Pranyata-SE.jpg?fit=189%2C221&ssl=1
10/08/2019

Oleh: Pranyata, SE*

 

ASSALAMU’ALAIKUM WR WB

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jama’ah shalat Idul Adha yang semoga dirahmati oleh Allah,

 

Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT  Yang Maha Rahman dan Maha Rahim,  yang  telah melimpahkan segala nikmat Rahmat dan hidayah –Nya, terlebih nikmat Iman dan Islam.

Shalawat dan salam semoga selalu  tercurah kepada junjungan dan suri teladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabat dan kepada orang yang mengikuti  Nabi hingga akhir zaman.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jama’ah shalat Idul Adha yang semoga dirahmati oleh Allah,

Allah Swt. menurunkan firman-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia. (Al-Mumtahanah: 4)

Benar apa yang difirmankan Allah SWT, bahwa Nabi Ibrahim sangat cocok  sebagai suri teladan. Nabi Ibrahim adalah Abul Anbiya (bapaknya para Nabi), karena semua nabi setelah nabi Ibrahim adalah keturunan Nabi Ibrahim. Selain itu, ketaqwaan dan perjuangannya bisa menjadi cermin bagi manusia di segala jaman, termasuk ketaqwaan dan perjuangannya membangun Ka’bah dan  Makkah yang semula daerah gersang tak berpenduduk menjadi kota besar dan pusat agama.  Keluarga ini telah membangun peradaban agung yaitu membangun kemajuan  kebudayaan yang dilandasi oleh ilmu pengetahuan dan akhlak serta kehalusan budi pekerti.

Kisah Nabi Ibrahim membangun kota Makkah diawali sejak  istrinya melahirkan Ismail.  Allâh memerintahkannya agar isterinya Hajar dan putranya  Ismail yang baru lahir itu tinggal di Makkah. Daerah  ini  tak ada  air, tanah pun gersang dan tandus serta sepi tak berpenghuni.  Karena ketaqwaannya, Nabi Ibrahim pun  melaksanakan perintah tersebut. Ia antar  isteri dan anaknya ke Makkah.

Tak lama kemudian  Nabi Ibrahim lalu  pamit pulang.  Namun Istrinya mengikuti Nabi Ibrahim dan berkata, “Wahai Ibrahim! Kemana engkau hendak pergi meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni dan tak ada apapun di sini?” Hajar mengucapkan kata-katanya berulang kali, namun Nabi Ibrahim tidak juga menolehnya. Akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allâh yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Nabi Ibrahim menjawab, “Benar.” Hajar menimpali, “Kalau begitu, Allâh tidak akan menyia-nyiakan kami.” kemudian Hajar kembali ke tempat semula.

Inilah jawaban istri yang tawakal. Dia ikhlas menerima perintah Allah untuk tinggal di Makkah yang  hanya ditemani seorang bayi. Sebetulnya Nabi Ibrahim pun berat meninggalkan isteri dan anak satu-satunya itu. Anak itu lama ia dambakan, giliran lahir ternyata Allah memerintahkan untuk berpisah. Nabi Ibrahim berdo’a. Do’a ini dimonumentalkan Allah dalam Al-Qur’an dalam Surat Ibrahim (14) ayat 37,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ .

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Do’a tersebut menggambarkan kekhawatiran seorang  kepala keluarga  terhadap keluarga dan keturunannya yang ia tinggalkan. Ia berharap agar keluarganya tetap beriman dan diberikan rezeqi, serta diberikan  kemakmuran. Do’a tersebut Allah monumentalkan dalam Al-Qur’an agar apa yang dilakukan Nabi Ibrahim benar-benar bisa dicontoh orang sesudahnya.

Kita pun diingatkan Allah dalam firman-Nya dalam surat  An Nisa:9

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعافاً خافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً (9

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah. yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Kata” hendaklah takut kepada Allah” di awal ayat adalah bentuk perintah Allah agar manusia  itu bertaqwa dengan cara meninggalkan anak keturunan yang kuat dan sejahtera.  Karena kata  takut kepada Allah adalah salah satu arti dari kata taqwa.    Apalagi kelanjutan dalam ayat tersebut ada perintah Allah “hendaklah mereka bertakwa kepada Allah”,  ini memperkuat perintah untuk bertaqwa. Sehingga ayat ini secara keseluruhan menjelaskan bahwa meninggalkan keturunan atau anak  yang kuat dan sejahtera adalah salah satu bentuk  ketaqwaan  seseorang  kepada Allah.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Apa teladan  keluarga Nabi Ibrahim berikutnya? Setelah beberapa waktu Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, muncul masalah baru. Air yang ditinggalkan Nabi ibrahim mulai habis . Hajar mulai merasa kehausan, begitu pula putranya Ismail yang masih bayi merah. Hajar menatap putranya yang meronta-ronta.

Karena tak sanggup melihat keadaan putranya, Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan air. Hajar berlarian meninggalkan putranya menuju bukit Shafa, bukit terdekat darinya. Ia naik lalu berdiri di sana dan memandangi lembah disekelilingnya,  ia berharap ada  air di sekitar bukit atau ada orang lain di sana. Ternyata tidak ada seorangpun selain mereka berdua dan juga tak ada air. Ia turun dari bukit Shafa dan terus berlari kecil melewati lembah sehingga sampai ke bukit Marwah. Ia berdiri di sana untuk memeriksa, apakah ada air atau ada orang di sekitar bukit.  Namun tidak ada seorang pun dan juga tak ada air. Ia melakukan hal itu sampai 7 kali.

Setiap pengulangan dalam  mendaki bukit Shafa dan Marwah adalah bentuk memperbaiki strategi dan langkah untuk berhasil. Ketika usaha yang kedua kali gagal ia lakukan yang ketiga dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan bahwa langkah kali ini berhasil. Namun ternyata belum berhasil juga. Hajar tidak putus asa dan tidak bosan untuk mengulang langkahnya. Bahkan sampai tujuh kali.

Man Jadda Wajada (barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan keberhasilan).  Allah tidak akan tinggal diam terhadap hambanya yang  bersungguh-sungguh dalam usaha yang dilandasi dengan taqwa dan yakin akan karunia-Nya. Janji Allah kepada orang yang bertaqwa adalah:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

 

2….. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.

  1. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …..(QS. At Thalaq:2-3)

Setelah berulang tujuh kali Hajar berjalan antara bukit Shafa dan Marwah, Allah melunasi janjinya kepada orang yang bertaqwa dengan memberikan jalan keluar bagi Hajar.  Karunia Allah yang di luar dugaan yaitu keluarnya mata air Zam-Zam dari tanah yang diinjak  Ismail putranya.

Berbahagialah Hajar dengan mata air yang melimpah tersebut. Bahkan dengan banyaknya air itu, burung pun ikut menikmati.  Melihat banyak burung yang terbang di sekitar Makkah, para khafilah/ pedagang yang lewat di padang pasir menandai di situ ada mata air. Maka ada sekelompok orang  dari Jurhum lewat meminta air dan  selanjutnya ada yang menetap di daerah Makkah.

Dalam perjalanan waktu, setelah Ismail dewasa diajaknya oleh Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah.  Lama kelamaan Makkah  yang  dulu tidak berpenduduk berubah menjadi kota. Inilah peran Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam membangun peradaban.

Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim,  Hajar, dan putranya Ismail  yang yang begitu sungguh-sungguh, dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan  telah bisa membangun kota Makkah yang diberi julukan Al-Mukarramah , karena Makkah  merupakan kota yang dimuliakan Allah.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jamaah Shalat ‘Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Kisah Nabi Ibrahim tersebut dapat untuk menjadi teladan bagi kita. Umat Islam sekarang bagaikan dalam kegersangan. Tandus dari ilmu pengetahuan, inovasinya kalah dengan bangsa lain.  Akibatnya kesejahteraan umat juga kurang.

Kalau ingin lebih sejahtera harus bekerja. Untuk mencari kerja harus memiliki ilmu pengetahuan.  Maka agar umat Islam mudah mendapatkan pekerjaan atau mampu menciptakan lapangan harus pandai dan memiliki ilmu pengetahuan.

Di era pasar bebas dan keterbukaan ini, apabila ada yang  memiliki ilmu pengetahuan bisa mencari kerja ke negara manapun sesuai dengan konsensus antar negra. Konsekuensinya pekerja dari negara lain juga bisa mencari kerja di negara kita. Inilah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap  generasi milenial saat ini, sebagaimana kekhawatiran Nabi Ibrahim ketika meninggalkan isteri dan anaknya.

Tetapi kaum muslimin tidak boleh tinggal diam. Seharusnya segera menyusul ketertinggalan ilmu pengetahuan  untuk mencapai kejayaannya. Mengejar ketertinggalan bukanlah hal yang tabu. Dahulu negara Jepang, Korea Selatan dan China juga pernah tertinggal dengan negara-negara barat. Mereka  hanya butuh waktu kurang lebih 40-50  tahun untuk mampu berkompetisi dengan negara barat. Umat Islam pun seharusnya begitu. Kalau sekarang tertinggal, maka untuk mengejar  peradaban yang dicapai negara maju saat ini, umat harus dengan semangat menuntut ilmu.

Kuncinya umat Islam harus menguasai ilmu pengetahuan  yang  didasarkan pada ketaqwaan seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Keluarganya. Usaha keras berdasarkan  petunjuk Islam.

Agama mengajarkan bahwa mencari ilmu itu wajib. Rasulullah SAW.  bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim “(HR. Ibnu Majah, shahih).

Kalau menuntut ilmu hukumnya wajib berarti kita akan mendapatkan pahala yang besar kalau kita menuntut ilmu dan kita akan berdosa kalau tidak menuntut ilmu. Kita dosa kalau kita tidak sejahtera gara-gara kita bodoh.

Saudaraku, Kita akan sukses kalau kita menguasai ilmu. Derajat kita bisa terangkat kalau kita menguasai ilmu pengetahuan. Allah  berjanji dalam Al-Qur’an Surat  58 Al Mujadilah: 11

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

  1. ….. niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Inilah janji Allah dan Allah tidak pernah ingkar janji. Perhatikan ayat di atas, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu.

Tertarikkah kita dengan janji Allah tersebut. Kalau kita belum yakin akan janji tersebut, perhatikanlah buktinya yaitu orang-orang yang sukses yang ada di lingkungan kita atau orang sukses yang kita ketahui, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang pandai dan menguasai ilmu pengetahuan. Seharusnya hal ini menjadikan kita yakin akan firman Allah dalam surat Al-Mujadillah ayat 11 tersebut, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu.

Selanjutnya,  dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa langkah-langkahnya  orang yang menuntut ilmu akan memudahkan dirinya  untuk masuk surga. Rasulullah SAW bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَىالْجَنَّةِ

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Namun perlu diketahui bahwa dalam menuntut ilmu kita akan mendapatkan tantangan. Sebagaimana Hajar, dia pun mendapat tantangangan. Kalau bagi Hajar bahwa  semua tantangan dan perjuangan adalah sumber pahala, maka kita pun harus begitu. Kalau Hajar untuk meraih Cita-cita mendapatkan air tidak putus asa bolak-balik dari bukit Shafa dan Marwah sampai tujuh kali, kitapun harus tidak putus asa dalam menuntut ilmu dengan pengorbanan apa pun. Ini adalah sunatullah, untuk sukses harus melalui perjuangan. Allah berfirman:

{فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا}

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Alam Nasyrah: 5-6)

Dari ayat ini, bahwa dibalik kesulitan itu ada kesuksesan. Kita harus yakin ini adalah janji  Allah, kesuksesan kita itu tergantung seberapa kegigihan kita dalam menghadapi tantangan hidup. Itulah jiwa yang harus dimiliki calon pemenang dalam  persaingan global. Allah berfirman dalam Surat Ar Ra’d ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (11) }

…. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Agar kita berubah menjadi sukses, kita harus  berubah dengan menyiapkan jalan-jalan  untuk diturunkannya kesuksesan Allah kepada kita dengan jalan gigih menuntut ilmu.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jama’ah shalat Idul Adha yang semoga senantiasa istiqamah di jalan Allah,

Kurang apa Islam dalam memotivasi umatnya untuk menuntut ilmu agar maju. Orang  yang menuntut ilmu akan dimudahkan jalan masuk surga, akan diangkat derajatnya. Berarti akan lebih sejahtera, akan lebih makmur.  Umat yang pandai dan maju, sekaligus akan mengangkat derajat agama Islam. Orang yang pandai akan mendapatkan pahala yang lebih banyak. Kalau dengan janji seperti ini umat Islam masih enggan menuntut ilmu, umat ini menghendaki motivasi yang seperti apa lagi.

Orang tua juga punya kewajiban. Agar anak sukses, orang tua wajib mendorong dan membiayai anak untuk menuntut ilmu. Para orang tua tidak cukup hanya khawatir akan masa depan anaknya, tetapi perlu dipikirkan bagaimana solusinya akan masa depan anak agar cerah dan sejahtera, sehingga orang tua tidak dosa karena meninggalkan keturunan yang lemah. Maka tugas orang tua adalah  mendorong anak untuk lebih tekun dalam menuntut ilmu. Nabi SAW bersabda:

“مَنْ دَعَا إِلَى هَدْيٍ كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنِ اتَّبَعَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa yang mengajak ke jalan petunjuk, baginya pahala semisal dengan semua pahala orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat; hal tersebut tanpa mengurangi pahala mere­ka barang sedikit pun.

Jadi kalau kita menyuruh anak untuk belajar menuntut ilmu, kemudian anak itu mau untuk menuntut ilmu, maka orang tua yang menyuruh akan mendapatkan pahala yang terus mengalir  sampai hari kiamat. Apalagi kalau kita menyuruh sekaligus membiayai, pahalanya akan jauh lebih banyak.

Akhirnya marilah memohon kepada Allah Ta’ala agar dalam diri kita muncul semangat baru dalam menuntut ilmu untuk membangun peradapan Islam yang lebih bagus, sebagaimana semangatnya Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail dalam membangun peradaban baru kota Makkah.

Mari kita tutup khutbah Idul Adha ini dengan doa, semoga Allah perkenankan setiap doa kita di hari penuh kebaikan ini.

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اللّهمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ

اللهم عذِّبِ الكَفَرَةَ الذين يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ ويُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ ويُقاتِلُونَ أوْلِيَاءَكََّ

اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين

اللهم فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِرٍ إنَّكَ رَبُّنَا عَلَى كلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ يَا رَبَّ العالمين

اللهمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ على الأَمْرِ والعَاقِبَةَ الحَسَنَةَ والعَافِيَةَ مِنْ كُلِّ بَلِيَّةٍ والسَّلاَمَةَ مِنْ كلِّ إِثْمٍ والغَنِيْمَةَ مِنْ كل بِرٍّ والفَوْزَ بِالجَنَّةِ والنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سيدِنا مُحَمّدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ وَسلّم والحمدُ لله

 

 

___________________________________________________

*Penulis adalah Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kab. Cilacap dan Pemerhati Ekonomi-Sosial

 

 

 

Ilustrasi-penyakit-hati.jpg?fit=696%2C392&ssl=1
07/04/2018

PENYAKIT HATI

Agus Sumiyanto

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Saw bersabda “ Alaa wa inna fil jasadi mudghotan ,idza sholuhat sholukhal jasadu kulluhu,wa idza fasadat fasadal jasadu kulluhu , alaa wahiyal qolbu”

(Ketahuilahsesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging ,bilamana segumpal daging itu sehat,maka sehatlah seluruh badan.Akan tetapi bila segumpal daging itu sakit maka sakitlah seluruh badan. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati ) HR.Bukhari

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa di dalam diri manusia terdapat organ rohani manusia yang sangat sentral peranannya,yaitu hati atau qalbu. Seperti kita ketahui bahwa manusia terdiri dari 2 (dua) unsur yaitu jasmani dan rohani. Jasmani kita yang nampak ini hanya bisa hidup dan berkembang karena adanya unsur rohani, yang terdiri dari ruh, akal, jiwa atau nafs dan hati. Ruh adalah penyebab hidup manusia, akal adalah alat penimbang perbuatan,nafsu adalah pendorong perbuatan dan hati adalah pemutus pilihan perbuatan manusia.

Sebagai pemegang keputusan terakhir dalam perilaku manusia,maka tidak heran dalam hadits di atas disebutkan bahwa kesehatan hati menentukan seluruh kualitas perilaku manusia. Begitu pentingnya peran sentral hati sebagi komandan perilaku manusia, Al Qur’an menyebutnya dalam berbagai derivasi kata qalbu sampai 132 x, disamping disebut dalam berbagai hadits Nabi SAW.

Hati yang dalam bahasa Arab disebut qalbu adalah mashdar dari kata qalaba yang berarti membalikkan,mengubah,mengganti. Disebut qalbu karena suka berubah-ubah.Qalb memiliki dua (2) pengertian : yang bersifat fisik dia adalah jantung ,sedangkan secara ruhaniah qalb adalah potensi ruhaniah yang halus, bersifat rabaniyah sebagi hakekat manusia yang dapat menangkap segala rasa, mengetahui dan mengenal sesuatu.

Allah SWT berfirman dalam S.Asy Syam : 7- 10 ,”Wa nafsin (w) wama  sawwaha ,fa –al hamaha fujuraha wataqwaha” ( Demi jiwa serta penyempurnaannya ,maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan keburukan dan jalan ketaqwaannya)  “Qod aflaha manzakkaha waqod khobaman dassaha”  ( Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu dan sungguh rugi orang yang mengotorinya)

Ayat ini mengajari kita bahwa Allah telah mengilhamkan kepada jiwa (nafs) manusia jalan kedurhakaan dan ketaqwaan. Maksud mengilhamkan adalah bahwa Allah memberikan potensi dan kemampuan kepada jiwa manusia untuk menelusuri jalan durhaka dan ketaqwaan. Dengan potensi jiwa tersebut, hati manusia mampu membedakan mana yang baik mana yang buruk, dia mampu mengarahkan dirinya menuju kebaikan atau keburukan dalam kadar yang sama. Kedatangan Rasulullah saw dan petunjuk Al Qur’an berfungsi membangkitkan potensi kebaikan, mendorong dan mengarahkannya. Potensi itu telah tercipta melekat menjadi tabiat manusia.

Dalam dinamika perilaku manusia ada 3( tiga ) jenis hati

  1. Hati yang sehat atau qalbun salim , yaitu hati yang selamat dari syahwat yang menyelisihi perintah Allah.Ibadahnya murni kepada Allah dan patuh,taat kepada ajaran Rasulullah saw
  2. Hati yang mati adalah hati yangmenjadikan nafsu syahwat sebagai pemimpinnya. Tak mengenal dan menyembah Allah , sehingga kekufuran merajai hatinya dan tidak meiliki kehidupan di dalamnya
  3. Hati yang sakit adalah hati yang memiliki kehidupan,namun terdapat penyakit di dalamnya.Didalamnya ada iman,ikhlas dan tawakal yang merupakan unsur hidupnya hati,tapi terdapat pula syahwat,dengki, sombong,ujub dan zhalim yang berpotensi merusak diri dan lingkungannya

Dari ketiga jenis hati ini,tentu saja seorang yang beriman berharap dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memiliki qalbun salim (hati yang selamat atau sehat) , karena hanya jenis hati semacam ini yang kan diterima oleh Allah SWT. Dalam surah As Syu’ara 88-89 Allah berfirman ,” Yauma laa yanfa’u maalun walaa banun.Illa man atallaha biqolbin salim “( yaitu di hari ketika harta dan anak laki-laki tidak berguna,kecuali orang yang menghadap Allah dengan qalbun salim (hati yang selamat)

Kemudian yang menjadi masalah adalah adanya berbagai penyakit hati yang dapat merusak hati dan perilaku kita . Menurut  Imam Al Ghazali dalam karya masterpiecenya Ihya Ulumuddin yang disarikan oleh Sa’id Hawwa, ada 11 jenis penyakit hati.

  1. Kafir, munafik, fasik dan bid’ah.

Kafir artinya menolak kebenaran Islam yang datang dari Nabi SAW yang menggugurkan kalimah syahadahnya

Munafik ada dua jenis yaitu secara pemikiran maupun secara perbuatan.Secara pemikiran adalah apa yang diucapkan tentang keimanannya tidak sama dengan keyakinan hatinya Sedangkan munafik perbuatan adalah perilaku seseorang yang sama dengan perilaku orang munafik.

Bid’ah juga ada dua yaitu bid’ah keyakinan dan bid’ah perbuatan.Bid’ah keyakinan adalah memiliki keyakinan yang sesat,yang bertentangan dengan keyakinan ahli sunnah wal jama’ah.Sedangkan bid’ah perbuatan adalah perbuatan yang tidak berlandaskan Al Qur’an dan sunnah dan  tidak dibenarkan oleh imam-imam mujtahid ahlus sunnah wal jama’ah.

Fasik adalah yaitu orang yang menjalankan maksiat dengan meninggalkan yang diperintahkan dan menjalankan yang dilarang Allah.

  1. Syirik dan Riya’

Syirik adalah menyifati ketuhanan kepada zat selain Allah dan menyembahnya.

Riya’ adalah beribadah dengan tujuan untuk  mendapat pujian dari seseorang atau satu kelompok.

  1. Cinta kedudukan dan Jabatan(dengan melanggar syari’at )
  2. Dengki ( hasad),yaitu mengharapkan hilangnya kenikmatan dari orang yang didengki
  3. Ujub (membanggakan diri ) karena kecantikan, kekuatan, kecerdasan, nasab,harta,anak-pembantu-keluarga-pengikut,pendapat yang salah
  4. Sombong,yaitu melecehkan orang lain dan menolak kebenaran,disebabkan oleh ilmu,amal ibadah nasab,kecantikan,harta,pengikut-murid-anak – keluarga dan kekuatan
  5. Bakhil atau pelit
  6. Ghurur adalah  tertipu dengan angan-angan kosong  – yaitu hidup dibawah ilusi dan menghabiskan umur dengan khayalan
  7. Kemarahan yang zhalim
  8. Hubbud dunya yaitu,perasaan tenteram terhadapnya hingga melupakan akhirat
  9. Itba’ al hawa (Mengikuti hawa nafsu )

Allahu a’lam

Sumber  Pustaka

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah,Obat Penyakit Hati, (2006),Bandung : Jabal

Sa’id Hawwa,Tazkiyatun Nafs, Jakarta ( 2006) :  Pena  Pundi Aksara

Syekh Ibnu Taimiyah, Terap Penyakit Hati, Jakarta (1998) : Gema Insani Press