Arswendo.jpg?fit=820%2C450&ssl=1
20/07/2019

Oleh: Alfian Mujani*

Berita duka datang dari wartawan senior dan pemerhati budaya-sosial, Arswendo Atmowiloto yang meninggal dunia pada Jumat (19/7/2019) pada pukul 17.50 WIB usai  satu tahun terakhir menderita kanker prostat.

Arswendo Atmowiloto (lahir Solo, 26 November 1948) mempunyai nama asli Sarwendo. Ndo, panggilannya, dari kecil senang mendalang. “Dari situ saya berkenalan dengan seni,” katanya. Ayahnya, pegawai balai kota Surakarta, sudah meninggal ketika Arswendo duduk di bangku sekolah dasar. Ibunya, meninggal pada 1965. Arswendo pun yatim piatu di usia 17 tahun, ketika masih duduk di bangku SMA.

Image003.png?fit=828%2C556&ssl=1
12/07/2019

Oleh: Wahyudi Nasution*

“Wah baru kali ini aku kalah Pilpilan, Om,” Sasa mengawali obrolannya sore ini. “Ternyata sangat tidak enak, ya.” lanjutnya.

“Nyeseg ya, Sa?” tanyaku.

“Banget, Om. Sampeyan kan tahu, sejak pertama ikut Pemilu dulu, aku selalu di pihak yang menang. Setelah reformasi pun aku juga selalu menang baik di Pemilu, Pilpres, maupun Pilgub, Pilkada, dan Pilkades. Baru kali ini pilihanku kalah.”

Istriku datang menyajikan dua gelas kopi semendo dan gorengan pisang kepok yang baru kupanen kemarin pagi. Dia paham betul setiap sahabatku satu ini datang pasti ingin ngobrol sambil ngopi, dan biasanya cukup betah ngobrolnya.

“Mbok sudah, Sa. Gak usah digagas, gak usah baper. Pertandingan sudah selesai kok. Slow waelah.”

“Penginku juga begitu, Om. Tapi ini kalahnya bukan karena benar-benar kalah je, Om, tapi kalah karena dibuat kalah. Diakali….”

“Lha kok gitu, Sa?”

“Lha iya, to? Sudah jelas-jelas banyak kecurangan di sana-sini, lha kok sidang MK kemarin tidak dimasalahkan sama-sekali, dianggap tidak ada bukti tidak ada saksi,” kata Sasa menampakkan kekesalannya. “Harusnya wasit bisa adil, Om. Seperti dalam permainan sepak bola, kalau ada pemain yang ngawur dan main gasak hingga mencederai pemain lawan, dia pasti diganjar kartu merah dan harus keluar lapangan,” lanjutnya.

“Itu kan sepak bola di luar negeri, Sa, seperti Liga Premier, Liga Champions atau Piala Dunia. Sepakbola di sini kan beda.”

“Beda pripun, Om?”

“Loh, Sasa pasti masih ingat beberapa bulan lalu petinggi PSSI kita, juga beberapa pemilik klub dan pemain ditangkap polisi karena kasus kongkalingkong, kan? Pertandingan sepakbola yang melibatkan dana besar dari negara dan para sponsor, juga ditonton oleh jutaan orang baik langsung maupun melalui tivi, ternyata bisa diatur oleh para botoh alias penjudi dengan cara menyuap para wasit, pamain, petinggi klub dan pengurus PSSI. Pemenang pertandingan dan skornya bisa diatur sesuai keinginan botoh. Ingat to, Sa?”

“Iya masih ingat. Jinguk tenan. Tapi kan mestinya itu tidak terjadi pada Pemilu dan Pilpres yang katanya pesta demokrasi, Om?”

“Walah, Sa, kamu ini kok lupa dengan kata-katamu sendiri.”

“Yang mana?”

“Ojo gumunan, ojo kagetan. Itu kata-kata yang sering kamu ingatkan ke aku, lho.”

“Wah, tapi kali ini aku benar-benar heran kok, Om. Orang sudah kalah karena dicurangi, eeh lha kok masih dioyak-oyak diajak rekonsiliasi, disuruh ngucapkan selamat, dan diiming-imingi satu-dua jabatan menteri. Kalau tidak mau dibilang tidak legawa, tidak kesatria, tidak mengakui kekalahan  Lha wong jelas diuriki disuruh legawa. Puluhan juta pendukungnya jelas tidak mau, Om.”

“Termasuk Sasa, kan?”

“Ya termasuk Sampeyan ini….wkwkwk.”

“Aku justru heran sama kamu lho, Sa.”

“Pripun, Om?”

“Omongan politisi kok tok gagas, tok rasakke. Mbok nganti modyar kamu pasti akan kecele. Begini lho, Sa, kalau mereka bilang A, itu belum tentu A. Bisa jadi yang dimaksud B, C, D, atau bahkan X dan Z. ”

“Lha kalau polisi, jaksa, dan hakim kan bukan politisi, Om? Mereka penegak hukum. Jadi kalau bilang A tentu saja memang A, bilang B ya B.”

“Itu rak karepmu, Sa? Kamu juga harus ingat jer basuki mawa bea, lho.”

“Maksudnya?”

“Sa, jaman sekarang ini, untuk jadi pejabat atau tokoh yang bisa sering tampil di tivi,  semua pakai biaya. Tidak ada makan siang gratis, begitu istilahnya. Masuk jadi ASN atau anggota polisi mesti pakai biaya yang tidak sedikit. Mau naik pangkat harus pakai biaya juga. Begitu juga jaksa dan hakim, Sa. Sama saja dengan politisi, sama-sama pakai biaya. Untuk daftar jadi caleg harus bayar ke parpol. Untuk bisa maju jadi cabup, cagub, dan capres harus mendapat dukungan dari parpol. Itu pakai mahar cukup besar, Sa. Cuma bedanya kalau di politik calon-calon itu dipilih oleh rakyat. Makanya setiap menjelang pemilu para politisi sibuk nyiapkan amplop untuk membeli suara rakyat, alias nyogok rakyat. Iya, to? Kalau pejabat mau naik pangkat dan mendapat posisi bagus, yang penting dia harus pinter-pinter ndlosori atasan. Dan itu semua pakai biaya, Sa. Pakai mahar juga. Makanya orang kalau lagi menjabat harus pinter-pinter bermain, Jangan salah menempatkan diri, harus pinter bermain mata. Kalau tidak bisa jadi kere, gak cepat balik modalnya, Sa. Rugi sendiri.”

“Wah jiaan….nasib…nasib. Rakyat ingin ada perubahan agar hidup menjadi lebih baik kok dihalang-halangi, digagalkan. Jindul tenan…..”

“Sasa jangan lupa, disamping rakyat yang ingin ada perubahan, juga banyak pejabat dan penikmat kue kekuasaan yang ingin bertahan, lho. Mereka punya modal besar untuk mengamankan posisinya. Rakyat punya apa coba? Ora gablek opo-opo selain keinginan, niat baik, dan akal sehat. Jangan lupa juga bahwa masih banyak rakyat yang nyatanya masih gampang kesengsem amplop dan rayuan gombal. Iya to, Sa?”

“Terus bagaimana ini baiknya, Om?”

“Ikhlaskan apa yang sudah terjadi. Ingat, Sa, Gusti Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya.”

“Maksudnya?”

“Rakyat seperti kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas kacau dan rusaknya pengelolaan negara ini. Yang harus bertanggungjawab terutama adalah para politisi, para pejabat dan penegak hukum.”

“Lha kalau para ulama, wong-wong pinter dan cendikiawan, Om? Mereka juga harus bertanggungjawab, kan?”

“Ya pasti harus bertanggungjawab, Sa, tapi sebatas apakah dengan ilmunya itu mereka sudah melaksanakan tugas mengingatkan semua orang mana-mana perilaku yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang sesuai dengan tuntunan Tuhan dan mana yang dilarang. Bila sudah diingatkan tapi orang tetap melanggar dan mendustakan, ya serahkan saja pada Tuhan Yang Maha Hakim dan Maha Adil.”

“Om, lha kalau ulama dan cendikiawan malah ikut rebutan kekuasaan, njur pripun?”

“Wah ya bisa repot, Sa. Kebaikan dan kebenaran jadi samar, lamat-lamat, bruwet, kabur.”

“Bisa rusak-rusakan ya, Om.

Ah sudahlah, aku mau mikir keluargaku sendiri saja. Gak usah melu mumet mikir negara. Bekerja sebaik-baiknya sebagai tukang parkir sajalah. Dapat rejeki banyak disyukuri, dapat sedikit ya alhamdulillah. Gitu aja to, Om?”

“Betul itu, Sa. Kata kunci agar hidup ini bahagia ya cuma satu itu, bersyukur. Apapun yang terjadi disyukuri, tidak usah nggrundhel, tidak usah nggresula.”

“Njih, Om. Matur nuwun. Saya pamit dulu, ya.”

Sasa pun pulang mengayuh sepeda jengkinya. Sebentar lagi waktu maghrib. Anak-anak yang sedari tadi wira-wiri main sepeda sudah tak tampak lagi. Tentu mereka sudah di masjid dan siap-siap berebut speaker azan. Biarkan saja. Namanya juga anak-anak. Meski suara dan nadanya masih lugu dan kurang bagus, tapi merekalah yang akan memakmurkan masjid di masa-masa yang akan datang. Maka berilah kesempatan anak-anak berlatih mencintai masjid. Begitu pesan guru ngajiku dulu.

 

#serialsasa

 

 

__________________________________________________________

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah. 

Ilustrasi_-Nyantri.jpg?fit=1007%2C583&ssl=1
17/06/2019

Oleh: Yohanes Nasution*

Anak kami ada tiga. Yang sulung laki-laki, Cahya panggilannya, sudah lulus dari Gontor Ponorogo dan saat ini masih kuliah di Fisipol UMY semester (mau masuk) tujuh. Anak kedua putri, Zika panggilannya, baru lulus dari Gontor Putri pada Ramadhan kemarin dan mau meneruskan kuliah di UNIDA (Universitas Islam Darussalam) Gontor. Anak ketiga putri juga, Alya panggilannya, baru lulus SD dan saat ini sedang berjuang agar bisa diterima nyantri di Gontor Putri mengikuti jejak kakaknya.

Aku dan istriku sering mendapat pertanyaan dari teman tentang anak-anak kami yang nyantri di Pondok Gontor. Macam-macam pertanyaannya, tapi yang paling sering seperti ini, “Bagaimana cara supaya anak mau mondok di Pesantren?” Atau, “Anaknya sudah hafal berapa juz?” Atau, “Kalau masukkan anak di pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?”

Sungguh tidak mudah menjawab pertanyaan seperti itu karena itu soal mindset orang tua tentang pendidikan anak. Pada umumnya orang tua mencita-citakan anaknya setelah besar nanti menjadi dokter, insinyur, pegawai negeri, karyawan perusahaan dengan gaji besar, atau bahkan menjadi pejabat dan politisi kondang. Itulah makanya mereka memasukkan anaknya ke sekolah favorit sejak SD hingga SMA unggulan agar nanti bisa melanjutkan ke universitas terkenal. Bahkan ada juga ortu yang mencita-citakan anaknya menjadi artis terkenal, maka anak-anaknya diikutkan kursus musik, menyanyi, modelling, dsb, lalu si anak pun sering diikutkan lomba atau festival hingga menjadi juara dan bila beruntung bisa menjadi bintang/artis terkenal dan kaya raya.

Begitulah wajarnya orang tua menuntun anaknya agar kelak hidup sukses dengan profesi mentereng sesuai dengan konsepsi tentang sukses saat ini. Hal itu berbeda dengan wali santri yang memilih memasukkan anaknya ke Pondok Pesantren Gontor, misalnya. Kami, juga beberapa wali santri yang pernah ngobrol degan kami, pada umumnya hanya menginginkan anak-anaknya menjadi shalih dan shalihah. Tidak lebih. Tidak berani mencita-citakan anak akan menjadi ini menjadi itu seperti umumnya ortu. Kami hanya meyakini bahwa setelah lulus dari Gontor anak-anak mampu beradaptasi dengan dunia yang dihadapinya, entah dunia kampus/kuliah atau dunia kerja. Kami yakin hahwa anak-anak kami akan mampu istiqamah menghadapi dunia pergaulan yang penuh intrik, hoax dan fitnah rebutan hal-hal duniawi.

Kalau mindset atau konsepsi ortu tentang pendidikan anak masih standar alias konvensional, jangan masukkan anak ke Gontor. Berat, Bro. Anda pasti akan merasa kecele dan kecewa kalau tidak punya setelan layaknya seorang santri. Baru dalam proses pendaftaran saja Anda akan merasa kurang terhormat karena harus antri berhari-hari dan bermalam-malam tanpa fasilitas memadai. Ortu harus siap tidur klesetan di lantai bersama ribuan ortu dan calon santri lain, antri kamar mandi seperti jamaah haji sedang wukuf di Mina, antri makan di kantin yang dikelola santri klas 5-6 dengan menu seadanya, dsb. Bagi yang punya tenda agak lumayan bisa mendirikan tenda di teras gedung atau di halaman dan bawah pohon seperti orang camping sehingga agak punya privacy. Bagi yang datang duluan bisa menempati gazebo-gazebo yang dibangun di bawah pohon pinggir lapangan.

Begitulah, semua ortu calon santri harus bermental santri, sanggup hidup bersahaja setidaknya untuk beberapa hari sampai anaknya dapat kepastian diterima atau tidak. Bila anaknya diterima, ortu pun harus ikhlas anak diterima di Gontor Putri (GP)1, 2, 3 (ketiganya di Ngawi, Jatim), atau di GP 5 di Kediri. Harus manut. Tidak boleh protes. Kalau tidak manut, silahkan anak dibawa pulang seperti halnya anak-anak yang memang tidak diterima karena tidak lulus ujian seleksi masuk. Itulah ujian pertama bagi ortu santri Gontor.

Ujian berikutnya terjadi ketika harus berpisah dengan anak, meninggalkan anak hidup di pondok. Ini jelas berat, Bro, terutama ketika si anak nangis-nangis karena mungkin belum bisa enjoy di pondok. Namanya juga anak, harus berpisah dengan ortu tanpa fasilitas seperti di rumah yang serba komplit dan terpenuhi semua kebutuhannya. Maka tidak jarang ortu di rumah terus kepikiran anaknya sampai-sampai gak bisa makan enak karena membayangkan anaknya menderita di pondok. Padahal, pikiran dan kekhawatiran ortu semacam inilah yang justru membuat anaknya jadi gelisah dan tidak nyaman sehingga prosesnya menjadi santri terganggu. Di sinilah perlunya ortu harus TETEG dan TEGEL alias kuat hati dan tega mengikhlaskan anak berproses di pondok bersama ribuan teman barunya. Dan jangan lupa, sebenarnya anak-anak memiliki kemampuan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya dibandingkan ortu. Maka IKHLASKAN saja anak berproses di pondok. Percayalah bahwa pondok punya SOP pendidikan anak yang sudah teruji kedahsyatannya.

Pertanyaan berikutnya, “Anaknya di Gontor sudah hafal Al Quran berapa jus?” Perlu dipahami bahwa Gontor bukanlah Pondok Tahfidz sehingga tidak mewajibkan santrinya menghafalkan Al Quran. Ada banyak pilihan kegiatan santri di sana. Ada Pramuka, jurnalistik, sastra, bermacam-macam olah raga, qiro’ah/seni baca Al Quran, musik, pertamanan, kebersihan lingkungan, dan lain-lain, salah satunya adalah kegiatan tahfidz Al Quran. Biasanya anak akan mengambil kegiatan sesuai dengan minat dan bakatnya, meski ada juga yang sekadar ikut temannya. Boleh juga kalau ortu mengarahkan anaknya agar ikut kegiatan tahfidz, dan syukur bila si anak mau dan berminat. Kalau tidak berminat ya jangan dipaksakan.

Pertanyaan berikutnya, “Kalau masukkan anak ke pesantren, apa biar si anak jadi ahli agama, ustadz, atau kyai?” Sekali lagi, sejak awal kami tidak berani memproyeksikan anak akan jadi apa, kecuali jadi anak yang shalih-shalihah yang berbakti dan bisa mendoakan ortunya setelah meninggal nanti. Tidak lebih. Soal rejeki, pasti Allah SWT akan memberikan rejeki sesuai dengan kapasitas dan ikhtiarnya. Sudah ada ratusan ribu alumni Gontor. Mereka masuk ke berbagai sektor kehidupan. Ada yang jadi ulama seperti alm. K.H. Hasyim Muzadi (PBNU), Prof. Din Syamsuddin (Muammadiyah), alm. Dr. Nurcholis Madjid, dll. Ada juga yang jadi politisi ‘hebat’ seperti Hidayat Nur Wahid (PKS) dan Lukman Hakim Syaifuddin (PPP). Ada juga alumni/jebolan yang sulit diidentifikasi karena perannya yang menonjol/jenius di lintas sektoral dan istiqamah menemani umat seperti Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Ada juga yang dianggap ‘mbahnya teroris’ seperti Ustadz Abu Bakar Basyir yang hingga usianya yang sudah uzur pun masih dipaksa hidup di penjara. Ada juga yang jadi diplomat hebat seperti Aji Surya. Banyak juga alumni yang jadi udtadz dan pimpinan Ponpes di berbagai daerah. Bahkan, konon ada juga alumni yang jadi pimpinan/raja preman di satu kota besar.

Ah, jadi teringat puisi Kahlil Gibran, “Anakmu bukan anakmu. Dialah putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri….dst.”

#catatanwalisantrigontor
#sambilnemanianakdaftargontorputrimantingan

salaman.png?fit=1200%2C716&ssl=1
09/06/2019

Oleh: Yohanes Nasution*

“Om, atur sungkem taklim, sugeng riyaya Idul Fitri, sedaya lepat kula nyuwun pangapunten,” kata Sasa sambil menyalamiku dengan takzim tadi sore.

“Hiyo podho-podho, Sa. Salahku akeh banget neng awakmu. Aku yho njaluk pangapuramu. Mugo-mugo dosa awake dhewe dingapura dening Gusti Allah. Aamiin….,” jawabku dengan susunan kata sebisaku.

Sebenarnya sangat tidak enak menerima kunjungan dan badan atau ucapan lebaran dari sahabatku tadi. Usia Sasa lebih tua dariku, maka mestinya aku yang sowan ke rumahnya untuk menghaturkan permohonan maaf kepadanya. Syukur-syukur bisa membawakan buah tangan untuk keluarganya. Beda soal kalau, misalnya, Sasa masih terhitung kerabatku dan awu atau garis nasabnya lebih muda dariku. Maka dia yang harus sowan, sebagaimana banyak ponakan-ponakanku yang datang berlebaran ke rumahku meski usianya lebih tua. Begitulah budaya kami, budaya wong Jowo di pedesaan yang masih setia dengan tradisi.  Sasa sama sekali tidak ada kaitan kerabat denganku. Kami hanya sahabat, teman glenak-glenik dan rerasan tentang berbagai hal. Itu pun aku lebih banyak berposisi sebagai ember penampung limbah dari kegelisahannya yang sering menggumpal. Lha kok dia yang datang ke rumahku. Sungguh tidak enak rasanya.

“Sa, mestinya aku yang ke rumahmu, tapi betul-betul memang belum sempat karena masih banyak tamu,” kataku sambil mempersilakan Sasa minum kopi dan mencicipi kue di depannya.

“Gak apa-apa, Om. Ndelalah waktuku memang longgar, maka aku yang sowan ke sini,” jawabnya sambil tangannya bersiap menyulut rokok.

Sambil menikmati kopi sore, kami mulai ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai hal yang ringan-ringan. Sasa bercerita tentang puasanya yang tahun ini bisa full 30 hari tanpa bolong, tentang sholat tarawih di mesjid kampungnya yang tetap ramai sejak awal hingga akhir Ramadhan, tentang anak-anak yang rajin tadarus setiap bakda tarawih, tentang sholat Ied di lapangan yang bacaan imamnya sangat bagus dan khotibnya tidak nyinggung politik sama-sekali, tentang jalan Boyolali-Jatinom-Klaten yang padat merayap sejak 3 hari sebelum lebaran, dan sebagainya.

Kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba datang ponakanku yang biasa dipanggil ustadz Wildan karena sering ngisi pengajian di kampung-kampung, pintar qiroah dan muazin utama di Mesjid Agung.

“Assalaamu’alaikum….,” Wildan mengucap salam dan kami jawab “Wa’alaukumasalam.”

“Dari mana, Wil?,” tanyaku.

“Dari rumah, Om. Tadi kulihat Pak Sasa lewat depan rumah, kupikir pasti mau ke sini. Makanya aku ke sini pengin ikut ngobrol, Om,” jawab Wildan.

“Wah kebetulan ada ustaz ini. Nderek tepang, saya Sasa tukang parkir Soto Kartongali,” Sasa mencoba memperkenalkan diri.

“Njih, Pak Sasa. Siap. Saya sudah kenal Njenengan kok, si juru parkir teladan Nasional dari Jolotundo. Ngaturaken Sugeng Riyadi, sedaya lepat nyuwun pangapunten.”

“Njih sami-sami….tapi Ustadz mbok jangan ngece, to.”

“Bukan ngece, Pak Sasa. Memang Njenengan pantas mendapatkan gelar itu. Saya ini sudah biasa bepergian ke berbagai kota, sudah ketemu banyak sekali juru parkir, tapi belum ada yang profesional seperti Sampeyan. Iya to, Om?,” Wildan minta persetujuanku.

“Profesional bagaimana, Ustadz? Lha wong saya ini ya cuma bekerja, ngibadah, melakukan yang seharusnya saya lakukan sebagai tukang parkir, memberi aba-aba supaya orang bisa markir kendaraan dengan rapi dan nyaman.”

“Lha ya itu kelebihan Pak Sasa.”

“Kok kelebihan?”

“Pak Sasa bekerja dengan hati yang tulus dan total membantu orang mau parkir atau keluar dari parkiran. Profesional. Bahkan orang-orang bilang Pak Sasa tidak mata-duitan, tidak butuh duit, karena kadang menolak dikasih uang parkir.”

“Wah mbok jangan gitu to, Ustaz. Saya masih butuh duit, kok. Makanya bekerja tiap hari.”

“Pak Sasa, semua orang memang butuh duit. Tapi banyak orang yang bekerjanya tidak sungguh-sungguh dan tidak jujur. Tidak profesional. Banyak orang hanya mencari duit, tapi tidak serius kerjanya. Tidak tulus dan terkesan tidak ikhlas. Bahkan karena sedemikian penginnya cepat kaya, pengin cepat punya harta banyak, dia berani mengambil yang bukan haknya.”

“Berani mencuri ya, Ustaz?”

“Ya mencuri, merampok, atau korupsi. Karena apa, Pak Sasa? Karena orang tidak punya lagi sifat jujur dan ikhlas. Puasa Ramadhan kita sebenarnya untuk melatih jujur dan ikhlas itu. Coba kalau kita tidak jujur dan tidak ikhlas, bisa saja kita sembunyi di kamar agar tidak ada orang melihat kita makan minum atau merokok. Iya to, Pak Sasa? Tapi sayangnya setelah Ramadhan kita tidak kuat untuk istiqamah.”

“Iya bener itu, Ustaz. Jan-jane puasa itu memang berat kok, ya.”

“Memang berat, Pak Sasa. Makanya setelah Lebaran orang jadi merasa sudah bebas lagi melakukan apa saja, bahkan berani melakukan sesuatu yang jelas dilarang.”

“Wah alhamdulillaah, Om, beruntung sekali sowanku ke sini sore ini bisa dapat ilmu dari Ustadz Wildan. Matur nuwun ya, Ustaz. Kapan-kapan kalau Njenengan pas nyoto, saya mau ngaji lagi.”

Obrolan sore pun kami akhiri karena Wildan mau adzan maghrib. Sasa pamit pulang juga karena harus bertugas menjadi imam maghrib di masjid kampungnya. Donga-dinonga yho, Sa….

 

#serialsasa

______________________________________________________

 

*Penuils adalah Anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah

ilustrasi-01.jpg?fit=450%2C300&ssl=1
26/05/2019

Oleh: Yohanes Nasution*

Jinguk tenan Sasa. Kali ini guyonannya ekstrim banget. Radikal. Jorok. Guyonan semacam ini perlu diwaspadai, karena bisa dianggap mengancam persatuan dan kesatuan, tidak pro-NKRI. Bisa kena pasal menyebarkan kebencian. Wah gawat. Aku harus hati-hati ngobrol dengannya. Tidak boleh terpancing biar selamat.

“Jaman sekarang memang aneh ya, Om,” kata Sasa menyambutku di parkiran tadi pagi.

“Aneh bagaimana? Ayo kita duduk dulu di dalam. Sekali-sekali kita nyoto bareng, Sa,” Sasa pun nurut, mengikutiku masuk ke ruang dekat dapur yang lebih sepi. Dalam tempo singkat, dua mengkok soto dan dua gelas teh nasgithel telah tersaji di meja kami. Harus kuakui, meski warung ini tradisional, tapi pelayanannya cepat dan profesional. Sayang sekali, dalam kategori bisnis kuliner, istilah fast-food hanya untuk jenis makanan impor. Sasa menyebutnya ‘panganan Londo’. Soto Kartongali tidak termasuk.

Sambil menyantap soto, kuulangi lagi pertanyaanku tadi, “Sing aneh opo, Sa?”

“Begini, Om. Kita ini dari dulu kok cuma diiming-imingi, dipameri, disuguhi susu tetangga, ya.”

“Apa? Susu tetangga? Wahh…tenane, Sa? Asyik itu….”

“Asyik apanya? Lha wong cuma dipameri thok, je…..”

“Maksudnya?”

“Ya namanya susu tetangga, Om, meski tampaknya montok, ranum-ranum, empuk, menthul-menthul, tapi gak bisa kita pegang. Cuma bisa nyawang thok.”

“Gak boleh dipegang-pegang ya, Sa?”

“Jelas gak boleh, Om. Edan, po?”

“Ya sudah gak usah disawang, Sa. Biar saja dibuka-buka, digleh-glehke, diumbar-umbar di depan mata. Nanti dia juga capek sendiri kalau kita cuekin….”

“Eman-eman, Om. Lumayan masih bisa nyawang…”

“Nyawang sambil ngeleg ludah? Mesakke…..”

” Tapi masih mending susu tetangga daripada…..”

“Daripada apa?”

“Daripada janji-janji para politisi yang empuk-eyup setiap musim kampanye, yang akan nurunkan harga-harga sembako, akan nurunkan biaya pendidikan, pajak listrik, bbm, biaya kesehatan, dan sebagainya.”

“Sik to, Sa, kamu ini ngomong susu tetangga kok tekan janji politisi?”

“Lah apa bedanya, Om?”

“Ya beda….”

“Sama saja.”

“Kok sama?”

“Ya kan sama-sama gak bisa dipegang to, Om? Apa Sampeyan berani pegang susu tetangga? Tidak, kan? Takut kena pasal pelecehan seksual, kan?”

“Ya jelas, Sa. Ngapain lihat-lihat punyanya tetangga? Tiwas ngelu ndase, Sa. Makanya haram, Sa.”

“Janji politik juga begitu.”

“Begitu, piye?”

“Ada sekian banyak janji waktu kampanye dulu. Coba mana yang sudah dilaksanakan? Gak bisa dipegang, Om.”

“Aku juga gak hafal janji-janji kampanye, Sa. Sudah lupa semua. Jadi gak ngeh juga apa yang sudah dilaksanakan dan yang belum.”

“Ya itu masalahnya.”

“Maksudmu?”

“Karena orang gampang lupa, makanya negara gak maju-maju. Dipameri susu tetangga saja wis dho mbanyaki, kesenengen. Apalagi ditambahi amplop nyeket ewu, langsung semrinthil, klepek-klepek. Terus lupa segalannya. Diapusi terus kok dho seneng. Jiaannn…..”

Soto di mangkok sudah tandas. Teh nasgithel juga sudah habis. Rokok sebatang pun hampir tuntas. Saatnya Sasa harus kembali ke tepi jalan melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara Soto Karto Ngali. Tak perlu lagi kulayani omongannya yang mulai ngkantur seperti orang ngomyang.

“Wis yho, Sa, kapan-kapan dilanjut ngobrolnya. Aku mau pulang dulu.”

“Nggih, Om. Matur nuwun sudah ditraktir sarapan….”

“Aku sing matur nuwun, kali ini Sasa mau nemani makan. Sudah sana kerja lagi.”

“Siap, Ndan,” jawab Sasa dan langsung berlari sambil masang sempritan di bibirnya.

Aku pun menuju kasir, antri. Lagi-lagi kunikmati cara hitung quick-count ala Kang Panut dan respon pembeli yang beda-beda.

#serialsasa

 

Penulis: Anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.

Quick-Count.jpg?fit=1200%2C783&ssl=1
03/05/2019

Oleh: Wahyudi Nasution*

Jam 6.30 pagi, warung masih sepi, baru ada dua mobil plat H dan AB di parkiran. Sasa pun belum tampak bertugas. Aku langsung duduk di meja favoritku, meja yang berada tepat di depan meja tempat Kang Panut meracik soto sekaligus sebagai kasir pelayanan pembayaran. Memang dari dulu aku suka duduk di sana karena sangat strategis bisa melihat semua pengunjung. Mana tahu ada tetangga, teman, atau kenalan yang bisa kutraktir, atau bila sedang beruntung justru aku yang ditraktir. Dari tempat itu juga, aku suka memperhatikan cara Kang Panut menghitung pembayaran tanpa memggunakan kalkulator, alias mencongak, teknik hitung cepat yang diajarkan waktu SD. Kadang Kang Panut tampak pakai menulis di buku tulis, seolah-olah menulis angka-angka dan menjumlahnya, tapi sesungguhnya cuma akting. Lha wong belum menjumlah kok sudah bisa menyebut angka yang harus dibayar konsumen. Pasti hanya kasir cerdas yang melakukannya.

“Soto dua, teh dua, kepala satu, dada-menthok satu, perkedel dua, tempe empat,” kata pembeli sambil membuka dompetnya.

“Seket, Mas.”

“Eh, tambah karak 6, Pak ” kata pembeli lagi.

“Nggih, Mas, seket mawon,” jawab Kang Panut tanpa memandang pelanggannya sambil tangannya tetap asyik mengisi mangkok-mangkok di depannya.

Di waktu yang lain, salah satu dari rombongan gowes menuju kasir, “Sampun, Pak.”

“Nggih, Mas. Tambah apa saja?” tanya Kang Panut.

” Soto enam belas, teh panas enam, es-teh sepuluh, tahu sepuluh, tempe dua belas, karak tiga puluh lima,” kata pegowes mewakili teman-temannya.

“Nggih, Mas, dua ratus mawon.”

Sering kulihat orang senyum-senyum setelah mambayar makanan, mungkin merasa murah sekali. Kadang juga ada ibu-ibu yang cemberut, mungkin merasa kemahalan dan menganggap mencongak Kang Panut asal-asalan.

Aku jadi teringat, Sasa pernah cerita tentang Kang Panut yang dalam bisnisnya menganut prinsip tuna sathak bathi sanak. Laba sedikit atau bahkan rugi pun gak masalah, yang penting teman dan pelanggannya banyak. “Jangan sampai ada pelanggan kapok makan di sini,” begitu pesan Kang Panut pada semua karyawannya, termasuk Sasa yang bertugas mengatur parkir. Logika Kang Panut sederhana, tetapi cukup jitu sebagai kiat bisnis. Bila pelanggannya banyak, orang jualan apapun pasti tidak akan rugi. “Dan jangan pelit pada pelanggan agar pelanggan tidak pelit pada kita,” pesan Kang Panut di waktu lain.

Dengan naluri dan prinsip bisnis yang diterapkannya itulah soto Kartongali bisa berkembang pesat dan banyak pelanggannya hingga kini. Mereka tuman karena memang sotonya bukan hanya enak di lidah dan nyaman di perut, tapi juga bikin gobyos dan gedhek-gedhek karena murah harganya.

“Tapi itu kan cuma urusan jualan soto, Om. Punya Kang Panut sendiri. Kalau salah hitungan, yang rugi juga cuma Kang Panut atau hanya satu-dua pembeli yang merasa dirugikan,” kata Sasa.

“Maksudmu?,” tanyaku.

“Lha kalau hitungan ratusan juta suara hasil Pilpres dan Pemilu, lha kok cuma ngandalkan mencongak, ya pasti awur-awuran to, Om? Beresiko tinggi. Bisa kacau, bisa bikin rakyat protes, atau malah gegeran.”

Jindul tenan. Ternyata Sasa menghubungkan mencongak ala Kang Panut tadi dengan    quick-count lembaga-lembaga survey Pemilu/Pilpres yang konon sangat ilmiah. “Tapi benar juga Sasa,” pikirku, “Nyatanya memang hasil QC justru meresahkan masyarakat sehingga dilarang tayang di tivi.”

“Menurut Sampeyan, kenapa lembaga-lembaga ahlul-mencongak itu seperti berlomba mengumumkan hasil hitungannya?”

“Apa ya, Sa? Gak tahu aku.”

“Menggiring hati dan pikiran rakyat, Om.”

“Maksudmu?”

“Inilah politik, bukan jualan soto.”

“Lha iya. Tapi apa maksudmu menggiring hati dan pikiran rakyat tadi?”

“Ya ini cuma dugaanku lho, Om. Mungkin salah.”

“Iya, tolong jelaskan apa maksudmu.”

“Ada orang pintar, baik, dan jujur. Ada orang pintar, tapi tidak baik dan tidak jujur.”

 “Iya tahu….”

“Ada orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk berbuat kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya. Tapi juga banyak orang pintar yang menjual kepintarannya justru untuk membantu kejahatan.”

“Wah kok jadi mbulet omonganmu, Sa.”

“Makanya jangan mudah percaya pada orang yang kelihatan pintar, Om. Wah kalau omong di tivi koyo yak-yako, seakan-akan paling pintar agar penonton percaya. Padahal sesungguhnya hanya tukang sihir, Om.”

“Tukang sihir piye?”

“Ya menyihir rakyat agar percaya siapa pemenangnya. Namanya juga sihir, Om, maunya pemenang sesuai maunya si tukang sihir atau para botoh pengguna jasanya.”

Tak terasa pagi sudah beranjak siang, hampir pukul 8.00. Aku harus pulang membuka pintu rumah. Pasti karyawan Bunda Collection sudah pada datang dan belum bisa masuk ke workshop.

“Bali sik yho, Sa,” aku pun beegegas pamit ke sahabatku. Tanpa menunggu jawaban Sasa, langsung kutancap gas supaya cepat sampai di rumah.

#serialsasa

 

 

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah

USREG.jpg?fit=1200%2C757&ssl=1
30/04/2019

Oleh: Wahyudi Nasution*

Ngobrol dengan Sasa selalu jadi asyik karena sering terlontar kosa kata lama yang sudah jarang terdengar. Kadang dia terkesan seperti seorang penyair, teliti memilih diksi untuk menyatakan pikiran dan perasaannya. Kadang juga seperti seorang lawyer yang pilihan diksinya tidak mengundang tafsir ganda.

Seperti malam ini, dia datang selepas isya’ sesuai janjinya tadi pagi untuk ngopi-ngopi. Tapi bukan Sasa kalau obrolannya yang ngalor-ngidul tidak nyrempet-nyrempet situasi politik terkini, seputar Pemilu/Pilpres 2019 beberapa hari lalu, sejak masa kampanye yang berbulan-bulan hingga proses penghitungan suara yang terkesan tidak rofesional dan amburadul. Seperti biasa, aku pun lebih sering menjadi pendengar yang baik, yang hanya sesekali nyenggaki untuk sekedar menjaga agar omongannya tidak nggladrah ke mana-mana.

“Ibarat pertandingan sepakbola, Om, wasit kok tidak kunjung niup peluit panjang tanda permainan sudah usai, ya. Tim sukses, pemilik klub, para wasit, dan PSSI malah usreg sendiri. Rakyat yang jadi penonton ini jadi capek to, Om?”

“Ini politik kok, Sa. Bukan sepakbola.”

“Aku cuma khawatir kalau penonton jadi gak sabar lalu ngamuk.”

“Ngamuk piye?”

“Om, penonton juga tahu ada yang tidak beres dalam pertandingan ini? Kalau dalam sepakbola, para pemain dan pemilik klub bisa disogok supaya mau mengalah. Wasit juga disogok supaya mau kerjasama ngatur pertandingan agar pemenangnya sesuai maunya para mafioso sepakbola.”

“Ini bukan sepakbola kok, Sa.”

“Lha ya itulah masalahnya, Om. Ini memang bukan sepakbola yang penontonnya tidak terlibat. Tapi ini politik. Pemilu dan Pilpres. Semua rakyat dilibatkan dalam pertandingan untuk memilih penyelenggara negara. Kalau ada yang tidak beres, misalnya panitia Pemilu melakukan manipulasi suara, tentu rakyat bisa ngamuk karena diapusi.”

“Sa, bagaimana kalau kita mencoba bersabar dan percaya saja pada panitia yang tentu juga mumet menghitung suara sampai selesai?”

“Rakyat ini kurang sabar apa to, Om? Sudah berbulan-bulan diberondong kampanye para Caleg dan Capres-Cawapres. Sudah berbulan-bulan kita diiming-imingi, bahkan ada yang diancam-ancam supaya milih ini milih itu. Berulang-ulang rakyat ikut pemilihan-pemilihan, tapi ternyata cuma kapusan terus. Meski begitu, Om, rakyat masih berharap akan ada perubahan, berharap akan ada perbaikan pengelolaan negara.  Makanya kita kemarin mau ikut Pemilu-Pilpres.”

“Rakyat juga seneng disogok to, Sa? Ayo ngaku saja, kemarin kamu dapat amplop berapa, lalu milih siapa? Wkkk…..”

“Weelha malah diece.”

“Tentu Sasa ingin pemenangnya yang kemarin ngasih amplop, to? Hayo ngaku saja…..”

“Jindul ik…”

“Ngene lho, Sa. Siapapun Calegnya, siapapun Capres-Cawapresnya, yang kemarin sudah mengeluarkan duit banyak tentu ingin terpilih dan menjadi pemenang. Apalagi yang sedang berkuasa, tentu akan menggunakan kekuasaannya agar bisa menang dan kembali berkuasa.”

“Ya pasti, Om.”

“Yang belum berkuasa dan ingin berkuasa tentu juga berjuang keras mengerahkan segala daya agar bisa memenangkan pertandingan. Bener gak, Sa?”

“Iya ya, Om. Makanya usreg. Mbokya ada yang mau mengalah saja biar segera rampung masalahnya, ya.”

“Kalau mengalah dalam pertandingan, itu namanya tidak sportif, Sa. Ngapusi pendukung dan pemilihnya.”

“Iya ya, Om. Jadi biarkan saja mereka usreg terus, ya?”

“Lha kan sudah ada jadwalnya kapan penghitungan suara ini harus selesai dan diumumkan siapa pemenangnya. Sabar sik to, Sa.”

“Ah sudahlah, Om. Aku mau pulang dulu. Mudah-mudahan masalah tidak semakin ngombro-ombro sehingga rakyat bisa sabar dan tidak ngamuk. Kalau harus ngamuk, aku juga masih siap kok, Om. Sudah lama tidak ngantemi orang….hahahaa.”

Sasa pun langsung pulang, nggenjot sepeda jengki andalannya. Malam sudah cukup larut, saatnya menuju peraduan.

 

#serialsasa

 

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah

 

 

Ilustrasi-kualitas-pemilu.jpg?fit=1200%2C819&ssl=1
22/04/2019

Oleh: Wahyudi Nasution×

Jam 6 pagi, warung baru buka dan masih sepi. Sasa belum tampak batang hidungnya. Memang, bila pas hari libur, biasanya setelah jam 7 baru banyak pembeli. Dimulai para pegowes dari berbagai penjuru yang mampir untuk sekedar istirahat dan sarapan sebelum melanjutkan perjalanan.

Lalu datang juga beberapa rombongan keluarga dari luar kota yang sengaja datang menikmati sarapan soto klangenan. Begitulah, warung Soto Kartongali biasa jadi jujukan bagi orang yang ingin sarapan pagi sambil istirahat. Lalu mereka tuman kembali lagi di lain waktu karena rasa soto yang khas dan bikin gedhek-gedhek.

Karena masih sepi, kulihat Yu Semi yang biasa bertugas menggoreng tahu-tempe masih bisa ngobrol dan gojegan dengan teman-temannya. Tanpa sengaja nguping, aku yang kebetulan duduk di ruangan dekat dapur bisa mendengar dengan jelas obrolan mereka. Walaah, ternyata emak-emak dapur sedang me-review Pemilu dan Pilpres dua hari lalu. Kudengarkan obrolan mereka sampil menikmati soto dan teh nasgithel.

“Kemarin kamu dapat amplop berapa, Mar?” tanya Yu Semi pada Yu Marni.

“Lumayan, Yu. Dapat lima,” jawab Yu Marni.

“Isinya berapa?”

“Ada yang 20, 25, 30, dan ada yang 50. Lumayan bisa buat nyangoni sekolah anakku.”

“Kalau kamu dapat berapa, Sri?,”  Yu Semi tanya pada si Sri yang biasa bertugas nyuci mangkok, sendok-garpu, dan gelas.

“Dapat tiga, Lek. Yang satu isi 30 ribu, yang dua isi 50 rb. Lumayan,” jawab si Sri.

“Kalau kamu dapat berapa, Tin?” Yu Semi tanya lagi ke Tini pelayan yang paling muda usia.

“Di desaku semua cuma dapat satu amplop, Mbokde. Isinya 50 ribu. Tapi masjid kami sudah dibelikan karpet bagus sebelum coblosan,” jawab Tini sambil tangannya ngelap sendok dan garpu.

“Lumayan itu, Tin. Bisa dipakai bersama-sama dan pasti awet.”

“Iya, memang selama ini masjid kami masih anyep karena belum ada karpetnya. “Kalau di tempat Mbokdhe bagaimana?,” Tini balas bertanya.

“Di tempatku gak ada amplop, Tin. Tapi ada satu caleg yang janji mau belikan tenda setangkep. Caleg lainnya janji mau belikan kursi lipat 50 buah.”

“Masih janji semua to, Mbokdhe?”

“Ya masih janji, tapi karena bapak-bapak pengurus RT sudah percaya dan mantap, ya semua warga mendukung.”

“Kalau nanti calegnya gagal bagaimana, Mbokdhe? Kan gak jadi dapat tenda-kursi?”

“Ya gak apa-apa, Tin. Sebenarnya kami juga tidak minta kok. Kalau mereka tidak jadi, tidak terpilih, ya mending gak usah ngasih saja. Mesakke, Tin. Caleg-caleg itu pasti sudah habis banyak duitnya.”

“Iya ya, Yu,” Yu Marni menyahut, “Mesakke. Apalagi kita ini tiap bulan sudah dapat beras dan telur PKH. Banyak juga yang masih dapat bantuan pendidikan dan kesehatan. Bantuan PKH yang biasanya dibagikan akhir bulan, kemarin sudah kita terima sebelum Pemilu.”

“Lha iya, Mar. Makanya kita ini harus manut sama Pak Kades dan mas-mas pendamping PKH. Disuruh milih ini ya milih ini, disuruh milih itu ya milih itu. Daripada nanti gak dapat PKH lagi, to?”

“Kalau di tempat Pakdheku malah lebih enak lagi, Mbokdhe.”

“Lebih enak bagaimana, Tin?”

“Sebelum coblosan sudah dapat PKH dan dibagi amplop 50 ribuan. Pas coblosan semua datang ke TPS hanya untuk duduk, makan-makan, dan ngobrol. Para petugas TPS yang bekerja nyobloske.”

“Wah, itu namanya bukan Pemilu, Tin. Itu andrawina, resepsi, pesta.” Terdengar gelak-tawa orang-orang dapur.

“Lha katanya memang pesta, Mbokdhe? Pesta demokrasi. Semua diundang ke TPS. Kita pun meluangkan waktu untuk datang. Lumrah kalau ada makan-makan.” Kembali terdengar gela-tawa emak-emak dapur Kartongali.

Kulihat di ruang sebelah sudah penuh pembeli. Aku pun teringat harus segera pulang karena ada kerjaan menunggu. Setelah bayar ke Kang Panut di ruang depan, aku langsung ambil sepeda dan siap pulang dalam kondisi perut hangat dan badan masih gobyos bersimbah keringat.

“Loh, Om, kok tumben mruput pagi-pagi ke sini? Kok naik sepeda?” Rupanya Sasa sudah bertugas di tempatnya sejak tadi. Untung dia gak tahu aku ada di dalam.

“Iya, Sa. Ethok-ethoke olah raga gowes sambil nyoto,” jawabku sambil lalu.

“Nanti malam aku sowan ke rumah ya, Om. Tolong disiapkan kopinya…hahahaa.”

“Siap, Sa. Tenan, lho, kutunggu bakda isya’,” jawabku sambil mancal sepeda meninggalkan Sasa.

 

#Serisasa

*Penulis adalah Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah

Nurkahmis-Alfi.jpg?fit=782%2C509&ssl=1
30/09/2018

Oleh: Nurkhamid Alfi*

Setidaknya ada dua peristiwa besar yang terjadi minggu kemarin, dimana dulu, sebelum terjadi, sempat menjadi perbincangan hebat di publik. Bahkan banyak yang mencibir, baik di media “nyata” maupun “maya” melalui sosial media.

Memang, dengan dalih demokrasi orang bisa berbicara apa saja. Setiap orang bisa menjadi “wartawan”. Bebas menulis, tetapi tanpa konfirmasi. Media sosial telah dipakai untuk membangun opini dan persepsi masyarakat, tanpa adanya verifikasi dan konfirmasi. Publik sulit mengetahui keabsahan dan kebenarannya. Celakanya, publik dengan perilaku instan, sering gampang menelan informasi apa adanya.

Sehingga, pada lingkungan publik sering tercipta disinformasi akibat pemberitaan bohong. Berita hoax berseliweran nyaris 24 jam tanpa henti. Masuk dan “menancap” di kepala publik.

Peristiwa pertama adalah, ditutupnya secara formal reklamasi di Teluk Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, secara resmi telah menerbitkan Surat Keputusan No. 1409/2018, sebagai dasar mencabut izin prinsip 13 pulau reklamasi yang dilakukan oleh Pengembang Besar, seperti PT Agung Podomoro.

Namun demikian, masih ada 4 pulau yang tidak dicabut, alias dibiarkan untuk berkembang, termasuk di dalamnya yang dimiliki oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro), BUMD Pemprov DKI.

Sebenarnya, hampir semua kota-kota besar di dunia, dalam mengembangkan kawasan modern, selalu memakai sistem reklamasi. Ketika saya masuk Hongkong pertama kali di tahun 90-an, negara-kota itu sedang gencar-gencarnya meng-urug pantainya untuk dijadikan sebuah kawasan komersial. Begitu juga dengan Shanghai, China . Apalagi Singapura.

Hal ini dilakukan karena disamping persediaan lahan kosong yang semakin berkurang di kota-kota besar, menata kawasan baru hasil reklamasi relatif lebih mudah. Mudah membikin sanitasi. Mengatur arus transportasi dan efisiensi pemanfaatan lahan bisa lebih baik. Pendeknya, menata kawasan agar lebih indah dan sehat dengan perangkat tata kota modern lebih bisa diwujudkan pada wilayah reklamasi. Sehingga tercipta peradaban modern dalam tataran sosial dan komersial. Ingat. Membangun peradaban membutuhkan uang. Peradaban identik dengan fasilitas.

Tetapi reklamasi membutuhkan investasi yang sangat tinggi. Pemprov, dimanapun itu, selalu bekerjasama dengan pengembang sebagai investornya. Hanya saja, basic design keperuntukkan dan rencana tata ruang harus dikompromikan. Pemprov, harus berorientasi pada publik sementara Pengembang harus untung. Kedua titik yang bertolak belakang ini yang harus ditata secara detail. Sehingga reklamasi akan berjalan sesuai keinginan stake holders.

Makanya, Gubernur Anies sedang menyiapkan Raperda baru. Aturan yang lebih baik dan adil. Baik belum tentu adil. Begitu sebaliknya. Raperda itu terkait dengan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta dan Rencana Zonasi Wilayah Pesisirdan Pulau-Pulau Kecil.

Kemudian peristiwa kedua yang menyedot energi publik adalah akuisisi Freeport. Seperti mimpi selama 50 tahun menjadi kenyataan. Ini bukan basa-basi lagi. Ini kenyataan. Sekali lagi, kenyataan. Ibarat prosesi perkawinan, sudah tidak tahap melamar lagi. Pengantinnya sudah duduk di pelaminan karena prosesi ijab-kabul telah usai.

Pemerintah Indonesia, melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum – Persero) telah resmi menyepakati akta jual beli 51% kepemilikan saham Freeport McMoran Inc. dan hak partisipasi Rio Tinto di PT Freeport Indonesia.

Sales Purchase Agreement (SPA) baru saja ditandatangani kedua belah pihak. Ini seperti tandatangan di buku Nikah bagi pasangan suami-istri. Sementara proses sebelumnya, yakni, Head of Agreement (HoA), ibarat kedua calon dalam proses melamar. Jadi sangat jelas dan nyata. Tidak bisa lagi disebut basa-basi.

Karena, sistem pembayaran divestasi sebesar US$ 3,85 miliar masuk dalam klausal SPA, dimana Inalum akan menepatinya. Pembayaran akan dilakukan pada akhir November tahun ini. Tentu, saya tidak mau menulisnya sampai detail teknis, bagaimana prosesnya dari MoU, lantas HoA, dan akhirnya SPA. Sebagai profesional di bidang investasi, sedikit banyak saya tahu. Sangat rumit dan perlu kerja keras. Itu saja yang ingin saya gambarkan dalam tulisan saya ini.

Yang terpenting adalah ini: Tantangan pasca akuisisi, yakni Memilih Direksi PT Freeport. Hal ini adalah kunci. Direksi adalah “ruh” kegiatan usaha dalam sebuah perusahaan, apalagi perusahaan tambang raksasa seperti Freeport ini.

Tantangan lainnya adalah kontiunitas hasil tambang yang didapatkan selama ini. Jangan sampai kejadian Pertamina di bawah komando Karen Agustiawan terulang lagi, hingga akhirnya menjadi skandal yang saat ini sedang ditangani Kejaksaan- dengan Karen menjadi tersangka.

Ini memang kejadian tragis bagi seorang profesional. Bagaimana mungkin corporate action ditarik ke ranah hukum? Sebenarnya hal yang biasa terjadi di sebuah korporasi, jika anda ingin high return dalam sebuah investasi, maka anda harus berani mengambil high risk high capital.

Sehingga ketika Pertamina mengakuisisi 10% aset milik ROC Oil Company (ROC) di Blok Basker Manta Gummy Australia (BMG) dengan nilai US$ 30 juta. Resikonya adalah rugi. Tetapi, Direksi Pertamina di bawah Karen telah berhasil masuk dalan Fortune 500 dengan laba dua kali lipat. Saya ulangi, dua kali lipat. Ini susahnya kerja di BUMN Indonesia, kerja korporasi tidak hanya memakai logika korporasi, tetapi “harus” melewati aturan prosedur ketat, yang seringkali membuat kerja management tidak lincah dan lama.

Ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Inalum. Apalagi, Direksi baru Freeport harus siap-siap bertransisi dari operasional tambang terbuka menuju tambang bawah tanah. Setelah operasional Open Pit Grasberg berakhir, seluruh proses penambangan akan beralih ke tambang bawah tanah. Ini membutuhkan teknologi baru dan investasi besar. Selama masa transisi ini, diperkirakan memakan waktu 4 tahun. Produksi hasil tambang diperkirakan turun secara drastis, sampai tahun 2022 normal kembali setelah empat tambang bawah tanah PT Freeport beroperasi penuh.

Tapi saya yakin. Para profesional Inalum adalah putra-putri terbaik, yang mampu menjawab semua tantangan ini, dan menjadikan Indonesia sebagai Negara gagah perkasa, berdiri sama tinggi dengan negara-negara maju lainnya. Semoga…!

 

_________________________

Penulis adalah profesional yang bekerja di perusahaan asing/ Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta.