Ilustrasi-Pixabay.jpg?fit=589%2C340&ssl=1
01/08/2019

Oleh: Pranyata, SE *

Allah menyampaikan bahwa seseorang yang berilmu akan diangkat derajatnya. Firman-Nya, “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Al-Mujadillah: 11). Kita yakin apa yang dijanjikan Allah ini sangat benar. Bisa diperhatikan di lingkungan kita, bahwa orang-orang yang sukses kebanyakan karena mereka berilmu.

Manusia adalah makhluk pilihan Allah untuk mengelola Bumi. Hal ini ditegaskan ketika Dia berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. 2: 30). Pengertian khalifah secara umum adalah makhluk yang dipilih Allah sebagai penguasa dan pemimpin atas makhluk lainnya, seperti  binatang, tumbuhan, bumi , bahkan jagad raya seisinya. Namun kata khalifah bisa juga berarti sesuatu yang menggantikan. Maknanya kepemimpinan manusia itu akan saling menggantikan, yaitu pergantian penguasaan antar waktu atau antar generasi.

Bekal yang diberikan Allah kepada khalifah tersebut adalah ilmu, sebagaimana firman-Nya “ dan Dia mengajarkan kepada Adam” (QS. Al-Baqoroh:31). Kata mengajarkan menunjukan bahwa Allah memberikan ilmu. Dan inilah bekal utama Nabi Adam untuk menjadi khalifah. Dengan ilmu ini Nabi Adam bisa mengungguli makhluk lain termasuk para malaikat, sehingga  ketika diminta untuk menjelaskan nama-nama, Nabi Adam lebih tahu dibanding malaikat.

Ini menggambarkan kalau ilmu itu dalam Islam sangat sentral. Dalam konsep illahiyah, ilmu adalah dasar keunggulan manusia. Untuk itu seharusnya setiap muslim  itu rajin menuntut ilmu. Dan perlu diketahui bahwa agama mewajibkan agar setiap umat Islam menuntut ilmu. Nabi Muhammad bersabda “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim “(HR. Ibnu Majah).

Fakta yang terjadi saat ini bahwa masyarakat Islam hampir di seluruh pelosok dunia terbelakang. Penyebab utamanya adalah karena umat Islam tidak menguasai ilmu seperti orang Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Korea maupun China. Umat tidak mengamalkan perintah agamanya yang mewajibkan menuntut ilmu.

peradaban Keemasan Islam

Kewajiban menuntut ilmu  dalam Islam pernah diamalkan oleh umat di masa lalu dan ternyata  membuat peradaban Islam mengalami kejayaan dan mengungguli bangsa lain. Itulah zaman keemasan Islam. Banyak ahli sejarah mencatat, zaman itu ada pada rentang tahun 750-1258 atau sekitar 500 tahun, yaitu ketika berkuasanya Dinasti Abbasiyah.

Dasar-dasar pemerintahan Dinasti  Abbasiyah yang modern diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas as-Saffah dan al-Manshur. Dalam naungan Dinasti ini  umat Islam banyak mendapatkan pencerahan ilmu. Kemajuan demi kemajuan banyak mereka capai, baik secara individu maupun kolektif. Puncak keemasan dinasti ini ada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi , al-Hadi,  Harun Ar-Rasyidal-Ma’munal-Mu’tashimal-Watsiq, dan al-Mutawakkil.

Pada masa al-Mahdi, kemakmuran dicapai dengan  peningkatan irigasi pertanian dan eksplorasi pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Pengembangan perdagangan saat itu juga menjadi prioritas. Maka dibangunlah kota  Bashrah menjadi pelabuhan dan ternyata kota ini kemudian menjadi  terkenal di dunia terkait lalu lintas perdagangan dan ekspor impor antara Timur dan Barat.

Kesejahteraan masyarakat melalui ilmu pengetahuan terus ditingkatkan. Perkembangan ilmu pengetahuan mencapai puncak keemasan pada pemerintahan  Harun Ar-Rasyid  (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). Pemerintahan Harun Ar-Rasyid banyak membiayai pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan.

 

Pranyata, SE

Setelah Harun Ar-Rasyid wafat diganti putranya Al-Ma’mun. Pada masa ini digalakkan pengembangan pendidikan dengan  banyak mendirikan sekolah. Yang monumental adalah pemerintah membangun Baitul Hikmah, yaitu  pusat penerjemahan buku-buku asing yang sekaligus berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Sehingga negara Islam saat itu mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia.

Pengembangan ilmu pengetahuan melahirkan banyak tokoh. Tokoh-tokoh  yang terkenal diantaranya Ibn Sina (ahli filsafat, kedokteran, astronomi, bukunya yang terkenal “The Canon of Medicine” yang   jadi buku pegangan utama para mahasiswa kedokteran di penjuru Eropa sampai abad ke-18),  Al Kindi (ahli menerjemahkan sekaligus penulis 260 buku, keahlian monumentalnya di bidang optik dan  kimia terkait produksi alkohol), Al Khwarizmi (ahli matematika yang mengembangkan persamaan linear dan kuadrat, yang kita kenal dengan nama Aljabar. Bukunya yang terkenal “al-Ardh”, orang Barat lebih mengenal  dengan judul “geography”).

Namun masa keemasan tersebut berakhir pada  tahun 1258 karena diserang bangsa Mongol. Kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan.

Revolusi Industri 4.0

Dunia saat ini sedang memasuki babak awal revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemajuan dalam kecerdasan buatan, robotika, pencetakan 3D, dan Internet of Think (IoT). Diakui bahwa pendekar teknologi dalam revolusi industri 4.0 bukanlah dari kaum muslimin.

Tetapi kaum muslimin tidak boleh tinggal diam. Seharusnya segera menyusul ketertinggalan untuk mencapai kejayaannya kembali, seperti dahulu kaum muslim pernah jaya selama 500 tahun karena didukung ilmu pengetahuan. Sehingga saat itu masyarakat dunia berkiblat kepada kaum muslimin.

Mengejar ketertinggalan bukanlah hal yang tabu. Dahulu negara Jepang, Korea Selatan dan China juga pernah tertinggal dengan negara-negara barat. Mereka  hanya butuh waktu kurang lebih 40-50  tahun untuk mampu berkompetisi dengan negara barat. Umat Islam pun begitu, kalau sekarang tertinggal, maka untuk mengejar peradaban yang dicapai negara maju saat ini juga bisa pasang target waktu, misal pada kisaran 50 tahun.

Islam mengajarkan bahwa mencari ilmu itu wajib dan untuk meningkatkan derajatnya harus menguasai ilmu. Ini adalah doktrin yang bisa didorong kepada seluruh umat untuk meraih sukses melalui penguasaan ilmu. Para Ulama, da’i, mubaligh, guru, dan orang tua seharusnya menggelorakan semangat menuntut ilmu bagi setiap muslim untuk mengejar ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan di seluruh bidang, baik teknologi, kesehatan, pertanian, perdagangan, maupun kebudayaan. Semua itu dilandasi ilmu agama yang kuat. Kita harus yakin kalau kesuksesan kita bisa diraih hanya dengan menguasai ilmu pengetahuan.

 

 

——————————————-

*Penulis adalah Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kab. Cilacap dan Pemerhati Ekonomi-Sosial

 

Arswendo.jpg?fit=820%2C450&ssl=1
20/07/2019

Oleh: Alfian Mujani*

Berita duka datang dari wartawan senior dan pemerhati budaya-sosial, Arswendo Atmowiloto yang meninggal dunia pada Jumat (19/7/2019) pada pukul 17.50 WIB usai  satu tahun terakhir menderita kanker prostat.

Arswendo Atmowiloto (lahir Solo, 26 November 1948) mempunyai nama asli Sarwendo. Ndo, panggilannya, dari kecil senang mendalang. “Dari situ saya berkenalan dengan seni,” katanya. Ayahnya, pegawai balai kota Surakarta, sudah meninggal ketika Arswendo duduk di bangku sekolah dasar. Ibunya, meninggal pada 1965. Arswendo pun yatim piatu di usia 17 tahun, ketika masih duduk di bangku SMA.

Image003.png?fit=828%2C556&ssl=1
12/07/2019

Oleh: Wahyudi Nasution*

“Wah baru kali ini aku kalah Pilpilan, Om,” Sasa mengawali obrolannya sore ini. “Ternyata sangat tidak enak, ya.” lanjutnya.

“Nyeseg ya, Sa?” tanyaku.

“Banget, Om. Sampeyan kan tahu, sejak pertama ikut Pemilu dulu, aku selalu di pihak yang menang. Setelah reformasi pun aku juga selalu menang baik di Pemilu, Pilpres, maupun Pilgub, Pilkada, dan Pilkades. Baru kali ini pilihanku kalah.”

Istriku datang menyajikan dua gelas kopi semendo dan gorengan pisang kepok yang baru kupanen kemarin pagi. Dia paham betul setiap sahabatku satu ini datang pasti ingin ngobrol sambil ngopi, dan biasanya cukup betah ngobrolnya.

“Mbok sudah, Sa. Gak usah digagas, gak usah baper. Pertandingan sudah selesai kok. Slow waelah.”

“Penginku juga begitu, Om. Tapi ini kalahnya bukan karena benar-benar kalah je, Om, tapi kalah karena dibuat kalah. Diakali….”

“Lha kok gitu, Sa?”

“Lha iya, to? Sudah jelas-jelas banyak kecurangan di sana-sini, lha kok sidang MK kemarin tidak dimasalahkan sama-sekali, dianggap tidak ada bukti tidak ada saksi,” kata Sasa menampakkan kekesalannya. “Harusnya wasit bisa adil, Om. Seperti dalam permainan sepak bola, kalau ada pemain yang ngawur dan main gasak hingga mencederai pemain lawan, dia pasti diganjar kartu merah dan harus keluar lapangan,” lanjutnya.

“Itu kan sepak bola di luar negeri, Sa, seperti Liga Premier, Liga Champions atau Piala Dunia. Sepakbola di sini kan beda.”

“Beda pripun, Om?”

“Loh, Sasa pasti masih ingat beberapa bulan lalu petinggi PSSI kita, juga beberapa pemilik klub dan pemain ditangkap polisi karena kasus kongkalingkong, kan? Pertandingan sepakbola yang melibatkan dana besar dari negara dan para sponsor, juga ditonton oleh jutaan orang baik langsung maupun melalui tivi, ternyata bisa diatur oleh para botoh alias penjudi dengan cara menyuap para wasit, pamain, petinggi klub dan pengurus PSSI. Pemenang pertandingan dan skornya bisa diatur sesuai keinginan botoh. Ingat to, Sa?”

“Iya masih ingat. Jinguk tenan. Tapi kan mestinya itu tidak terjadi pada Pemilu dan Pilpres yang katanya pesta demokrasi, Om?”

“Walah, Sa, kamu ini kok lupa dengan kata-katamu sendiri.”

“Yang mana?”

“Ojo gumunan, ojo kagetan. Itu kata-kata yang sering kamu ingatkan ke aku, lho.”

“Wah, tapi kali ini aku benar-benar heran kok, Om. Orang sudah kalah karena dicurangi, eeh lha kok masih dioyak-oyak diajak rekonsiliasi, disuruh ngucapkan selamat, dan diiming-imingi satu-dua jabatan menteri. Kalau tidak mau dibilang tidak legawa, tidak kesatria, tidak mengakui kekalahan  Lha wong jelas diuriki disuruh legawa. Puluhan juta pendukungnya jelas tidak mau, Om.”

“Termasuk Sasa, kan?”

“Ya termasuk Sampeyan ini….wkwkwk.”

“Aku justru heran sama kamu lho, Sa.”

“Pripun, Om?”

“Omongan politisi kok tok gagas, tok rasakke. Mbok nganti modyar kamu pasti akan kecele. Begini lho, Sa, kalau mereka bilang A, itu belum tentu A. Bisa jadi yang dimaksud B, C, D, atau bahkan X dan Z. ”

“Lha kalau polisi, jaksa, dan hakim kan bukan politisi, Om? Mereka penegak hukum. Jadi kalau bilang A tentu saja memang A, bilang B ya B.”

“Itu rak karepmu, Sa? Kamu juga harus ingat jer basuki mawa bea, lho.”

“Maksudnya?”

“Sa, jaman sekarang ini, untuk jadi pejabat atau tokoh yang bisa sering tampil di tivi,  semua pakai biaya. Tidak ada makan siang gratis, begitu istilahnya. Masuk jadi ASN atau anggota polisi mesti pakai biaya yang tidak sedikit. Mau naik pangkat harus pakai biaya juga. Begitu juga jaksa dan hakim, Sa. Sama saja dengan politisi, sama-sama pakai biaya. Untuk daftar jadi caleg harus bayar ke parpol. Untuk bisa maju jadi cabup, cagub, dan capres harus mendapat dukungan dari parpol. Itu pakai mahar cukup besar, Sa. Cuma bedanya kalau di politik calon-calon itu dipilih oleh rakyat. Makanya setiap menjelang pemilu para politisi sibuk nyiapkan amplop untuk membeli suara rakyat, alias nyogok rakyat. Iya, to? Kalau pejabat mau naik pangkat dan mendapat posisi bagus, yang penting dia harus pinter-pinter ndlosori atasan. Dan itu semua pakai biaya, Sa. Pakai mahar juga. Makanya orang kalau lagi menjabat harus pinter-pinter bermain, Jangan salah menempatkan diri, harus pinter bermain mata. Kalau tidak bisa jadi kere, gak cepat balik modalnya, Sa. Rugi sendiri.”

“Wah jiaan….nasib…nasib. Rakyat ingin ada perubahan agar hidup menjadi lebih baik kok dihalang-halangi, digagalkan. Jindul tenan…..”

“Sasa jangan lupa, disamping rakyat yang ingin ada perubahan, juga banyak pejabat dan penikmat kue kekuasaan yang ingin bertahan, lho. Mereka punya modal besar untuk mengamankan posisinya. Rakyat punya apa coba? Ora gablek opo-opo selain keinginan, niat baik, dan akal sehat. Jangan lupa juga bahwa masih banyak rakyat yang nyatanya masih gampang kesengsem amplop dan rayuan gombal. Iya to, Sa?”

“Terus bagaimana ini baiknya, Om?”

“Ikhlaskan apa yang sudah terjadi. Ingat, Sa, Gusti Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya.”

“Maksudnya?”

“Rakyat seperti kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas kacau dan rusaknya pengelolaan negara ini. Yang harus bertanggungjawab terutama adalah para politisi, para pejabat dan penegak hukum.”

“Lha kalau para ulama, wong-wong pinter dan cendikiawan, Om? Mereka juga harus bertanggungjawab, kan?”

“Ya pasti harus bertanggungjawab, Sa, tapi sebatas apakah dengan ilmunya itu mereka sudah melaksanakan tugas mengingatkan semua orang mana-mana perilaku yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang sesuai dengan tuntunan Tuhan dan mana yang dilarang. Bila sudah diingatkan tapi orang tetap melanggar dan mendustakan, ya serahkan saja pada Tuhan Yang Maha Hakim dan Maha Adil.”

“Om, lha kalau ulama dan cendikiawan malah ikut rebutan kekuasaan, njur pripun?”

“Wah ya bisa repot, Sa. Kebaikan dan kebenaran jadi samar, lamat-lamat, bruwet, kabur.”

“Bisa rusak-rusakan ya, Om.

Ah sudahlah, aku mau mikir keluargaku sendiri saja. Gak usah melu mumet mikir negara. Bekerja sebaik-baiknya sebagai tukang parkir sajalah. Dapat rejeki banyak disyukuri, dapat sedikit ya alhamdulillah. Gitu aja to, Om?”

“Betul itu, Sa. Kata kunci agar hidup ini bahagia ya cuma satu itu, bersyukur. Apapun yang terjadi disyukuri, tidak usah nggrundhel, tidak usah nggresula.”

“Njih, Om. Matur nuwun. Saya pamit dulu, ya.”

Sasa pun pulang mengayuh sepeda jengkinya. Sebentar lagi waktu maghrib. Anak-anak yang sedari tadi wira-wiri main sepeda sudah tak tampak lagi. Tentu mereka sudah di masjid dan siap-siap berebut speaker azan. Biarkan saja. Namanya juga anak-anak. Meski suara dan nadanya masih lugu dan kurang bagus, tapi merekalah yang akan memakmurkan masjid di masa-masa yang akan datang. Maka berilah kesempatan anak-anak berlatih mencintai masjid. Begitu pesan guru ngajiku dulu.

 

#serialsasa

 

 

__________________________________________________________

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah. 

Ilustrasi_habibienomic.jpg?fit=960%2C640&ssl=1
09/07/2019

Oleh: Pranyata, SE.*

Indonesia pernah memiliki konsep pembangunan yang berorientasi keunggulan teknologi dan SDM yang terkenal dengan Habibienomics. Karena langkah ini sangat revolusioner maka memunculkan polemik. Program ini dihentikan lebih karena faktor politis. Tetapi konsep pembangunan yang didasarkan keunggulan teknologi dan SDM yang menjadi inti dari konsep Habibienomis merupakan konsep manjur ‘sang jawara bisnis’ dan telah terbukti di banyak negara, seperti China, Jepang, Korea Selatan serta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Memang tidak mudah mewujudkan konsep Habibienomics untuk skala nasional. Perlu dikembangkan teknologi dan SDM untuk mengolah sumber daya alam Indonesia menjadi bernilai jual yang tinggi. Langkah yang perlu dilakukan di antaranya memperbaiki sistem pendidikan, investasi dengan padat teknologi dan keseriusan dalam membidik produk yang marketable untuk mencapai kemenangan.

Indonesia telah merintis  alih teknologi dan pengembangan SDM dengan mengirimkan anak bangsa untuk belajar ke luar negeri. Selanjutnya dibentuk DPIS (Dewan Pembina Industri Strategis) pada tahun 1983 yang membawahi 8 BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Ini kemudian berlanjut dengan terbitnya Keputusan Presiden No. 44 tahun 1989 yang melahirkan BPIS (Badan Pengelola Industri Strategis). BPIS ini mengayomi sejumlah industri strategis seperti IPTN, PT. PAL, Perum Dahana, PT. Krakatau Steel, PT. Inti, PT. Inka, PT. Boma Bisma, PT. Barata Indonesia, dan Unit Produksi Lembaga Elektronika Nasional (UP-LIPI).

Perencanaan pengelolaan perusahaan strategis tersebut sudah begitu matang, termasuk pengembangan kompetensi SDM. Untuk pengembangan SDM dengan pendidikan di dalam negeri telah ditunjang universitas bergengsi seperti ITB Bandung dan ITS Surabaya sebagai pusat keunggulan pendidikan dan penelitian teknologi bidang dirgantara dan perkapalan.

IPTN telah memproduksi CN-235, CN-250 pesawat udara turboprop bermesin dua untuk 50 penumpang dengan SDM anak bangsa. Sementara PT. PAL produknya meliputi kapal container, semi container, bulk carier dan tanker Carakajaya (3000-5000 ton) serta jenis Palewobowo (20.000-40.000 ton) sudah mulai dirancang bangun dalam industri transportasi. Ini menunjukkan kepada dunia bahwa teknologi canggih bukan monopoli milik negara maju, Indonesia pun mampu.

Rencana pengembangan teknologi Indonesia tersebut berusaha untuk melakukan difersifikasi produk yang berhubungan dengan kebutuhan langsung proses kerja teknologi serta industri. Setiap industri wahana transformasi mencakup berbagai sub industri: industri pembuatan baling-baling pesawat, kerangka roda pesawat terbang,  industri pembuatan gerbong kereta api, industri pembuatan mobilmencakup industri ban mobil, accu, peredam kejut, pegas daun, chasis, mesin bensin dan solar, sistem kemudi, transmisi, gander serta industri poros penggerak (dikutip dari: Renungan Bacharuddin Jusuf Habibie, membangun peradaban Indonesia, 2009, hal. 162).

Kemungkinan masalah yang muncul  dari dampak Habibienomics adalah tergesernya peran perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia yang bersifat perakitan dan perusahaan (menurut istilah Kwik Kian Gie) manufaktur “tukang jahit”. Sebelumnya perusahaan tersebut telah menikmati laba atas keberadaannya sebagai “kaki tangan” perusahaan induk (dari negara lain), yang tentu saja berasal dari negara maju dan memiliki jaringan bisnis dan politik yang kuat.

Dengan rencana Indonesia untuk mengembangkan teknologi dan SDM tentu membuat perusahaan induk tidak tinggal diam. Karena jika perusahaan perakitan dan ‘tukang jahit’ tersebut mengalami kelesuan usaha, akan mempengaruhi perusahaan induknya.  Kalau perusahaan induk ini mendapatkan ancaman karena eksistensi perkembangan teknologi Indonesia, tentu akan berpengaruh terhadap negara dimana perusahaan induk itu berada. Sehingga langkah Habibienomics ini yang semula masalah bisnis, bergeser politis karena tercampur dengan masalah politik.

Petaka sering datang tiba-tiba dan tak dapat dihindari. Saat perkembangan Habibienomics tersebut masih tahab embrio, tahun 1997 ekonomi Indonesia mengalami krisis.Dampaknya di antara perusahaan industri strategis tersebut mengalami kebangkrutan. Atas kasus ini, BJ. Habibie punya alasan, menurutnya, “Saat krisis moneter, perusahaan itu malah ditikam, tidak diberi kesempatan untuk bertahan.”Alasan ini masuk akal. Karena saat itu Dana Moneter  Internasional (IMF) yang sedang membantu menyehatkan ekonomi Indonesia mengharamkan suntikan modal baru untuk perusahaan dirgantara.

 

Pranyata.SE.(dok.pribadi)

Relevan

Konsep Habibienomics sangat relevan diterapkan dalam perdagangan bebas seperti saat ini. Namun kita tidak bisa berharap banyak kepada pemerintah untuk mengaplikasikannya, karena pada saat kampanye Pilpres kemarin tidak ada janji untuk itu.

Tak perlu khawatir,  tanpa inisiator pemerintah tak berarti tidak bisa dijalankan. Penerapan konsep Habibienomics yang berintikan Keunggulan kompetitif yang berbasis teknologi dan SDM sangat fleksibel, Tidak hanya diterapkan pada perusahaan besar saja tapi konsep tersebut bisa diterapkan dalam bisnis perorangan, usaha rumahan,  koperasi, perusahaan kecil maupun perusahaan  menengah.

Dapat dicontohkan saat ini banyak anak-anak muda yang inovatif. Dengan ilmu yang dimiliki mereka mampu meningkatkan mutu suatu produk dan produk tersebut laku keras ketika dijual secara online. Model bisnis ini telah memberikan inspirasi banyak pemuda yang menggarap berbagai jenis produk. Cindera mata, pakaian, tas, kosmetik, oleh-oleh, hasil bumi, makanan dan masih banyak lagi, saat ini bisa dijual dari rumah ke seluruh pelosok negeri, bahkan ke luar negeri dengan sistem penjualan online. Inilah pebisnis pendatang baru dengan berbekal ilmu pengetahuan. Walaupun modal mereka kecil, tetapi bisa menjelajah pasar yang sangat luas, sehingga memiliki ketangguhan bisnis.

Inovasi bisnis online ini telah menjadi ancaman serius bagi bisnis retail yang telah mapan. Dampaknya tidak sedikit  supermarket yang menutup gerainya dan juga membuat banyak pusat perdagangan yang mulai sepi pembeli.

Diakui memang anak muda yang bisnis secara online tersebut ada juga yang jatuh bangun. Namun kalau mereka konsisten menggunakan konsep Habibienomics, yaitu bersaing dengan mengandalkan teknologi dan kualitas SDM, Insya Allah mereka pada akhirnya akan menang dan sukses. Karena dengan cara seperti itu mereka pada prinsipnya telah memegang konsep ‘Jawara Bisnis Sejati’.

 

*Penulis adalah Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kab. Cilacap dan Pemerhati Ekonomi-Sosial

 

PPDB-online-SMA-7.jpg?fit=1200%2C900&ssl=1
09/07/2019

Oleh: Adhitya Yoga Pratama*

Suatu ketika ada pertanyaan sederhana yang nyentil dari anak-anak. “Bu, kenapa hutan masih saja habis, padahal kami sudah sekolah?”. Seketika itu juga orang yang ditanya teringat dengan pertanyaan adik pada mamanya waktu kecil, “Ma, kenapa masih ada orang membunuh dan merampok, padahal sudah beragama?”. Seiring munculnya pertanyaan-pertanyaan itu, orang ini sering terbengong-bengong dengan cara pandang seseorang mengenai pendidikan di Indonesia.

Mendengar sesaat hutan dan sekolah mungkin terbersit di ingatan kita aktris Prisia Nasution yang memerankan guru dalam film Sokola Rimba. Namun kenyataannya orang yang terbengong-bengong itu adalah fasilitator pendidikan yang berusaha keras memperjuangkan hak-hak orang rimba melalui jalur sekolah. Orang yang mendirikan sokola rimba ini adalah Saur Marlina Manurung atau biasa dipanggil Butet Manurung dalam aktivitas pengabdiannya di bidang pendidikan.

Melalui catatan perjalanan dan pemikirannya yang dibukukan dengan judul Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba (2013). Selebihnya kita akan temukan pertanyaan mengganggu anak-anak rimba terhadap sistem pendidikan kita. Apalagi Butet dengan gaya kepenulisannya penuh otentisitas mampu membuat kita gelisah dan bertanya tentang nasib pendidikan kita hari ini. Kisah-kisah Butet belajar bersama orang rimba sehormat-hormatnya dapat kita jadikan rujukan tulisan reflektif ini perihal zonasi dan politik pendidikan kita.

Terbayangkan, sejauh mata orang rimba memandang yang dilihat adalah hutan lebat dan pepohonan hijau yang ada di sekitarnya. Sejak Butet memasuki hutan pada tahun 1999 anak-anak rimba mulai berkenalan dengan angka dan huruf yang berada di sekelilingnya. Orang rimba setelah itu menyadari membaca, menulis, dan berhitung berguna untuk kehidupan mereka di tengah-tengah hutan. Alkisah sokola rimba berdiri tidak menjauhkan mereka dari hutan dan tradisi masyarakat adat yang diyakini. Bahkan sokola rimba bagi masyarakat adat sendiri berbanding lurus dengan skema zonasi hutan, dari bahaya penebangan pohon dan pembakaran hutan untuk perluasan area-area kebun yang dimiliki hanya segelintir orang.

Sejenak kita pahami, hal itu berbeda jauh dengan niat baik pemerintah menerapkan kebijakan zonasi sekolah untuk pemerataan pendidikan di tiap-tiap daerah. Zonasi hutan orang rimba merupakan politik pendidikan yang sesungguhnya bagi masyarakat adat mempertahankan ruang hidup dari eksploitasi hutan oleh pengusaha kelapa sawit atau karet terhadap kawasan konservasi yang sudah ditetapkan pemerintah. Jika kebijakan zonasi sekolah yang diberlakukan oleh Kemendikbud dua tahun lalu tidak belajar dari kisah Butet di rimba. Patut kita duga Menteri Pendidikan dan Staf Ahlinya belum pernah membaca buku Sokola Rimba sebagai kerangka analisis kebijakan pendidikan yang akan direalisasikan itu. .

 

Adhitya Yoga Pratama. (dok.pribadi)

Padahal kesaksian Butet pada Kongres Kebudayaan Indonesia tahun 2018 dalam suatu pertemuan, sebelum selesai memperkenalkan diri kepada Jokowi. Seorang yang membawahi Menteri Pendidikan itu langsung menyela, “Saya tahu kamu, saya sering sebut 2-3 kali dalam pidato saya”. Seketika mungkin segera kita sangsikan pernyataan politis Jokowi itu kepada Butet. Karena setiap naskah pidato yang dibacakan oleh Presiden merupakan garapan sekretaris kabinet dan orang-orang Istana. Namun, harus kita akui Jokowi lebih baik dibandingkan Muhadjir Effendy apabila menerapkan suatu kebijakan politik yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Politik Ruang

Ketika Muhadjir Effendy mengatakan sistem zonasi merupakan kajian Kemendikbud yang melihat kesuksesan pendidikan di negara maju yang menggunakan skema zonasi yaitu Jepang. Tentu dapat kita pastikan skema yang akan diimplementasikan itu salah alamat pada kondisi geografi Indonesia yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke.

Sebab kondisi kewilayahan saja tidak memungkinkan calon peserta didik menjangkau sekolah yang tersebar banyak di daerah-daerah dengan akses dan ekses mahal. Terutama konon tetap Pulau Jawa yang menjadi tujuan orang tua dan anak memperoleh pendidikan berkualitas. Maka kajian Kemendikbud itu sekiranya perlu diubah dengan melihat keberhasilan praktik-praktik baik pendidikan komunitas masyarakat adat dalam suatu kawasan tertentu.

Sebagaimana pengalaman Butet mendirikan sokola rimba di hutan belantara, yang sekarang telah menjadi Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) Jambi. Sesungguhnya kita sudah menemukan politik pendidikan kita berupa ide-ide dan strategi kebudayaan masyarakat adat menjadi manusia merdeka di kemudian hari. Tapi, faktanya ruang-ruang pengambilan keputusan kita belum sadar bahwa tradisi dan adat kebiasaan itu merupakan satu kesatuan yang utuh dari ruang kehidupan warga negara. Maka yang sering keliru dari pemerintah adalah identitas politik warga negara yang menjadi tolok ukurnya dalam pembedaan itu.

Padahal skema zonasi sekolah yang diterapkan oleh Kemendikbud mengacu pada penyelenggaraan penataan ruang wilayah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Dengan penataan ruang yang diselenggarakan wajib memperhatikan: kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan terhadap bencana; potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan; kondisi ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, pertahanan keamanan, lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi; geostrategi, geopolitik, dan geokonomi.

Maka kawasan pedesaan, perkotaan, pesisir, pegunungan, konservasi, dan industri merupakan politik ruang bagi nasib pendidikan kita di masa depan. Kehendak politik pemerintah dalam hal ini Kemendikbud, melalui kebijakan terbukti kurang mampu memandang persoalan zonasi sekolah dari aspek manusia beraktivitas di lingkungan kehidupan. Kalau demikian, apa masalah terpenting terjadinya urbanisasi, pengangguran, regenerasi petani, dan kerusakan lingkungan di Indonesia saat ini? Zonasi sekolah dari cara pandang Jepang mungkin mampu menjawab kerangka pikir yang menanyakan adanya masalah terpenting itu. Tanpa harus menengok persoalan politik pendidikan dari konteksnya manusia menjadi mampu memecahkan masalah yang sebenarnya. .

Dengan demikian, tak mengherankan apabila Butet mempunyai kesan tersendiri menulis kalimat pembuka catatannya dari seorang anak rimba bernama Peniti Benang, bukan Ki Hadjar Dewantara seorang tokoh pendidikan nasional. Sekaligus menjawab pertanyaan di awal, kalimat yang dijadikan motto layaknya tugas akhir mahasiswa berikut persembahan serta pesan dan kesan kepada orang-orang terkasih dan tersayang. Kalimat bernada ejekan ala anak-anak itu berbunyi; Menjaga hutan memang sulit sekali, orang pemerintah saja tak bisa, apalagi saya yang baru bisa baca tulis dan hitung. Keren.

 

*Penulis adalah mahasiswa FKIP PPKn UMS, peminat kajian politik pedesaan dan gerakan ekologi di Indonesia

.

ilustrasi-SDM.jpg?fit=950%2C550&ssl=1
28/06/2019

Oleh: Pranyata, SE.*

Dalam media akhir-akhir ini kerap terdengar ketidak puasan terhadap meningkatnya kekuatan ekonomi negara China di Indonesia. Ada  rasa khawatir hal ini akan menjadikan Indonesia terkooptasi. Apalagi kalau Indonesia selalu meningkatkan hutang ke China, kalau tak pandai mengelolanya, semua itu bisa menjebak Indonesia.

Dari fakta yang ada, Indonesia tidak mudah melepaskan diri dari negara China. Hubungan ekonomi kedua negara saat ini meningkat, termasuk perdagangan bilateral, walaupun Indonesia mengalami defisit. Namun jangankan negara kita,  Amerika Serikat pun kewalahan menghadapi China. Sehingga negeri adi daya ini mengalami defisit perdagangan  cukup besar yang memicu perang dagang. Kalau diteliti, hampir semua negara di dunia mengalami defisit perdagangan terhadap China. Kata defisit berarti‘kalah’ dalam persaingan dagang.Ini bukti kalau China saat ini memang perkasa.

Pertanyaannya, kenapa China bisa menang dagang dengan banyak negara? Hal ini karena SDM (Sumber Daya Manusia) China mampu menciptakan produk yang relatif lebih murah dibanding dengan produk negara lain dengan mutu yang setara.  Banyak pihak mengakui kalau dalam dua dasa warsa terakhir ini industri China mengalami kemajuan yang pesat.

Kemampuan SDM tersebut bukan kebetulan, tetapi semua direncanakan. Program pengembangan SDM mulai menjadi prioritas sejak pidato Presiden China Deng Xiaoping pada tanggal 8 Juli 1983, yang terkenal dengan judul ‘Introducing Foreigh Intelligence and Extending Opening-Up’.Pemerintah menekankan perlunya  memperkenalkan teknologi asing dan mengimpor tenaga–tenaga ahli asing  dan juga gencar mengirimkan warganya belajar ke luar negeri. Inilah yang membuat China maju seperti yang dicapai  saat ini.

Langkah keberhasilan China hampir sama dengan apa yang dilakukan Jepang, Eropa barat, Amerika Utara dan Korea Selatan. Negara-negara modern tersebut pada umumnya melakukan pengembangan SDM agar memiliki nilai tambah yang tinggi dalam melakukan industrialisasi. Motor penggerak pengembangan SDM adalah pemerintah, namun ada juga yang dilakukan oleh masyarakat, terutama kaum agamawan.

Kemajuan Jepang dicapai melalui restorasi Meiji (kekuasaan pencerahan)  atau disebut juga dengan Revolusi Meiji. Semula diawali dengan peristiwa Jepang tersinggung atas kedatangan Komodor Amerika Serikat Matthew C. Perry yang datang ke Jepang pada tahun 1853 dengan kapal super besar dengan persenjataan lengkap dan teknologi tinggi yang memaksa Jepang membuka pelabuhan-pelabuhan untuk kapal-kapal asing yang ingin berdagang.  Saat itu Jepang menyadari ketertinggalannya, Namun Jepang tidak bisa  berbuat banyak. Jepang pun terdiam.

Diamnya Jepang bukan berarti pasrah. Mereka menyusun strategi. Mereka melakukan restorasi Meiji yang bertujuan menggabungkan kemajuan barat dengan nilai-nilai ‘Timur’. Nilai-nilai timur inilah, menurut  para pengamat mengartikan sebagai nilai Kofusionisme. Para pemimpin Jepang saat itu menyadari pentingnya perang kecerdasan. Bangsa yang lebih cerdas akan bisa menciptakan ekonomi yang menang. Para samuraipun menyimpan pedangnya dan mengajarkan ilmu ke masyarakat. Kebijakan yang diambil saat itu menterjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan, mengirim pemuda untuk belajar ke luar negeri, mendatangkan guru dari luar negeri dan membangun pusat-pusat pendidikan. Akhirnya Jepang tumbuh sebagai pelopor teknologi.

Sementara kemajuan  di Eropa Barat dan Amerika Utara karena di dorong oleh Etika Protestan. Hal ini ditulis oleh Max Weber (1864-1920) dalam bukunya ‘Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme’ yakni bekerja keras dan bersungguh-sungguh, lepas dari imbalan materialnya. Dalam referensi lain disebutkan bahwa etika dalam agama Protestan tersebut  awalnya dikembangkan oleh Calvin, yang menekankan bahwa seseorang sudah ditakdirkan sebelumnya masuk ke surga atau neraka. Hal tersebut ditentukan melalui apakah manusia tersebut berhasil atau tidak dalam pekerjaannya di dunia.  Adanya keyakinan ini membuat penganut agama Protestan Calvin selalu bekerja keras untuk meraih sukses. Motivasi inilah yang membuat mereka betul-betul sukses, bahkan menjadi penggerak kapitalisme.

Lain lagi dengan kemajuan Korea Selatan. Dampak perang Korea, dimana kondisi Korea Selatan sama seperti Korea Utara, benar-benar hancur. Kondisi   Korea Selatan betul-betul memprihatinkan.  Saat itu negara ini lebih miskin dari Irak, Liberia dan Zimbabwe. Parahnya lagi Korea selatan tidak memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan.

 

Pranyata SE. (dok.pribadi)

Perang sangat menghantui Korea selatan. Untuk memperkuat negara dari ancaman, Presiden Park yang seorang Jenderal menekankan bahwa rakyat Korea Selatan harus bekerja dengan amat keras, bahkan lebih keras dari rakyat negara lain,  berdisiplin ala militer dan semangat pali-pali alias bekerja cepat. Setelah 40 tahun, hasilnya bisa dilihat bahwa Korea Selatan saat ini menjadi negara maju.

 

Indonesia

Dahulu BJ.Habibie sudah memulai program pengembangan SDM untuk memajukan Indonesia. Beliau ingin mengalihkan konsep pembangunan dari mengandalkan keunggulan komparatif ke keunggulan kompetitif. Dalam keunggulan komparatif, mendasarkan pada keunggulan yang telah dimiliki oleh suatu negara, misalnya di Indonesia mendasarkan diri pada sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Sedangkan keunggulan kompetitif itu mendasarkan pada keunggulan teknologi dan SDM  yang bisa menghasilkan nilai tambah tinggi. Saat itu Indonesia mulai bergairah untuk mengembangkan SDM dan teknologi.

Namun dalam kancah perbedaan politik, terjadi kritik dan perdebatan dalam pelaksanaan program tersebut. Selanjutnya dalam perjalanan waktu konsep keunggulan kompetitif yang mendapat julukan Habibienomics  tenggelam bersama krisis ekonomi tahun 1997. Di sisi lain, karena ada pihak yang mengkritisi konsep tersebut, sehingga di periode pemerintahan berikutnya konsep tersebut tidak diteruskan. Akibatnya SDM Indonesia tetap tertinggal.

Sampai saat ini belum ada greget untuk meningkatkan SDM. Bahkan pendidikan Indonesia masih jauh tertinggal dibanding pendidikan di negara lain.Hal ini terjadi di antaranya karena banyak sekolah-sekolah yang kekurangan sarpras dan kekurangan guru. Untuk menutupi kekurangan guru, banyak diangkat guru honorer dengan gaji jauh di bawah UMR.Tentu hal ini berpengaruh pada kompetensinya. Sistem pendidikan yang demikian merupakan kelemahan mendasar untuk meningkatkan SDM kita.

Seandainya problem pendidikan tidak segera diatasi pemerintah, seharusnya ada lapisan masyarakat yang tergerak. Diharapkan kaum agamawan bisa memotivasi umatnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mutu SDM. Langkah-langkah Calvin  dan konfusionisme dapat diadopsi  untuk meningkatkan SDM sehingga ekonomi umat kokoh. Langkah ini memang berat, namun kalau tak ada yang memulai, siapa yang akan menguatkan perekonomian Indonesia ditengah persaingan global yang semakin terbuka.Retorika yang dibangun kalau ingin Indonesia tidak terkoptasi oleh negara adalah ‘meningkatkan kualitas SDM agar dapat memenangkan persaingan dagang dunia’.

 

*Penulis adalah pengamat ekonomi sosial, Sekretaris Majelis Wakaf PDM Cilacap.

 

bagi-bagi-ayam-gratis.jpg?fit=896%2C672&ssl=1
27/06/2019

Oleh : Khafid Sirotudin*

Seminggu terakhir ini banyak viral di medsos & media mainstream terkait aksi bagi-bagi ayam gratis baik ayam potong/ayam pedaging/ayam broiler, baik yang masih hidup atau sudah disembelih. Para peternak yang melakukan aksi/demo ayam berasal dan tergabung dari berbagai Asosiasi/Himpunan/Perkumpulan Peternak ayam yang skala usahanya  UMKM.