Ilustrasi_habibienomic.jpg?fit=960%2C640&ssl=1
09/07/2019

Oleh: Pranyata, SE.*

Indonesia pernah memiliki konsep pembangunan yang berorientasi keunggulan teknologi dan SDM yang terkenal dengan Habibienomics. Karena langkah ini sangat revolusioner maka memunculkan polemik. Program ini dihentikan lebih karena faktor politis. Tetapi konsep pembangunan yang didasarkan keunggulan teknologi dan SDM yang menjadi inti dari konsep Habibienomis merupakan konsep manjur ‘sang jawara bisnis’ dan telah terbukti di banyak negara, seperti China, Jepang, Korea Selatan serta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Memang tidak mudah mewujudkan konsep Habibienomics untuk skala nasional. Perlu dikembangkan teknologi dan SDM untuk mengolah sumber daya alam Indonesia menjadi bernilai jual yang tinggi. Langkah yang perlu dilakukan di antaranya memperbaiki sistem pendidikan, investasi dengan padat teknologi dan keseriusan dalam membidik produk yang marketable untuk mencapai kemenangan.

Indonesia telah merintis  alih teknologi dan pengembangan SDM dengan mengirimkan anak bangsa untuk belajar ke luar negeri. Selanjutnya dibentuk DPIS (Dewan Pembina Industri Strategis) pada tahun 1983 yang membawahi 8 BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Ini kemudian berlanjut dengan terbitnya Keputusan Presiden No. 44 tahun 1989 yang melahirkan BPIS (Badan Pengelola Industri Strategis). BPIS ini mengayomi sejumlah industri strategis seperti IPTN, PT. PAL, Perum Dahana, PT. Krakatau Steel, PT. Inti, PT. Inka, PT. Boma Bisma, PT. Barata Indonesia, dan Unit Produksi Lembaga Elektronika Nasional (UP-LIPI).

Perencanaan pengelolaan perusahaan strategis tersebut sudah begitu matang, termasuk pengembangan kompetensi SDM. Untuk pengembangan SDM dengan pendidikan di dalam negeri telah ditunjang universitas bergengsi seperti ITB Bandung dan ITS Surabaya sebagai pusat keunggulan pendidikan dan penelitian teknologi bidang dirgantara dan perkapalan.

IPTN telah memproduksi CN-235, CN-250 pesawat udara turboprop bermesin dua untuk 50 penumpang dengan SDM anak bangsa. Sementara PT. PAL produknya meliputi kapal container, semi container, bulk carier dan tanker Carakajaya (3000-5000 ton) serta jenis Palewobowo (20.000-40.000 ton) sudah mulai dirancang bangun dalam industri transportasi. Ini menunjukkan kepada dunia bahwa teknologi canggih bukan monopoli milik negara maju, Indonesia pun mampu.

Rencana pengembangan teknologi Indonesia tersebut berusaha untuk melakukan difersifikasi produk yang berhubungan dengan kebutuhan langsung proses kerja teknologi serta industri. Setiap industri wahana transformasi mencakup berbagai sub industri: industri pembuatan baling-baling pesawat, kerangka roda pesawat terbang,  industri pembuatan gerbong kereta api, industri pembuatan mobilmencakup industri ban mobil, accu, peredam kejut, pegas daun, chasis, mesin bensin dan solar, sistem kemudi, transmisi, gander serta industri poros penggerak (dikutip dari: Renungan Bacharuddin Jusuf Habibie, membangun peradaban Indonesia, 2009, hal. 162).

Kemungkinan masalah yang muncul  dari dampak Habibienomics adalah tergesernya peran perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia yang bersifat perakitan dan perusahaan (menurut istilah Kwik Kian Gie) manufaktur “tukang jahit”. Sebelumnya perusahaan tersebut telah menikmati laba atas keberadaannya sebagai “kaki tangan” perusahaan induk (dari negara lain), yang tentu saja berasal dari negara maju dan memiliki jaringan bisnis dan politik yang kuat.

Dengan rencana Indonesia untuk mengembangkan teknologi dan SDM tentu membuat perusahaan induk tidak tinggal diam. Karena jika perusahaan perakitan dan ‘tukang jahit’ tersebut mengalami kelesuan usaha, akan mempengaruhi perusahaan induknya.  Kalau perusahaan induk ini mendapatkan ancaman karena eksistensi perkembangan teknologi Indonesia, tentu akan berpengaruh terhadap negara dimana perusahaan induk itu berada. Sehingga langkah Habibienomics ini yang semula masalah bisnis, bergeser politis karena tercampur dengan masalah politik.

Petaka sering datang tiba-tiba dan tak dapat dihindari. Saat perkembangan Habibienomics tersebut masih tahab embrio, tahun 1997 ekonomi Indonesia mengalami krisis.Dampaknya di antara perusahaan industri strategis tersebut mengalami kebangkrutan. Atas kasus ini, BJ. Habibie punya alasan, menurutnya, “Saat krisis moneter, perusahaan itu malah ditikam, tidak diberi kesempatan untuk bertahan.”Alasan ini masuk akal. Karena saat itu Dana Moneter  Internasional (IMF) yang sedang membantu menyehatkan ekonomi Indonesia mengharamkan suntikan modal baru untuk perusahaan dirgantara.

 

Pranyata.SE.(dok.pribadi)

Relevan

Konsep Habibienomics sangat relevan diterapkan dalam perdagangan bebas seperti saat ini. Namun kita tidak bisa berharap banyak kepada pemerintah untuk mengaplikasikannya, karena pada saat kampanye Pilpres kemarin tidak ada janji untuk itu.

Tak perlu khawatir,  tanpa inisiator pemerintah tak berarti tidak bisa dijalankan. Penerapan konsep Habibienomics yang berintikan Keunggulan kompetitif yang berbasis teknologi dan SDM sangat fleksibel, Tidak hanya diterapkan pada perusahaan besar saja tapi konsep tersebut bisa diterapkan dalam bisnis perorangan, usaha rumahan,  koperasi, perusahaan kecil maupun perusahaan  menengah.

Dapat dicontohkan saat ini banyak anak-anak muda yang inovatif. Dengan ilmu yang dimiliki mereka mampu meningkatkan mutu suatu produk dan produk tersebut laku keras ketika dijual secara online. Model bisnis ini telah memberikan inspirasi banyak pemuda yang menggarap berbagai jenis produk. Cindera mata, pakaian, tas, kosmetik, oleh-oleh, hasil bumi, makanan dan masih banyak lagi, saat ini bisa dijual dari rumah ke seluruh pelosok negeri, bahkan ke luar negeri dengan sistem penjualan online. Inilah pebisnis pendatang baru dengan berbekal ilmu pengetahuan. Walaupun modal mereka kecil, tetapi bisa menjelajah pasar yang sangat luas, sehingga memiliki ketangguhan bisnis.

Inovasi bisnis online ini telah menjadi ancaman serius bagi bisnis retail yang telah mapan. Dampaknya tidak sedikit  supermarket yang menutup gerainya dan juga membuat banyak pusat perdagangan yang mulai sepi pembeli.

Diakui memang anak muda yang bisnis secara online tersebut ada juga yang jatuh bangun. Namun kalau mereka konsisten menggunakan konsep Habibienomics, yaitu bersaing dengan mengandalkan teknologi dan kualitas SDM, Insya Allah mereka pada akhirnya akan menang dan sukses. Karena dengan cara seperti itu mereka pada prinsipnya telah memegang konsep ‘Jawara Bisnis Sejati’.

 

*Penulis adalah Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kab. Cilacap dan Pemerhati Ekonomi-Sosial

 

ilustrasi-SDM.jpg?fit=950%2C550&ssl=1
28/06/2019

Oleh: Pranyata, SE.*

Dalam media akhir-akhir ini kerap terdengar ketidak puasan terhadap meningkatnya kekuatan ekonomi negara China di Indonesia. Ada  rasa khawatir hal ini akan menjadikan Indonesia terkooptasi. Apalagi kalau Indonesia selalu meningkatkan hutang ke China, kalau tak pandai mengelolanya, semua itu bisa menjebak Indonesia.

Dari fakta yang ada, Indonesia tidak mudah melepaskan diri dari negara China. Hubungan ekonomi kedua negara saat ini meningkat, termasuk perdagangan bilateral, walaupun Indonesia mengalami defisit. Namun jangankan negara kita,  Amerika Serikat pun kewalahan menghadapi China. Sehingga negeri adi daya ini mengalami defisit perdagangan  cukup besar yang memicu perang dagang. Kalau diteliti, hampir semua negara di dunia mengalami defisit perdagangan terhadap China. Kata defisit berarti‘kalah’ dalam persaingan dagang.Ini bukti kalau China saat ini memang perkasa.

Pertanyaannya, kenapa China bisa menang dagang dengan banyak negara? Hal ini karena SDM (Sumber Daya Manusia) China mampu menciptakan produk yang relatif lebih murah dibanding dengan produk negara lain dengan mutu yang setara.  Banyak pihak mengakui kalau dalam dua dasa warsa terakhir ini industri China mengalami kemajuan yang pesat.

Kemampuan SDM tersebut bukan kebetulan, tetapi semua direncanakan. Program pengembangan SDM mulai menjadi prioritas sejak pidato Presiden China Deng Xiaoping pada tanggal 8 Juli 1983, yang terkenal dengan judul ‘Introducing Foreigh Intelligence and Extending Opening-Up’.Pemerintah menekankan perlunya  memperkenalkan teknologi asing dan mengimpor tenaga–tenaga ahli asing  dan juga gencar mengirimkan warganya belajar ke luar negeri. Inilah yang membuat China maju seperti yang dicapai  saat ini.

Langkah keberhasilan China hampir sama dengan apa yang dilakukan Jepang, Eropa barat, Amerika Utara dan Korea Selatan. Negara-negara modern tersebut pada umumnya melakukan pengembangan SDM agar memiliki nilai tambah yang tinggi dalam melakukan industrialisasi. Motor penggerak pengembangan SDM adalah pemerintah, namun ada juga yang dilakukan oleh masyarakat, terutama kaum agamawan.

Kemajuan Jepang dicapai melalui restorasi Meiji (kekuasaan pencerahan)  atau disebut juga dengan Revolusi Meiji. Semula diawali dengan peristiwa Jepang tersinggung atas kedatangan Komodor Amerika Serikat Matthew C. Perry yang datang ke Jepang pada tahun 1853 dengan kapal super besar dengan persenjataan lengkap dan teknologi tinggi yang memaksa Jepang membuka pelabuhan-pelabuhan untuk kapal-kapal asing yang ingin berdagang.  Saat itu Jepang menyadari ketertinggalannya, Namun Jepang tidak bisa  berbuat banyak. Jepang pun terdiam.

Diamnya Jepang bukan berarti pasrah. Mereka menyusun strategi. Mereka melakukan restorasi Meiji yang bertujuan menggabungkan kemajuan barat dengan nilai-nilai ‘Timur’. Nilai-nilai timur inilah, menurut  para pengamat mengartikan sebagai nilai Kofusionisme. Para pemimpin Jepang saat itu menyadari pentingnya perang kecerdasan. Bangsa yang lebih cerdas akan bisa menciptakan ekonomi yang menang. Para samuraipun menyimpan pedangnya dan mengajarkan ilmu ke masyarakat. Kebijakan yang diambil saat itu menterjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan, mengirim pemuda untuk belajar ke luar negeri, mendatangkan guru dari luar negeri dan membangun pusat-pusat pendidikan. Akhirnya Jepang tumbuh sebagai pelopor teknologi.

Sementara kemajuan  di Eropa Barat dan Amerika Utara karena di dorong oleh Etika Protestan. Hal ini ditulis oleh Max Weber (1864-1920) dalam bukunya ‘Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme’ yakni bekerja keras dan bersungguh-sungguh, lepas dari imbalan materialnya. Dalam referensi lain disebutkan bahwa etika dalam agama Protestan tersebut  awalnya dikembangkan oleh Calvin, yang menekankan bahwa seseorang sudah ditakdirkan sebelumnya masuk ke surga atau neraka. Hal tersebut ditentukan melalui apakah manusia tersebut berhasil atau tidak dalam pekerjaannya di dunia.  Adanya keyakinan ini membuat penganut agama Protestan Calvin selalu bekerja keras untuk meraih sukses. Motivasi inilah yang membuat mereka betul-betul sukses, bahkan menjadi penggerak kapitalisme.

Lain lagi dengan kemajuan Korea Selatan. Dampak perang Korea, dimana kondisi Korea Selatan sama seperti Korea Utara, benar-benar hancur. Kondisi   Korea Selatan betul-betul memprihatinkan.  Saat itu negara ini lebih miskin dari Irak, Liberia dan Zimbabwe. Parahnya lagi Korea selatan tidak memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan.

 

Pranyata SE. (dok.pribadi)

Perang sangat menghantui Korea selatan. Untuk memperkuat negara dari ancaman, Presiden Park yang seorang Jenderal menekankan bahwa rakyat Korea Selatan harus bekerja dengan amat keras, bahkan lebih keras dari rakyat negara lain,  berdisiplin ala militer dan semangat pali-pali alias bekerja cepat. Setelah 40 tahun, hasilnya bisa dilihat bahwa Korea Selatan saat ini menjadi negara maju.

 

Indonesia

Dahulu BJ.Habibie sudah memulai program pengembangan SDM untuk memajukan Indonesia. Beliau ingin mengalihkan konsep pembangunan dari mengandalkan keunggulan komparatif ke keunggulan kompetitif. Dalam keunggulan komparatif, mendasarkan pada keunggulan yang telah dimiliki oleh suatu negara, misalnya di Indonesia mendasarkan diri pada sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Sedangkan keunggulan kompetitif itu mendasarkan pada keunggulan teknologi dan SDM  yang bisa menghasilkan nilai tambah tinggi. Saat itu Indonesia mulai bergairah untuk mengembangkan SDM dan teknologi.

Namun dalam kancah perbedaan politik, terjadi kritik dan perdebatan dalam pelaksanaan program tersebut. Selanjutnya dalam perjalanan waktu konsep keunggulan kompetitif yang mendapat julukan Habibienomics  tenggelam bersama krisis ekonomi tahun 1997. Di sisi lain, karena ada pihak yang mengkritisi konsep tersebut, sehingga di periode pemerintahan berikutnya konsep tersebut tidak diteruskan. Akibatnya SDM Indonesia tetap tertinggal.

Sampai saat ini belum ada greget untuk meningkatkan SDM. Bahkan pendidikan Indonesia masih jauh tertinggal dibanding pendidikan di negara lain.Hal ini terjadi di antaranya karena banyak sekolah-sekolah yang kekurangan sarpras dan kekurangan guru. Untuk menutupi kekurangan guru, banyak diangkat guru honorer dengan gaji jauh di bawah UMR.Tentu hal ini berpengaruh pada kompetensinya. Sistem pendidikan yang demikian merupakan kelemahan mendasar untuk meningkatkan SDM kita.

Seandainya problem pendidikan tidak segera diatasi pemerintah, seharusnya ada lapisan masyarakat yang tergerak. Diharapkan kaum agamawan bisa memotivasi umatnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mutu SDM. Langkah-langkah Calvin  dan konfusionisme dapat diadopsi  untuk meningkatkan SDM sehingga ekonomi umat kokoh. Langkah ini memang berat, namun kalau tak ada yang memulai, siapa yang akan menguatkan perekonomian Indonesia ditengah persaingan global yang semakin terbuka.Retorika yang dibangun kalau ingin Indonesia tidak terkoptasi oleh negara adalah ‘meningkatkan kualitas SDM agar dapat memenangkan persaingan dagang dunia’.

 

*Penulis adalah pengamat ekonomi sosial, Sekretaris Majelis Wakaf PDM Cilacap.

 

Desa-dalam-perspektif-Islam.jpg?fit=768%2C753&ssl=1
26/06/2019

Oleh: Adhitya Yoga Pratama*

Setiap kaum Muslim di seluruh dunia pasti mempunyai kehendak menginjakkan kakinya di Mekkah sebagai perwujudan rukun Islam yang kelima. Bahkan panggilan Allah SWT dalam bentuk menunaikan ibadah haji ini dengan prasyarat mampu, mereka akan berangkat ke tanah suci tanpa dibeda-bedakan golongan, suku, bangsa, kelas, dan jenis kelamin apapun yang membebani.

Sungguh, yang demikianlah orang dikumpulkan menjadi satu secara bersama-sama melakukan ihram, wukuf di Padang Arafah, tawaf ifadah, sa’i, tahallul, dan tertib haji. Keberadaan kaum muslim di Kota Mekkah inilah menandakan sebuah wilayah yang penuh historisitas dan spiritualitas dari aspek religius menunaikan ibadah suci dengan khusyu’.

Pada bulan Dzulhijjah diketahui tanda-tanda Mekkah sebagai kota sudah terbukti dengan berbondong-bondongnya umat Islam dari berbagai negeri mengerjakan ibadah haji. Terlebih tanda-tanda keramaian kota yang hiruk-pikuk namun penuh khidmat berserah diri kepada Allah Swt bagi hamba-Nya itu dapat terlihat jelas ketika kaum muslim mengelilingi Ka’bah.

Berangkat dari rumah Allah SWT inilah suasana damai, tentram, tenang, dan sungguh-sungguh menyelimuti bathin manusia yang mengharap ridha Illahi dari keselamatan dunia dan akhirat, yang kenyataannya berbanding terbalik dengan letak geografis yang padang pasir serta pusat ekonomi-politik di Jazirah Arab yang sangat kompetitif pada masa jahiliyah.

Pertemuan antara ajaran langit dan kontradiksi di bumi ini merupakan titik konfrontatif dimana Islam, dan umat Islam secara konsekuen, tidak dapat lagi diam dan mesti menyikapi persoalan imajinasi sosiologis masyarakat pada konteks perebutan ruang kehidupan.

 

Adhitya Yoga Pratama. (dok.pribadi)

Sabda Nabi Muhammad Saw dalam memandang Kota Mekkah sebagai kota yang mulia di antara kota-kota yang lainnya (sekalipun Madinah) sangat termaktub jelas melalui hadits yang berbunyi; “Demi Allah, Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintai-Nya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu) (HR. At-Tirmidzi).

Nada penyesalan Rasulullah SAW terbukti nyata ketika beliau memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk segera hijrah ke Kota Madinah, sementara Nabi dan Ali Bin Abi Thalib menyusul hari berikutnya kala rumah dikepung oleh para musuh. Atas pertolongan Allah Swt, Rasul dan keponakannya berhasil keluar dari Kota Mekkah dalam keadaan selamat tanpa suatu halangan sekalipun.

Membaca sunnah dan kisah Rasul saat hijrah pertama kali ke Kota Madinah diatas, bukan berarti membuat kita begitu saja menafsirkan Mekkah sebagai entitas politik sarat metropolitan dan kosmopolitan semata.

Tetapi dari sinilah kita akan memandang Kota Mekkah sebagai ruang publik yang diperebutkan wacana politiknya oleh kelompok kepentingan yang berada di sekitar Ka’bah. Terutama sistem nilai dan struktur kebudayaan yang terkandung di dalamnya, sejak dibangun oleh Ibrahim dan Ismail pada masa kenabian.

Mengingat kajian Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat di antara para ilmuwan, fokus desa dalam perspektif Islam sesungguhnya berusaha menggali jejak-jejak pra-Islam memandang dinamika sosial yang ada di dalam kebudayaan Islam itu sendiri.

Mengutip pendapat Woodward (1989) bahwa Islam adalah unsur dominan dalam kepercayaan dan upacara keagamaan orang Jawa, yang membentuk karakter interaksi sosial dan kehidupan keseharian di seluruh segmen masyarakat Jawa. Maka Ka’bah adalah unsur dominan dalam kepercayaan dan upacara keagamaan umat Islam, yang membentuk karakter interaksi sosial dan keseharian di seluruh segmen masyarakat Islam di seluruh dunia.

 

Nilai-Nilai Keislaman

Sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul ternyata ia sudah terlibat dalam peristiwa pembentukan suatu komunitas yang aman, tentram, damai, dan toleran. Menurut Syed Ameer Ali dalam karya terkenalnya The Spirit of Islam (2008), keterlibatan Muhammad dalam peristiwa pembentukan komunitas itu terjadi karena adanya kesewenang-wenangan berupa perampokan di jalanan Kota Mekkah.

Atas permintaannya, keluarga Hasyim, Muthalib, Zuhra, dan Taym mengikatkan diri. Keluarga-keluarga tersebut mengangkat sumpah untuk membela setiap orang, baik mereka itu orang Mekkah atau orang asing, orang merdeka atau budak, dari segala bentuk kesewenang-wenangan di wilayah Mekkah. Mereka juga bertekad untuk menuntut balas atau meminta ganti rugi dari orang yang telah berbuat jahat terhadap mereka.

Selain itu ketika tengah memperbaiki Ka’bah terjadi perselisihan di antara keluarga-keluarga bangsawan Arab yang andil dalam pembangunan, yang mana konflik itu sangat mungkin menimbulkan pertumpahan darah. Namun, berkat Muhammad perselisihan itu dapat diselesaikan dengan cara damai. Sehingga kita tahu setelah itu ia mendapat julukan Al-Amin (Yang Terpercaya) membuat iri musuh-musuhnya, pertanda bahwa anak bangsa Arab kelak akan menjadi Nabi dan Rasul.

Hanya hal-hal di ataslah yang kita ketahui tentang perbuatan dan keterlibatan Muhammad di depan umum selama lima belas tahun. Sifatnya yang lembut, tegas, kekerasannya dalam menjaga kesucian hidup, kehalusan budinya, kesiap-sediaannya membantu si miskin dan lemah, rasa kehormatannya, kesetiannya yang besar, dan rasa kewajibannya yang begitu besar. Kesemua itu pada waktunya ia akan memiliki watak sosial yang tabligh, amanah, fathonah, dan sidiq.

Pada titik inilah Muhammad sebagai manusia yang memiliki tubuh membawa kabar gembira dan memberi teladan baik bagi semesta alam melalui tutur kata dan tindakan. Manusia bangsa Arab ini dapat dipastikan dalam kesehariannya tidak mampu melakukan kecerobohan yang merugikan orang lain. Penggembala kambing itu selalu waspada dan penuh perhatian terhadap kaum lemah.

Meski di depannya terbentang sebuah negeri berlumuran darah yang tercabik-cabik oleh perang saudara dan pertikaian antar suku. Mereka kecanduan ritual takhayul dan mesum, sekaligus kejam dan sewenang-wenang.

Pengalaman-pengalaman sebelum kerasulan inilah yang membentuk daur hidup manusia untuk menciptakan suatu ruang yang tenang, tentram, damai, dan toleran. Siapa sangka keberadaan agama dan kepercayaan masyarakat Arab yang saling bertengkar dan menghancurkan di hadapan Rumah Allah Swt itu didekonstruksi oleh Muhammad dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab setelah kenabian.

Alhasil, Mekkah menjadi suatu tempat yang paling banyak dikunjungi orang untuk sekedar berumrah atau menunaikan ibadah haji,yang membawa suasana kejiwaan manusia resah menjadi satu dalam nuansa persaudaraan menghadap Ka’bah. Nilai-nilai keislaman inilah yang sesungguhnya membawa situasi desa dalam perspektif Islam dibentuk. Sebab Muhammad dengan Ka’bah merupakan komitmen keharmonisan meningkatkan keimanan kita untuk berbagi pengalaman spiritual dengan para pengikutnya. Demikian.

 

*Penulis adalah peminat kajian sejarah kebudayaan Islam  & pegiat gerakan ekologi dan politik pedesaan dalam perspektif Islam

           

Ilustrasi-lebaran.jpg?fit=700%2C393&ssl=1
09/06/2019

Oleh: Syahrullah,SH, MH*

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Dengan kalimat yang begitu mulia, jutaan bahkan miliaran orang setiap datangnya hari Lebaran mengucapkannya. Seruan ini disambut oleh ribuan, oleh jutaan umat manusia dari segenap penjuru bumi, menyemarakkanya dengan shalat Ied menyambut kesucian jiwa kita kembali seperti baru saja kita dilahirkan oleh ibunda kita. Suci, bersih dari segala noda dan dosa yang selama ini hinggap di tubuh kita.

Idul fitri bagi umat Islam di seluruh dunia, dilaksanakan serentak setiap 1 Syawal setiap tahunnya. Di awali dengan pelaksanaan shalat di lapangan terbuka atau di masjid-masjid, bermaaf-maafan atas semua kesalahan yang dilakukan dengan sesama manusia, baik kepada orang tua, sanak saudara, keluarga jiran tetangga. Idul Fitri di kalangan masyarakat  dikenal dengan istilah “lebaran”.

 

Syahrullah,SH, MH.

Lebaran, waktu yang ditunggu-tunggu oleh segenap umat Islam tanah air. Ada beberapa fenomena sosial yang hidup hampir merata di seluruh nusantara. Fenomena ini dilakukan secara berulang-ulang dan banyak masyarakat  yang menganggap ini menjadi tradisi. Apa saja fenomena itu?

Berbagai fenomena

Pertama,Mudik. Merupakan satu fenomena sosial yang telah berurat berakar bagi orang-orang Indonesia.Berbagai alasan rasional seolah tidak mampu menjelaskan fenomena yangteranyam rapat dalam nilai kultural bangsa Indonesia itu. Seakan ada sebuah peraturan yang mengharuskan bahwa setiap lebaran tiba para perantau harus pulang ke kampung halaman.

Pulang mudik sekali setahun tidak hanya sekedar melepas kerinduan pada kampung halaman,  tetapi sepertinya mengandung makna yang jauh lebih dalam dari itu.Mudik adalah tradisi baik,yang menjadi pertanda kasih sayang sesorang kepada keluarganya, orang tuanya, tetangga maupun teman dima sa kecilnya. Mudik adalah wahana silaturahim tahunan yang layak dipelihara.

Sementara menurut Umar Kayam (2002), mudik awal mulanya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Keberadaannya jauh sebelum kerajaan Majapahit. Awalnya kegiatan ini digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur, dengan disertai doa bersama kepada dewadewa di Khayangan. Tradisi ini bertujuan agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang ditinggalkan tidak diselimuti masalah. Namun, sejalan masuknya pengaruh ajaran Islam ke tanah Jawa membuat tradisi ini lama-kelamaan terkikis,karena dianggap perbuatan syirik terutama bagi mereka yang menyalahgunakan dengan meminta kepada leluhur yang telah meninggal dunia.

Setiap menjelang hari raya Idul Fitri, hampir seluruh media massa baik cetak dan eletronik mulai menyoroti aktivitas mudik, bahkan pemerintah khususnya kementrian perhubungan dan kepolisian dikerahkan untuk mensukseskan kegitan ini, sebab setiap tahun jumlah pemudik terus saja membanjiri terminal, stasiun, pelabuhan, hingga bandara. Kemacetan dan penundaan waktu keberangkatan angkutan transportasi merupakan hal yang umum terjadi. Ini disebabkan  sebanyak 18,28 juta (perkiraan kemenhub) masyarakat bakal melakukan kegiatan mudik Lebaran 2019.

Kedua Menabuh Bedug. Kumandang takbir  Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.   bagi sebagian masyarakat  selalu diiringi dengan tabuhan bedug yang menggema di mesjid-mesjid , surau-surau, langgar-langgar dan mushalla, bahkan di jalan-jalan. Tabuhan bedug akan menambah suasana haru dan gembira. Suara takbir akan terdengar mulai dari malam takbiran hingga pagi di hari Lebaran, tanda hari kemenangan telah tiba. Oleh karena itu, bedug sudah menjadi simbol dari hari raya Idul Fitri selain dari ketupat.

Ketiga Pawai Takbir. Lebaran akan selalu disambut dengan kumandang takbir sebagai tanda kemenangan setelah melakukan puasa selama sebulan penuh. Pada momen ini akan terlihat bagaimana kebersamaan masyarakat tetap terjaga dengan baik, mereka akan turun ke jalan melakukan pawai keliling Kota, baik itu menggunakan kendaraan ataupun sekedar berjalan kaki beramai-ramai.Ini akan sangat menyenangkan dan menjadi salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu selama masa Lebaran, sebab inilah agenda yang paling awal dalam perayaan Lebaran itu sendiri.

Keempat Ketupat. Lebaran dan ketupat tentu telah menjadi dua hal yang tidak terpisahkan. Penganan khas lebaran ini biasanya akan disajikan bersama opor, rendang, semur, kerupuk udang dan beberapa jenis tambahan lainnya. Meski terbilang memiliki cara penyajian yang berbeda-beda pada tiap daerah di Indonesia, namun ketupat telah menjadi sebuah penganan wajib yang selalu disajikan ketika perayaan Lebaran.

Ketupat Lebaran akan menjadi sebuah sajian yang sangat istimewa, sebab hampir semua keluarga akan menyantapnya dengan bahagia, di mana seluruh atau sebagian besar anggota keluarga bisa berkumpul dan menikmatinya bersama-sama. Tak lengkap rasanya melewati Lebaran tanpa sajian ketupat, karena ketupat adalah sajian khas yang wajib disantap di momen yang indah itu.

Kelima THR. THR (tunjangan hari raya) merupakan tradisi masyarakat memberikan sejumlah uang terutama kepada anak-anak, keluarga dekat yang tidak mampu. Yang memberikan biasanya orang dewasa yang sudah bekerja.

Tradisi ini meniru pemberian THR oleh perusahaan kepada karyawannya. Dan di masa Pemerintahan Joko Widodo pemberian THR mulai dikenal yang diberikan kepada para ASN, TNI, Polri dan para pensiunan.

Keenam Halal bi halal.Tradisihal bi halal  telah dipraktekkan  sejak lama.  di mana orang akan saling, bermaaf-maafan,saling  mengunjungi dan merayakan Lebaran bersama keluarga besar, teman-teman, kerabat, tetangga, atau bahkan mereka yang lainnya yang kita anggap penting untuk kita kunjungi.

Halal Bi Halal bahkan masih akan dirayakan setelah momen Lebaran berlalu dan kita kembali bekerja seperti biasa,di Kantor-kantor, sekolah maupun perusahaan.

Ketujuh Ziarah kubur.Ziarah kubur, menjadi kebiasaan bagi sebagian masyarakat Indonesia di Hari Lebaran. Biasanya hal ini dilakukan sore hari menjelang lebaran; setelah shalat Idul Fitri. Mereka dating ke pemakaman dengan membawa berbagai bunga, daun pandan harum untuk ditaburi di atas pemakaman setelah ada yang membacakan yasin, memanjatkan doa bagi keluarga, kerabat  yang telah pergi meninggalkan dunia.

Kedelapan  Rekreasi. Rekreasi merupakan fenomena yang menarik di tengah masyarakat saat lebaran. Terutama bagi mereka yang pulang mudik. Momen ini menjadi kesempatan yang baik untuk berekreasi bersama anggota keluarga, karib, teman sejawat lainnya.

Namun, yang lebih penting memaknai lebaran setelah sebulan penuh kita berhasil mengendalikan hawa nafsu dan menuruti panggilan ilahi, maka Allah menghadiahkan kepada kita kesucian jiwa. Kita kembali seperti bayi yang baru lahir, suci, bersih dari noda dan dosa. Maka inilah lebaran, hari yang menjadi momen tepat untuk saling bermaaf-maafan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

 

* Dosen STIH Muhammadiyah Bima, pemerhati masalah sosial, ekonomi, hukum dan Lingkungan

 

 

 

Achmad-Rosyid.jpg?fit=960%2C1280&ssl=1
06/06/2019

Oleh: Achimad Rosyidi*

Masyarakat Indonesia pada tanggal 17 April 2019 telah melampaui agenda pesta demokrasi yakni pemilihan umum secara langsung. Hiruk-Pikuk Pilpres dan Pileg yang dilaksanakan secara bersama-sama, ternyata membawa dampak sosial dan politik yang hampir merenggut nilai persatuan Indonesia.

MK.jpg?fit=619%2C383&ssl=1
28/05/2019

Oleh: Syahrullah,SH, MH*

Kubu Pasangan Capres-Cawapres 02 Prabowo-Sandiaga Uno akhirnya menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan sengketa hasil Pemilihan Umum Presiden dan WakilPresiden (Pilpres). Jumat (24/5/2019), mereka telah mengajukan Permohonan Perselisihan hasil penghitungan suara Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK).