Buku.jpg?fit=238%2C317&ssl=1
05/08/2019

Oleh: Adhitya Yoga Pratama

Judul

Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan

Penulis

Abdul Munir Mulkhan

Waktu Terbit

Pertama, 2015

Jumlah Halaman

XII + 208

Penerbit

Global Base Review STIEAD Press

Kita mungkin masih ingat pada suatu kesempatan, Presiden Suharto dalam pidato Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta, bertanya: Siapakah yang tidak tahu Muhammadiyah? Kita tak bisa membayangkan bagaimana perasaan warga Muhammadiyah mendengar pertanyaan Suharto itu menggema di Stadion Sriwedari pada tahun 1984. Atas nama Muhammadiyah dalam sebuah pidato, Suharto faktanya mengesampingkan kenyataan sejarah dan ideologi bahwa Muhammadiyah sudah ada sejak lama, tumbuh seiring dengan gagasan dan etos K.H. Ahmad Dahlan menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Sudah lama orang tahu bahwa Muhammadiyah adalah organisasi keagamaan Islam terbesar di Indonesia, karena memang amal usahanya banyak berdiri dimana-mana. Sudah lama pula kita memaklumi bahwa Muhammadiyah dikenal sebagai jamaah yang berjami’yah, karena memang banyak orang dari umat Islam tertarik untuk mengaji di organisasi ini, baik karena materi-materi pengajiannya dipandang kontekstual dan kontemporer bagi para anggota atau karena simpatisan bekerja di amal usahanya. Sejak dulu orang-orang bahkan mengetahui bahwa Muhammadiyah adalah organisasi Islam modern karena terdapat pula organisasi Islam tradisional, ketika masyarakat Indonesia mulai dikategorisasikan oleh ilmuwan Barat yang mengkaji Islam Indonesia.

Namun, dalam pandangan Suharto karakteristik Muhammadiyah semacam itu dipandang tidak cukup, bahkan mungkin tidak penting terutama jika dikaitkan dengan relasi kekuasaan yang terpusat. Karena itu, rezim Orde Baru perlu menerapkan asas tunggal Pancasila yang lebih bersifat struktural kepada seluruh organisasi kemasyarakatan. Rezim yang secara politik cenderung ultrakanan ini menular juga ke dalam tubuh Muhammadiyah yang mengidap sindrom otak takhayul, bid’ah, dan churafat; terobsesi pada ideologi Islam, sehingga konflik internal di Muhammadiyah perlu disederhanakan oleh K.H. A.R. Fakhrudin melalui politik helm kepada penguasa.

Itulah mengapa, adanya gejala pergantian dan penambahan tujuan dalam organisasi sering menimbulkan perbedaan pendapat yang menjurus menjadi konflik. Dengan demikian sinyalemen dan kontatasi tentang “kemandekan” dalam Muhammadiyah (kalau ada) sebenarnya bukan karena adanya inovasi ide, tapi adanya jebakan struktural karena pandangan dogmatik terhadap organisasi sebagai instrumen gerakan. Maka permasalahan kesadaran berorganisasi akan muncul dan pada saat itulah loyalitas anggota dan para pemimpinnya dengan organisasi akan diuji (Djazman, 63-64: 2019).

Pemerintah versi Orde Baru memang sudah selesai. Tapi, hasrat birokrasi untuk melakukan efisiensi, efektifitas, dan tujuan asas tunggal tidak pernah selesai. Bahkan, kalau menengok ke belakang hasrat semacam itu adalah peninggalan nenek moyang yang berkembang seiring dengan lahirnya negara-bangsa. Jauh hari sebelum Indonesia merdeka pemerintah kolonial sudah terlebih dahulu menerapkan kebijakan asosiasi sebagai bagian dari sebuah program pendidikan yang luas. Snouck Hurgronje selaku pendukung utama politik etis percaya bahwa program-program pendidikan—diiringi dengan proses yang bertahap menuju “indonesianisasi”aparat administratif—menunjukkan kepada penduduk Hindia Belanda bagaimana peradaban Barat akan menguntungkan mereka. Selain itu kebijakan asosiasi itu akan menciptakan sebuah kelas penduduk bumiputera berpendidikan Barat yang progresif dan setia pada Belanda (Abdullah, 64: 2018).

Karena itu, tidak berlebihan jika Suharto mengatakan kepopuleran Muhammadiyah tidak identik dengan hadirnya sosok Ahmad Dahlan, tokoh pragmatis dalam tesis Alfian (2010) yang melakukan kegiatan-kegiatan dalam melaksanakan misi dan karya-karyanya untuk membangun gerakan Muhammadiyah. Berbeda dengan Sukarno yang membaca gagasan Ahmad Dahlan dalam forum pengajian di rumah Tjokroaminoto, pengakuannya sebagai murid telah memperoleh pengertian yang lain tentang agama Islam dari seorang guru. Maka ide otentik Ahmad Dahlan tampaknya penting bagi organisasi Muhammadiyah dari masa ke masa yang sering terserang sindrom TBC.

Potret Tindakan Otentik

     Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan karya Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan pada akhirnya seperti menunjukkan kepada kita tentang tindakan-tindakan otentik yang dilakukan Ahmad Dahlan melalui naskah yang terbit dengan judul “Tali Pengikat Hidup Manusia”. Secara ideologis bentuk kegiatan amal usaha Muhammadiyah sudah dimulai sejak gerakan ini dipimpin oleh pendirinya. Bagi mereka yang kritis mudah menyebut tidak banyak inovasi baru dalam AUM, yang kini tidak terkesan memihak rakyat kecil, tidak memihak wong cilik, dan kaum proletar (hal. ix). Tetapi secara otentik terutama dalam hal relasi teori dan praktik, tindakan-tindakan yang dilakukan Ahmad Dahlan sesungguhnya berorientasi (ideologi) program/kegiatan persyarikatan ini adalah membela kaum tertindas dan mencerdaskan semua lapis umat melalui gerakan pendidikan (hal. 41).

Boleh jadi dalam ijtihad pendidikan Ahmad Dahlan seperti itulah Mohammad Djazman Al-Kindi, pada suatu kesempatan ketika menanggapi perubahan drastis dalam masyarakat dan organisasi Muhammadiyah sendiri. Berharap bahwa di dalam Muhammadiyah akan muncul orang-orang dengan kategori man of think sekaligus man of action. Sehingga pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh lama yang mengandung pemikiran intelektual sekaligus juga pemikiran yang bijak, arif, dan bagaimana Muhammadiyah itu harus dibangun mesti dimunculkan. Dengan demikian tindakan-tindakan otentik tokoh-tokoh lama merupakan konsep pikir universal yang bisa diwariskan pada generasi muda yang akan datang. Apakah mungkin kita sewa satu kamar di Hotel Mandarin kemudian kita dirikan Muhammadiyah Ranting Hotel Mandarin? (Djazman, 58-59: 2019).

Jawaban itu setidaknya ditampilkan secara bernas oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan dalam Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan. Dari halaman pertama buku ini kita dapat membaca pidato Ahmad Dahlan yang berjudul “Tali Pengikat Hidup Manusia”, sampai halaman terakhir kita disuguhkan dokumen tulisan dr. Sutomo berjudul “Cinta-Kasih Vs Darwinisme”. Buku ini seperti mengajak pembaca berfikir reflektif dan kritis, karena secara konsisten harus diakui Abdul Munir Mulkhan memborbardir kita dengan argumentasi dan fenomena-fenomena Muhammadiyah menyangkut tindakan-tindakan otentik Ahmad Dahlan. Beliau seperti hendak mengatakan bahwa Muhammadiyah, dalam kondisi kapan saja selalu mengidap sindrom yang sama; takhayul, bid’ah, dan churafat. Dalam pandangannya tidak ada yang dikafirkan, diharamkan, dan dimusuhi Muhammadiyah kecuali kebodohan dan keterbelakangan umat akibat pemimpin Islam yang lupa caranya berpikir. Sepanjang hidup Ahmad Dahlan, hal-hal semacam itulah yang berurusan dengan gerakan Muhammadiyah.

Melalui konsep pendidikan inilah, Ahmad Dahlan berusaha menerobosetos guru dan murid sebagai sifat orang Islam dalam dua kewajiban yang harus dijalani yaitu belajar dan mengajar. Maka gerakan Muhammadiyah masa Dahlan adalah gerakan kebudayaan yang berfokus pada penyadaran umat akan peran dan tanggung jawab kemanusiaan dan sejarah. Pendidikan adalah media utama gerakan kebudayaan yang fokusnya ialah penyadaran umat melalui makrifat ketuhanan. Tujuan pokoknya tindakan otentik Ahmad Dahlan adalah pembebasan umat dari kebodohan dan keterbelakangan. Seolah-olah Paulo Freire tentang prinsip pembelajaran membaca kembali tekline Ahmad Dahlan tentang sifat utama seorang muslim, yaitu “menjadi guru sekaligus murid”. Faktanya Freire lahir saat Ahmad Dahlan meminta legalitas politik gerakan pendidikan kepada publiknya (hal. 40).

Di mata H.M Sudja’ sebagai seorang murid, maksud dan tujuan Ahmad Dahlan mewujudkan pendidikan yang teratur secara modern pada prinsipnya ialah hendak melaksanakan umat yang baik sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT. Surat Ali Imran ayat 110 sebagaimana maksudnya, keadaan kamu sekalian adalah sebaik-baiknya umat yang dilahirkan untuk kepentingan manusia. Perintahkanlah dengan perkara yang baik dan cegahlah akan perbuatan yang munkar dan percayalah kamu sekalian kepada Allah SWT. Kalau mereka orang kafir ahli kitab sama percaya, sungguh ada akan lebih baik bagi mereka, dari pada mereka sebagian ada yang mukmin, tetapi kebanyakan dari mereka sama berdosa.

Sampai disini, kita bisa merasakan bagaimana Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan mengajak kita untuk memahami ide dasar dan tindakan otentik Ahmad Dahlan, jika bukan menelanjangi ruang kosong yang selama ini menjadi optik Muhammadiyah dalam memandang organisasi sekaligus menjalankan amal usahanya. Sejak dari komersialisasi pendidikan hingga mahalnya biaya rumah sakit, Muhammadiyah terobsesi menyaksikan takhayul, bid’ah, dan churafat semakin mewabah ke dalam struktur sosial masyarakat. Dengan kata lain, melalui buku ini sebenarnya Abdul Munir Mulkhan sedang mengatakan bahwa Muhammadiyah, dalam kondisi kapan saja ditakdirkan untuk mengidap sindrom obsesive compulsive disorder (OCD), sebuah perilaku aneh yang tidak mau membela wong cilik atau kaum tertindas.

Penutup: Etika Welas Asih?

     Sebagaimana buku-buku Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan sebelumnya, dalam Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan, pada akhirnya juga merayakan etika welas asih, yang kali ini dideklarasikan sebagai gerakan. Gerakan ini menjadikan pembelaan pada kaum tertindas melalui pendekatan ke-welas-asihan sebagai implementasi nilai kerahmatan Islam bagi seluruh segi dan ranah kehidupan (alamien). Ke-welas-asihan menjadikan gerakan ini bekerja untuk semua orang dari semua latar belakang etnis dan kepemelukan agama. Suatu cara kerja yang sekarang mungkin banyak disebut kaum liberal (hal. 19). Beliau secara lugas mengatakan bahwa gerakan yang didasarkan atas etika welas asih sesungguhnya jauh lebih rasional dibandingkan dengan gerakan yang didasarkan atas logika dan prinsip humanisme Barat. Pada bagian awal, secara napak tilas beliau banyak membandingkan gagasan-gagasan gerakan sosial antara pemikir-pemikir Timur Tengah dan Barat dengan ide Ahmad Dahlan, tetapi pada bagian penutup beliau melakukan kemunduran yang sulit dipahami oleh pembaca dengan diksi “revolusi kebudayaan” terhadap organisasi Muhammadiyah.

Membaca buku ini kita akan merasakan bagaimana Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan melakukan idealisasi terhadap pemikiran dan tindakan otentik Ahmad Dahlan di satu sisi dan memandang sinis terhadap Muhammadiyah disisi lain, pilihan sikap yang justru dihindari oleh Toynbee (1987) dalam Perjuangkan Hidup: Sebuah Dialog. Dalam pandangan saya, kedua buku tersebut menyasar persoalan yang sama tentang kecerdasan insani yang dilakukan oleh seorang intelektual, meski berakhir dengan tekanan yang tidak sama. Jika Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan tetap belum beranjak dari cara pandang lama hingga terus mengidealisasikan Ahmad Dahlan sebagai pembaharu Islam modern, tidak demikian dengan Toynbee yang justru menawarkan “kehormatan menuntut tindakan mulia” yang merupakan aturan cocok bagi tindakan para cendekiawan dan seniman. Karena itu, dibeberapa tulisan belum terpotret oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan: tindakan otentik.

Meski begitu, Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan adalah buku yang sangat kaya data dan analisis, sebagaimana lazimnya Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, selalu menggugat kemapanan-kemapanan berpikir, terutama dalam hal rekonstruksi gagasan Ahmad Dahlan. Setelah Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah yang menggunakan cara pandang filsafat, kali ini Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan mencoba memandang lebih kontekstual. Seperti disinggung sebelumnya, hasilnya tidak berbeda. Jawaban bagi segenap persoalan yang dihadapi oleh Muhammadiyah pada ide dasar Ahmad Dahlan adalah etika welas asih. Jadi Prof. Munir tetaplah Prof Munir, yang selalu memperbaharui gagasan Ahmad Dahlan dan menawarkan pendekatan keagamaan, jawaban yang sebenarnya justru mengundang pertanyaan-pertanyaan baru terutama di era sekarang ketika pendekatan keagamaan justru dianggap sebagai piranti perusak akidah Muhammadiyah!.

Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik. 2018. Sekolah dan Politik: Pergerakan Kaum Muda di Sumatera Barat, 1927-1933. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Alfian, 2010. Politik Kaum Modernis: Perlawanan Muhammadiyah terhadap Kolonialisme Belanda. Jakarta: Al-Wasat.

Alkindi, Mohammad Djazman, 2019. Ilmu Amaliah-Amal Ilmiah: Muhammadiyah Sebagai Gerakan Ilmu dan Amal. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Arifin, MT. 1990. Muhammadiyah: Potret Yang Berubah. Surakarta: Institut Gelanggang Pemikiran Filsafat Sosial Budaya dan Kependidikan Surakarta.

Mulkhan, Abdul Munir. 2015. Boeah Fikiran Kijai H.A. Dachlan. Jakarta: Global Base Review dan STIEAD Press.

Sudja, H.M. 2018. Cerita Tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan: Catatan Haji Muhammad Sudja’. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Toynbee, Arnold dan Daisaku Ikeda. 1987. Perjuangkan Hidup: Sebuah Dialog. Jakarta: PT. INDIRA Anggota IKAPI.

 

Ilmu-Amaliah-Amaliah-Ilmu.jpg?fit=619%2C877&ssl=1
12/07/2019

 

Oleh: Muhammad Afriansyah*

[Mohamad Djazman Al-Kindi; Ilmu Amaliah Amal Ilmiah, Bagian Pertama, Bab III Muhammadiyah sebagai Gerakan Amal dan Pemikiran, halaman 58]

Latar belakang studinya adalah sastra dan kebudayaan serta geografi UGM, tapi ia juga berbicara sejarah, pemikiran Islam, pendidikan, manajemen, perkaderan, Muhammadiyah, keorganisasian, politik kebangsaan, komunis, katolik, perubahan sosial, orientalis, ateisme, konsili Vatikan, dan yang tak kalah menarik, ia juga berbicara tentang anak muda dan peran strategisnya!

Sosok yang komplet ini pernah dimiliki oleh Muhammadiyah 20 tahun tahun lalu. Kini ia sudah berpulang dengan meninggalkan banyak warisan berharga, tapi sepertinya warisan yang ia tinggalkan tidak menarik untuk diperebutkan.

Ia yang merupakan cicit dari Kyai Dahlan, menjelma menjadi seorang ideolog yang berpikiran dan berwawasan luas melampaui latar belakang akademiknya. Pencetus dan pemimpin pertama BPK (kini MPK, Majelis Pendidikan Kader) menelurkan produk perkaderan berupa wahana perkaderan lanjutan dari Mu’allimin/Mu’allimat di tingkat mahasiswa yaitu Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran di Makamhaji, Kartasura.

Mohamad Djazman Al-Kindi, nama yang tidak asing lagi bagi segenap kader dan pimpinan persyarikatan, juga bagi setiap civitas akademika UMS, minimal dikenal sebagai salah satu gedung pertemuan megah di area kampus 1 UMS, sebelah barat Masjid Fadlurrohman, Auditorium Moh. Djazman. Beliau sebagai rektor pertama UMS, telah meletakkan banyak sekali dasar-dasar pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah dari segi manajemen akademik, pengembangan kemahasiswaan, mewujudkan wahana pencetak kader-kader persyarikatan, dll.

Dalam salah satu tulisannya di Bab III berjudul Muhammadiyah sebagai Gerakan Amal dan Pemikiran, Mohamad Djazman mengkritik adanya fenomena di kalangan kita yang menciptakan polarisasi antara man of think dan man of action. Dalam hal ini Mohamad Djazman telah menjadi keduanya, pemikir dan penggerak bagi persyarikatan Muhammadiyah. Sebagai penggerak, ia adalah pencetus sekaligus pimpinan pertama BPK sebagai wadah untuk mensistematisasikan perkaderan Muhammadiyah secara nasional.

Selain sistem perkaderan, perhatiannya terhadap dunia pendidikan tinggi juga diwujudkan dalam gagasannya dalam pembentukan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang). Tidak cukup di situ wujud perhatiannya bagi perguruan tinggi Muhammadiyah, Mohamad Djazman terjun langsung merintis sekaligus memimpin salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah terbesar di Indonesia sebagai rektornya yang pertama, UMS, yang merupakan gabungan dari IKIP Muhammadiyah dan Intitut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM). Sehingga, namanya diabadikan sebagai nama Auditorium Moh. Djazman. Fakultas Geografi UMS pun disebut-sebut sebagai peninggalannya yang fenomenal, sebagai bentuk dedikasi dan tanggung jawab akademisnya.

Singkatnya, sebagai penggerak, kiprah dan kontribusinya sudah tidak bisa lagi dipertanyakan. Lantas bagaimana dengan perannya sebagai seorang pemikir (man of think)? Inilah yang harus kita gali dan kita jaga nyala api perjuangannya. Tak banyak yang benar-benar memahami bahwa ia adalah pemikir ulung yang produk pemikirannya tersebar dalam berbagai tempat dan wujud. Selain UMS, MPK, dan Majelis Diktilitbang sebagai produk pemikiran yang berupa wahana, ia juga menelurkan produk pemikirannya dalam bentuk wacana yang tersebar di berbagai media dan tema pembahasan.

Luas dan berpikiran terbuka, namun tetap teguh pada prinsip dan ideologi yang dipegang. Demikian kesan pertama saya ketika bercengkerama dengan beliau lewat wacana-wacana yang diproduksi. Berbagai tema nyaris tidak luput dari jangakuan analisisnya, meliputi sejarah, pemikiran Islam, pendidikan, manajemen, perkaderan, Muhammadiyah, keorganisasian, politik kebangsaan, komunis, katolik, perubahan sosial, orientalis, ateisme, konsili Vatikan, serta mahasiswa dan peran strategisnya.

Lebih dari itu, produk pemikirannya yang berupa wacana yang masih tersebar dan belum terkodifikasi menjadikan kita cukup kewalahan mengenal dan mengarungi dunianya. Agus Sumiyanto, salah satu orang terdekat sekaligus kader beliau sudah sejak lama diamanahi untuk menuliskan tentang Mohamad Djazman, namun baru setelah lebih 20 tahun, amanah tersebut tuntas ditunaikan dengan hadirnya buku Ilmu Amaliah Amal Ilmiah, Muhammadiyah sebagai Gerakan Ilmu dan Amal, terbitan Suara Muhammadiyah, sebagai buku yang memuat tulisan-tulisan beliau yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Abdi Djazman (Djazman Research Institute), sekelompok kader-kader IMM UMS yang terdiri dari kader-kader IMM Cabang Kota Surakarta dan IMM Cabang Sukoharjo.

Tim serupa sempat terwacanakan di kalangan kader-kader beliau terutama yang berkarier di UMS, untuk mengenang sekaligus tetap menjaga nyala semangatnya. Tercatat selain Agus Sumiyanto, ada Djalal Fuadi yang kini menjabat Wakil Dekan II FKIP UMS juga merupakan kader beliau. Namun ternyata sampai buku ini terbit, tim itu tidak pernah terwujud.

Terdiri dari 40 tulisan dengan beragam tema pembahasan, kader tulen yang diamanahi PP Muhammadiyah sebagai bidan kelahiran IPM dan IMM ini, mencurahkan segenap gagasan-gagasannya yang brilian. Keempat puluh tulisan tersebut dibagi menjadi 3 bagian yaitu Bagian Pertama Muhammadiyah sebagai Gerakan Ilmu dan Amal; Bagian Kedua Kaderisasi Muhammadiyah: Prospek dan Pembaharuan; dan Bagian Ketiga Islam dan Perubahan Sosial. Agus Sumiyano yang juga editor buku ini dalam Pengantar Editor (halaman xii) menyatakan “Buku ini memang tidak mencantumkan daftar pustaka sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Dengan demikian, daftar pustaka yang kami cantumkan di belakang merupakan judul tulisan Mohamad Djazman dan dari mana sumber tulisan itu kami peroleh.”

 

Muhammad Afriansyah, (dok.pribadi)

Haedar Nashir dalam epilog buku ini (Epilog: Mengenal Pak Djazman Al-Kindi, halaman 252) mengatakan bahwa pak Djazman terbentuk dalam dua proses, yaitu pertama, kultural sosiologis. Latar belakang keluarga dan masa kecilnya di Kauman, membuatnya kental dengan nuansa dan aroma Muhammadiyah sedari dini. Modal sosiologis ini yang tidak dimiliki oleh banyak tokoh lain, yang memang lahir dan besar di luar Kauman, demikian tulis Haedar Nashir.

Kedua, struktural organisatoris. Kiprahnya di persyarikatan sedari muda belia semakin memantapkan ideologi Muhammadiyah yang dipegangnya secara teguh. Karier organisasi sebagai bidan IPM & IMM (sekaligus menjadi ketua DPP IMM yang pertama), Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, penggagas sekaligus Ketua BPK pertama, Rektor UMS pertama, penggagas Majelis Diktilitbang, serta “tinggalan”nya yang fenomenal adalah UMS yang kini memiliki 30.000 an lebih mahasiswa per tahun ini.

Sebagai orang yang berpikiran maju dan terbuka, beliau tidak ragu untuk bersentuhan dengan pemikiran “non-Islam” dan “sekuler”, macam Julien Benda, Nurcholis Madjid, Sir Robert Thompon, Max Weber, beberapa Paus sebagai pimpinan Gereja Vatikan, dan lain-lain.

Buku ini menyajikan segelintir gagasan fenomenal di banyak disiplin ilmu, menggambarkan betapa perhatiannya pada khazanah ilmu pengetahuan duniawi dan ukhrawi sangat luar biasa. Sampai di sini kita sudah membuktikan bahwa apa yang dicita-citakan oleh beliau untuk menghapus stigma polarisasi antara man of think dan man of anction sebenarnya sudah terlaksana sekaligus mewujud dalam dirinya sendiri, seorang pemikir sekaligus penggerak, meminjam istilah Anhar Gonggong. Maka tinggal bagaimana peran kita untuk melanjutkan kembali kiprah beliau sekaligus melahirkan kembali Djazman-Djazman selanjutnya.

Gagasan-gagasan besar yang brilian nan fenomenal dari cicit Kyai Dahlan ini agaknya bisa menjadi tonggak awal kodifikasi gagasan-gagasan para tokoh persyarikatan lainnya sebagai media pembelajaran dan penggalian ide-ide masa lampau untuk mengembalikan arah gerak persyarikatan, pedoman etos kerja kepemimpinan dan perjuangan dalam Muhammadiyah, pun bagi semua ortom dan AUM-nya.

Terkhusus bagi segenap kader IMM di penjuru tanah air, ideolog yang satu ini menitipkan kawah intelektual persyarikatan ini lengkap dengan warisan tulisannya yang terdapat pada Bab IX Refleksi dan Masa Depan IMM, berjudul Mengislamkan Umat Islam Kembali: Refleksi Milad IMM VIII; Bukan Organisasi Hura-Hura: Refleksi Milad IMM 1988; IMM dan Masa Depan: Sebuah Refleksi; dan Peranan Mahasiswa dalam Menegakkan Nilai-Nilai Kemanusiaan. Singkat namun mendalam dan sangat reflektif, demikian harapan para bidan IMM di masa-masa awal kelahirannya.

Amat besar harapan segenap kalangan persyarikatan, terlebih Tim Abdi Djazman (Djazman Research Institute) sebagai tim yang menghimpun naskah beliau yang tercecer dan tersebar di berbagai tempat, agar karya ini menjadi suplemen pembakar api semangat perjuangan bagi segenap warga persyarikatan, terkhusus bagi kader dan pimpinannya, sebagai ujung tombak perjuangan. Sehingga kelak lahir Djazman-Djazman selanjutnya yang lebih berpikiran dan bergerak maju, membawa dan membumikan nilai-nilai Islam yang berkemajuan, sebagai pelanjut misi Rasulullah yaitu rahmat bagi sekalian alam.

Billahi fii sabilil haq fastabiqul khairat

 

____________________________________________________________________

 Penulis adalah:  *Tim Abdi Djazman/Djazman Research Institute (Tim Penghimpun Naskah-Naskah Mohamad Djazman Al-Kindi)

*Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Surakarta periode 2018/2019

 

IMG-20190527-WA0000-1.jpg?fit=1087%2C1280&ssl=1
27/05/2019

Mengapa wakaf produktif kurang bisa berkembang di kalangan kaum muslimin?

Buku yang membahas tema wakaf produktif juga belum begitu banyak, kalah dengan buku yang membahas persoalan lainya.  Padahal, ajaran ini sebenarnya sudah dipraktekkan sejak jaman Rasulullah dan diikuti oleh para sahabat lainnya.

Dari Jabir bin Abdillah, bahwa semua sahabat Rasulullah yang memiliki harta, mereka melakukan wakaf, tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan.

Misalnya Umar bin Khatab yang mewakafkan sebidang tanah di Khaibar, Abu Thalhah mewakafkan kebun kurma Bairoha, Utsman bin Affan mewakafkan sumur Raumah, Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanah Yanbu’, Zubair bin Awwam mewakafkan rumahnya, dan sahabat Rasulullah yang lain seperti Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Aisyah Ummul Mu’minin, Asma bin Abu Bakar, Saad bin Abi Waqqas, Khalid bin Walid, Jabir bin Abdillah, Saad bin Ubadah, Uqbah bin Amir, juga Abdullah bin Zubair.

Para sahabat Rasulullah itu sepertri berlomba untuk mewakafkan hartanya karena ingin memperoleh keutamaan wakaf yang pahalanya terus mengalir dari manfaat harta yang diwakafkan tersebut.

Sabda Rasulullah, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalanya kecuali tiga perkara yaitu; sedekah jariyah, ilmu yang bermanafaat dan doa’anak yang soleh.” HR, Muslim.

Sedekah jariyah dalam hadits tersebut dimaknai sebagai wakaf, karena pokok harta yang diwakafkan ditahan, yang disalurkan hanyalah hasil ekonominya.

Buku setebal 209 halaman ini ditulis oleh Dr. Fahruroji Lc.MA. Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1996, Universitas Al Azhar Kairo 2003, Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (S2 tahun 2009 dan S 3 tahun 2015).  Saat ini sebagai dosen Program Magister Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Sekolah Kajian strategis dan Global UI.

Membaca buku ini sangat bermanfaat, karena membuka wawasan yang luas, khususnya persoalan wakaf yang masih belum menjadi perhatian penting dalam menggerakkan ekonomi ummat.

Selama ini wakaf baru ditafsirkan yaitu berupa penyerahan sebidang tanah untuk dikelola sebuah yayasan Islam, dan diperuntukkan pembangunan masjid, musholla, rumah yatim, atau sekolahan.  Penafsiran wakaf sebagai penggerak roda ekonomi ummat, tampaknya perlu disosialisasikan secara merata dan serius.

“Sebagian orang masih menganggap wakaf produktif sebagai istilah baru bahkan istilah asing yang tidak dikenal dalam perwakafan. Padahal wakaf produktif memiliki akar sejarah yang kuat dimana Rasululah SAW  telah memerintahkannya bahkan telah melaksanakanya.” ( hal 137).

Dalam buku yang diberi judul Wakaf Kontemporer  ini dibahas secara detail persoalan wakaf antara lain Wakaf untuk selamanya atau sementara ( hal 51). Apa yang disebut sebagai wakaf musytarak ( hal 57). Istibdal wakaf di Singapura dan Malaysia ( hal 99.107). Tentang kekekalan harta benda wakaf ( hal 129), Investasi wakaf dan resikonya ( hal 133). Wakaf manfaat ( hal 167).  Wakaf profesi ( hal 173) dan masih banyak pembahasan lainya.

DR Fahrorroji juga melengkapi data beberapa tanah wakaf yang telah dikelola oleh Pondok Gontor secara produktif. Yang dari hasilnya dapat digunakan untuk membiaya pendidikan.

Pada halaman 183 dijelaskan, “ bahwa fakta sejarah mencatat peranan wakaf dalam mendukung majunya dunia pendidikan pada masa klasik. Setiap sekolah mempunyai penghasilan sendiri yang diperoleh dari harta wakaf produktif yang diperuntukkan  membiayai beasiswa maupun memberi gaji para guru dan dosen. Sebagai contoh, Madrasah Nizamiyah dan Madrasah Muntasiriyah di Bagdad. Madrasah an Nassiriyah di Kairo, Madrasah An Nuriyah di Damaskus.

Di jelaskan juga bahwa Universitas Al Azhar Kairo mempunyai wakaf yang sangat luas sehingga mampu mengutus para ulama ke seluruh dunia dan memberikan ribuan beasiswa bagi pelajar dari berbagai belahan dunia untuk belajar di Al Azhar.

Buku ini sangat penting untuk dipahami, termasuk para pegiat ZIS-W ( Zakat Infak Sedekah dan Wakaf.) Namun sayangnya buku ini tidak dijual umum. Buku dicetak untuk badan wakaf Al Husna seperti tertera di cover depan. Sementara di cover belakang  tertulis; support by Kospin Jasa Syariah. ( Arief Budiman).