Ilustrasi-job-seekers.jpg?fit=960%2C642&ssl=1
14/09/2019

Oleh: Etik Rahmawati*

Menghadapi dunia kerja memang tidak sederhana, apalagi mempersiapkannya. Salah satu persiapan tersebut adalah dengan melamar pekerjaan, baik itu yang berlabel fresh graduate maupun yang sudah keluar masuk perusahaan. Setelah membuat CV atau surat lamaran, maka langkah selanjutnya adalah menunggu panggilan. Surat lamaran yang dikirim akan diseleksi oleh HR di perusahaan tersebut , jika ada panggilan wawancara maka dipastikan anda sudah lolos tahap pertama yaitu administrasi.

Wawancara adalah proses pencarian informasi terhadap orang lain yang di wawancarai, sehingga pewawancara akan menggunakan pertanyaan apapun untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.  Tahap wawancara adalah suatu hal yang banyak membuat orang menjadi cemas karenanya. Kekhawatiran muncul ketika membayangkan jika salah menjawab pertanyaan, sehingga tidak jadi diterima bekerja di perusahaan tersebut. Menghadapi persiapan wawancara orang sering orang mencari jawaban dengan bertanya kepada orang lain, bertanya di internet, ataupun membaca buku mengenai kiat sukses wawancara. Tidak ada yang salah dengan upaya ini semua, namun satu hal yang di catat bahwa tujuan pewancara adalah mencari informasi yang relevan dengan pekerjaan yang akan dilakukan nanti.

Berikut kiat-kiat atau tips yang bisa digunakan sebagai bekal untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi wawancara ;

  1. Pakailah baju yang disenangi.

Kelihatannya sepele namun justru menjadi hal penting. Dengan memakai pakaian yang anda senangi maka suasana nyaman akan terasa dalam diri, gerak-gerik lebih terasa percaya diri karena merasa berpenampilan menarik. Namun, kalau berlebihan malah menjadi fatal. Pakaian disini tentunya adalah pakaian yang rapi dan sopan. Walau ada beberapa perusahaan yang mentoleransi pakaian berbahan jins, namun biar lebih aman pakailah celana bahan dengan atasan kemeja. Tidak disarankan bagi yang wanita memakai perhiasan berlebih, apalagi dengan pakaian yang mencolok.

  1. Datanglah lebih awal.

Datanglahlah setidaknya 15 menit sebelum perjanjian jadwal wawancara. Jadi jika belum mengetahui tempat wawancara maka bisa diperkirakan sendiri kapan harus berangkat dari rumah. Datang lebih awal membuat kita bisa beristrahat menenangkan diri, berdandan merapikan make up atau baju, atau bahkan bisa ngobrol dengan peserta kandidat yang lain.

  1. Bawalah hardfile / Softfile CV lamaran.

Tidak selalu pewawancara memilki data yang lengkap tentang kita, maka bawalah hardfile atau setidaknya softfile yang anda simpan di Hand Phone sehingga bisa dikirim by email langsung. Hal ini dikarenakan ada beberapa perusahaan yang menerima aplikasi bisa berasal dari web pencari kerja, atau memang ada yang harus diperbarui dalam CV.

  1. Bacalah profile

Sebelum apply seharusnya anda baca terlebih dahulu company profile perusahaan yang anda tuju, namun kadang karena terlalu banyak yang dituju maka membacahanya sepintas lalu. Namun ketika ada pangilan wawancara disarankan anda baca sampai detail mengenai budaya organisasi, sejarah perusahaan, atau hal apapun yang bisa anda temukan. Hal ini bisa membantu mengarahkan tujuan dan mampu membayangkan mengenai peran diri anda ketika bekerja di sana.

  1. Sopan dan percaya diri.

Ucapkan salam ketika masuk ruang interview,dan bersalaman jika memungkinkan. Jawablah pertanyaan dengan lugas dan tidak bertele-tele. Posisi tubuh tegak dan arahkan kepada interviewer, tunjukkan bahwa anda siap menjawab segala pertanyaan. Batasan percaya diri dan sombong itu memang amatlah tipis. Percaya diri adalah gabungan antara rendah hati dengan keyakinan diri. Percaya diri adalah ketika bercerita tentang kegagalan namun tidak merasa minder karena dalam benak dan pikiran adalah perbaikan, bukan penyesalan, apalagi cari kambing hitam. Bekerja itu bersama-sama, bekerja itu bukanlah target berlari, no body can not do this alone.Sedangkan sombong adalah meyakinkan orang lain dengan pamrih pengakuan dan pujian. Sepintar apapun dan sebanyak apapun pengalaman anda, tetaplah bernama kandidat yang disebut orang baru, lain ladang pasti lain belalang.Kepercayaan diri bisa nampak ketika berbicara lancar dan tanpa grogi maupun takut, sehingga bisa jadi diselingi dengan sedikit bercanda atau basa-basi dan santai sesekali jeda. Oleh karena itu, harus dipastikantiming yang tepat untuk mencairkan suasana, sehingga pewawancara merasa nyaman dan timbul perhatian dan ketertarikanyang benar-benar tertuju pada anda.

  1. Jujur dan berpikir positif.

Berceritalah saja dengan apa adanya, bukan di adakan agar ada apa-apa.Kegagalan dan kesalahan bukanlah hal buruk. Keberhasilanpun juga bukan upaya anda sendiri seorang, ada atasan di sana, ada bawahan disana, ada teman anda disana, atau ada orang lainpun ceritakan. Karena jika anda mendominasi bahwa seolah anda adalah superman, maka kesombongan dan ketidakjujuran justru yang nampak. Berpikirlah positif ketika pernah mengalami kegagalan, berbicaralah yang membangun ketika diharuskan bercerita situasi yang anda dapatkan di masa lalu yang tidak membuat nyaman. Tidak disarankan untuk menjelekkan dan memojokkan seseorang maupun instansi atau perusahaan lain, apalagi perusahaan yang dulu anda pernah bekerja di sana. Ini justru menujukkan lemahnya integrity anda.

  1. Pakailah kesempatan bertanya ketika pewawancara menawarkan pertanyaan.

Ini menunjukkan antusiasme Anda, atau bahkan Anda  bisa menggunakan kesempatan ini untuk meyakinkan interviewer terhadap kemampuan Anda, tentu dengan bahasa pertanyaan yang dikemas sedemikian rupa. Jika anda ingin menanyakan mengenai tunjangan gaji, kesejahteraan yang akan di dapat, atau bahkan mengenai fleksibelitas waktu kerja. Tanyakan dengan bahasa seperti ‘bagaimana perkembangan karir di sini?’ pertanyaan ini akan menjawab 2 hal sekaligus, harapan karir Anda dan kesejahteraan. Namun, pertanyaan ini akan muncul jika Anda sendiri memiliki niat bekerja untuk berkembang bukan untuk sekedar mencari duit. Your question is your mind, and your answer is your will.  Interviewer yang sudah memiliki jam terbang tinggi sering menggunakan menggunakan moment ini untuk mengungkap motivasi anda tanpa harus menanyakan motivasi anda.

  1. Penutup

Setelah pertanyaan selesai, biasanya Anda akan diminta untuk langsung pulang atau melanjutkan langkah seleksi berikutnya. Biasanya perusahaan memberikan kabar tidak lebih dari 2 minggu, namun bisa jadi tidak memberi kabar. Namun, buatlah lead time sendiri selama 2 minggu jika tidak ada kabar maka lupakanlah dan move on dengan mencari perusahaan lain. Jangan lupa untuk kenalan dan meminta nomor telepon teman kandidat yang datang saat bersamaan dengan anda. Apa salahnya berkenalan meski Anda hanya bertemu satu kali pada saat itu saja. Namun dengan berkenalan dengan orang baru akan membantu Anda untuk membangun relasi yang lebih banyak. Bahkan Anda menjadi tahu siapa yang lolos seleksi ini.

Inilah serba serbi dunia job seeker, menanti undangan interview,  mencari lowongan kerja, datang seleksi kembali. Dinamika yang sangat umum terjadi. Namun jika Anda belum beruntung bergabung di perusahaan yang Anda inginkan, jangan cemas, berusahalah, jangan hanya diam.

Dalam dunia rekrutmen, IPK tinggi atau berpengalaman tidaklah menjamin seseorang itu untuk layak di terima atau tidak. Sebelum memulai seleksi, biasanya tim rekrutmen sudah mengantongi  catatan requirement atau permintaan kualifikasi yang diinginkan oleh user.  Analogikanya begini, orang yang memiliki kulit gelap, demi kepantasan tidak lah patut jika memilih pakaian dengan warna terang. Atau jika di rumah sudah memiliki kulkas maka ia akan mencari dimana didalam rumahnya ia tidak miliki walau kulkas itu juga penting, namun tidaklah ia membeli kulkas dua kali. Begitupun juga dengan perusahaan, ia akan mencari keahlian atau karakter seseorang dimana di dalam timnya tidak ia miliki atau memang sedang ia cari, walau sepintar apapun Anda.

Jadi dunia tidak akan runtuh, harapan masih terbentang jika Anda gagal interview. Hal terpenting adalah berusaha yang terbaik, menujukkan yang terbaik kepada interviewer. Bisa jadi, perusahaan tertarik pada Anda namun ia sengaja simpan. suatu saat membutuhkan Anda, maka ia akan panggil Anda karena ia merasa tertarik dengan Anda.

Selamat mencoba !

 

__________________________________________________________________

By Etik Rahmawati

Penulis adalah Psikolog, Praktisi HR dan People Development Spesialis

 

Jokowi.jpg?fit=874%2C582&ssl=1
04/09/2019

Oleh: Pramudito*

Ketika menyampaikan pidato mengenai Visi Indonesia di Sentul, Bogor pada tanggal 14 Juli 2019, Presiden Jokowi menyatakan antara lain: “Menjadi oposisi itu juga sangat mulia. Silakan. Asal jangan oposisi menimbulkan kebencian. Apalagi disertai dengan hinaan, cacian dan makian.” (Kompas, 15/07/2019).

Pernyataan presiden tersebut memberikan sinyal positif atau lampu hijau akan eksistensi oposisi, yang sempat menjadi  kontroversial. Masalahnya selain yang pro, ada pula yang kontra. Yang pro secara umum berpendapat bahwa oposisi itu diperlukan untuk memberikan kontrol atau sorotan berupa kritikan yang positif bagi pemerintah yang sedang berkuasa, agar terjadi keseimbangan atau checks and balances. Oposisi dibutuhkan  dalam negara demokrasi di mana pun. Karena pemerintahan yang sehat membutuhkan oposisi  yang sehat pula. Sedangkan yang kontra mungkin masih trauma masa lalu yakni ketika di Indonesia oposisi itu dilarang dan dianggap sebagai musuh pemerintah bahkan negara. Ada juga yang berpendapat bahwa dalam negara Pancasila dengan sistem presidensial oposisi tidak dikenal. Bahkan juga tidak tercantum dalam konstitusi. Dan bukankah fungsi kontrol merupakan salah satu wewenang DPR?

Bila kita pelajari sejarah ketatanegaraan Indonesia, oposisi bukanlah barang baru apalagi asing. Beberapa saat  setelah  proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, para pemimpin negara kita segera memberlakukan sistem pemerintahan parlementer, meskipun tidak sejalan dengan UUD 1945 yang menganut sistem presidensial. Konon, “pelanggaran” itu dilakukan untuk menarik simpati negara-negara Barat yang  banyak menganut sistem parlementer, agar kemerdekaan Indonesia segera memperoleh pengakuan dengan menampilkan diri sebagai negara demokrasi yang menganut sistem parlementer. Untuk sementara UUD 1945 diabaikan dan diganti dengan UUD Sementara 1949 dan 1950.

Maka berturut-turut sejak saat itu Presiden Soekarno  menunjuk atau memutuskan jabatan perdana menteri. Diambilkan dari tokoh politik, sedangkan partai-partai yang tidak mendukung berperan sebagai kekuatan politk di  luar pemerintahan, dengan kata lain sebagai: oposisi. Kita menyaksikan sejarah Indonesia sejak 1945 hingga Dekrit Presiden 1959 para ahli menyebut selama periode itu Indonesia menganut sistem parlementer, dengan jabatan PM sebagai kepala pemeirntahan yang diimbangi dengan kekuatan oposisi oleh partai-partai yang tidak mendukungnya.

Ketika Indonesia memasuki alam Demokrasi Terpimpin (1959-1966) atau lazim disebut zaman Orde Lama, maka oposisi tidak diperenankan hidup lagi. Memang ada sebagian kekuatan politik yang tidak mendukung Demokrasi Terpimpin dan berperilaku bagaikan kekuatan oposisi, tapi tetap dilarang malahan dengan memberikan julukan kepada mereka  kontra revolusi. Selanjutnya pada zaman orde baru oposisi juga tetap tidak diperkenankan. Golongan yang berseberangan dengan penguasa dianggap kelompok ekstrim, baik ekstrim kanan  maupun ekstrim kiri.

Barulah pada zaman reformasi sejak tumbangnya rezim Orba, secara berangsur-angsur keberadaan oposisi diakui kembali.  Sebutan oposisi juga ditujukan terhadap kelompok politik yang tidak duduk dalam pemerintahan. Maka pengertian oposisi adalah partai-partai yang tidak diajak untuk ambil bagian dalam pemerintahan, atau atas kemauan mereka sendiri berdiri di luar pemerintahan. Sebagai gambaran, adalah partai terbesar yakni PDI Perjuangan berdiri di luar pemerintahan dalam masa 10 tahun mulai tahun 2004 hingga 2014 ketika jabatan Presiden dipegang oleh SBY.

Tapi sebutan PDIP sebagai partai oposisi belum menonjol. Kemudian setelah PDIP berhasil meraih kemenangan dengan mencalonkan Jokowi sebagai Presiden, partai yang  berkuasa sebelumnya yakni Partai Demokrat menjadi salah satu partai yang berada di luar pemerintahan. Waktu itu sebutan bagi Partai Demokrat adalah sebagai partai penyeimbang. Dengan kata lain kelompok politik yang berada di luar pemerintahan masih malu-malu menyebut dirinya oposisi.

Masalahnya sekarang apakah oposisi tepat atau dibenarkan eksistensinya dalam sistem pemerintahan  Presidensial seperti di Indonesia?

Sejauh ini oposisi lebih dikenal dalam negara yang menganut sistem pemerintahan parlementer. Sistem perlementer berasal dari Eropa yang sejak akhir abad ke-19 mulai menganut sistem itu. Pada masa itu mulai timbul kesadaran bahwa pemerintahan yang demokratis adalah pemerintahan yang harus dibatasi kekuasaannya dan tidak boleh memerintah secara semena-mena. Gagasan bahwa pemerintahan perlu dibatasi kekuasaannya, antara lain dicetuskan seorang ahli sejarah Inggris yang kita kenal dengan nama Lord Acton. Ia mengingatkan bahwa pemerintahan selalu diselenggarakan oleh manusia  dan bahwa pada diri manusia  selalu melekat banyak kelemahan. Maka kemudian Lord Acton merumuskan adagiumnya yang termasyhur sampai kini, bahwa “manusia yang mempunyai kekuasaan cenderung  untuk menyalahgunakan kekuasaan itu, tetapi manusia yang mempunyai kekuasaan tidak terbatas  cenderung untuk menyalah gunakannya secara tak terbatas pula.

Power tends corrupt, but absolute power corrupts absolutely”. Praktek demokrasi parlementer di Inggris kemudian juga diikuti oleh beberapa negara lain di Eropa (terutama Eropa Barat). Kemudian pada abad ke-20 juga menyebar termasuk ke negara-negara bekas jajahan Inggris yang akhirnya juga banyak menganut sistem parlementer. Di Inggris sendiri dua partai besar dan  berpengaruh yakni Partai Buruh dan Partai Konservatif secara bergantian memegang tampuk kekuasaan. Bila Partai Buruh yang berkuasa, maka Partai Konservatif menjadi oposisi, begitu pula sebaliknya.

Namun negara yang menganut sistem presidensial seperti Amerika Serikat sebutan oposisi jarang kita dengar. Sebagai contoh, seperti sekarang ini dimana Presiden Trump yang berasal dari Partai Republik, maka Partai Demokrat jarang disebut sebagai partai oposisi sebagaimana halnya di negara-negara dengan sistem parlementer di  Eropa dan negara-negara lainnya. Namun kelompok “oposisi” dalam sistem presidensial kekuasaannya di lembaga legislatif juga besar. Seperti di AS, partai yang menguasai mayoritas Senat bertingkah laku seperti partai oposisi di negara parlementer.

Jadi kekuasaan legislatifnya  cukup besar dan ikut menentukan “nasib” kebijakan atau RUU untuk disahkan oleh presiden. Hanya kekuasaan oposisi di negara parlementer cukup besar juga, bila oposisi itu berhasil mengumpulkan suara di parlemen untuk meng”goal”kan mosi tak percaya dan bila itu mulus maka pemerintahan  yang dipimpin PM akan rontok dan mengembalikan mandat kekuasaannya kepada kepala negara. Sedangkan “oposisi” dalam negara presidensial  lebih sulit untuk menjatuhkan presiden, melalui proses  berliku yang disebut impeachment.

Maka dari sejarah ketatanegaraan  dunia baik dari Barat mau pun timur Indoensia harus banyak belajar bagaimana oposisi berperan dalam kehidupan bernegara kita. Nilai-nilai yang dianggap positif dapat disesuaikan dan diterapkan dalam perikehidupan ketatanegaraan kita.

 

Pramudito. (dok.pribadi)

Tapi yang menggembirakan kesadaran akan pentingnya oposisi semakin menyebar luas di masyarakat. Dalam masa pemilu 2014 hingga 2019 sebutan ”oposisi”  semakin santer kedengaran sebagai sebutan untuk kelompok-kelompok politik yang tidak mendukung kepresidenan Jokowi-JK. Dalam jajak pendapat oleh Harian Kompas beberapa waktu yang lalu, sebanyak 74,9 persen responden mengakui kekuatan penyeimbang di luar pemerintahan  tetap harus ada sebagai alat kontrol terhadap jalannya kekuasaan. Mengapa oposisi ini harus tetap ada? Separuh lebih responden beralasan, demokrasi butuh checks and balances. Pemerintah perlu diawasi dan dikritisi. (Kompas, 08/07/2019).

Dalam perkembangan  akhir-akhir ini, diperkirakan  dua partai yang “kalah” dalam Pilpres yakni Partai Gerindra dan PKS akan tetap konsisten sebagai oposisi. Bahkan sementara tokoh dari kubu Jokowi-Ma’ruf juga mengharapkan agar sebaiknya kedua partai itu tetap sebagai oposisi dalam periode pemerintahan yang akan datang. Lantas bagaimana dengan fungsi DPR yang berkewajiban mengontrol pemerintah?  Partai-partai pro koalisi tidak dapat diharapkan banyak menjadi pengontrol yang baik dan obyektif terhadap jalannya pemerintahan, karena bagaimana pun  pemerintah akan selalu  berusaha agar kebijakan-kebijakannya justru harus didukung oleh partai-partai yang bergabung dalam koalisi.

Maka harapan terakhir adalah kepada partai-partai oposisi dalam parlemen yang tanpa beban untuk lebih mengontrol dan mengkritisi jalannya pemerintahan. Seorang ilmuwan politik Ludger  Helms (2004) berpendapat bahwa demokrasi tanpa oposisi  adalah demokrasi beku  yang tidak sehat, karena tanpa kritik konstruktif dan tanpa program alternatif. Sekali lagi, demokrasi modern membutuhkan saling kontrol (cheks and balances) antara partai pemerintah dan partai oposisi.

Formalnya, yang lazim disebut oposisi adalah partai-partai di parlemen yang di luar pemerintahan. Sedangkan kekuatan-kekuatan sosial-politik di luar legislatif dan eksekutif  pendukung oposisi juga kurang tepat disebut oposisi, melainkan sebagai kekuatan penyeimbang atau pendukung oposisi saja. Tapi kelompok ini juga tidak bisa dipandang dengan sebelah mata, karena sewaktu-waktu mereka dapat menjelma menjadi kekuatan rakyat (people power) yang terbukti  berperan besar dalam keruntuhan rezim Orde Lama dan Orde Baru pada masa lalu.

Maka semakin nyatalah bahwa oposisi dalam negara dengan sistem Presidensial mempunyai hak untuk hidup. Pintu tetap terbuka lebar  bagi kehadiran oposisi yang konstruktif sembari memberikan alternatif  yang positif pula!

 

 

___________________________________________________________

*Penulis adalah pemerhati politik, mantan diplomat, alumni FISIP Universitas Negeri Jember

Ilustrasi-Pixabay.jpg?fit=589%2C340&ssl=1
01/08/2019

Oleh: Pranyata, SE *

Allah menyampaikan bahwa seseorang yang berilmu akan diangkat derajatnya. Firman-Nya, “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Al-Mujadillah: 11). Kita yakin apa yang dijanjikan Allah ini sangat benar. Bisa diperhatikan di lingkungan kita, bahwa orang-orang yang sukses kebanyakan karena mereka berilmu.

Manusia adalah makhluk pilihan Allah untuk mengelola Bumi. Hal ini ditegaskan ketika Dia berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. 2: 30). Pengertian khalifah secara umum adalah makhluk yang dipilih Allah sebagai penguasa dan pemimpin atas makhluk lainnya, seperti  binatang, tumbuhan, bumi , bahkan jagad raya seisinya. Namun kata khalifah bisa juga berarti sesuatu yang menggantikan. Maknanya kepemimpinan manusia itu akan saling menggantikan, yaitu pergantian penguasaan antar waktu atau antar generasi.

Bekal yang diberikan Allah kepada khalifah tersebut adalah ilmu, sebagaimana firman-Nya “ dan Dia mengajarkan kepada Adam” (QS. Al-Baqoroh:31). Kata mengajarkan menunjukan bahwa Allah memberikan ilmu. Dan inilah bekal utama Nabi Adam untuk menjadi khalifah. Dengan ilmu ini Nabi Adam bisa mengungguli makhluk lain termasuk para malaikat, sehingga  ketika diminta untuk menjelaskan nama-nama, Nabi Adam lebih tahu dibanding malaikat.

Ini menggambarkan kalau ilmu itu dalam Islam sangat sentral. Dalam konsep illahiyah, ilmu adalah dasar keunggulan manusia. Untuk itu seharusnya setiap muslim  itu rajin menuntut ilmu. Dan perlu diketahui bahwa agama mewajibkan agar setiap umat Islam menuntut ilmu. Nabi Muhammad bersabda “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim “(HR. Ibnu Majah).

Fakta yang terjadi saat ini bahwa masyarakat Islam hampir di seluruh pelosok dunia terbelakang. Penyebab utamanya adalah karena umat Islam tidak menguasai ilmu seperti orang Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Korea maupun China. Umat tidak mengamalkan perintah agamanya yang mewajibkan menuntut ilmu.

peradaban Keemasan Islam

Kewajiban menuntut ilmu  dalam Islam pernah diamalkan oleh umat di masa lalu dan ternyata  membuat peradaban Islam mengalami kejayaan dan mengungguli bangsa lain. Itulah zaman keemasan Islam. Banyak ahli sejarah mencatat, zaman itu ada pada rentang tahun 750-1258 atau sekitar 500 tahun, yaitu ketika berkuasanya Dinasti Abbasiyah.

Dasar-dasar pemerintahan Dinasti  Abbasiyah yang modern diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas as-Saffah dan al-Manshur. Dalam naungan Dinasti ini  umat Islam banyak mendapatkan pencerahan ilmu. Kemajuan demi kemajuan banyak mereka capai, baik secara individu maupun kolektif. Puncak keemasan dinasti ini ada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi , al-Hadi,  Harun Ar-Rasyidal-Ma’munal-Mu’tashimal-Watsiq, dan al-Mutawakkil.

Pada masa al-Mahdi, kemakmuran dicapai dengan  peningkatan irigasi pertanian dan eksplorasi pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Pengembangan perdagangan saat itu juga menjadi prioritas. Maka dibangunlah kota  Bashrah menjadi pelabuhan dan ternyata kota ini kemudian menjadi  terkenal di dunia terkait lalu lintas perdagangan dan ekspor impor antara Timur dan Barat.

Kesejahteraan masyarakat melalui ilmu pengetahuan terus ditingkatkan. Perkembangan ilmu pengetahuan mencapai puncak keemasan pada pemerintahan  Harun Ar-Rasyid  (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). Pemerintahan Harun Ar-Rasyid banyak membiayai pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan.

 

Pranyata, SE

Setelah Harun Ar-Rasyid wafat diganti putranya Al-Ma’mun. Pada masa ini digalakkan pengembangan pendidikan dengan  banyak mendirikan sekolah. Yang monumental adalah pemerintah membangun Baitul Hikmah, yaitu  pusat penerjemahan buku-buku asing yang sekaligus berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Sehingga negara Islam saat itu mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia.

Pengembangan ilmu pengetahuan melahirkan banyak tokoh. Tokoh-tokoh  yang terkenal diantaranya Ibn Sina (ahli filsafat, kedokteran, astronomi, bukunya yang terkenal “The Canon of Medicine” yang   jadi buku pegangan utama para mahasiswa kedokteran di penjuru Eropa sampai abad ke-18),  Al Kindi (ahli menerjemahkan sekaligus penulis 260 buku, keahlian monumentalnya di bidang optik dan  kimia terkait produksi alkohol), Al Khwarizmi (ahli matematika yang mengembangkan persamaan linear dan kuadrat, yang kita kenal dengan nama Aljabar. Bukunya yang terkenal “al-Ardh”, orang Barat lebih mengenal  dengan judul “geography”).

Namun masa keemasan tersebut berakhir pada  tahun 1258 karena diserang bangsa Mongol. Kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan.

Revolusi Industri 4.0

Dunia saat ini sedang memasuki babak awal revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemajuan dalam kecerdasan buatan, robotika, pencetakan 3D, dan Internet of Think (IoT). Diakui bahwa pendekar teknologi dalam revolusi industri 4.0 bukanlah dari kaum muslimin.

Tetapi kaum muslimin tidak boleh tinggal diam. Seharusnya segera menyusul ketertinggalan untuk mencapai kejayaannya kembali, seperti dahulu kaum muslim pernah jaya selama 500 tahun karena didukung ilmu pengetahuan. Sehingga saat itu masyarakat dunia berkiblat kepada kaum muslimin.

Mengejar ketertinggalan bukanlah hal yang tabu. Dahulu negara Jepang, Korea Selatan dan China juga pernah tertinggal dengan negara-negara barat. Mereka  hanya butuh waktu kurang lebih 40-50  tahun untuk mampu berkompetisi dengan negara barat. Umat Islam pun begitu, kalau sekarang tertinggal, maka untuk mengejar peradaban yang dicapai negara maju saat ini juga bisa pasang target waktu, misal pada kisaran 50 tahun.

Islam mengajarkan bahwa mencari ilmu itu wajib dan untuk meningkatkan derajatnya harus menguasai ilmu. Ini adalah doktrin yang bisa didorong kepada seluruh umat untuk meraih sukses melalui penguasaan ilmu. Para Ulama, da’i, mubaligh, guru, dan orang tua seharusnya menggelorakan semangat menuntut ilmu bagi setiap muslim untuk mengejar ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan di seluruh bidang, baik teknologi, kesehatan, pertanian, perdagangan, maupun kebudayaan. Semua itu dilandasi ilmu agama yang kuat. Kita harus yakin kalau kesuksesan kita bisa diraih hanya dengan menguasai ilmu pengetahuan.

 

 

——————————————-

*Penulis adalah Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kab. Cilacap dan Pemerhati Ekonomi-Sosial

 

Ilustrasi_habibienomic.jpg?fit=960%2C640&ssl=1
09/07/2019

Oleh: Pranyata, SE.*

Indonesia pernah memiliki konsep pembangunan yang berorientasi keunggulan teknologi dan SDM yang terkenal dengan Habibienomics. Karena langkah ini sangat revolusioner maka memunculkan polemik. Program ini dihentikan lebih karena faktor politis. Tetapi konsep pembangunan yang didasarkan keunggulan teknologi dan SDM yang menjadi inti dari konsep Habibienomis merupakan konsep manjur ‘sang jawara bisnis’ dan telah terbukti di banyak negara, seperti China, Jepang, Korea Selatan serta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Memang tidak mudah mewujudkan konsep Habibienomics untuk skala nasional. Perlu dikembangkan teknologi dan SDM untuk mengolah sumber daya alam Indonesia menjadi bernilai jual yang tinggi. Langkah yang perlu dilakukan di antaranya memperbaiki sistem pendidikan, investasi dengan padat teknologi dan keseriusan dalam membidik produk yang marketable untuk mencapai kemenangan.

Indonesia telah merintis  alih teknologi dan pengembangan SDM dengan mengirimkan anak bangsa untuk belajar ke luar negeri. Selanjutnya dibentuk DPIS (Dewan Pembina Industri Strategis) pada tahun 1983 yang membawahi 8 BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Ini kemudian berlanjut dengan terbitnya Keputusan Presiden No. 44 tahun 1989 yang melahirkan BPIS (Badan Pengelola Industri Strategis). BPIS ini mengayomi sejumlah industri strategis seperti IPTN, PT. PAL, Perum Dahana, PT. Krakatau Steel, PT. Inti, PT. Inka, PT. Boma Bisma, PT. Barata Indonesia, dan Unit Produksi Lembaga Elektronika Nasional (UP-LIPI).

Perencanaan pengelolaan perusahaan strategis tersebut sudah begitu matang, termasuk pengembangan kompetensi SDM. Untuk pengembangan SDM dengan pendidikan di dalam negeri telah ditunjang universitas bergengsi seperti ITB Bandung dan ITS Surabaya sebagai pusat keunggulan pendidikan dan penelitian teknologi bidang dirgantara dan perkapalan.

IPTN telah memproduksi CN-235, CN-250 pesawat udara turboprop bermesin dua untuk 50 penumpang dengan SDM anak bangsa. Sementara PT. PAL produknya meliputi kapal container, semi container, bulk carier dan tanker Carakajaya (3000-5000 ton) serta jenis Palewobowo (20.000-40.000 ton) sudah mulai dirancang bangun dalam industri transportasi. Ini menunjukkan kepada dunia bahwa teknologi canggih bukan monopoli milik negara maju, Indonesia pun mampu.

Rencana pengembangan teknologi Indonesia tersebut berusaha untuk melakukan difersifikasi produk yang berhubungan dengan kebutuhan langsung proses kerja teknologi serta industri. Setiap industri wahana transformasi mencakup berbagai sub industri: industri pembuatan baling-baling pesawat, kerangka roda pesawat terbang,  industri pembuatan gerbong kereta api, industri pembuatan mobilmencakup industri ban mobil, accu, peredam kejut, pegas daun, chasis, mesin bensin dan solar, sistem kemudi, transmisi, gander serta industri poros penggerak (dikutip dari: Renungan Bacharuddin Jusuf Habibie, membangun peradaban Indonesia, 2009, hal. 162).

Kemungkinan masalah yang muncul  dari dampak Habibienomics adalah tergesernya peran perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia yang bersifat perakitan dan perusahaan (menurut istilah Kwik Kian Gie) manufaktur “tukang jahit”. Sebelumnya perusahaan tersebut telah menikmati laba atas keberadaannya sebagai “kaki tangan” perusahaan induk (dari negara lain), yang tentu saja berasal dari negara maju dan memiliki jaringan bisnis dan politik yang kuat.

Dengan rencana Indonesia untuk mengembangkan teknologi dan SDM tentu membuat perusahaan induk tidak tinggal diam. Karena jika perusahaan perakitan dan ‘tukang jahit’ tersebut mengalami kelesuan usaha, akan mempengaruhi perusahaan induknya.  Kalau perusahaan induk ini mendapatkan ancaman karena eksistensi perkembangan teknologi Indonesia, tentu akan berpengaruh terhadap negara dimana perusahaan induk itu berada. Sehingga langkah Habibienomics ini yang semula masalah bisnis, bergeser politis karena tercampur dengan masalah politik.

Petaka sering datang tiba-tiba dan tak dapat dihindari. Saat perkembangan Habibienomics tersebut masih tahab embrio, tahun 1997 ekonomi Indonesia mengalami krisis.Dampaknya di antara perusahaan industri strategis tersebut mengalami kebangkrutan. Atas kasus ini, BJ. Habibie punya alasan, menurutnya, “Saat krisis moneter, perusahaan itu malah ditikam, tidak diberi kesempatan untuk bertahan.”Alasan ini masuk akal. Karena saat itu Dana Moneter  Internasional (IMF) yang sedang membantu menyehatkan ekonomi Indonesia mengharamkan suntikan modal baru untuk perusahaan dirgantara.

 

Pranyata.SE.(dok.pribadi)

Relevan

Konsep Habibienomics sangat relevan diterapkan dalam perdagangan bebas seperti saat ini. Namun kita tidak bisa berharap banyak kepada pemerintah untuk mengaplikasikannya, karena pada saat kampanye Pilpres kemarin tidak ada janji untuk itu.

Tak perlu khawatir,  tanpa inisiator pemerintah tak berarti tidak bisa dijalankan. Penerapan konsep Habibienomics yang berintikan Keunggulan kompetitif yang berbasis teknologi dan SDM sangat fleksibel, Tidak hanya diterapkan pada perusahaan besar saja tapi konsep tersebut bisa diterapkan dalam bisnis perorangan, usaha rumahan,  koperasi, perusahaan kecil maupun perusahaan  menengah.

Dapat dicontohkan saat ini banyak anak-anak muda yang inovatif. Dengan ilmu yang dimiliki mereka mampu meningkatkan mutu suatu produk dan produk tersebut laku keras ketika dijual secara online. Model bisnis ini telah memberikan inspirasi banyak pemuda yang menggarap berbagai jenis produk. Cindera mata, pakaian, tas, kosmetik, oleh-oleh, hasil bumi, makanan dan masih banyak lagi, saat ini bisa dijual dari rumah ke seluruh pelosok negeri, bahkan ke luar negeri dengan sistem penjualan online. Inilah pebisnis pendatang baru dengan berbekal ilmu pengetahuan. Walaupun modal mereka kecil, tetapi bisa menjelajah pasar yang sangat luas, sehingga memiliki ketangguhan bisnis.

Inovasi bisnis online ini telah menjadi ancaman serius bagi bisnis retail yang telah mapan. Dampaknya tidak sedikit  supermarket yang menutup gerainya dan juga membuat banyak pusat perdagangan yang mulai sepi pembeli.

Diakui memang anak muda yang bisnis secara online tersebut ada juga yang jatuh bangun. Namun kalau mereka konsisten menggunakan konsep Habibienomics, yaitu bersaing dengan mengandalkan teknologi dan kualitas SDM, Insya Allah mereka pada akhirnya akan menang dan sukses. Karena dengan cara seperti itu mereka pada prinsipnya telah memegang konsep ‘Jawara Bisnis Sejati’.

 

*Penulis adalah Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kab. Cilacap dan Pemerhati Ekonomi-Sosial

 

ilustrasi-SDM.jpg?fit=950%2C550&ssl=1
28/06/2019

Oleh: Pranyata, SE.*

Dalam media akhir-akhir ini kerap terdengar ketidak puasan terhadap meningkatnya kekuatan ekonomi negara China di Indonesia. Ada  rasa khawatir hal ini akan menjadikan Indonesia terkooptasi. Apalagi kalau Indonesia selalu meningkatkan hutang ke China, kalau tak pandai mengelolanya, semua itu bisa menjebak Indonesia.

Dari fakta yang ada, Indonesia tidak mudah melepaskan diri dari negara China. Hubungan ekonomi kedua negara saat ini meningkat, termasuk perdagangan bilateral, walaupun Indonesia mengalami defisit. Namun jangankan negara kita,  Amerika Serikat pun kewalahan menghadapi China. Sehingga negeri adi daya ini mengalami defisit perdagangan  cukup besar yang memicu perang dagang. Kalau diteliti, hampir semua negara di dunia mengalami defisit perdagangan terhadap China. Kata defisit berarti‘kalah’ dalam persaingan dagang.Ini bukti kalau China saat ini memang perkasa.

Pertanyaannya, kenapa China bisa menang dagang dengan banyak negara? Hal ini karena SDM (Sumber Daya Manusia) China mampu menciptakan produk yang relatif lebih murah dibanding dengan produk negara lain dengan mutu yang setara.  Banyak pihak mengakui kalau dalam dua dasa warsa terakhir ini industri China mengalami kemajuan yang pesat.

Kemampuan SDM tersebut bukan kebetulan, tetapi semua direncanakan. Program pengembangan SDM mulai menjadi prioritas sejak pidato Presiden China Deng Xiaoping pada tanggal 8 Juli 1983, yang terkenal dengan judul ‘Introducing Foreigh Intelligence and Extending Opening-Up’.Pemerintah menekankan perlunya  memperkenalkan teknologi asing dan mengimpor tenaga–tenaga ahli asing  dan juga gencar mengirimkan warganya belajar ke luar negeri. Inilah yang membuat China maju seperti yang dicapai  saat ini.

Langkah keberhasilan China hampir sama dengan apa yang dilakukan Jepang, Eropa barat, Amerika Utara dan Korea Selatan. Negara-negara modern tersebut pada umumnya melakukan pengembangan SDM agar memiliki nilai tambah yang tinggi dalam melakukan industrialisasi. Motor penggerak pengembangan SDM adalah pemerintah, namun ada juga yang dilakukan oleh masyarakat, terutama kaum agamawan.

Kemajuan Jepang dicapai melalui restorasi Meiji (kekuasaan pencerahan)  atau disebut juga dengan Revolusi Meiji. Semula diawali dengan peristiwa Jepang tersinggung atas kedatangan Komodor Amerika Serikat Matthew C. Perry yang datang ke Jepang pada tahun 1853 dengan kapal super besar dengan persenjataan lengkap dan teknologi tinggi yang memaksa Jepang membuka pelabuhan-pelabuhan untuk kapal-kapal asing yang ingin berdagang.  Saat itu Jepang menyadari ketertinggalannya, Namun Jepang tidak bisa  berbuat banyak. Jepang pun terdiam.

Diamnya Jepang bukan berarti pasrah. Mereka menyusun strategi. Mereka melakukan restorasi Meiji yang bertujuan menggabungkan kemajuan barat dengan nilai-nilai ‘Timur’. Nilai-nilai timur inilah, menurut  para pengamat mengartikan sebagai nilai Kofusionisme. Para pemimpin Jepang saat itu menyadari pentingnya perang kecerdasan. Bangsa yang lebih cerdas akan bisa menciptakan ekonomi yang menang. Para samuraipun menyimpan pedangnya dan mengajarkan ilmu ke masyarakat. Kebijakan yang diambil saat itu menterjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan, mengirim pemuda untuk belajar ke luar negeri, mendatangkan guru dari luar negeri dan membangun pusat-pusat pendidikan. Akhirnya Jepang tumbuh sebagai pelopor teknologi.

Sementara kemajuan  di Eropa Barat dan Amerika Utara karena di dorong oleh Etika Protestan. Hal ini ditulis oleh Max Weber (1864-1920) dalam bukunya ‘Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme’ yakni bekerja keras dan bersungguh-sungguh, lepas dari imbalan materialnya. Dalam referensi lain disebutkan bahwa etika dalam agama Protestan tersebut  awalnya dikembangkan oleh Calvin, yang menekankan bahwa seseorang sudah ditakdirkan sebelumnya masuk ke surga atau neraka. Hal tersebut ditentukan melalui apakah manusia tersebut berhasil atau tidak dalam pekerjaannya di dunia.  Adanya keyakinan ini membuat penganut agama Protestan Calvin selalu bekerja keras untuk meraih sukses. Motivasi inilah yang membuat mereka betul-betul sukses, bahkan menjadi penggerak kapitalisme.

Lain lagi dengan kemajuan Korea Selatan. Dampak perang Korea, dimana kondisi Korea Selatan sama seperti Korea Utara, benar-benar hancur. Kondisi   Korea Selatan betul-betul memprihatinkan.  Saat itu negara ini lebih miskin dari Irak, Liberia dan Zimbabwe. Parahnya lagi Korea selatan tidak memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan.

 

Pranyata SE. (dok.pribadi)

Perang sangat menghantui Korea selatan. Untuk memperkuat negara dari ancaman, Presiden Park yang seorang Jenderal menekankan bahwa rakyat Korea Selatan harus bekerja dengan amat keras, bahkan lebih keras dari rakyat negara lain,  berdisiplin ala militer dan semangat pali-pali alias bekerja cepat. Setelah 40 tahun, hasilnya bisa dilihat bahwa Korea Selatan saat ini menjadi negara maju.

 

Indonesia

Dahulu BJ.Habibie sudah memulai program pengembangan SDM untuk memajukan Indonesia. Beliau ingin mengalihkan konsep pembangunan dari mengandalkan keunggulan komparatif ke keunggulan kompetitif. Dalam keunggulan komparatif, mendasarkan pada keunggulan yang telah dimiliki oleh suatu negara, misalnya di Indonesia mendasarkan diri pada sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Sedangkan keunggulan kompetitif itu mendasarkan pada keunggulan teknologi dan SDM  yang bisa menghasilkan nilai tambah tinggi. Saat itu Indonesia mulai bergairah untuk mengembangkan SDM dan teknologi.

Namun dalam kancah perbedaan politik, terjadi kritik dan perdebatan dalam pelaksanaan program tersebut. Selanjutnya dalam perjalanan waktu konsep keunggulan kompetitif yang mendapat julukan Habibienomics  tenggelam bersama krisis ekonomi tahun 1997. Di sisi lain, karena ada pihak yang mengkritisi konsep tersebut, sehingga di periode pemerintahan berikutnya konsep tersebut tidak diteruskan. Akibatnya SDM Indonesia tetap tertinggal.

Sampai saat ini belum ada greget untuk meningkatkan SDM. Bahkan pendidikan Indonesia masih jauh tertinggal dibanding pendidikan di negara lain.Hal ini terjadi di antaranya karena banyak sekolah-sekolah yang kekurangan sarpras dan kekurangan guru. Untuk menutupi kekurangan guru, banyak diangkat guru honorer dengan gaji jauh di bawah UMR.Tentu hal ini berpengaruh pada kompetensinya. Sistem pendidikan yang demikian merupakan kelemahan mendasar untuk meningkatkan SDM kita.

Seandainya problem pendidikan tidak segera diatasi pemerintah, seharusnya ada lapisan masyarakat yang tergerak. Diharapkan kaum agamawan bisa memotivasi umatnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mutu SDM. Langkah-langkah Calvin  dan konfusionisme dapat diadopsi  untuk meningkatkan SDM sehingga ekonomi umat kokoh. Langkah ini memang berat, namun kalau tak ada yang memulai, siapa yang akan menguatkan perekonomian Indonesia ditengah persaingan global yang semakin terbuka.Retorika yang dibangun kalau ingin Indonesia tidak terkoptasi oleh negara adalah ‘meningkatkan kualitas SDM agar dapat memenangkan persaingan dagang dunia’.

 

*Penulis adalah pengamat ekonomi sosial, Sekretaris Majelis Wakaf PDM Cilacap.

 

Desa-dalam-perspektif-Islam.jpg?fit=768%2C753&ssl=1
26/06/2019

Oleh: Adhitya Yoga Pratama*

Setiap kaum Muslim di seluruh dunia pasti mempunyai kehendak menginjakkan kakinya di Mekkah sebagai perwujudan rukun Islam yang kelima. Bahkan panggilan Allah SWT dalam bentuk menunaikan ibadah haji ini dengan prasyarat mampu, mereka akan berangkat ke tanah suci tanpa dibeda-bedakan golongan, suku, bangsa, kelas, dan jenis kelamin apapun yang membebani.

Sungguh, yang demikianlah orang dikumpulkan menjadi satu secara bersama-sama melakukan ihram, wukuf di Padang Arafah, tawaf ifadah, sa’i, tahallul, dan tertib haji. Keberadaan kaum muslim di Kota Mekkah inilah menandakan sebuah wilayah yang penuh historisitas dan spiritualitas dari aspek religius menunaikan ibadah suci dengan khusyu’.

Pada bulan Dzulhijjah diketahui tanda-tanda Mekkah sebagai kota sudah terbukti dengan berbondong-bondongnya umat Islam dari berbagai negeri mengerjakan ibadah haji. Terlebih tanda-tanda keramaian kota yang hiruk-pikuk namun penuh khidmat berserah diri kepada Allah Swt bagi hamba-Nya itu dapat terlihat jelas ketika kaum muslim mengelilingi Ka’bah.

Berangkat dari rumah Allah SWT inilah suasana damai, tentram, tenang, dan sungguh-sungguh menyelimuti bathin manusia yang mengharap ridha Illahi dari keselamatan dunia dan akhirat, yang kenyataannya berbanding terbalik dengan letak geografis yang padang pasir serta pusat ekonomi-politik di Jazirah Arab yang sangat kompetitif pada masa jahiliyah.

Pertemuan antara ajaran langit dan kontradiksi di bumi ini merupakan titik konfrontatif dimana Islam, dan umat Islam secara konsekuen, tidak dapat lagi diam dan mesti menyikapi persoalan imajinasi sosiologis masyarakat pada konteks perebutan ruang kehidupan.

 

Adhitya Yoga Pratama. (dok.pribadi)

Sabda Nabi Muhammad Saw dalam memandang Kota Mekkah sebagai kota yang mulia di antara kota-kota yang lainnya (sekalipun Madinah) sangat termaktub jelas melalui hadits yang berbunyi; “Demi Allah, Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintai-Nya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu) (HR. At-Tirmidzi).

Nada penyesalan Rasulullah SAW terbukti nyata ketika beliau memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk segera hijrah ke Kota Madinah, sementara Nabi dan Ali Bin Abi Thalib menyusul hari berikutnya kala rumah dikepung oleh para musuh. Atas pertolongan Allah Swt, Rasul dan keponakannya berhasil keluar dari Kota Mekkah dalam keadaan selamat tanpa suatu halangan sekalipun.

Membaca sunnah dan kisah Rasul saat hijrah pertama kali ke Kota Madinah diatas, bukan berarti membuat kita begitu saja menafsirkan Mekkah sebagai entitas politik sarat metropolitan dan kosmopolitan semata.

Tetapi dari sinilah kita akan memandang Kota Mekkah sebagai ruang publik yang diperebutkan wacana politiknya oleh kelompok kepentingan yang berada di sekitar Ka’bah. Terutama sistem nilai dan struktur kebudayaan yang terkandung di dalamnya, sejak dibangun oleh Ibrahim dan Ismail pada masa kenabian.

Mengingat kajian Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat di antara para ilmuwan, fokus desa dalam perspektif Islam sesungguhnya berusaha menggali jejak-jejak pra-Islam memandang dinamika sosial yang ada di dalam kebudayaan Islam itu sendiri.

Mengutip pendapat Woodward (1989) bahwa Islam adalah unsur dominan dalam kepercayaan dan upacara keagamaan orang Jawa, yang membentuk karakter interaksi sosial dan kehidupan keseharian di seluruh segmen masyarakat Jawa. Maka Ka’bah adalah unsur dominan dalam kepercayaan dan upacara keagamaan umat Islam, yang membentuk karakter interaksi sosial dan keseharian di seluruh segmen masyarakat Islam di seluruh dunia.

 

Nilai-Nilai Keislaman

Sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul ternyata ia sudah terlibat dalam peristiwa pembentukan suatu komunitas yang aman, tentram, damai, dan toleran. Menurut Syed Ameer Ali dalam karya terkenalnya The Spirit of Islam (2008), keterlibatan Muhammad dalam peristiwa pembentukan komunitas itu terjadi karena adanya kesewenang-wenangan berupa perampokan di jalanan Kota Mekkah.

Atas permintaannya, keluarga Hasyim, Muthalib, Zuhra, dan Taym mengikatkan diri. Keluarga-keluarga tersebut mengangkat sumpah untuk membela setiap orang, baik mereka itu orang Mekkah atau orang asing, orang merdeka atau budak, dari segala bentuk kesewenang-wenangan di wilayah Mekkah. Mereka juga bertekad untuk menuntut balas atau meminta ganti rugi dari orang yang telah berbuat jahat terhadap mereka.

Selain itu ketika tengah memperbaiki Ka’bah terjadi perselisihan di antara keluarga-keluarga bangsawan Arab yang andil dalam pembangunan, yang mana konflik itu sangat mungkin menimbulkan pertumpahan darah. Namun, berkat Muhammad perselisihan itu dapat diselesaikan dengan cara damai. Sehingga kita tahu setelah itu ia mendapat julukan Al-Amin (Yang Terpercaya) membuat iri musuh-musuhnya, pertanda bahwa anak bangsa Arab kelak akan menjadi Nabi dan Rasul.

Hanya hal-hal di ataslah yang kita ketahui tentang perbuatan dan keterlibatan Muhammad di depan umum selama lima belas tahun. Sifatnya yang lembut, tegas, kekerasannya dalam menjaga kesucian hidup, kehalusan budinya, kesiap-sediaannya membantu si miskin dan lemah, rasa kehormatannya, kesetiannya yang besar, dan rasa kewajibannya yang begitu besar. Kesemua itu pada waktunya ia akan memiliki watak sosial yang tabligh, amanah, fathonah, dan sidiq.

Pada titik inilah Muhammad sebagai manusia yang memiliki tubuh membawa kabar gembira dan memberi teladan baik bagi semesta alam melalui tutur kata dan tindakan. Manusia bangsa Arab ini dapat dipastikan dalam kesehariannya tidak mampu melakukan kecerobohan yang merugikan orang lain. Penggembala kambing itu selalu waspada dan penuh perhatian terhadap kaum lemah.

Meski di depannya terbentang sebuah negeri berlumuran darah yang tercabik-cabik oleh perang saudara dan pertikaian antar suku. Mereka kecanduan ritual takhayul dan mesum, sekaligus kejam dan sewenang-wenang.

Pengalaman-pengalaman sebelum kerasulan inilah yang membentuk daur hidup manusia untuk menciptakan suatu ruang yang tenang, tentram, damai, dan toleran. Siapa sangka keberadaan agama dan kepercayaan masyarakat Arab yang saling bertengkar dan menghancurkan di hadapan Rumah Allah Swt itu didekonstruksi oleh Muhammad dengan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab setelah kenabian.

Alhasil, Mekkah menjadi suatu tempat yang paling banyak dikunjungi orang untuk sekedar berumrah atau menunaikan ibadah haji,yang membawa suasana kejiwaan manusia resah menjadi satu dalam nuansa persaudaraan menghadap Ka’bah. Nilai-nilai keislaman inilah yang sesungguhnya membawa situasi desa dalam perspektif Islam dibentuk. Sebab Muhammad dengan Ka’bah merupakan komitmen keharmonisan meningkatkan keimanan kita untuk berbagi pengalaman spiritual dengan para pengikutnya. Demikian.

 

*Penulis adalah peminat kajian sejarah kebudayaan Islam  & pegiat gerakan ekologi dan politik pedesaan dalam perspektif Islam

           

Ilustrasi-lebaran.jpg?fit=700%2C393&ssl=1
09/06/2019

Oleh: Syahrullah,SH, MH*

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Dengan kalimat yang begitu mulia, jutaan bahkan miliaran orang setiap datangnya hari Lebaran mengucapkannya. Seruan ini disambut oleh ribuan, oleh jutaan umat manusia dari segenap penjuru bumi, menyemarakkanya dengan shalat Ied menyambut kesucian jiwa kita kembali seperti baru saja kita dilahirkan oleh ibunda kita. Suci, bersih dari segala noda dan dosa yang selama ini hinggap di tubuh kita.

Idul fitri bagi umat Islam di seluruh dunia, dilaksanakan serentak setiap 1 Syawal setiap tahunnya. Di awali dengan pelaksanaan shalat di lapangan terbuka atau di masjid-masjid, bermaaf-maafan atas semua kesalahan yang dilakukan dengan sesama manusia, baik kepada orang tua, sanak saudara, keluarga jiran tetangga. Idul Fitri di kalangan masyarakat  dikenal dengan istilah “lebaran”.

 

Syahrullah,SH, MH.

Lebaran, waktu yang ditunggu-tunggu oleh segenap umat Islam tanah air. Ada beberapa fenomena sosial yang hidup hampir merata di seluruh nusantara. Fenomena ini dilakukan secara berulang-ulang dan banyak masyarakat  yang menganggap ini menjadi tradisi. Apa saja fenomena itu?

Berbagai fenomena

Pertama,Mudik. Merupakan satu fenomena sosial yang telah berurat berakar bagi orang-orang Indonesia.Berbagai alasan rasional seolah tidak mampu menjelaskan fenomena yangteranyam rapat dalam nilai kultural bangsa Indonesia itu. Seakan ada sebuah peraturan yang mengharuskan bahwa setiap lebaran tiba para perantau harus pulang ke kampung halaman.

Pulang mudik sekali setahun tidak hanya sekedar melepas kerinduan pada kampung halaman,  tetapi sepertinya mengandung makna yang jauh lebih dalam dari itu.Mudik adalah tradisi baik,yang menjadi pertanda kasih sayang sesorang kepada keluarganya, orang tuanya, tetangga maupun teman dima sa kecilnya. Mudik adalah wahana silaturahim tahunan yang layak dipelihara.

Sementara menurut Umar Kayam (2002), mudik awal mulanya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Keberadaannya jauh sebelum kerajaan Majapahit. Awalnya kegiatan ini digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur, dengan disertai doa bersama kepada dewadewa di Khayangan. Tradisi ini bertujuan agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang ditinggalkan tidak diselimuti masalah. Namun, sejalan masuknya pengaruh ajaran Islam ke tanah Jawa membuat tradisi ini lama-kelamaan terkikis,karena dianggap perbuatan syirik terutama bagi mereka yang menyalahgunakan dengan meminta kepada leluhur yang telah meninggal dunia.

Setiap menjelang hari raya Idul Fitri, hampir seluruh media massa baik cetak dan eletronik mulai menyoroti aktivitas mudik, bahkan pemerintah khususnya kementrian perhubungan dan kepolisian dikerahkan untuk mensukseskan kegitan ini, sebab setiap tahun jumlah pemudik terus saja membanjiri terminal, stasiun, pelabuhan, hingga bandara. Kemacetan dan penundaan waktu keberangkatan angkutan transportasi merupakan hal yang umum terjadi. Ini disebabkan  sebanyak 18,28 juta (perkiraan kemenhub) masyarakat bakal melakukan kegiatan mudik Lebaran 2019.

Kedua Menabuh Bedug. Kumandang takbir  Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.   bagi sebagian masyarakat  selalu diiringi dengan tabuhan bedug yang menggema di mesjid-mesjid , surau-surau, langgar-langgar dan mushalla, bahkan di jalan-jalan. Tabuhan bedug akan menambah suasana haru dan gembira. Suara takbir akan terdengar mulai dari malam takbiran hingga pagi di hari Lebaran, tanda hari kemenangan telah tiba. Oleh karena itu, bedug sudah menjadi simbol dari hari raya Idul Fitri selain dari ketupat.

Ketiga Pawai Takbir. Lebaran akan selalu disambut dengan kumandang takbir sebagai tanda kemenangan setelah melakukan puasa selama sebulan penuh. Pada momen ini akan terlihat bagaimana kebersamaan masyarakat tetap terjaga dengan baik, mereka akan turun ke jalan melakukan pawai keliling Kota, baik itu menggunakan kendaraan ataupun sekedar berjalan kaki beramai-ramai.Ini akan sangat menyenangkan dan menjadi salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu selama masa Lebaran, sebab inilah agenda yang paling awal dalam perayaan Lebaran itu sendiri.

Keempat Ketupat. Lebaran dan ketupat tentu telah menjadi dua hal yang tidak terpisahkan. Penganan khas lebaran ini biasanya akan disajikan bersama opor, rendang, semur, kerupuk udang dan beberapa jenis tambahan lainnya. Meski terbilang memiliki cara penyajian yang berbeda-beda pada tiap daerah di Indonesia, namun ketupat telah menjadi sebuah penganan wajib yang selalu disajikan ketika perayaan Lebaran.

Ketupat Lebaran akan menjadi sebuah sajian yang sangat istimewa, sebab hampir semua keluarga akan menyantapnya dengan bahagia, di mana seluruh atau sebagian besar anggota keluarga bisa berkumpul dan menikmatinya bersama-sama. Tak lengkap rasanya melewati Lebaran tanpa sajian ketupat, karena ketupat adalah sajian khas yang wajib disantap di momen yang indah itu.

Kelima THR. THR (tunjangan hari raya) merupakan tradisi masyarakat memberikan sejumlah uang terutama kepada anak-anak, keluarga dekat yang tidak mampu. Yang memberikan biasanya orang dewasa yang sudah bekerja.

Tradisi ini meniru pemberian THR oleh perusahaan kepada karyawannya. Dan di masa Pemerintahan Joko Widodo pemberian THR mulai dikenal yang diberikan kepada para ASN, TNI, Polri dan para pensiunan.

Keenam Halal bi halal.Tradisihal bi halal  telah dipraktekkan  sejak lama.  di mana orang akan saling, bermaaf-maafan,saling  mengunjungi dan merayakan Lebaran bersama keluarga besar, teman-teman, kerabat, tetangga, atau bahkan mereka yang lainnya yang kita anggap penting untuk kita kunjungi.

Halal Bi Halal bahkan masih akan dirayakan setelah momen Lebaran berlalu dan kita kembali bekerja seperti biasa,di Kantor-kantor, sekolah maupun perusahaan.

Ketujuh Ziarah kubur.Ziarah kubur, menjadi kebiasaan bagi sebagian masyarakat Indonesia di Hari Lebaran. Biasanya hal ini dilakukan sore hari menjelang lebaran; setelah shalat Idul Fitri. Mereka dating ke pemakaman dengan membawa berbagai bunga, daun pandan harum untuk ditaburi di atas pemakaman setelah ada yang membacakan yasin, memanjatkan doa bagi keluarga, kerabat  yang telah pergi meninggalkan dunia.

Kedelapan  Rekreasi. Rekreasi merupakan fenomena yang menarik di tengah masyarakat saat lebaran. Terutama bagi mereka yang pulang mudik. Momen ini menjadi kesempatan yang baik untuk berekreasi bersama anggota keluarga, karib, teman sejawat lainnya.

Namun, yang lebih penting memaknai lebaran setelah sebulan penuh kita berhasil mengendalikan hawa nafsu dan menuruti panggilan ilahi, maka Allah menghadiahkan kepada kita kesucian jiwa. Kita kembali seperti bayi yang baru lahir, suci, bersih dari noda dan dosa. Maka inilah lebaran, hari yang menjadi momen tepat untuk saling bermaaf-maafan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

 

* Dosen STIH Muhammadiyah Bima, pemerhati masalah sosial, ekonomi, hukum dan Lingkungan