik etis percaya bahwa program-program pendidikan—diiringi dengan proses yang bertahap menuju “indonesianisasi”aparat administratif—menunjukkan kepada penduduk Hindia Belanda bagaimana peradaban Barat akan menguntungkan mereka. Selain itu kebijakan asosiasi itu akan menciptakan sebuah kelas penduduk bumiputera berpendidikan Barat yang progresif dan setia pada Belanda (Abdullah, 64: 2018).

Karena itu, tidak berlebihan jika Suharto mengatakan kepopuleran Muhammadiyah tidak identik dengan hadirnya sosok Ahmad Dahlan, tokoh pragmatis dalam tesis Alfian (2010) yang melakukan kegiatan-kegiatan dalam melaksanakan misi dan karya-karyanya untuk membangun gerakan Muhammadiyah. Berbeda dengan Sukarno yang membaca gagasan Ahmad Dahlan dalam forum pengajian di rumah Tjokroaminoto, pengakuannya sebagai murid telah memperoleh pengertian yang lain tentang agama Islam dari seorang guru. Maka ide otentik Ahmad Dahlan tampaknya penting bagi organisasi Muhammadiyah dari masa ke masa yang sering terserang sindrom TBC.

Potret Tindakan Otentik

     Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan karya Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan pada akhirnya seperti menunjukkan kepada kita tentang tindakan-tindakan otentik yang dilakukan Ahmad Dahlan melalui naskah yang terbit dengan judul “Tali Pengikat Hidup Manusia”. Secara ideologis bentuk kegiatan amal usaha Muhammadiyah sudah dimulai sejak gerakan ini dipimpin oleh pendirinya. Bagi mereka yang kritis mudah menyebut tidak banyak inovasi baru dalam AUM, yang kini tidak terkesan memihak rakyat kecil, tidak memihak wong cilik, dan kaum proletar (hal. ix). Tetapi secara otentik terutama dalam hal relasi teori dan praktik, tindakan-tindakan yang dilakukan Ahmad Dahlan sesungguhnya berorientasi (ideologi) program/kegiatan persyarikatan ini adalah membela kaum tertindas dan mencerdaskan semua lapis umat melalui gerakan pendidikan (hal. 41).

Boleh jadi dalam ijtihad pendidikan Ahmad Dahlan seperti itulah Mohammad Djazman Al-Kindi, pada suatu kesempatan ketika menanggapi perubahan drastis dalam masyarakat dan organisasi Muhammadiyah sendiri. Berharap bahwa di dalam Muhammadiyah akan muncul orang-orang dengan kategori man of think sekaligus man of action. Sehingga pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh lama yang mengandung pemikiran intelektual sekaligus juga pemikiran yang bijak, arif, dan bagaimana Muhammadiyah itu harus dibangun mesti dimunculkan. Dengan demikian tindakan-tindakan otentik tokoh-tokoh lama merupakan konsep pikir universal yang bisa diwariskan pada generasi muda yang akan datang. Apakah mungkin kita sewa satu kamar di Hotel Mandarin kemudian kita dirikan Muhammadiyah Ranting Hotel Mandarin? (Djazman, 58-59: 2019).

Jawaban itu setidaknya ditampilkan secara bernas oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan dalam Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan. Dari halaman pertama buku ini kita dapat membaca pidato Ahmad Dahlan yang berjudul “Tali Pengikat Hidup Manusia”, sampai halaman terakhir kita disuguhkan dokumen tulisan dr. Sutomo berjudul “Cinta-Kasih Vs Darwinisme”. Buku ini seperti mengajak pembaca berfikir reflektif dan kritis, karena secara konsisten harus diakui Abdul Munir Mulkhan memborbardir kita dengan argumentasi dan fenomena-fenomena Muhammadiyah menyangkut tindakan-tindakan otentik Ahmad Dahlan. Beliau seperti hendak mengatakan bahwa Muhammadiyah, dalam kondisi kapan saja selalu mengidap sindrom yang sama; takhayul, bid’ah, dan churafat. Dalam pandangannya tidak ada yang dikafirkan, diharamkan, dan dimusuhi Muhammadiyah kecuali kebodohan dan keterbelakangan umat akibat pemimpin Islam yang lupa caranya berpikir. Sepanjang hidup Ahmad Dahlan, hal-hal semacam itulah yang berurusan dengan gerakan Muhammadiyah.

Melalui konsep pendidikan inilah, Ahmad Dahlan berusaha menerobosetos guru dan murid sebagai sifat orang Islam dalam dua kewajiban yang harus dijalani yaitu belajar dan mengajar. Maka gerakan Muhammadiyah masa Dahlan adalah gerakan kebudayaan yang berfokus pada penyadaran umat akan peran dan tanggung jawab kemanusiaan dan sejarah. Pendidikan adalah media utama gerakan kebudayaan yang fokusnya ialah penyadaran umat melalui makrifat ketuhanan. Tujuan pokoknya tindakan otentik Ahmad Dahlan adalah pembebasan umat dari kebodohan dan keterbelakangan. Seolah-olah Paulo Freire tentang prinsip pembelajaran membaca kembali tekline Ahmad Dahlan tentang sifat utama seorang muslim, yaitu “menjadi guru sekaligus murid”. Faktanya Freire lahir saat Ahmad Dahlan meminta legalitas politik gerakan pendidikan kepada publiknya (hal. 40).

Di mata H.M Sudja’ sebagai seorang murid, maksud dan tujuan Ahmad Dahlan mewujudkan pendidikan yang teratur secara modern pada prinsipnya ialah hendak melaksanakan umat yang baik sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT. Surat Ali Imran ayat 110 sebagaimana maksudnya, keadaan kamu sekalian adalah sebaik-baiknya umat yang dilahirkan untuk kepentingan manusia. Perintahkanlah dengan perkara yang baik dan cegahlah akan perbuatan yang munkar dan percayalah kamu sekalian kepada Allah SWT. Kalau mereka orang kafir ahli kitab sama percaya, sungguh ada akan lebih baik bagi mereka, dari pada mereka sebagian ada yang mukmin, tetapi kebanyakan dari mereka sama berdosa.

Sampai disini, kita bisa merasakan bagaimana Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan mengajak kita untuk memahami ide dasar dan tindakan otentik Ahmad Dahlan, jika bukan menelanjangi ruang kosong yang selama ini menjadi optik Muhammadiyah dalam memandang organisasi sekaligus menjalankan amal usahanya. Sejak dari komersialisasi pendidikan hingga mahalnya biaya rumah sakit, Muhammadiyah terobsesi menyaksikan takhayul, bid’ah, dan churafat semakin mewabah ke dalam struktur sosial masyarakat. Dengan kata lain, melalui buku ini sebenarnya Abdul Munir Mulkhan sedang mengatakan bahwa Muhammadiyah, dalam kondisi kapan saja ditakdirkan untuk mengidap sindrom obsesive compulsive disorder (OCD), sebuah perilaku aneh yang tidak mau membela wong cilik atau kaum tertindas.

Penutup: Etika Welas Asih?

     Sebagaimana buku-buku Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan sebelumnya, dalam Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan, pada akhirnya juga merayakan etika welas asih, yang kali ini dideklarasikan sebagai gerakan. Gerakan ini menjadikan pembelaan pada kaum tertindas melalui pendekatan ke-welas-asihan sebagai implementasi nilai kerahmatan Islam bagi seluruh segi dan ranah kehidupan (alamien). Ke-welas-asihan menjadikan gerakan ini bekerja untuk semua orang dari semua latar belakang etnis dan kepemelukan agama. Suatu cara kerja yang sekarang mungkin banyak disebut kaum liberal (hal. 19). Beliau secara lugas mengatakan bahwa gerakan yang didasarkan atas etika welas asih sesungguhnya jauh lebih rasional dibandingkan dengan gerakan yang didasarkan atas logika dan prinsip humanisme Barat. Pada bagian awal, secara napak tilas beliau banyak membandingkan gagasan-gagasan gerakan sosial antara pemikir-pemikir Timur Tengah dan Barat dengan ide Ahmad Dahlan, tetapi pada bagian penutup beliau melakukan kemunduran yang sulit dipahami oleh pembaca dengan diksi “revolusi kebudayaan” terhadap organisasi Muhammadiyah.

Membaca buku ini kita akan merasakan bagaimana Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan melakukan idealisasi terhadap pemikiran dan tindakan otentik Ahmad Dahlan di satu sisi dan memandang sinis terhadap Muhammadiyah disisi lain, pilihan sikap yang justru dihindari oleh Toynbee (1987) dalam Perjuangkan Hidup: Sebuah Dialog. Dalam pandangan saya, kedua buku tersebut menyasar persoalan yang sama tentang kecerdasan insani yang dilakukan oleh seorang intelektual, meski berakhir dengan tekanan yang tidak sama. Jika Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan tetap belum beranjak dari cara pandang lama hingga terus mengidealisasikan Ahmad Dahlan sebagai pembaharu Islam modern, tidak demikian dengan Toynbee yang justru menawarkan “kehormatan menuntut tindakan mulia” yang merupakan aturan cocok bagi tindakan para cendekiawan dan seniman. Karena itu, dibeberapa tulisan belum terpotret oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan: tindakan otentik.

Meski begitu, Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan adalah buku yang sangat kaya data dan analisis, sebagaimana lazimnya Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, selalu menggugat kemapanan-kemapanan berpikir, terutama dalam hal rekonstruksi gagasan Ahmad Dahlan. Setelah Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah yang menggunakan cara pandang filsafat, kali ini Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan mencoba memandang lebih kontekstual. Seperti disinggung sebelumnya, hasilnya tidak berbeda. Jawaban bagi segenap persoalan yang dihadapi oleh Muhammadiyah pada ide dasar Ahmad Dahlan adalah etika welas asih. Jadi Prof. Munir tetaplah Prof Munir, yang selalu memperbaharui gagasan Ahmad Dahlan dan menawarkan pendekatan keagamaan, jawaban yang sebenarnya justru mengundang pertanyaan-pertanyaan baru terutama di era sekarang ketika pendekatan keagamaan justru dianggap sebagai piranti perusak akidah Muhammadiyah!.

Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik. 2018. Sekolah dan Politik: Pergerakan Kaum Muda di Sumatera Barat, 1927-1933. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Alfian, 2010. Politik Kaum Modernis: Perlawanan Muhammadiyah terhadap Kolonialisme Belanda. Jakarta: Al-Wasat.

Alkindi, Mohammad Djazman, 2019. Ilmu Amaliah-Amal Ilmiah: Muhammadiyah Sebagai Gerakan Ilmu dan Amal. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Arifin, MT. 1990. Muhammadiyah: Potret Yang Berubah. Surakarta: Institut Gelanggang Pemikiran Filsafat Sosial Budaya dan Kependidikan Surakarta.

Mulkhan, Abdul Munir. 2015. Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan. Jakarta: Global Base Review dan STIEAD Press.

Sudja, H.M. 2018. Cerita Tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan: Catatan Haji Muhammad Sudja’. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Toynbee, Arnold dan Daisaku Ikeda. 1987. Perjuangkan Hidup: Sebuah Dialog. Jakarta: PT. INDIRA Anggota IKAPI.

 

istiqamah.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1
17/07/2019

Oleh: Agus Sumiyanto

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka istiqamah , maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih;dan bergembiralah kamu dengan memperoleh sorga yang dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung –pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang  (QS.Fushshilat 41: 30-32)

Secara etimologis, istiqomah berasal dari kata istaqama-yastaqimu, yang berarti tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konskuen. Dalam terminology Ahlaq , istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Seorang yang istiqamah adalah laksana batu karang di tengah lautan luas ,yang tidak bergeser meskipun dihantam gelombang yang bergulung-gulung.

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat yang bernama Sufyan ibn Abdillah meminta kepada Rasulullah SAW supaya mengajarkan kepadanya inti sari ajaran Islam dalam sebuah kalimat yang singkat, padat dan menyeluruh, sehingga ia tidak perlu lagi menanyakan hal tersebut kepada siapapun pada masa yang akan datang. Memenuhi permintaan sahabat tersebut, Rasulullah baersabda ,” Qul, amantubillahi, Tsummastaqim  (“Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah” (HR Muslim).

Iman yang sempurna adalah iman yang mencakup tiga dimensi: hati, lisan dan perbuatan. Seorang yang beriman haruslah istiqamah dalam ketiga dimensi tersebut. Dia selalu menjaga kesucian hatinya, kebenaran perkataannya dan kesesuaian perbuatannya dengan ajaran Islam. Ibarat berjalan, seorang yang istiqamah akan selalu mengikuti jalan yang lurus, jalan yang paling cepat mengantarkannya ketujuan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh adDarami dari IbnMas’udra, diterangkan bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari membuat satu garis lurus di hadapan beberapa sahabat. Kemudian beliau membuat pula garis melintang di kanan kiri garis lurus tersebut. Sambil menunjuk garis lurus itu, beliau bersabda ,”Inilah jalan Allah”.

Kemudian beliau menunjuk pada garis-garis yang banyak yang ada di kiri kanan garis lurus itu dan berkata,” Inilah jalan-jalan yang bersimpang, pada setiap jalan itu ada syaithan yang selalumenggoda”.Setelahitubeliaumembaca Al Qur’an :

Sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia;dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa (QS.AlAn’am/ 6:153)

UjianKeimanan

Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa setiap orang yang beriman pasti

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman”, padahal keimannya belum diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka sehingga dengan ujian itu) sungguh Allah mengetahui orang-orang yang dusta terhadap keimanannya  (QS Al Ankabut /29:2)

Ujian keimanan itu tidak selamanya dalam bentuk yang tidak menyenangkan. Keberhasilan bisnis juga ujian seperti kebangkrutannya. Pujian juga ujian seperti celaan. Seorang mukmin yang istiqamah tentu akan tetap teguh dengan keimannya menghadapi dua macam ujian tersebut. Dia tidak mundur oleh ancaman, siksaan, dan segala macam hambatan lainnya.

Tidak terbujuk harta, pangkat, kemegahan, pujian dan segala macam kesenangan. Itulah yang dipesankan Rasulullah kepada sahabat Sufyan di atas. Beriman dan istiqamah

Buah dari Istiqamah

Pada empat ayat S. Fushilat tersebut diatas dijelaskan bahwa orang yang beristiqamah dijauhkan  Allah dengan rasa takut dan sedih yang negatif.Dia tidak takut menghadapi masa depan dan tidak sedih dengan apa yang telah terjadi pada masa lalu.Dia  tidak takut menyatakan kebenaran,takut akan masa depan yang tidak pasti atau takut mengalami kegagalan. Dia juga dapat menguasai sedih yang manusiawi seperti kehilangan keluarga atau kegagalan usaha.Dia bisa menghindari kesedihan yang berlarut-larut yang menyebabkan kehilangan semangat dan penyesalan.Pada ayat itu juga dijanjikan Allah perlindunganNya bagi orang istiqamah.Lindungan Allah itu berarti jaminan untuk mendapatkan sukses hidup dan perjuangan seperti sahabat-sahabat Nabi yang memenangkan perang Badar atau Fathul Makkah.

Pada urusan akhirat,ada hadits yang diriwayatkan oleh al Barra’ ra, bahwa pada saat kematian  malaikat yang berkata kepada orang mukmin “ Keluarlah wahai ruh yang baik yang ada di tubuh yang baik pula yang telah kamu diami. Keluarlah menuju wangi-wangian dan Allah SWT yang Maha Rahman”.Zaid bin Aslam mengatakan bahwa para malaikat memberi kabar gembira kepada orang mukmin pada saat kematiannya ,di dalam kuburnya,dan pada saat dibangkitkan dari kubur.Firman tersebut mengandung maksud bahwa para malaikat mengatakan kepada orang mukmin ketika akan meninggal” Kami adalah penolong kalian dan teman kalian dalam kehidupan dunia.Kami mendorong,memberi petunjuk dan menjaga kalian agar tetap dalam keadaan taat kepada Allah. Kami juga akan menemani dalam kehidupan akhirat .Menghibur,menemani dalam kubur dan ketika terompet tanda kiamat ditiup.Kami akan membuat kalian  merasa aman pada saat dibangkitkan,melewati shirathal mustaqim dan mengantarkan kalian menuju surga yang penuh kenikmatan.Di dalam surga itu kalian mendapat apa yang diinginkan berupa kesenangan nafsu dan kesenangan hati.Tersedia semua yang kamu minta  didepan mata sebagai hidangan Allah yang telah mengampuni dosa kalian.

Wallahu a’lam bishawab

 

Ilmu-Amaliah-Amaliah-Ilmu.jpg?fit=619%2C877&ssl=1
12/07/2019

 

Oleh: Muhammad Afriansyah*

[Mohamad Djazman Al-Kindi; Ilmu Amaliah Amal Ilmiah, Bagian Pertama, Bab III Muhammadiyah sebagai Gerakan Amal dan Pemikiran, halaman 58]

Latar belakang studinya adalah sastra dan kebudayaan serta geografi UGM, tapi ia juga berbicara sejarah, pemikiran Islam, pendidikan, manajemen, perkaderan, Muhammadiyah, keorganisasian, politik kebangsaan, komunis, katolik, perubahan sosial, orientalis, ateisme, konsili Vatikan, dan yang tak kalah menarik, ia juga berbicara tentang anak muda dan peran strategisnya!

Sosok yang komplet ini pernah dimiliki oleh Muhammadiyah 20 tahun tahun lalu. Kini ia sudah berpulang dengan meninggalkan banyak warisan berharga, tapi sepertinya warisan yang ia tinggalkan tidak menarik untuk diperebutkan.

Ia yang merupakan cicit dari Kyai Dahlan, menjelma menjadi seorang ideolog yang berpikiran dan berwawasan luas melampaui latar belakang akademiknya. Pencetus dan pemimpin pertama BPK (kini MPK, Majelis Pendidikan Kader) menelurkan produk perkaderan berupa wahana perkaderan lanjutan dari Mu’allimin/Mu’allimat di tingkat mahasiswa yaitu Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran di Makamhaji, Kartasura.

Mohamad Djazman Al-Kindi, nama yang tidak asing lagi bagi segenap kader dan pimpinan persyarikatan, juga bagi setiap civitas akademika UMS, minimal dikenal sebagai salah satu gedung pertemuan megah di area kampus 1 UMS, sebelah barat Masjid Fadlurrohman, Auditorium Moh. Djazman. Beliau sebagai rektor pertama UMS, telah meletakkan banyak sekali dasar-dasar pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah dari segi manajemen akademik, pengembangan kemahasiswaan, mewujudkan wahana pencetak kader-kader persyarikatan, dll.

Dalam salah satu tulisannya di Bab III berjudul Muhammadiyah sebagai Gerakan Amal dan Pemikiran, Mohamad Djazman mengkritik adanya fenomena di kalangan kita yang menciptakan polarisasi antara man of think dan man of action. Dalam hal ini Mohamad Djazman telah menjadi keduanya, pemikir dan penggerak bagi persyarikatan Muhammadiyah. Sebagai penggerak, ia adalah pencetus sekaligus pimpinan pertama BPK sebagai wadah untuk mensistematisasikan perkaderan Muhammadiyah secara nasional.

Selain sistem perkaderan, perhatiannya terhadap dunia pendidikan tinggi juga diwujudkan dalam gagasannya dalam pembentukan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang). Tidak cukup di situ wujud perhatiannya bagi perguruan tinggi Muhammadiyah, Mohamad Djazman terjun langsung merintis sekaligus memimpin salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah terbesar di Indonesia sebagai rektornya yang pertama, UMS, yang merupakan gabungan dari IKIP Muhammadiyah dan Intitut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM). Sehingga, namanya diabadikan sebagai nama Auditorium Moh. Djazman. Fakultas Geografi UMS pun disebut-sebut sebagai peninggalannya yang fenomenal, sebagai bentuk dedikasi dan tanggung jawab akademisnya.

Singkatnya, sebagai penggerak, kiprah dan kontribusinya sudah tidak bisa lagi dipertanyakan. Lantas bagaimana dengan perannya sebagai seorang pemikir (man of think)? Inilah yang harus kita gali dan kita jaga nyala api perjuangannya. Tak banyak yang benar-benar memahami bahwa ia adalah pemikir ulung yang produk pemikirannya tersebar dalam berbagai tempat dan wujud. Selain UMS, MPK, dan Majelis Diktilitbang sebagai produk pemikiran yang berupa wahana, ia juga menelurkan produk pemikirannya dalam bentuk wacana yang tersebar di berbagai media dan tema pembahasan.

Luas dan berpikiran terbuka, namun tetap teguh pada prinsip dan ideologi yang dipegang. Demikian kesan pertama saya ketika bercengkerama dengan beliau lewat wacana-wacana yang diproduksi. Berbagai tema nyaris tidak luput dari jangakuan analisisnya, meliputi sejarah, pemikiran Islam, pendidikan, manajemen, perkaderan, Muhammadiyah, keorganisasian, politik kebangsaan, komunis, katolik, perubahan sosial, orientalis, ateisme, konsili Vatikan, serta mahasiswa dan peran strategisnya.

Lebih dari itu, produk pemikirannya yang berupa wacana yang masih tersebar dan belum terkodifikasi menjadikan kita cukup kewalahan mengenal dan mengarungi dunianya. Agus Sumiyanto, salah satu orang terdekat sekaligus kader beliau sudah sejak lama diamanahi untuk menuliskan tentang Mohamad Djazman, namun baru setelah lebih 20 tahun, amanah tersebut tuntas ditunaikan dengan hadirnya buku Ilmu Amaliah Amal Ilmiah, Muhammadiyah sebagai Gerakan Ilmu dan Amal, terbitan Suara Muhammadiyah, sebagai buku yang memuat tulisan-tulisan beliau yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Abdi Djazman (Djazman Research Institute), sekelompok kader-kader IMM UMS yang terdiri dari kader-kader IMM Cabang Kota Surakarta dan IMM Cabang Sukoharjo.

Tim serupa sempat terwacanakan di kalangan kader-kader beliau terutama yang berkarier di UMS, untuk mengenang sekaligus tetap menjaga nyala semangatnya. Tercatat selain Agus Sumiyanto, ada Djalal Fuadi yang kini menjabat Wakil Dekan II FKIP UMS juga merupakan kader beliau. Namun ternyata sampai buku ini terbit, tim itu tidak pernah terwujud.

Terdiri dari 40 tulisan dengan beragam tema pembahasan, kader tulen yang diamanahi PP Muhammadiyah sebagai bidan kelahiran IPM dan IMM ini, mencurahkan segenap gagasan-gagasannya yang brilian. Keempat puluh tulisan tersebut dibagi menjadi 3 bagian yaitu Bagian Pertama Muhammadiyah sebagai Gerakan Ilmu dan Amal; Bagian Kedua Kaderisasi Muhammadiyah: Prospek dan Pembaharuan; dan Bagian Ketiga Islam dan Perubahan Sosial. Agus Sumiyano yang juga editor buku ini dalam Pengantar Editor (halaman xii) menyatakan “Buku ini memang tidak mencantumkan daftar pustaka sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Dengan demikian, daftar pustaka yang kami cantumkan di belakang merupakan judul tulisan Mohamad Djazman dan dari mana sumber tulisan itu kami peroleh.”

 

Muhammad Afriansyah, (dok.pribadi)

Haedar Nashir dalam epilog buku ini (Epilog: Mengenal Pak Djazman Al-Kindi, halaman 252) mengatakan bahwa pak Djazman terbentuk dalam dua proses, yaitu pertama, kultural sosiologis. Latar belakang keluarga dan masa kecilnya di Kauman, membuatnya kental dengan nuansa dan aroma Muhammadiyah sedari dini. Modal sosiologis ini yang tidak dimiliki oleh banyak tokoh lain, yang memang lahir dan besar di luar Kauman, demikian tulis Haedar Nashir.

Kedua, struktural organisatoris. Kiprahnya di persyarikatan sedari muda belia semakin memantapkan ideologi Muhammadiyah yang dipegangnya secara teguh. Karier organisasi sebagai bidan IPM & IMM (sekaligus menjadi ketua DPP IMM yang pertama), Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, penggagas sekaligus Ketua BPK pertama, Rektor UMS pertama, penggagas Majelis Diktilitbang, serta “tinggalan”nya yang fenomenal adalah UMS yang kini memiliki 30.000 an lebih mahasiswa per tahun ini.

Sebagai orang yang berpikiran maju dan terbuka, beliau tidak ragu untuk bersentuhan dengan pemikiran “non-Islam” dan “sekuler”, macam Julien Benda, Nurcholis Madjid, Sir Robert Thompon, Max Weber, beberapa Paus sebagai pimpinan Gereja Vatikan, dan lain-lain.

Buku ini menyajikan segelintir gagasan fenomenal di banyak disiplin ilmu, menggambarkan betapa perhatiannya pada khazanah ilmu pengetahuan duniawi dan ukhrawi sangat luar biasa. Sampai di sini kita sudah membuktikan bahwa apa yang dicita-citakan oleh beliau untuk menghapus stigma polarisasi antara man of think dan man of anction sebenarnya sudah terlaksana sekaligus mewujud dalam dirinya sendiri, seorang pemikir sekaligus penggerak, meminjam istilah Anhar Gonggong. Maka tinggal bagaimana peran kita untuk melanjutkan kembali kiprah beliau sekaligus melahirkan kembali Djazman-Djazman selanjutnya.

Gagasan-gagasan besar yang brilian nan fenomenal dari cicit Kyai Dahlan ini agaknya bisa menjadi tonggak awal kodifikasi gagasan-gagasan para tokoh persyarikatan lainnya sebagai media pembelajaran dan penggalian ide-ide masa lampau untuk mengembalikan arah gerak persyarikatan, pedoman etos kerja kepemimpinan dan perjuangan dalam Muhammadiyah, pun bagi semua ortom dan AUM-nya.

Terkhusus bagi segenap kader IMM di penjuru tanah air, ideolog yang satu ini menitipkan kawah intelektual persyarikatan ini lengkap dengan warisan tulisannya yang terdapat pada Bab IX Refleksi dan Masa Depan IMM, berjudul Mengislamkan Umat Islam Kembali: Refleksi Milad IMM VIII; Bukan Organisasi Hura-Hura: Refleksi Milad IMM 1988; IMM dan Masa Depan: Sebuah Refleksi; dan Peranan Mahasiswa dalam Menegakkan Nilai-Nilai Kemanusiaan. Singkat namun mendalam dan sangat reflektif, demikian harapan para bidan IMM di masa-masa awal kelahirannya.

Amat besar harapan segenap kalangan persyarikatan, terlebih Tim Abdi Djazman (Djazman Research Institute) sebagai tim yang menghimpun naskah beliau yang tercecer dan tersebar di berbagai tempat, agar karya ini menjadi suplemen pembakar api semangat perjuangan bagi segenap warga persyarikatan, terkhusus bagi kader dan pimpinannya, sebagai ujung tombak perjuangan. Sehingga kelak lahir Djazman-Djazman selanjutnya yang lebih berpikiran dan bergerak maju, membawa dan membumikan nilai-nilai Islam yang berkemajuan, sebagai pelanjut misi Rasulullah yaitu rahmat bagi sekalian alam.

Billahi fii sabilil haq fastabiqul khairat

 

____________________________________________________________________

 Penulis adalah:  *Tim Abdi Djazman/Djazman Research Institute (Tim Penghimpun Naskah-Naskah Mohamad Djazman Al-Kindi)

*Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Surakarta periode 2018/2019

 

Presiden-Joko-Widodo.jpg?fit=809%2C620&ssl=1
04/06/2019

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SOLO – Presiden Joko Widodo menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idulfitri bagi seluruh rakyat Indonesia yang merayakan. Dengan berlatar suasana mudik menjelang hari raya, Presiden juga menyampaikan harapannya agar Idulfitri 1440 H ini dapat menjadi ajang untuk mempererat kembali semangat persatuan dan persaudaraan bangsa baik di dalam keluarga maupun antarmasyarakat.

Anang-Rikza-Masyhadi.jpg?fit=756%2C553&ssl=1
30/05/2019

Anang Rikza Masyhadi*

Wakaf merupakan salah satu instrumen penting dalam ajaran Islam yang bertujuan memberdayakan potensi ekonomi kaum muslimin. Berbeda dengan zakat yang sifatnya wajib dan menjadi rukun Islam, wakaf bersifat sunnah muakkadah (sunah yang sangat dianjurkan).

Zakat dibagikan kepada delapan golongan sebagaimana ditentukan sendiri oleh Allah SWT dalam surat At-Taubah [9]:60, sehingga zakat cenderung habis didistribusikan. Sedangkan wakaf adalah menahan aslinya dan mengalirkan manfaatnya.

Pengertian wakaf adalah menahan harta baik secara abadi maupun sementara, untuk dimanfaatkan langsung atau tidak langsung, dan diambil manfaat hasilnya secara berulang-ulang di jalan kebaikan, baik umum maupun khusus. Yang dimaksud menahan harta adalah seperti orang yang wakaf tanah atau bangunan, maka selama tanah atau bangunan tersebut masih ada, dapat diambil manfaatnya secara berulang-ulang untuk waktu yang tak terbatas, seperti untuk masjid, sekolah, jalan umum, dan lain sebagainya.

Contoh-contoh wakaf sudah banyak diketahui dalam literatur fiqh maupun sejarah Peradaban Islam. Masjid Nabawi yang ada di Madinah, misalnya, dahulu tanahnya adalah milik dua anak yatim dari Bani Najjar. Semula akan dihibahkan kepada Rasulullah SAW, tetapi Beliau menolaknya, mungkin karena pertimbangan ia adalah milik anak yatim yang harus dilindungi, dan Rasul memutuskan untuk membelinya dengan harga 10 Dinar Emas, yang dibayarkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Sungguh, kolaborasi yang luar biasa: Rasul yang membeli, Abu Bakar yang membayar.

Pada zaman Nabi, luas Masjid Nabawi hanya 35 x 35 m, dan setelah Perang Khaibar pada tahun 7 H dimana jumlah kaum muslimin semakin bertambah, maka Masjid Nabawi diperluas menjadi 50 x 50 m. Itulah perluasan Masjid Nabawi terakhir hingga wafatnya Nabi. Perluasan itu menuju ke sisi utara di atas tanah yang telah diwakafkan oleh pemiliknya yaitu Abdurrahman bin Auf RA, saudagar kaya raya yang menjadi sahabat setia Rasul hingga akhir hayatnya.

Selain mewakafkan tanahnya untuk perluasan Masjid Nabawi, Abdurrahman bin Auf RA yang saat itu memiliki tiga rumah, salah satunya ia gunakan untuk menempatkan tamu-tamu Rasulullah yang menginap, karena rumahnya termasuk yang paling megah yang ada di Madinah. Inilah yang disinyalir sebagai jenis wakaf manfaat pertama dalam sejarah Islam.

Utsman bin Affan RA mewakafkan sumur yang bernama ‘Bi’ru Ruumah’, untuk dipergunakan memberi minum kaum muslimin. Sebelumnya, pemilik sumur adalah seorang Yahudi dan mempersulit warga yang mau membeli air, karena mematok harga tinggi. Maka, Rasulullah menganjurkan untuk membelinya, dan menjanjikan bahwa yang membeli sumur tersebut akan masuk surga. “Barangsiapa yang membeli sumur Ruumah, maka Allah SWT mengampuni dosa-dosanya.” (HR. An-Nasai) Lalu, tergeraklah hati Usman bin Affan RA.

Abu Thalhah RA mewakafkan kebun terbaiknya, yaitu perkebunan ‘Bairuha’, padahal perkebunan itu adalah harta yang paling dicintainya. Dicintai karena paling menghasilkan dan paling produktif. Abu Thalhah termotivasi oleh ayat yang sebelumnya baru saja diturunkan kepada Rasulullah SAW yang berbunyi: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (Qs. Ali Imran [3]:92)

Umar bin Khattab RA juga mewakafkan tanah di Khaibar. Tanah Khaibar ini sangat disukai olehnya karena subur dan banyak hasilnya. Umar RA meminta nasehat kepada Rasulullah, maka Rasul menyuruh agar Umar menahan pokoknya dan memberikan hasilnya kepada fakir miskin, dan Umar pun melakukan hal itu. Ini terjadi pada tahun ke-7 Hijriah.

Ketika Umar bin Khattab RA menjadi khalifah, ia mencatatkan wakafnya dalam akte wakaf yang dipersaksikan kepada para saksi dan mengumumkannya kepada masyarakat luas. Sejak saat itu banyak keluarga Nabi SAW dan para sahabat yang lain yang mewakafkan tanah dan perkebunannya.

Orang-orang Barat dan Eropa terkesima dengan kenyataan sejarah ini. Maka, mereka pun akhirnya mengakui bahwa Islam adalah penggagas pertama wakaf keluarga, dan hal itu secara terang-terangan dinyatakan di dalam Ensiklopedia Amerika, dimana sebelumnya tidak pernah dikenal dalam perundang-undangan manapun baik di dunia Barat maupun Eropa.

Itulah sekelumit kisah para sahabat yang selalu mewakafkan sebagian harta yang dicintainya untuk kemaslahatan umat. Karena itulah, Rasulullah memberi kabar gembira dalam hadisnya yang masyhur bahwa ada 10 orang sahabatnya yang dijamin masuk surga: diantaranya adalah para saudagar kaya raya seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Thalhah, dan Abdurrahman bin Auf (radhialLaahu ‘anhum).

Sedangkan Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqqas, Zaid bin Tsabit, dan Abu Ubaidillah bin Jarrah memiliki peran lain sebagai tokoh intelektual, birokrat dan panglima perang. Ali bin Abi Thalib RA bahkan oleh Rasul disebut sebagai pintu gerbang ilmu pengetahuan. Ibaratnya, kata Rasul, “aku adalah kota ilmu, Ali adalah pintu gerbangnya”.

Zaid bin Tsabit terkenal sebagai Sekretaris Pribadi Rasulullah SAW. Setiap kali wahyu turun, Rasulullah mendiktekannya kepada Zaid, lalu menuliskankan di kayu, pelepah kurma dan bahan-bahan lain, mengingat waktu itu belum ada kertas.

Demikianlah, para sahabat Nabi itu menjadikan wakaf sebagai life style (gaya hidup). Mereka selalu berlomba dalam berwakaf dan memberikan harta terbaiknya untuk kemaslahatan umum. Jika umat membutuhkan gerakan, para sahabat itulah yang berebut mengambil peran dalam berwakaf.

Semoga di tengah-tengah kita saat ini, akan lahir kembali manusia-manusia seperti halnya Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Abdurrahman, Abu Thalhah, Zaid agar kita pun dijamin masuk surga-Nya.

 

_________________________________________________________________

 

*Penulis adalah Pimpinan Pondok Modern Tazakka Batang, Jawa Tengah.

IMG-20190527-WA0000-1.jpg?fit=1087%2C1280&ssl=1
27/05/2019

Mengapa wakaf produktif kurang bisa berkembang di kalangan kaum muslimin?

Buku yang membahas tema wakaf produktif juga belum begitu banyak, kalah dengan buku yang membahas persoalan lainya.  Padahal, ajaran ini sebenarnya sudah dipraktekkan sejak jaman Rasulullah dan diikuti oleh para sahabat lainnya.

Dari Jabir bin Abdillah, bahwa semua sahabat Rasulullah yang memiliki harta, mereka melakukan wakaf, tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan.

Misalnya Umar bin Khatab yang mewakafkan sebidang tanah di Khaibar, Abu Thalhah mewakafkan kebun kurma Bairoha, Utsman bin Affan mewakafkan sumur Raumah, Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanah Yanbu’, Zubair bin Awwam mewakafkan rumahnya, dan sahabat Rasulullah yang lain seperti Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Aisyah Ummul Mu’minin, Asma bin Abu Bakar, Saad bin Abi Waqqas, Khalid bin Walid, Jabir bin Abdillah, Saad bin Ubadah, Uqbah bin Amir, juga Abdullah bin Zubair.

Para sahabat Rasulullah itu sepertri berlomba untuk mewakafkan hartanya karena ingin memperoleh keutamaan wakaf yang pahalanya terus mengalir dari manfaat harta yang diwakafkan tersebut.

Sabda Rasulullah, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalanya kecuali tiga perkara yaitu; sedekah jariyah, ilmu yang bermanafaat dan doa’anak yang soleh.” HR, Muslim.

Sedekah jariyah dalam hadits tersebut dimaknai sebagai wakaf, karena pokok harta yang diwakafkan ditahan, yang disalurkan hanyalah hasil ekonominya.

Buku setebal 209 halaman ini ditulis oleh Dr. Fahruroji Lc.MA. Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1996, Universitas Al Azhar Kairo 2003, Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (S2 tahun 2009 dan S 3 tahun 2015).  Saat ini sebagai dosen Program Magister Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Sekolah Kajian strategis dan Global UI.

Membaca buku ini sangat bermanfaat, karena membuka wawasan yang luas, khususnya persoalan wakaf yang masih belum menjadi perhatian penting dalam menggerakkan ekonomi ummat.

Selama ini wakaf baru ditafsirkan yaitu berupa penyerahan sebidang tanah untuk dikelola sebuah yayasan Islam, dan diperuntukkan pembangunan masjid, musholla, rumah yatim, atau sekolahan.  Penafsiran wakaf sebagai penggerak roda ekonomi ummat, tampaknya perlu disosialisasikan secara merata dan serius.

“Sebagian orang masih menganggap wakaf produktif sebagai istilah baru bahkan istilah asing yang tidak dikenal dalam perwakafan. Padahal wakaf produktif memiliki akar sejarah yang kuat dimana Rasululah SAW  telah memerintahkannya bahkan telah melaksanakanya.” ( hal 137).

Dalam buku yang diberi judul Wakaf Kontemporer  ini dibahas secara detail persoalan wakaf antara lain Wakaf untuk selamanya atau sementara ( hal 51). Apa yang disebut sebagai wakaf musytarak ( hal 57). Istibdal wakaf di Singapura dan Malaysia ( hal 99.107). Tentang kekekalan harta benda wakaf ( hal 129), Investasi wakaf dan resikonya ( hal 133). Wakaf manfaat ( hal 167).  Wakaf profesi ( hal 173) dan masih banyak pembahasan lainya.

DR Fahrorroji juga melengkapi data beberapa tanah wakaf yang telah dikelola oleh Pondok Gontor secara produktif. Yang dari hasilnya dapat digunakan untuk membiaya pendidikan.

Pada halaman 183 dijelaskan, “ bahwa fakta sejarah mencatat peranan wakaf dalam mendukung majunya dunia pendidikan pada masa klasik. Setiap sekolah mempunyai penghasilan sendiri yang diperoleh dari harta wakaf produktif yang diperuntukkan  membiayai beasiswa maupun memberi gaji para guru dan dosen. Sebagai contoh, Madrasah Nizamiyah dan Madrasah Muntasiriyah di Bagdad. Madrasah an Nassiriyah di Kairo, Madrasah An Nuriyah di Damaskus.

Di jelaskan juga bahwa Universitas Al Azhar Kairo mempunyai wakaf yang sangat luas sehingga mampu mengutus para ulama ke seluruh dunia dan memberikan ribuan beasiswa bagi pelajar dari berbagai belahan dunia untuk belajar di Al Azhar.

Buku ini sangat penting untuk dipahami, termasuk para pegiat ZIS-W ( Zakat Infak Sedekah dan Wakaf.) Namun sayangnya buku ini tidak dijual umum. Buku dicetak untuk badan wakaf Al Husna seperti tertera di cover depan. Sementara di cover belakang  tertulis; support by Kospin Jasa Syariah. ( Arief Budiman).