Desa-dalam-perspektif-Islam.jpg?fit=768%2C753&ssl=1
26/06/2019

Oleh: Adhitya Yoga Pratama*

Setiap kaum Muslim di seluruh dunia pasti mempunyai kehendak menginjakkan kakinya di Mekkah sebagai perwujudan rukun Islam yang kelima. Bahkan panggilan Allah SWT dalam bentuk menunaikan ibadah haji ini dengan prasyarat mampu, mereka akan berangkat ke tanah suci tanpa dibeda-bedakan golongan, suku, bangsa, kelas, dan jenis kelamin apapun yang membebani.

Sungguh, yang demikianlah orang dikumpulkan menjadi satu secara bersama-sama melakukan ihram, wukuf di Padang Arafah, tawaf ifadah, sa’i, tahallul, dan tertib haji. Keberadaan kaum muslim di Kota Mekkah inilah menandakan sebuah wilayah yang penuh historisitas dan spiritualitas dari aspek religius menunaikan ibadah suci dengan khusyu’.

Pada bulan Dzulhijjah diketahui tanda-tanda Mekkah sebagai kota sudah terbukti dengan berbondong-bondongnya umat Islam dari berbagai negeri mengerjakan ibadah haji. Terlebih tanda-tanda keramaian kota yang hiruk-pikuk namun penuh khidmat berserah diri kepada Allah Swt bagi hamba-Nya itu dapat terlihat jelas ketika kaum muslim mengelilingi Ka’bah.

Berangkat dari rumah Allah SWT inilah suasana damai, tentram, tenang, dan sungguh-sungguh menyelimuti bathin manusia yang mengharap ridha Illahi dari keselamatan dunia dan akhirat, yang kenyataannya berbanding terbalik dengan letak geografis yang padang pasir serta pusat ekonomi-politik di Jazirah Arab yang sangat kompetitif pada masa jahiliyah.

Pertemuan antara ajaran langit dan kontradiksi di bumi ini merupakan titik konfrontatif dimana Islam, dan umat Islam secara konsekuen, tidak dapat lagi diam dan mesti menyikapi persoalan imajinasi sosiologis masyarakat pada konteks perebutan ruang kehidupan.

 

Adhitya Yoga Pratama. (dok.pribadi)

Sabda Nabi Muhammad Saw dalam memandang Kota Mekkah sebagai kota yang mulia di antara kota-kota yang lainnya (sekalipun Madinah) sangat termaktub jelas melalui hadits yang berbunyi; “Demi Allah, Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintai-Nya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu) (HR. At-Tirmidzi).

Nada penyesalan Rasulullah SAW terbukti nyata ketika beliau memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk segera hijrah ke Kota Madinah, sementara Nabi dan Ali Bin Abi Thalib menyusul hari berikutnya kala rumah dikepung oleh para musuh. Atas pertolongan Allah Swt, Rasul dan keponakannya berhasil keluar dari Kota Mekkah dalam keadaan selamat tanpa suatu halangan sekalipun.

Membaca sunnah dan kisah Rasul saat hijrah pertama kali ke Kota Madinah diatas, bukan berarti membuat kita begitu saja menafsirkan Mekkah sebagai entitas politik sarat metropolitan dan kosmopolitan semata.

Tetapi dari sinilah kita akan memandang Kota Mekkah sebagai ruang publik yang diperebutkan wacana politiknya oleh kelompok kepentingan yang berada di sekitar Ka’bah. Terutama sistem nilai dan struktur kebudayaan yang terkandung di dalamnya, sejak dibangun oleh Ibrahim dan Ismail pada masa kenabian.

Mengingat kajian Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat di antara para ilmuwan, fokus desa dalam perspektif Islam sesungguhnya berusaha menggali jejak-jejak pra-Islam memandang dinamika sosial yang ada di dalam kebudayaan Islam itu sendiri.

Mengutip pendapat Woodward (1989) bahwa Islam adalah unsur dominan dalam kepercayaan dan upacara keagamaan orang Jawa, yang membentuk karakter interaksi sosial dan kehidupan keseharian di seluruh segmen masyarakat Jawa. Maka Ka’bah adalah unsur dominan dalam kepercayaan dan upacara keagamaan umat Islam, yang membentuk karakter interaksi sosial dan keseharian di seluruh segmen masyarakat Islam di seluruh dunia.

 

Nilai-Nilai Keislaman

Sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul ternyata ia sudah terlibat dalam peristiwa pembentukan suatu komunitas yang aman, tentram, damai, dan toleran. Menurut Syed Ameer Ali dalam karya terkenalnya The Spirit of Islam (2008), keterlibatan Muhammad dalam peristiwa pembentukan komunitas itu terjadi karena adanya kesewenang-wenangan berupa perampokan di jalanan Kota Mekkah.

Atas permintaannya, keluarga Hasyim, Muthalib, Zuhra, dan Taym mengikatkan diri. Keluarga-keluarga tersebut mengangkat sumpah untuk membela setiap orang, baik mereka itu orang Mekkah atau orang asing, orang merdeka atau budak, dari segala bentuk kesewenang-wenangan di wilayah Mekkah. Mereka juga bertekad untuk menuntut balas atau meminta ganti rugi dari orang yang telah berbuat jahat terhadap mereka.

Selain itu ketika tengah memperbaiki Ka’bah terjadi perselisihan di antara keluarga-keluarga bangsawan Arab yang andil dalam pembangunan, yang mana konflik itu sangat mungkin menimbulkan pertumpahan darah. Namun, berkat Muhammad perselisihan itu dapat diselesaikan dengan cara damai. Sehingga kita tahu setelah itu ia mendapat julukan Al-Amin (Yang Terpercaya) membuat iri musuh-musuhnya, pertanda bahwa anak bangsa Arab kelak akan menjadi Nabi dan Rasul.

Hanya hal-hal di ataslah yang kita ketahui tentang perbuatan dan keterlibatan Muhammad di depan umum selama lima belas tahun. Sifatnya yang lembut, tegas, kekerasannya dalam menjaga kesucian hidup, kehalusan budinya, kesiap-sediaannya membantu si miskin dan lemah, rasa kehormatannya, kesetiannya yang besar, dan rasa kewajibannya yang begitu besar. Kesemua itu pada waktunya ia akan memiliki watak sosial yang tabligh, amanah, fathonah, dan sidiq.

Pada titik inilah Muhammad sebagai manusia yang memiliki tubuh membawa kabar gembira dan memberi teladan baik bagi semesta alam melalui tutur kata dan tindakan. Manusia bangsa Arab ini dapat dipastikan dalam kesehariannya tidak mampu melakukan kecerobohan yang merugikan orang lain. Penggembala kambing itu selalu waspada dan penuh perhatian terhadap kaum lemah.

Meski di depannya terbentang sebuah negeri berlumuran darah yang tercabik-cabik oleh perang saudara dan pertikaian antar suku. Mereka kecanduan ritual takhayul dan mesum, sekaligus kejam dan sewenang-wenang.

Pengalaman-pengalaman sebelum kerasulan inilah yang membentuk daur hidup manusia untuk menciptakan suatu ruang yang tenang, tentram, damai, dan toleran. Siapa sangka keberadaan agama dan kepercayaan masyarakat Arab yang saling bertengkar dan menghancurkan di hadapan Rumah Allah Swt itu didekonstruksi oleh Muhammad dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab setelah kenabian.

Alhasil, Mekkah menjadi suatu tempat yang paling banyak dikunjungi orang untuk sekedar berumrah atau menunaikan ibadah haji,yang membawa suasana kejiwaan manusia resah menjadi satu dalam nuansa persaudaraan menghadap Ka’bah. Nilai-nilai keislaman inilah yang sesungguhnya membawa situasi desa dalam perspektif Islam dibentuk. Sebab Muhammad dengan Ka’bah merupakan komitmen keharmonisan meningkatkan keimanan kita untuk berbagi pengalaman spiritual dengan para pengikutnya. Demikian.

 

*Penulis adalah peminat kajian sejarah kebudayaan Islam  & pegiat gerakan ekologi dan politik pedesaan dalam perspektif Islam

           

Ilustrasi_-Nyantri.jpg?fit=1007%2C583&ssl=1
17/06/2019

Oleh: Yohanes Nasution*

Anak kami ada tiga. Yang sulung laki-laki, Cahya panggilannya, sudah lulus dari Gontor Ponorogo dan saat ini masih kuliah di Fisipol UMY semester (mau masuk) tujuh. Anak kedua putri, Zika panggilannya, baru lulus dari Gontor Putri pada Ramadhan kemarin dan mau meneruskan kuliah di UNIDA (Universitas Islam Darussalam) Gontor. Anak ketiga putri juga, Alya panggilannya, baru lulus SD dan saat ini sedang berjuang agar bisa diterima nyantri di Gontor Putri mengikuti jejak kakaknya.

Aku dan istriku sering mendapat pertanyaan dari teman tentang anak-anak kami yang nyantri di Pondok Gontor. Macam-macam pertanyaannya, tapi yang paling sering seperti ini, “Bagaimana cara supaya anak mau mondok di Pesantren?” Atau, “Anaknya sudah hafal berapa juz?” Atau, “Kalau masukkan anak di pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?”

Sungguh tidak mudah menjawab pertanyaan seperti itu karena itu soal mindset orang tua tentang pendidikan anak. Pada umumnya orang tua mencita-citakan anaknya setelah besar nanti menjadi dokter, insinyur, pegawai negeri, karyawan perusahaan dengan gaji besar, atau bahkan menjadi pejabat dan politisi kondang. Itulah makanya mereka memasukkan anaknya ke sekolah favorit sejak SD hingga SMA unggulan agar nanti bisa melanjutkan ke universitas terkenal. Bahkan ada juga ortu yang mencita-citakan anaknya menjadi artis terkenal, maka anak-anaknya diikutkan kursus musik, menyanyi, modelling, dsb, lalu si anak pun sering diikutkan lomba atau festival hingga menjadi juara dan bila beruntung bisa menjadi bintang/artis terkenal dan kaya raya.

Begitulah wajarnya orang tua menuntun anaknya agar kelak hidup sukses dengan profesi mentereng sesuai dengan konsepsi tentang sukses saat ini. Hal itu berbeda dengan wali santri yang memilih memasukkan anaknya ke Pondok Pesantren Gontor, misalnya. Kami, juga beberapa wali santri yang pernah ngobrol degan kami, pada umumnya hanya menginginkan anak-anaknya menjadi shalih dan shalihah. Tidak lebih. Tidak berani mencita-citakan anak akan menjadi ini menjadi itu seperti umumnya ortu. Kami hanya meyakini bahwa setelah lulus dari Gontor anak-anak mampu beradaptasi dengan dunia yang dihadapinya, entah dunia kampus/kuliah atau dunia kerja. Kami yakin hahwa anak-anak kami akan mampu istiqamah menghadapi dunia pergaulan yang penuh intrik, hoax dan fitnah rebutan hal-hal duniawi.

Kalau mindset atau konsepsi ortu tentang pendidikan anak masih standar alias konvensional, jangan masukkan anak ke Gontor. Berat, Bro. Anda pasti akan merasa kecele dan kecewa kalau tidak punya setelan layaknya seorang santri. Baru dalam proses pendaftaran saja Anda akan merasa kurang terhormat karena harus antri berhari-hari dan bermalam-malam tanpa fasilitas memadai. Ortu harus siap tidur klesetan di lantai bersama ribuan ortu dan calon santri lain, antri kamar mandi seperti jamaah haji sedang wukuf di Mina, antri makan di kantin yang dikelola santri klas 5-6 dengan menu seadanya, dsb. Bagi yang punya tenda agak lumayan bisa mendirikan tenda di teras gedung atau di halaman dan bawah pohon seperti orang camping sehingga agak punya privacy. Bagi yang datang duluan bisa menempati gazebo-gazebo yang dibangun di bawah pohon pinggir lapangan.

Begitulah, semua ortu calon santri harus bermental santri, sanggup hidup bersahaja setidaknya untuk beberapa hari sampai anaknya dapat kepastian diterima atau tidak. Bila anaknya diterima, ortu pun harus ikhlas anak diterima di Gontor Putri (GP)1, 2, 3 (ketiganya di Ngawi, Jatim), atau di GP 5 di Kediri. Harus manut. Tidak boleh protes. Kalau tidak manut, silahkan anak dibawa pulang seperti halnya anak-anak yang memang tidak diterima karena tidak lulus ujian seleksi masuk. Itulah ujian pertama bagi ortu santri Gontor.

Ujian berikutnya terjadi ketika harus berpisah dengan anak, meninggalkan anak hidup di pondok. Ini jelas berat, Bro, terutama ketika si anak nangis-nangis karena mungkin belum bisa enjoy di pondok. Namanya juga anak, harus berpisah dengan ortu tanpa fasilitas seperti di rumah yang serba komplit dan terpenuhi semua kebutuhannya. Maka tidak jarang ortu di rumah terus kepikiran anaknya sampai-sampai gak bisa makan enak karena membayangkan anaknya menderita di pondok. Padahal, pikiran dan kekhawatiran ortu semacam inilah yang justru membuat anaknya jadi gelisah dan tidak nyaman sehingga prosesnya menjadi santri terganggu. Di sinilah perlunya ortu harus TETEG dan TEGEL alias kuat hati dan tega mengikhlaskan anak berproses di pondok bersama ribuan teman barunya. Dan jangan lupa, sebenarnya anak-anak memiliki kemampuan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya dibandingkan ortu. Maka IKHLASKAN saja anak berproses di pondok. Percayalah bahwa pondok punya SOP pendidikan anak yang sudah teruji kedahsyatannya.

Pertanyaan berikutnya, “Anaknya di Gontor sudah hafal Al Quran berapa jus?” Perlu dipahami bahwa Gontor bukanlah Pondok Tahfidz sehingga tidak mewajibkan santrinya menghafalkan Al Quran. Ada banyak pilihan kegiatan santri di sana. Ada Pramuka, jurnalistik, sastra, bermacam-macam olah raga, qiro’ah/seni baca Al Quran, musik, pertamanan, kebersihan lingkungan, dan lain-lain, salah satunya adalah kegiatan tahfidz Al Quran. Biasanya anak akan mengambil kegiatan sesuai dengan minat dan bakatnya, meski ada juga yang sekadar ikut temannya. Boleh juga kalau ortu mengarahkan anaknya agar ikut kegiatan tahfidz, dan syukur bila si anak mau dan berminat. Kalau tidak berminat ya jangan dipaksakan.

Pertanyaan berikutnya, “Kalau masukkan anak ke pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?” Sekali lagi, sejak awal kami tidak berani memproyeksikan anak akan jadi apa, kecuali jadi anak yang shalih-shalihah yang berbakti dan bisa mendoakan ortunya setelah meninggal nanti. Tidak lebih. Soal rejeki, pasti Allah SWT akan memberikan rejeki sesuai dengan kapasitas dan ikhtiarnya. Sudah ada ratusan ribu alumni Gontor. Mereka masuk ke berbagai sektor kehidupan. Ada yang jadi ulama seperti alm. K.H. Hasyim Muzadi (PBNU), Prof. Din Syamsuddin (Muammadiyah), alm. Dr. Nurcholis Madjid, dll. Ada juga yang jadi politisi ‘hebat’ seperti Hidayat Nur Wahid (PKS) dan Lukman Hakim Syaifuddin (PPP). Ada juga alumni/jebolan yang sulit diidentifikasi karena perannya yang menonjol/jenius di lintas sektoral dan istiqamah menemani umat seperti Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Ada juga yang dianggap ‘mbahnya teroris’ seperti Ustadz Abu Bakar Basyir yang hingga usianya yang sudah uzur pun masih dipaksa hidup di penjara. Ada juga yang jadi diplomat hebat seperti Aji Surya. Banyak juga alumni yang jadi udtadz dan pimpinan Ponpes di berbagai daerah. Bahkan, konon ada juga alumni yang jadi pimpinan/raja preman di satu kota besar.

Ah, jadi teringat puisi Kahlil Gibran, “Anakmu bukan anakmu. Dialah putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri….dst.”

#catatanwalisantrigontor
#sambilnemanianakdaftargontorputrimantingan

salaman.png?fit=1200%2C716&ssl=1
09/06/2019

Oleh: Yohanes Nasution*

“Om, atur sungkem taklim, sugeng riyaya Idul Fitri, sedaya lepat kula nyuwun pangapunten,” kata Sasa sambil menyalamiku dengan takzim tadi sore.

“Hiyo podho-podho, Sa. Salahku akeh banget neng awakmu. Aku yho njaluk pangapuramu. Mugo-mugo dosa awake dhewe dingapura dening Gusti Allah. Aamiin….,” jawabku dengan susunan kata sebisaku.

Sebenarnya sangat tidak enak menerima kunjungan dan badan atau ucapan lebaran dari sahabatku tadi. Usia Sasa lebih tua dariku, maka mestinya aku yang sowan ke rumahnya untuk menghaturkan permohonan maaf kepadanya. Syukur-syukur bisa membawakan buah tangan untuk keluarganya. Beda soal kalau, misalnya, Sasa masih terhitung kerabatku dan awu atau garis nasabnya lebih muda dariku. Maka dia yang harus sowan, sebagaimana banyak ponakan-ponakanku yang datang berlebaran ke rumahku meski usianya lebih tua. Begitulah budaya kami, budaya wong Jowo di pedesaan yang masih setia dengan tradisi.  Sasa sama sekali tidak ada kaitan kerabat denganku. Kami hanya sahabat, teman glenak-glenik dan rerasan tentang berbagai hal. Itu pun aku lebih banyak berposisi sebagai ember penampung limbah dari kegelisahannya yang sering menggumpal. Lha kok dia yang datang ke rumahku. Sungguh tidak enak rasanya.

“Sa, mestinya aku yang ke rumahmu, tapi betul-betul memang belum sempat karena masih banyak tamu,” kataku sambil mempersilakan Sasa minum kopi dan mencicipi kue di depannya.

“Gak apa-apa, Om. Ndelalah waktuku memang longgar, maka aku yang sowan ke sini,” jawabnya sambil tangannya bersiap menyulut rokok.

Sambil menikmati kopi sore, kami mulai ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai hal yang ringan-ringan. Sasa bercerita tentang puasanya yang tahun ini bisa full 30 hari tanpa bolong, tentang sholat tarawih di mesjid kampungnya yang tetap ramai sejak awal hingga akhir Ramadhan, tentang anak-anak yang rajin tadarus setiap bakda tarawih, tentang sholat Ied di lapangan yang bacaan imamnya sangat bagus dan khotibnya tidak nyinggung politik sama-sekali, tentang jalan Boyolali-Jatinom-Klaten yang padat merayap sejak 3 hari sebelum lebaran, dan sebagainya.

Kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba datang ponakanku yang biasa dipanggil ustadz Wildan karena sering ngisi pengajian di kampung-kampung, pintar qiroah dan muazin utama di Mesjid Agung.

“Assalaamu’alaikum….,” Wildan mengucap salam dan kami jawab “Wa’alaukumasalam.”

“Dari mana, Wil?,” tanyaku.

“Dari rumah, Om. Tadi kulihat Pak Sasa lewat depan rumah, kupikir pasti mau ke sini. Makanya aku ke sini pengin ikut ngobrol, Om,” jawab Wildan.

“Wah kebetulan ada ustaz ini. Nderek tepang, saya Sasa tukang parkir Soto Kartongali,” Sasa mencoba memperkenalkan diri.

“Njih, Pak Sasa. Siap. Saya sudah kenal Njenengan kok, si juru parkir teladan Nasional dari Jolotundo. Ngaturaken Sugeng Riyadi, sedaya lepat nyuwun pangapunten.”

“Njih sami-sami….tapi Ustadz mbok jangan ngece, to.”

“Bukan ngece, Pak Sasa. Memang Njenengan pantas mendapatkan gelar itu. Saya ini sudah biasa bepergian ke berbagai kota, sudah ketemu banyak sekali juru parkir, tapi belum ada yang profesional seperti Sampeyan. Iya to, Om?,” Wildan minta persetujuanku.

“Profesional bagaimana, Ustadz? Lha wong saya ini ya cuma bekerja, ngibadah, melakukan yang seharusnya saya lakukan sebagai tukang parkir, memberi aba-aba supaya orang bisa markir kendaraan dengan rapi dan nyaman.”

“Lha ya itu kelebihan Pak Sasa.”

“Kok kelebihan?”

“Pak Sasa bekerja dengan hati yang tulus dan total membantu orang mau parkir atau keluar dari parkiran. Profesional. Bahkan orang-orang bilang Pak Sasa tidak mata-duitan, tidak butuh duit, karena kadang menolak dikasih uang parkir.”

“Wah mbok jangan gitu to, Ustaz. Saya masih butuh duit, kok. Makanya bekerja tiap hari.”

“Pak Sasa, semua orang memang butuh duit. Tapi banyak orang yang bekerjanya tidak sungguh-sungguh dan tidak jujur. Tidak profesional. Banyak orang hanya mencari duit, tapi tidak serius kerjanya. Tidak tulus dan terkesan tidak ikhlas. Bahkan karena sedemikian penginnya cepat kaya, pengin cepat punya harta banyak, dia berani mengambil yang bukan haknya.”

“Berani mencuri ya, Ustaz?”

“Ya mencuri, merampok, atau korupsi. Karena apa, Pak Sasa? Karena orang tidak punya lagi sifat jujur dan ikhlas. Puasa Ramadhan kita sebenarnya untuk melatih jujur dan ikhlas itu. Coba kalau kita tidak jujur dan tidak ikhlas, bisa saja kita sembunyi di kamar agar tidak ada orang melihat kita makan minum atau merokok. Iya to, Pak Sasa? Tapi sayangnya setelah Ramadhan kita tidak kuat untuk istiqamah.”

“Iya bener itu, Ustaz. Jan-jane puasa itu memang berat kok, ya.”

“Memang berat, Pak Sasa. Makanya setelah Lebaran orang jadi merasa sudah bebas lagi melakukan apa saja, bahkan berani melakukan sesuatu yang jelas dilarang.”

“Wah alhamdulillaah, Om, beruntung sekali sowanku ke sini sore ini bisa dapat ilmu dari Ustadz Wildan. Matur nuwun ya, Ustaz. Kapan-kapan kalau Njenengan pas nyoto, saya mau ngaji lagi.”

Obrolan sore pun kami akhiri karena Wildan mau adzan maghrib. Sasa pamit pulang juga karena harus bertugas menjadi imam maghrib di masjid kampungnya. Donga-dinonga yho, Sa….

 

#serialsasa

______________________________________________________

 

*Penuils adalah Anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah

Ilustrasi-lebaran.jpg?fit=700%2C393&ssl=1
09/06/2019

Oleh: Syahrullah,SH, MH*

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Dengan kalimat yang begitu mulia, jutaan bahkan miliaran orang setiap datangnya hari Lebaran mengucapkannya. Seruan ini disambut oleh ribuan, oleh jutaan umat manusia dari segenap penjuru bumi, menyemarakkanya dengan shalat Ied menyambut kesucian jiwa kita kembali seperti baru saja kita dilahirkan oleh ibunda kita. Suci, bersih dari segala noda dan dosa yang selama ini hinggap di tubuh kita.

Idul fitri bagi umat Islam di seluruh dunia, dilaksanakan serentak setiap 1 Syawal setiap tahunnya. Di awali dengan pelaksanaan shalat di lapangan terbuka atau di masjid-masjid, bermaaf-maafan atas semua kesalahan yang dilakukan dengan sesama manusia, baik kepada orang tua, sanak saudara, keluarga jiran tetangga. Idul Fitri di kalangan masyarakat  dikenal dengan istilah “lebaran”.

 

Syahrullah,SH, MH.

Lebaran, waktu yang ditunggu-tunggu oleh segenap umat Islam tanah air. Ada beberapa fenomena sosial yang hidup hampir merata di seluruh nusantara. Fenomena ini dilakukan secara berulang-ulang dan banyak masyarakat  yang menganggap ini menjadi tradisi. Apa saja fenomena itu?

Berbagai fenomena

Pertama,Mudik. Merupakan satu fenomena sosial yang telah berurat berakar bagi orang-orang Indonesia.Berbagai alasan rasional seolah tidak mampu menjelaskan fenomena yangteranyam rapat dalam nilai kultural bangsa Indonesia itu. Seakan ada sebuah peraturan yang mengharuskan bahwa setiap lebaran tiba para perantau harus pulang ke kampung halaman.

Pulang mudik sekali setahun tidak hanya sekedar melepas kerinduan pada kampung halaman,  tetapi sepertinya mengandung makna yang jauh lebih dalam dari itu.Mudik adalah tradisi baik,yang menjadi pertanda kasih sayang sesorang kepada keluarganya, orang tuanya, tetangga maupun teman dima sa kecilnya. Mudik adalah wahana silaturahim tahunan yang layak dipelihara.

Sementara menurut Umar Kayam (2002), mudik awal mulanya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Keberadaannya jauh sebelum kerajaan Majapahit. Awalnya kegiatan ini digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur, dengan disertai doa bersama kepada dewadewa di Khayangan. Tradisi ini bertujuan agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang ditinggalkan tidak diselimuti masalah. Namun, sejalan masuknya pengaruh ajaran Islam ke tanah Jawa membuat tradisi ini lama-kelamaan terkikis,karena dianggap perbuatan syirik terutama bagi mereka yang menyalahgunakan dengan meminta kepada leluhur yang telah meninggal dunia.

Setiap menjelang hari raya Idul Fitri, hampir seluruh media massa baik cetak dan eletronik mulai menyoroti aktivitas mudik, bahkan pemerintah khususnya kementrian perhubungan dan kepolisian dikerahkan untuk mensukseskan kegitan ini, sebab setiap tahun jumlah pemudik terus saja membanjiri terminal, stasiun, pelabuhan, hingga bandara. Kemacetan dan penundaan waktu keberangkatan angkutan transportasi merupakan hal yang umum terjadi. Ini disebabkan  sebanyak 18,28 juta (perkiraan kemenhub) masyarakat bakal melakukan kegiatan mudik Lebaran 2019.

Kedua Menabuh Bedug. Kumandang takbir  Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.   bagi sebagian masyarakat  selalu diiringi dengan tabuhan bedug yang menggema di mesjid-mesjid , surau-surau, langgar-langgar dan mushalla, bahkan di jalan-jalan. Tabuhan bedug akan menambah suasana haru dan gembira. Suara takbir akan terdengar mulai dari malam takbiran hingga pagi di hari Lebaran, tanda hari kemenangan telah tiba. Oleh karena itu, bedug sudah menjadi simbol dari hari raya Idul Fitri selain dari ketupat.

Ketiga Pawai Takbir. Lebaran akan selalu disambut dengan kumandang takbir sebagai tanda kemenangan setelah melakukan puasa selama sebulan penuh. Pada momen ini akan terlihat bagaimana kebersamaan masyarakat tetap terjaga dengan baik, mereka akan turun ke jalan melakukan pawai keliling Kota, baik itu menggunakan kendaraan ataupun sekedar berjalan kaki beramai-ramai.Ini akan sangat menyenangkan dan menjadi salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu selama masa Lebaran, sebab inilah agenda yang paling awal dalam perayaan Lebaran itu sendiri.

Keempat Ketupat. Lebaran dan ketupat tentu telah menjadi dua hal yang tidak terpisahkan. Penganan khas lebaran ini biasanya akan disajikan bersama opor, rendang, semur, kerupuk udang dan beberapa jenis tambahan lainnya. Meski terbilang memiliki cara penyajian yang berbeda-beda pada tiap daerah di Indonesia, namun ketupat telah menjadi sebuah penganan wajib yang selalu disajikan ketika perayaan Lebaran.

Ketupat Lebaran akan menjadi sebuah sajian yang sangat istimewa, sebab hampir semua keluarga akan menyantapnya dengan bahagia, di mana seluruh atau sebagian besar anggota keluarga bisa berkumpul dan menikmatinya bersama-sama. Tak lengkap rasanya melewati Lebaran tanpa sajian ketupat, karena ketupat adalah sajian khas yang wajib disantap di momen yang indah itu.

Kelima THR. THR (tunjangan hari raya) merupakan tradisi masyarakat memberikan sejumlah uang terutama kepada anak-anak, keluarga dekat yang tidak mampu. Yang memberikan biasanya orang dewasa yang sudah bekerja.

Tradisi ini meniru pemberian THR oleh perusahaan kepada karyawannya. Dan di masa Pemerintahan Joko Widodo pemberian THR mulai dikenal yang diberikan kepada para ASN, TNI, Polri dan para pensiunan.

Keenam Halal bi halal.Tradisihal bi halal  telah dipraktekkan  sejak lama.  di mana orang akan saling, bermaaf-maafan,saling  mengunjungi dan merayakan Lebaran bersama keluarga besar, teman-teman, kerabat, tetangga, atau bahkan mereka yang lainnya yang kita anggap penting untuk kita kunjungi.

Halal Bi Halal bahkan masih akan dirayakan setelah momen Lebaran berlalu dan kita kembali bekerja seperti biasa,di Kantor-kantor, sekolah maupun perusahaan.

Ketujuh Ziarah kubur.Ziarah kubur, menjadi kebiasaan bagi sebagian masyarakat Indonesia di Hari Lebaran. Biasanya hal ini dilakukan sore hari menjelang lebaran; setelah shalat Idul Fitri. Mereka dating ke pemakaman dengan membawa berbagai bunga, daun pandan harum untuk ditaburi di atas pemakaman setelah ada yang membacakan yasin, memanjatkan doa bagi keluarga, kerabat  yang telah pergi meninggalkan dunia.

Kedelapan  Rekreasi. Rekreasi merupakan fenomena yang menarik di tengah masyarakat saat lebaran. Terutama bagi mereka yang pulang mudik. Momen ini menjadi kesempatan yang baik untuk berekreasi bersama anggota keluarga, karib, teman sejawat lainnya.

Namun, yang lebih penting memaknai lebaran setelah sebulan penuh kita berhasil mengendalikan hawa nafsu dan menuruti panggilan ilahi, maka Allah menghadiahkan kepada kita kesucian jiwa. Kita kembali seperti bayi yang baru lahir, suci, bersih dari noda dan dosa. Maka inilah lebaran, hari yang menjadi momen tepat untuk saling bermaaf-maafan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

 

* Dosen STIH Muhammadiyah Bima, pemerhati masalah sosial, ekonomi, hukum dan Lingkungan

 

 

 

Achmad-Rosyid.jpg?fit=960%2C1280&ssl=1
06/06/2019

Oleh: Achimad Rosyidi*

Masyarakat Indonesia pada tanggal 17 April 2019 telah melampaui agenda pesta demokrasi yakni pemilihan umum secara langsung. Hiruk-Pikuk Pilpres dan Pileg yang dilaksanakan secara bersama-sama, ternyata membawa dampak sosial dan politik yang hampir merenggut nilai persatuan Indonesia.

ilustrasi-02.png?fit=1200%2C675&ssl=1
02/06/2019

Oleh: Yohanes Nasution*

Aku lagi asyik melihat-lihat desain kemasan beras di google ketika sahabatku Sasa mak-bedunduk sudah berada di depanku.

“Assalaamu’alaikum…..,” ucapnya sambil menyodorkan tangan ngajak salaman. Langsung kujawab salamnya dan kuraih tangannya yang kekar. Kami bersalaman.

“Lagi sibuk apa, Om?”

“Ini lagi cari-cari inspirasi desain kemasan beras, Sa. Mau kopi?”

“Siap, Om. Memang ke sini aku mau ngopi….hahahaa.”

Anakku lanang yang kebetulan lagi di rumah sudah tahu tugasnya. Tak berapa lama, dua gelas kopi pun sudah dibuatnya dan diantar ke meja tempat kami biasa ngobrol.

“Monggo diunjuk, Pakdhe,” anakku mempersilkan.

“Yho, Cah bagus. Ini lagi libur to, Le?”

“Njih, Pakdhe. Mulai libur awal Ramadhan. Monggo disekecakke, Pakdhe,” kata anakku lalu pamit undur diri.

Seperti biasanya, kami minum kopi yang masih panas dengan manfaatkan piring kecil yang disebut lepek. Kopi dituang ke lepek sedikit-sedikit, ditunggu beberapa detik, lalu dimimun dengan penuh penghayatan. “Maka kenikmatan mana lagi yang kau dustakan?,” begitu pertanyaan Gusti Allah kepada kita dengan gaya repetitif.

“Mau bikin kemasan beras lagi to, Om? Buat apa?,” Sasa mulai membuka obrolan.

“Tadi aku dihubungi Pengurus Lazismu Pusat supaya nyiapkan beras fitrah untuk para muzakki, Sa.”

“Berapa ton, Om?”

“Ya belum tahu. Mestinya banyak. Kalau ngirim ke Jakarta kan minimal 1 truk, bisa muat 7,5 ton. Kalau kurang dari itu jadi mahal di ongkos kirim.”

“Sudah mulai nyiapkan berasnya, Om?”

“Belum, Sa. Perlu buat desain kemasannya dulu untuk ditawarkan ke para muzakki dan masyarakat umum.”

“Beras dari mana itu nanti?”

“Ya dari petani-petani dampingan kita. Kalau masih kurang bisa kita minta tambahan dari dampingan teman-teman di Sragen atau Karanganyar.”

“Berarti bukan hanya beras Rojolele, Om?”

“Beras C4 super, Sa. Tapi yang Rojolele juga kita siapkan.”

“Harusnya memang begitu.”

“Maksudnya?”

“Beras untuk fitrah kan mesti sama dengan yang dimakan sehari-hari. Yang biasa makan beras medium, zakat fitrahnya cukup dengan beras medium seperti C4. Kalau orang biasa makan beras premium seperti Rojolele, zakat fitrahnya juga beras Rojolele. Jangan C4. Malu sama Gusti Allah, kan?”

“Iya ya, Sa. Harusnya malu, ya?

“Tapi, Om, kita kan baru besok lusa akan mulai puasa. Kok Sampeyan ini sudah mikir zakat fitrah? Lha kok jadi seperti bakul beras, to?”

“Hahaha…..iya ya, Sa?  Aku kadang juga bertanya seperti itu.”

“Lha iya, saat-saat seperti ini Sampeyan kan lagi prepegan. Pasti Bunda Collection lagi banyak pesanan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.  Iya, kan? Lha kok malah suntuk ngutusi beras. Legan golek momongan….”

Mak-jleb rasanya mendengar omongan Sasa. Bukan salah. Masuk akal banget. Memang sejak dulu di mana-mana semua pelaku usaha konveksi pasti sibuk tiap menjelang Ramadhan. Kami pun begitu.

“Alhamdulillah bisa jalan semua kok, Sa. Usaha kami kan sudah berjalan bertahun-tahun, jadi sudah bisa menemukan irama kerjanya. Gak masalah kusambil ngurusi petani dan  beras fitrah ini. Kalau mau, kusambi mancing atau jalan-jalan pun tidak masalah. Usaha di rumah jalan terus…”

“Nah itu, aku gumun dengan Sampeyan ini.”

“Gumun apa? Jangan gumunan, to.”

“Lha kok mau-maunya Sampeyan ngurusi petani? Mestinya kan bisa jalan-jalan sambil ngembangkan bisnisnya sendiri, cari pelanggan sebanyak-banyaknya.”

“Iya ya, Sa.”

“Seharusnya yang ngurusi petani itu Pemerintah, Om. Mereka digaji negara untuk ngurusi kepentingan rakyat. Lah Sampeyan ini pejabat bukan, politisi juga bukan. Nuwun sewu, lho, Sampeyan ini hanya rakyat biasa seperti saya. Lha mbok sudah, urusan pertanian dan perberasan biar diurusi Pemerintah dan orang-orang politik yang suka umbar janji itu.”

“Seharusnya juga begitu, Sa. Wislah, gak usah ngomong politik. Bikin mumet dhewe.”

“Ya memang, Om. Rakyat jadi mumet melihat Pemerintah nyambi jadi makelar.”

“Makelar piye, maksudmu?”

“Kalau ngurusi petani kan gak dapat apa-apa, Om. Ora bathi. Mending impor beras saja biar dapat persenan.”

“Persenan dari mana?”

“Ya dari pelaku impornya to, Om. Mosok dari Sasa….hahahaa…”

“Wislah, Sa. Kita ini rakyat biasa yang butuh sesrawungan, butuh kekancan, butuh berbuat baik, butuh tolong-menolong. Makanya kita mau srawung dengan siapa saja, termasuk dengan para petani. Biarkan saja kalau ada orang masih kadonyan, hanya ngejar urusan dunia. Kita doakan mereka segera bertobat sehingga husnul-khotimah.”

“Aamiin…. Ya sudah, Om. Aku pamit dulu, ya. Mau mampir mandi di umbul Gedaren biar seger,” Sasa pun pamit pulang, nyengklak sepeda jengki tua yang suaranya krengket-krengket tampak jarang dirawat.

 

#serialsasa

 

__________________________________________

 

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan PP Muhammadiyah.

Blok-Masela.jpg?fit=500%2C402&ssl=1
01/06/2019

 

Oleh: Nurkhamid Alfi*

Sejak subuh tadi, perjalanan kendaraan mudik melaju tiada henti. Lancar. Laju mobil ke Jawa rata-rata 80 km/jam.

Sambil istirahat “membunuh” rasa kantuk setelah beberapa jam mengemudi, saya iseng menelpon teman. Ngobrol saja, yang penting rasa kantuk hilang. Sehingga bisa melanjutkan perjalanan mudik kembali ke Jawa Tengah.

Tanpa terduga, pembicaraan mengarah pada masalah serius. Yakni, Proyek Lapangan Gas Abadi, Blok Masela. Dimana, Menteri Ignasius Jonan atas nama Pemerintah Indonesia telah sepakat pada sejumlah poin krusial dengan calon Pengembang kilang LNG tersebut.

Pembicaraan dan negosiasi proyek ini berproses sangat panjang. Hampir 20 tahunan. Baik negosiasi sekitar skema pengembangan kilang, kapasitas kilang, volume gagls pipa, lokasi kilang, sampai masalah internal rate of return (IRR).

 

Nurkhamid Alfi.(dok.pribadi)

Adalah Inpex Corporation Jepang, telah ditunjuk oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) atas nama Pemerintah untuk mengelola Blok Migas Masela di Laut Arafuru, Maluku. Penunjukannya sendiri disepakati di Tokyo pada 27 Mei lalu. Sementara penandatangannya akan dilaksanakan pada pertemuan G20 di Jepang, beberapa waktu mendatang.

Namun sejatinya, masih ada waktu untuk mencermati draft perjanjian sebelum ditandatangani, agar kesepakatan eksplorasi tambang gas tersebut berguna untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang. Ini penting. Kandungan gas di Masela sangat besar. Diperkirakan sebanyak 10,7 triliun kaki kubik atau 10,7 miliar MMBtu.

Pemerintah dan Inpex bersepakat mengenai tiga hal yakni biaya pengembangan, besaran split, dan insentif.
Biaya pengembangan telah dihitung sekitar USD 20 miliar atau Rp 288 triliun. Namun masih perlu revaluasi. Sebab, setelah skema pengembangan kilang diubah dari kilang LNG terapung (Offshore) menjadi kilang LNG darat (Onshore), maka muncul revisi plan of development. Tentu perubahan ini akan berdampak pada besarnya investasi.
Semakin kecil biaya investasi, maka semakin baik jumlah bagi hasil yang akan diperoleh pemerintah. Karena jumlah investasi akan dipakai oleh investor sebagai faktor pengurang. Evaluasi biaya akan berpengaruh terhadap IRR.

Pola bagi hasil disepakati dimana pemerintah sekurangnya mendapat bagian (split) 50%. Jika asumsi harga gas saat ini USD 8 per MMBtu, maka cadangan gas secara total akan menghasilkan uang sebesar USD 85,6 miliar atau sekitar Rp 1,240 triliun. Uang tersebut hampir sama dengan APBN 2019. Sangat besar sekali…!

Sistem bagi hasil dirasa win-win solution. Ini Jauh lebih baik dari perjanjian bagi hasil yang pertama kali dimana Freeport memperolehnya dari Pemerintah, di awal-awal Orde Baru.

Jika pemerintah nantinya akan mendapatkan 50%, maka bisa dihitung prakiraan berapa devisa akan masuk, dengan mengurangi selisih antara besaran capital expenditure dengan revenue yang akan didapatkan. Yakni, Rp 1.240 dikurangi Rp 288 sama dengan Rp 952 triliun. 50% dari Rp 952 triliun adalah Rp 476 triliun. Sebesar itulah uang yang akan diperoleh pemerintah Indonesia nantinya.

Tetapi yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah soal tambahan waktu pengembangan. Pihak Inpex masih mengajukan penambahan perpanjangan kontrak dengan kapasitas kilang sebesar 9,5 mtpa. Sedangkan Pemerintah berkeinginan kapasitas produksi kilang menjadi 7,5 mtpa.

Yang memang perlu diapresiasi dari pemerintah adalah mengubah skema pengembangan dari kilang Offshore ke Onshore. Hal ini mempunyai nilai strategis terhadap pengembangan ekonomi daerah. Kegiatan eksplorasi darat akan membutuhkan banyak fasilitas penunjang. Dunia konstruksi akan hidup. Para kontraktor dan pemasok atau supplier barang-barang pembantu dan infrastruktur juga mendapat kue pembangunan. Apalagi pemerintah telah meratifikasi dan memaksimalisasi kandungan lokal (local content) untuk proyek-proyek kelistrikan dan Migas.

Pertumbuhan entertainment, pariwisata, transportasi, serta ekonomi kreatif, tentu akan mengiringi derap langkah kegiatan kilang. Hal ini akan berbeda bila eksplorasi dilakukan secara terapung di tengah laut.

Perjanjian detail komersial masih menunggu langkah selanjutnya. Baik pemerintah maupun Inpex Corporation masih harus bertemu untuk merumuskan klausal kontrak secara riil. Oleh sebab itu, masih terbuka untuk memberikan gagasan sebagai bagian dari second opinion. Bagi Pemerintah sebagai pengelola negara, diharapkan agar setiap kontrak karya dapat menggunakannya sebagai instrumen untuk memakmurkan rakyat.

____________________________________________

 

*Praktisi/profesional bidang kelistrikan

MK.jpg?fit=619%2C383&ssl=1
28/05/2019

Oleh: Syahrullah,SH, MH*

Kubu Pasangan Capres-Cawapres 02 Prabowo-Sandiaga Uno akhirnya menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan sengketa hasil Pemilihan Umum Presiden dan WakilPresiden (Pilpres). Jumat (24/5/2019), mereka telah mengajukan Permohonan Perselisihan hasil penghitungan suara Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK).

ilustrasi-01.jpg?fit=450%2C300&ssl=1
26/05/2019

Oleh: Yohanes Nasution*

Jinguk tenan Sasa. Kali ini guyonannya ekstrim banget. Radikal. Jorok. Guyonan semacam ini perlu diwaspadai, karena bisa dianggap mengancam persatuan dan kesatuan, tidak pro-NKRI. Bisa kena pasal menyebarkan kebencian. Wah gawat. Aku harus hati-hati ngobrol dengannya. Tidak boleh terpancing biar selamat.

“Jaman sekarang memang aneh ya, Om,” kata Sasa menyambutku di parkiran tadi pagi.

“Aneh bagaimana? Ayo kita duduk dulu di dalam. Sekali-sekali kita nyoto bareng, Sa,” Sasa pun nurut, mengikutiku masuk ke ruang dekat dapur yang lebih sepi. Dalam tempo singkat, dua mengkok soto dan dua gelas teh nasgithel telah tersaji di meja kami. Harus kuakui, meski warung ini tradisional, tapi pelayanannya cepat dan profesional. Sayang sekali, dalam kategori bisnis kuliner, istilah fast-food hanya untuk jenis makanan impor. Sasa menyebutnya ‘panganan Londo’. Soto Kartongali tidak termasuk.

Sambil menyantap soto, kuulangi lagi pertanyaanku tadi, “Sing aneh opo, Sa?”

“Begini, Om. Kita ini dari dulu kok cuma diiming-imingi, dipameri, disuguhi susu tetangga, ya.”

“Apa? Susu tetangga? Wahh…tenane, Sa? Asyik itu….”

“Asyik apanya? Lha wong cuma dipameri thok, je…..”

“Maksudnya?”

“Ya namanya susu tetangga, Om, meski tampaknya montok, ranum-ranum, empuk, menthul-menthul, tapi gak bisa kita pegang. Cuma bisa nyawang thok.”

“Gak boleh dipegang-pegang ya, Sa?”

“Jelas gak boleh, Om. Edan, po?”

“Ya sudah gak usah disawang, Sa. Biar saja dibuka-buka, digleh-glehke, diumbar-umbar di depan mata. Nanti dia juga capek sendiri kalau kita cuekin….”

“Eman-eman, Om. Lumayan masih bisa nyawang…”

“Nyawang sambil ngeleg ludah? Mesakke…..”

” Tapi masih mending susu tetangga daripada…..”

“Daripada apa?”

“Daripada janji-janji para politisi yang empuk-eyup setiap musim kampanye, yang akan nurunkan harga-harga sembako, akan nurunkan biaya pendidikan, pajak listrik, bbm, biaya kesehatan, dan sebagainya.”

“Sik to, Sa, kamu ini ngomong susu tetangga kok tekan janji politisi?”

“Lah apa bedanya, Om?”

“Ya beda….”

“Sama saja.”

“Kok sama?”

“Ya kan sama-sama gak bisa dipegang to, Om? Apa Sampeyan berani pegang susu tetangga? Tidak, kan? Takut kena pasal pelecehan seksual, kan?”

“Ya jelas, Sa. Ngapain lihat-lihat punyanya tetangga? Tiwas ngelu ndase, Sa. Makanya haram, Sa.”

“Janji politik juga begitu.”

“Begitu, piye?”

“Ada sekian banyak janji waktu kampanye dulu. Coba mana yang sudah dilaksanakan? Gak bisa dipegang, Om.”

“Aku juga gak hafal janji-janji kampanye, Sa. Sudah lupa semua. Jadi gak ngeh juga apa yang sudah dilaksanakan dan yang belum.”

“Ya itu masalahnya.”

“Maksudmu?”

“Karena orang gampang lupa, makanya negara gak maju-maju. Dipameri susu tetangga saja wis dho mbanyaki, kesenengen. Apalagi ditambahi amplop nyeket ewu, langsung semrinthil, klepek-klepek. Terus lupa segalannya. Diapusi terus kok dho seneng. Jiaannn…..”

Soto di mangkok sudah tandas. Teh nasgithel juga sudah habis. Rokok sebatang pun hampir tuntas. Saatnya Sasa harus kembali ke tepi jalan melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara Soto Karto Ngali. Tak perlu lagi kulayani omongannya yang mulai ngkantur seperti orang ngomyang.

“Wis yho, Sa, kapan-kapan dilanjut ngobrolnya. Aku mau pulang dulu.”

“Nggih, Om. Matur nuwun sudah ditraktir sarapan….”

“Aku sing matur nuwun, kali ini Sasa mau nemani makan. Sudah sana kerja lagi.”

“Siap, Ndan,” jawab Sasa dan langsung berlari sambil masang sempritan di bibirnya.

Aku pun menuju kasir, antri. Lagi-lagi kunikmati cara hitung quick-count ala Kang Panut dan respon pembeli yang beda-beda.

#serialsasa

 

Penulis: Anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.

Quick-Count.jpg?fit=1200%2C783&ssl=1
03/05/2019

Oleh: Wahyudi Nasution*

Jam 6.30 pagi, warung masih sepi, baru ada dua mobil plat H dan AB di parkiran. Sasa pun belum tampak bertugas. Aku langsung duduk di meja favoritku, meja yang berada tepat di depan meja tempat Kang Panut meracik soto sekaligus sebagai kasir pelayanan pembayaran. Memang dari dulu aku suka duduk di sana karena sangat strategis bisa melihat semua pengunjung. Mana tahu ada tetangga, teman, atau kenalan yang bisa kutraktir, atau bila sedang beruntung justru aku yang ditraktir. Dari tempat itu juga, aku suka memperhatikan cara Kang Panut menghitung pembayaran tanpa memggunakan kalkulator, alias mencongak, teknik hitung cepat yang diajarkan waktu SD. Kadang Kang Panut tampak pakai menulis di buku tulis, seolah-olah menulis angka-angka dan menjumlahnya, tapi sesungguhnya cuma akting. Lha wong belum menjumlah kok sudah bisa menyebut angka yang harus dibayar konsumen. Pasti hanya kasir cerdas yang melakukannya.

“Soto dua, teh dua, kepala satu, dada-menthok satu, perkedel dua, tempe empat,” kata pembeli sambil membuka dompetnya.

“Seket, Mas.”

“Eh, tambah karak 6, Pak ” kata pembeli lagi.

“Nggih, Mas, seket mawon,” jawab Kang Panut tanpa memandang pelanggannya sambil tangannya tetap asyik mengisi mangkok-mangkok di depannya.

Di waktu yang lain, salah satu dari rombongan gowes menuju kasir, “Sampun, Pak.”

“Nggih, Mas. Tambah apa saja?” tanya Kang Panut.

” Soto enam belas, teh panas enam, es-teh sepuluh, tahu sepuluh, tempe dua belas, karak tiga puluh lima,” kata pegowes mewakili teman-temannya.

“Nggih, Mas, dua ratus mawon.”

Sering kulihat orang senyum-senyum setelah mambayar makanan, mungkin merasa murah sekali. Kadang juga ada ibu-ibu yang cemberut, mungkin merasa kemahalan dan menganggap mencongak Kang Panut asal-asalan.

Aku jadi teringat, Sasa pernah cerita tentang Kang Panut yang dalam bisnisnya menganut prinsip tuna sathak bathi sanak. Laba sedikit atau bahkan rugi pun gak masalah, yang penting teman dan pelanggannya banyak. “Jangan sampai ada pelanggan kapok makan di sini,” begitu pesan Kang Panut pada semua karyawannya, termasuk Sasa yang bertugas mengatur parkir. Logika Kang Panut sederhana, tetapi cukup jitu sebagai kiat bisnis. Bila pelanggannya banyak, orang jualan apapun pasti tidak akan rugi. “Dan jangan pelit pada pelanggan agar pelanggan tidak pelit pada kita,” pesan Kang Panut di waktu lain.

Dengan naluri dan prinsip bisnis yang diterapkannya itulah soto Kartongali bisa berkembang pesat dan banyak pelanggannya hingga kini. Mereka tuman karena memang sotonya bukan hanya enak di lidah dan nyaman di perut, tapi juga bikin gobyos dan gedhek-gedhek karena murah harganya.

“Tapi itu kan cuma urusan jualan soto, Om. Punya Kang Panut sendiri. Kalau salah hitungan, yang rugi juga cuma Kang Panut atau hanya satu-dua pembeli yang merasa dirugikan,” kata Sasa.

“Maksudmu?,” tanyaku.

“Lha kalau hitungan ratusan juta suara hasil Pilpres dan Pemilu, lha kok cuma ngandalkan mencongak, ya pasti awur-awuran to, Om? Beresiko tinggi. Bisa kacau, bisa bikin rakyat protes, atau malah gegeran.”

Jindul tenan. Ternyata Sasa menghubungkan mencongak ala Kang Panut tadi dengan    quick-count lembaga-lembaga survey Pemilu/Pilpres yang konon sangat ilmiah. “Tapi benar juga Sasa,” pikirku, “Nyatanya memang hasil QC justru meresahkan masyarakat sehingga dilarang tayang di tivi.”

“Menurut Sampeyan, kenapa lembaga-lembaga ahlul-mencongak itu seperti berlomba mengumumkan hasil hitungannya?”

“Apa ya, Sa? Gak tahu aku.”

“Menggiring hati dan pikiran rakyat, Om.”

“Maksudmu?”

“Inilah politik, bukan jualan soto.”

“Lha iya. Tapi apa maksudmu menggiring hati dan pikiran rakyat tadi?”

“Ya ini cuma dugaanku lho, Om. Mungkin salah.”

“Iya, tolong jelaskan apa maksudmu.”

“Ada orang pintar, baik, dan jujur. Ada orang pintar, tapi tidak baik dan tidak jujur.”

 “Iya tahu….”

“Ada orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk berbuat kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya. Tapi juga banyak orang pintar yang menjual kepintarannya justru untuk membantu kejahatan.”

“Wah kok jadi mbulet omonganmu, Sa.”

“Makanya jangan mudah percaya pada orang yang kelihatan pintar, Om. Wah kalau omong di tivi koyo yak-yako, seakan-akan paling pintar agar penonton percaya. Padahal sesungguhnya hanya tukang sihir, Om.”

“Tukang sihir piye?”

“Ya menyihir rakyat agar percaya siapa pemenangnya. Namanya juga sihir, Om, maunya pemenang sesuai maunya si tukang sihir atau para botoh pengguna jasanya.”

Tak terasa pagi sudah beranjak siang, hampir pukul 8.00. Aku harus pulang membuka pintu rumah. Pasti karyawan Bunda Collection sudah pada datang dan belum bisa masuk ke workshop.

“Bali sik yho, Sa,” aku pun beegegas pamit ke sahabatku. Tanpa menunggu jawaban Sasa, langsung kutancap gas supaya cepat sampai di rumah.

#serialsasa

 

 

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah