Quick-Count.jpg?fit=1200%2C783&ssl=1
03/05/2019

Oleh: Wahyudi Nasution*

Jam 6.30 pagi, warung masih sepi, baru ada dua mobil plat H dan AB di parkiran. Sasa pun belum tampak bertugas. Aku langsung duduk di meja favoritku, meja yang berada tepat di depan meja tempat Kang Panut meracik soto sekaligus sebagai kasir pelayanan pembayaran. Memang dari dulu aku suka duduk di sana karena sangat strategis bisa melihat semua pengunjung. Mana tahu ada tetangga, teman, atau kenalan yang bisa kutraktir, atau bila sedang beruntung justru aku yang ditraktir. Dari tempat itu juga, aku suka memperhatikan cara Kang Panut menghitung pembayaran tanpa memggunakan kalkulator, alias mencongak, teknik hitung cepat yang diajarkan waktu SD. Kadang Kang Panut tampak pakai menulis di buku tulis, seolah-olah menulis angka-angka dan menjumlahnya, tapi sesungguhnya cuma akting. Lha wong belum menjumlah kok sudah bisa menyebut angka yang harus dibayar konsumen. Pasti hanya kasir cerdas yang melakukannya.

“Soto dua, teh dua, kepala satu, dada-menthok satu, perkedel dua, tempe empat,” kata pembeli sambil membuka dompetnya.

“Seket, Mas.”

“Eh, tambah karak 6, Pak ” kata pembeli lagi.

“Nggih, Mas, seket mawon,” jawab Kang Panut tanpa memandang pelanggannya sambil tangannya tetap asyik mengisi mangkok-mangkok di depannya.

Di waktu yang lain, salah satu dari rombongan gowes menuju kasir, “Sampun, Pak.”

“Nggih, Mas. Tambah apa saja?” tanya Kang Panut.

” Soto enam belas, teh panas enam, es-teh sepuluh, tahu sepuluh, tempe dua belas, karak tiga puluh lima,” kata pegowes mewakili teman-temannya.

“Nggih, Mas, dua ratus mawon.”

Sering kulihat orang senyum-senyum setelah mambayar makanan, mungkin merasa murah sekali. Kadang juga ada ibu-ibu yang cemberut, mungkin merasa kemahalan dan menganggap mencongak Kang Panut asal-asalan.

Aku jadi teringat, Sasa pernah cerita tentang Kang Panut yang dalam bisnisnya menganut prinsip tuna sathak bathi sanak. Laba sedikit atau bahkan rugi pun gak masalah, yang penting teman dan pelanggannya banyak. “Jangan sampai ada pelanggan kapok makan di sini,” begitu pesan Kang Panut pada semua karyawannya, termasuk Sasa yang bertugas mengatur parkir. Logika Kang Panut sederhana, tetapi cukup jitu sebagai kiat bisnis. Bila pelanggannya banyak, orang jualan apapun pasti tidak akan rugi. “Dan jangan pelit pada pelanggan agar pelanggan tidak pelit pada kita,” pesan Kang Panut di waktu lain.

Dengan naluri dan prinsip bisnis yang diterapkannya itulah soto Kartongali bisa berkembang pesat dan banyak pelanggannya hingga kini. Mereka tuman karena memang sotonya bukan hanya enak di lidah dan nyaman di perut, tapi juga bikin gobyos dan gedhek-gedhek karena murah harganya.

“Tapi itu kan cuma urusan jualan soto, Om. Punya Kang Panut sendiri. Kalau salah hitungan, yang rugi juga cuma Kang Panut atau hanya satu-dua pembeli yang merasa dirugikan,” kata Sasa.

“Maksudmu?,” tanyaku.

“Lha kalau hitungan ratusan juta suara hasil Pilpres dan Pemilu, lha kok cuma ngandalkan mencongak, ya pasti awur-awuran to, Om? Beresiko tinggi. Bisa kacau, bisa bikin rakyat protes, atau malah gegeran.”

Jindul tenan. Ternyata Sasa menghubungkan mencongak ala Kang Panut tadi dengan    quick-count lembaga-lembaga survey Pemilu/Pilpres yang konon sangat ilmiah. “Tapi benar juga Sasa,” pikirku, “Nyatanya memang hasil QC justru meresahkan masyarakat sehingga dilarang tayang di tivi.”

“Menurut Sampeyan, kenapa lembaga-lembaga ahlul-mencongak itu seperti berlomba mengumumkan hasil hitungannya?”

“Apa ya, Sa? Gak tahu aku.”

“Menggiring hati dan pikiran rakyat, Om.”

“Maksudmu?”

“Inilah politik, bukan jualan soto.”

“Lha iya. Tapi apa maksudmu menggiring hati dan pikiran rakyat tadi?”

“Ya ini cuma dugaanku lho, Om. Mungkin salah.”

“Iya, tolong jelaskan apa maksudmu.”

“Ada orang pintar, baik, dan jujur. Ada orang pintar, tapi tidak baik dan tidak jujur.”

 “Iya tahu….”

“Ada orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk berbuat kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya. Tapi juga banyak orang pintar yang menjual kepintarannya justru untuk membantu kejahatan.”

“Wah kok jadi mbulet omonganmu, Sa.”

“Makanya jangan mudah percaya pada orang yang kelihatan pintar, Om. Wah kalau omong di tivi koyo yak-yako, seakan-akan paling pintar agar penonton percaya. Padahal sesungguhnya hanya tukang sihir, Om.”

“Tukang sihir piye?”

“Ya menyihir rakyat agar percaya siapa pemenangnya. Namanya juga sihir, Om, maunya pemenang sesuai maunya si tukang sihir atau para botoh pengguna jasanya.”

Tak terasa pagi sudah beranjak siang, hampir pukul 8.00. Aku harus pulang membuka pintu rumah. Pasti karyawan Bunda Collection sudah pada datang dan belum bisa masuk ke workshop.

“Bali sik yho, Sa,” aku pun beegegas pamit ke sahabatku. Tanpa menunggu jawaban Sasa, langsung kutancap gas supaya cepat sampai di rumah.

#serialsasa

 

 

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah

USREG.jpg?fit=1200%2C757&ssl=1
30/04/2019

Oleh: Wahyudi Nasution*

Ngobrol dengan Sasa selalu jadi asyik karena sering terlontar kosa kata lama yang sudah jarang terdengar. Kadang dia terkesan seperti seorang penyair, teliti memilih diksi untuk menyatakan pikiran dan perasaannya. Kadang juga seperti seorang lawyer yang pilihan diksinya tidak mengundang tafsir ganda.

Seperti malam ini, dia datang selepas isya’ sesuai janjinya tadi pagi untuk ngopi-ngopi. Tapi bukan Sasa kalau obrolannya yang ngalor-ngidul tidak nyrempet-nyrempet situasi politik terkini, seputar Pemilu/Pilpres 2019 beberapa hari lalu, sejak masa kampanye yang berbulan-bulan hingga proses penghitungan suara yang terkesan tidak rofesional dan amburadul. Seperti biasa, aku pun lebih sering menjadi pendengar yang baik, yang hanya sesekali nyenggaki untuk sekedar menjaga agar omongannya tidak nggladrah ke mana-mana.

“Ibarat pertandingan sepakbola, Om, wasit kok tidak kunjung niup peluit panjang tanda permainan sudah usai, ya. Tim sukses, pemilik klub, para wasit, dan PSSI malah usreg sendiri. Rakyat yang jadi penonton ini jadi capek to, Om?”

“Ini politik kok, Sa. Bukan sepakbola.”

“Aku cuma khawatir kalau penonton jadi gak sabar lalu ngamuk.”

“Ngamuk piye?”

“Om, penonton juga tahu ada yang tidak beres dalam pertandingan ini? Kalau dalam sepakbola, para pemain dan pemilik klub bisa disogok supaya mau mengalah. Wasit juga disogok supaya mau kerjasama ngatur pertandingan agar pemenangnya sesuai maunya para mafioso sepakbola.”

“Ini bukan sepakbola kok, Sa.”

“Lha ya itulah masalahnya, Om. Ini memang bukan sepakbola yang penontonnya tidak terlibat. Tapi ini politik. Pemilu dan Pilpres. Semua rakyat dilibatkan dalam pertandingan untuk memilih penyelenggara negara. Kalau ada yang tidak beres, misalnya panitia Pemilu melakukan manipulasi suara, tentu rakyat bisa ngamuk karena diapusi.”

“Sa, bagaimana kalau kita mencoba bersabar dan percaya saja pada panitia yang tentu juga mumet menghitung suara sampai selesai?”

“Rakyat ini kurang sabar apa to, Om? Sudah berbulan-bulan diberondong kampanye para Caleg dan Capres-Cawapres. Sudah berbulan-bulan kita diiming-imingi, bahkan ada yang diancam-ancam supaya milih ini milih itu. Berulang-ulang rakyat ikut pemilihan-pemilihan, tapi ternyata cuma kapusan terus. Meski begitu, Om, rakyat masih berharap akan ada perubahan, berharap akan ada perbaikan pengelolaan negara.  Makanya kita kemarin mau ikut Pemilu-Pilpres.”

“Rakyat juga seneng disogok to, Sa? Ayo ngaku saja, kemarin kamu dapat amplop berapa, lalu milih siapa? Wkkk…..”

“Weelha malah diece.”

“Tentu Sasa ingin pemenangnya yang kemarin ngasih amplop, to? Hayo ngaku saja…..”

“Jindul ik…”

“Ngene lho, Sa. Siapapun Calegnya, siapapun Capres-Cawapresnya, yang kemarin sudah mengeluarkan duit banyak tentu ingin terpilih dan menjadi pemenang. Apalagi yang sedang berkuasa, tentu akan menggunakan kekuasaannya agar bisa menang dan kembali berkuasa.”

“Ya pasti, Om.”

“Yang belum berkuasa dan ingin berkuasa tentu juga berjuang keras mengerahkan segala daya agar bisa memenangkan pertandingan. Bener gak, Sa?”

“Iya ya, Om. Makanya usreg. Mbokya ada yang mau mengalah saja biar segera rampung masalahnya, ya.”

“Kalau mengalah dalam pertandingan, itu namanya tidak sportif, Sa. Ngapusi pendukung dan pemilihnya.”

“Iya ya, Om. Jadi biarkan saja mereka usreg terus, ya?”

“Lha kan sudah ada jadwalnya kapan penghitungan suara ini harus selesai dan diumumkan siapa pemenangnya. Sabar sik to, Sa.”

“Ah sudahlah, Om. Aku mau pulang dulu. Mudah-mudahan masalah tidak semakin ngombro-ombro sehingga rakyat bisa sabar dan tidak ngamuk. Kalau harus ngamuk, aku juga masih siap kok, Om. Sudah lama tidak ngantemi orang….hahahaa.”

Sasa pun langsung pulang, nggenjot sepeda jengki andalannya. Malam sudah cukup larut, saatnya menuju peraduan.

 

#serialsasa

 

*Penulis adalah anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah

 

 

Ilustrasi-kualitas-pemilu.jpg?fit=1200%2C819&ssl=1
22/04/2019

Oleh: Wahyudi Nasution×

Jam 6 pagi, warung baru buka dan masih sepi. Sasa belum tampak batang hidungnya. Memang, bila pas hari libur, biasanya setelah jam 7 baru banyak pembeli. Dimulai para pegowes dari berbagai penjuru yang mampir untuk sekedar istirahat dan sarapan sebelum melanjutkan perjalanan.

Lalu datang juga beberapa rombongan keluarga dari luar kota yang sengaja datang menikmati sarapan soto klangenan. Begitulah, warung Soto Kartongali biasa jadi jujukan bagi orang yang ingin sarapan pagi sambil istirahat. Lalu mereka tuman kembali lagi di lain waktu karena rasa soto yang khas dan bikin gedhek-gedhek.

Karena masih sepi, kulihat Yu Semi yang biasa bertugas menggoreng tahu-tempe masih bisa ngobrol dan gojegan dengan teman-temannya. Tanpa sengaja nguping, aku yang kebetulan duduk di ruangan dekat dapur bisa mendengar dengan jelas obrolan mereka. Walaah, ternyata emak-emak dapur sedang me-review Pemilu dan Pilpres dua hari lalu. Kudengarkan obrolan mereka sampil menikmati soto dan teh nasgithel.

“Kemarin kamu dapat amplop berapa, Mar?” tanya Yu Semi pada Yu Marni.

“Lumayan, Yu. Dapat lima,” jawab Yu Marni.

“Isinya berapa?”

“Ada yang 20, 25, 30, dan ada yang 50. Lumayan bisa buat nyangoni sekolah anakku.”

“Kalau kamu dapat berapa, Sri?,”  Yu Semi tanya pada si Sri yang biasa bertugas nyuci mangkok, sendok-garpu, dan gelas.

“Dapat tiga, Lek. Yang satu isi 30 ribu, yang dua isi 50 rb. Lumayan,” jawab si Sri.

“Kalau kamu dapat berapa, Tin?” Yu Semi tanya lagi ke Tini pelayan yang paling muda usia.

“Di desaku semua cuma dapat satu amplop, Mbokde. Isinya 50 ribu. Tapi masjid kami sudah dibelikan karpet bagus sebelum coblosan,” jawab Tini sambil tangannya ngelap sendok dan garpu.

“Lumayan itu, Tin. Bisa dipakai bersama-sama dan pasti awet.”

“Iya, memang selama ini masjid kami masih anyep karena belum ada karpetnya. “Kalau di tempat Mbokdhe bagaimana?,” Tini balas bertanya.

“Di tempatku gak ada amplop, Tin. Tapi ada satu caleg yang janji mau belikan tenda setangkep. Caleg lainnya janji mau belikan kursi lipat 50 buah.”

“Masih janji semua to, Mbokdhe?”

“Ya masih janji, tapi karena bapak-bapak pengurus RT sudah percaya dan mantap, ya semua warga mendukung.”

“Kalau nanti calegnya gagal bagaimana, Mbokdhe? Kan gak jadi dapat tenda-kursi?”

“Ya gak apa-apa, Tin. Sebenarnya kami juga tidak minta kok. Kalau mereka tidak jadi, tidak terpilih, ya mending gak usah ngasih saja. Mesakke, Tin. Caleg-caleg itu pasti sudah habis banyak duitnya.”

“Iya ya, Yu,” Yu Marni menyahut, “Mesakke. Apalagi kita ini tiap bulan sudah dapat beras dan telur PKH. Banyak juga yang masih dapat bantuan pendidikan dan kesehatan. Bantuan PKH yang biasanya dibagikan akhir bulan, kemarin sudah kita terima sebelum Pemilu.”

“Lha iya, Mar. Makanya kita ini harus manut sama Pak Kades dan mas-mas pendamping PKH. Disuruh milih ini ya milih ini, disuruh milih itu ya milih itu. Daripada nanti gak dapat PKH lagi, to?”

“Kalau di tempat Pakdheku malah lebih enak lagi, Mbokdhe.”

“Lebih enak bagaimana, Tin?”

“Sebelum coblosan sudah dapat PKH dan dibagi amplop 50 ribuan. Pas coblosan semua datang ke TPS hanya untuk duduk, makan-makan, dan ngobrol. Para petugas TPS yang bekerja nyobloske.”

“Wah, itu namanya bukan Pemilu, Tin. Itu andrawina, resepsi, pesta.” Terdengar gelak-tawa orang-orang dapur.

“Lha katanya memang pesta, Mbokdhe? Pesta demokrasi. Semua diundang ke TPS. Kita pun meluangkan waktu untuk datang. Lumrah kalau ada makan-makan.” Kembali terdengar gela-tawa emak-emak dapur Kartongali.

Kulihat di ruang sebelah sudah penuh pembeli. Aku pun teringat harus segera pulang karena ada kerjaan menunggu. Setelah bayar ke Kang Panut di ruang depan, aku langsung ambil sepeda dan siap pulang dalam kondisi perut hangat dan badan masih gobyos bersimbah keringat.

“Loh, Om, kok tumben mruput pagi-pagi ke sini? Kok naik sepeda?” Rupanya Sasa sudah bertugas di tempatnya sejak tadi. Untung dia gak tahu aku ada di dalam.

“Iya, Sa. Ethok-ethoke olah raga gowes sambil nyoto,” jawabku sambil lalu.

“Nanti malam aku sowan ke rumah ya, Om. Tolong disiapkan kopinya…hahahaa.”

“Siap, Sa. Tenan, lho, kutunggu bakda isya’,” jawabku sambil mancal sepeda meninggalkan Sasa.

 

#Serisasa

*Penulis adalah Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah

Nurkahmis-Alfi.jpg?fit=782%2C509&ssl=1
30/09/2018

Bukan Basa Basi

Oleh: Nurkhamid Alfi*

Setidaknya ada dua peristiwa besar yang terjadi minggu kemarin, dimana dulu, sebelum terjadi, sempat menjadi perbincangan hebat di publik. Bahkan banyak yang mencibir, baik di media “nyata” maupun “maya” melalui sosial media.

Memang, dengan dalih demokrasi orang bisa berbicara apa saja. Setiap orang bisa menjadi “wartawan”. Bebas menulis, tetapi tanpa konfirmasi. Media sosial telah dipakai untuk membangun opini dan persepsi masyarakat, tanpa adanya verifikasi dan konfirmasi. Publik sulit mengetahui keabsahan dan kebenarannya. Celakanya, publik dengan perilaku instan, sering gampang menelan informasi apa adanya.

Sehingga, pada lingkungan publik sering tercipta disinformasi akibat pemberitaan bohong. Berita hoax berseliweran nyaris 24 jam tanpa henti. Masuk dan “menancap” di kepala publik.

Peristiwa pertama adalah, ditutupnya secara formal reklamasi di Teluk Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, secara resmi telah menerbitkan Surat Keputusan No. 1409/2018, sebagai dasar mencabut izin prinsip 13 pulau reklamasi yang dilakukan oleh Pengembang Besar, seperti PT Agung Podomoro.

Namun demikian, masih ada 4 pulau yang tidak dicabut, alias dibiarkan untuk berkembang, termasuk di dalamnya yang dimiliki oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro), BUMD Pemprov DKI.

Sebenarnya, hampir semua kota-kota besar di dunia, dalam mengembangkan kawasan modern, selalu memakai sistem reklamasi. Ketika saya masuk Hongkong pertama kali di tahun 90-an, negara-kota itu sedang gencar-gencarnya meng-urug pantainya untuk dijadikan sebuah kawasan komersial. Begitu juga dengan Shanghai, China . Apalagi Singapura.

Hal ini dilakukan karena disamping persediaan lahan kosong yang semakin berkurang di kota-kota besar, menata kawasan baru hasil reklamasi relatif lebih mudah. Mudah membikin sanitasi. Mengatur arus transportasi dan efisiensi pemanfaatan lahan bisa lebih baik. Pendeknya, menata kawasan agar lebih indah dan sehat dengan perangkat tata kota modern lebih bisa diwujudkan pada wilayah reklamasi. Sehingga tercipta peradaban modern dalam tataran sosial dan komersial. Ingat. Membangun peradaban membutuhkan uang. Peradaban identik dengan fasilitas.

Tetapi reklamasi membutuhkan investasi yang sangat tinggi. Pemprov, dimanapun itu, selalu bekerjasama dengan pengembang sebagai investornya. Hanya saja, basic design keperuntukkan dan rencana tata ruang harus dikompromikan. Pemprov, harus berorientasi pada publik sementara Pengembang harus untung. Kedua titik yang bertolak belakang ini yang harus ditata secara detail. Sehingga reklamasi akan berjalan sesuai keinginan stake holders.

Makanya, Gubernur Anies sedang menyiapkan Raperda baru. Aturan yang lebih baik dan adil. Baik belum tentu adil. Begitu sebaliknya. Raperda itu terkait dengan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta dan Rencana Zonasi Wilayah Pesisirdan Pulau-Pulau Kecil.

Kemudian peristiwa kedua yang menyedot energi publik adalah Akuisisi Freeport. Seperti mimpi selama 50 tahun menjadi kenyataan. Ini bukan basa-basi lagi. Ini kenyataan. Sekali lagi, kenyataan. Ibarat prosesi perkawinan, sudah tidak tahap melamar lagi. Pengantinnya sudah duduk di pelaminan karena prosesi ijab-kabul telah usai.

Pemerintah Indonesia, melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum – Persero) telah resmi menyepakati akta jual beli 51% kepemilikan saham Freeport McMoran Inc. dan hak partisipasi Rio Tinto di PT Freeport Indonesia.

Sales Purchase Agreement (SPA) baru saja ditandatangani kedua belah pihak. Ini seperti tandatangan di buku Nikah bagi pasangan suami-istri. Sementara proses sebelumnya, yakni, Head of Agreement (HoA), ibarat kedua calon dalam proses melamar. Jadi sangat jelas dan nyata. Tidak bisa lagi disebut basa-basi.

Karena, sistem pembayaran divestasi sebesar US$ 3,85 miliar masuk dalam klausal SPA, dimana Inalum akan menepatinya. Pembayaran akan dilakukan pada akhir November tahun ini. Tentu, saya tidak mau menulisnya sampai detail teknis, bagaimana prosesnya dari MoU, lantas HoA, dan akhirnya SPA. Sebagai profesional di bidang investasi, sedikit banyak saya tahu. Sangat rumit dan perlu kerja keras. Itu saja yang ingin saya gambarkan dalam tulisan saya ini.

Yang terpenting adalah ini: Tantangan pasca akuisisi, yakni Memilih Direksi PT Freeport. Hal ini adalah kunci. Direksi adalah “ruh” kegiatan usaha dalam sebuah perusahaan, apalagi perusahaan tambang raksasa seperti Freeport ini.

Tantangan lainnya adalah kontiunitas hasil tambang yang didapatkan selama ini. Jangan sampai kejadian Pertamina di bawah komando Karen Agustiawan terulang lagi, hingga akhirnya menjadi skandal yang saat ini sedang ditangani Kejaksaan- dengan Karen menjadi tersangka.

Ini memang kejadian tragis bagi seorang profesional. Bagaimana mungkin corporate action ditarik ke ranah hukum? Sebenarnya hal yang biasa terjadi di sebuah korporasi, jika anda ingin high return dalam sebuah investasi, maka anda harus berani mengambil high risk high capital.

Sehingga ketika Pertamina mengakuisisi 10% aset milik ROC Oil Company (ROC) di Blok Basker Manta Gummy Australia (BMG) dengan nilai US$ 30 juta. Resikonya adalah rugi. Tetapi, Direksi Pertamina di bawah Karen telah berhasil masuk dalan Fortune 500 dengan laba dua kali lipat. Saya ulangi, dua kali lipat. Ini susahnya kerja di BUMN Indonesia, kerja korporasi tidak hanya memakai logika korporasi, tetapi “harus” melewati aturan prosedur ketat, yang seringkali membuat kerja management tidak lincah dan lama.

Ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Inalum. Apalagi, Direksi baru Freeport harus siap-siap bertransisi dari operasional tambang terbuka menuju tambang bawah tanah. Setelah operasional Open Pit Grasberg berakhir, seluruh proses penambangan akan beralih ke tambang bawah tanah. Ini membutuhkan teknologi baru dan investasi besar. Selama masa transisi ini, diperkirakan memakan waktu 4 tahun. Produksi hasil tambang diperkirakan turun secara drastis, sampai tahun 2022 normal kembali setelah empat tambang bawah tanah PT Freeport beroperasi penuh.

Tapi saya yakin. Para profesional Inalum adalah putra-putri terbaik, yang mampu menjawab semua tantangan ini, dan menjadikan Indonesia sebagai Negara gagah perkasa, berdiri sama tinggi dengan negara-negara maju lainnya. Semoga…!

 

_________________________

Penulis adalah profesional yang bekerja di perusahaan asing/ Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta.

PhotoGrid_1492478512400.jpg?fit=1024%2C597&ssl=1
18/04/2017

“ORANG BERMENTAL MISKIN”​


Jack Ma berkata:

“Orang bermental miskin adalah orang yang paling susah dilayani”.

Diberi suatu peluang dengan gratis mereka pikir jebakan.
Ditawarkan investasi kecil mereka bilang hasilnya ga banyak.
Diajak investasi besar ga ada duit katanya.
Diajak melakukan hal-hal baru merasa ga ada pengalaman.
Diajak jalanin bisnis tradisional katanya berat persaingannya.
Diajak menjalankan model bisnis baru katanya MLM.
Diajak buka toko ngeluh ga bebas.
Diajak bisnis apa aja bilang ga punya keahlian.

Mereka punya kesamaan:

Nanya google, dengerin teman yang sama-sama hopeless.
Mereka berpikir lebih banyak dari pada professor, namun bertindak lebih sedikit dari pada orang buta.
Tanyakan apa yang dapat mereka lakukan untuk hidup mereka, niscaya mereka ga bisa menjawab.

Orang bermental miskin gagal karena satu kesamaan sikap : “SEPANJANG HIDUP MEREKA HANYA MENUNGGU”


Teman-teman……..
Benarkah kalian mau mengubah kehidupan kalian?
Teman-teman Jack Ma semua menolak saat diajak kerjasama.
Semua menunggu hasil Jack Ma.

Namun saat dia sukses dengan Alibaba, teman-teman nya sudah tidak sanggup untuk ikut menikmati karena saham Alibaba sudah tak terbeli oleh mereka.
Sebagian lainnya hanya bergumam : “Ya, dia memang beda”.

Ya… Jack Ma beda.

Bukan beda dari makanannya karena dia pun orang biasa.
Bukan beda dari kecerdasannya karena dia pun hanya guru bahasa inggris.
Tapi yang membedakan adalah ACTIONnya.

Saat kawan-kawan nya menunggu perubahan datang, Jack Ma melakukan sesuatu untuk berubah.

Nah…………Sampai kapan kita hanya menunggu dan tertinggal?
Lebih baik gagal dalam melakukan sesuatu.
Daripada tidak melakukan apa-apa dalam hidup ini…….  

Salam Sukses untuk semua 🙂



Ditulis oleh

Kristine Emalia

ldldff-1.jpg?fit=1024%2C768&ssl=1
16/04/2017

Anak Muda, “Mata Air” dan Sang Musafir 

Taufiq Zuliawan*

“Amarah dan kesedihan” yang berkelindan dalam hati seorang pemuda tersirat hingga ke wajah dan tatapan matanya. Ketika si musyafir melihatnya, dia tak kuasa untuk mengunci bibir dan menahan tanya. maka bicaralah ia

“Kesedihan apakah yang sedang kamu rasakan wahai anakku?” semoga kebaikan selalu bersama pemuda-pemuda sepertimu.”ujar Musafir dan Pemuda itu pun menoleh

“Adakah kesedihan yang lebih berat ditanggung kecuali  tanggungjawab kita sebagai muslim? Meski saya juga tak sempurna,”jawab sang pemuda itu kepada musafir.

Panjang sekali  pemuda itu bercerita hingga si musyafir meneteskan airmata. “Semoga Tuhan mengangkat derajat kesolehanmu,” timpal musyafir lantas minta ijin untuk bercerita.

Setelah pemuda itu mengijinkannya, maka mulailah musyafir itu mengurai kisahnya.” Wahai anak muda, sesungguhnya aku telah berjalan melalui banyak perkampungan”kata sang musafir.

Musafir masih menceritakan, di antaranya, kusaksikan satu gunung telah mati agar anak gunung itu bisa tumbuh. kusaksikan pula sebuah sungai bermata air tunggal darinya mengalir deras hingga menghidupi hutan-hutan  dan perkampungan.

ldldff
ldldff

Namun di suatu ketika mata air itu kering, maka kering pulalah hutan itu dan matilah seluruh isi perkampungan itu. Tetapi dalam kesedihanku yang teramat dalam, kutemukan sungai lain yang tak terlalu deras. ia mengalir kecil namun tak pernah kering meski musim silih berganti.

Ketika kucari mata airnya, sungguh aku takjub dibuatnya. dalam pencarianku, tak kutemukan di satu hutan, satu bukit, atau gunung sekalipun mata air sungai itu. Namun aku melihat di sepanjang tepiannya selalu ada mata air kecil.

Teramat kecil untuk mengairi sepetak sawah, namun selalu mengeluarkan tetesan sepanjang waktu. ada ratusan. Bahkan ribuan, hingga aku menyimpulkan dari merekalah sungai itu terwujud.

Ketika musyafir itu diam sejenak untuk mengambil nafas, si pemuda bertanya.” Apa sesungguhnya yang ingin engkau katakan wahai musyafir?”

Musyafir bilang,” Aku belajar dari kesolehanmu, anak muda. Meski begitu, ketahuilah, jika kesolehanmu seperti sungai yang bermata air tunggal itu, niscaya arusnya akan seketika kering tatkala kamu hanya memiliki satu alasan dalam melakukannya. lihatlah ribuan mata air di dinding-dinding sungai yang ke dua. Jika saja satu mata airnya tak menetes lagi, sungai itu masih memiliki ribuan sumber alasan untuk mengalir,”jawab sang musafir.

“Wahai musyafir, sesungguhnya aku telah ikhlas melakukan yang demikian, namun….”kata anak pemuda itu terhenti bicaranya dan si musyafir menggelengkan kepala hingga membuat pemuda itu tak melanjutkan ucapannya.

“Aku bersungguh-sungguh.” ujar si pemuda berusaha meyakinkan.
“Bacalah dan renungkanglah,” Setelah memeluk pemuda itu, si musyafir melanjutkan perjalanannya lagi dan entah ke mana musafir itu pergi. Pemuda itu hanya bisa terdiam, dan merenung apa yang disampaikan Musafir itu.

 

FB_IMG_1491775665274.jpg?fit=720%2C718&ssl=1
11/04/2017

TABIAT CULAS PENGUASA

Sungguh tidak ada penguasa yang netral
Kepentingan abadi penguasa adalah kekuasaan
Teman dan lawan ditentukan kepentingan kekuasaan
Penguasa berusaha semua bergantung padanya
Rakyat pun dibikin bingung
Lantas kekerasaan merebak di mana-mana
Novel Baswedan adalah salah satu korbannya
Masih banyak lagi yang akan dikorbankan
Sampai penguasa merasa aman atas kekuasaannya

Jangan berharap ada keadilan
Aparat penegak hukum mempermainkan hukum
Semua bekerja mempertahankan kekuasaan
Agar semua berada dalam kendali penguasa
Katanya demi menjaga keamanan
Mereka yang dituduh makar ditangkap
Polisi pun mengusulkan tuntutan Ahok ditunda
Lantas Jaksa pun beralasan penuntutan belum siap
Tidak ada jaksa yang menentang jaksa agungnya

Penguasa sesungguhnya bukan pemimpin
Mau mengalahkan egoisme kekuasaannya untuk rakyat
Tetapi mengorbankan rakyat untuk kekuasaannya
Itulah tabiat culas penguasa sejak dulu

 

Musa Asy’arie : Guru Besar dan mantan Rektor UIN Yogjakarta

FB_IMG_1491775665274.jpg?fit=720%2C718&ssl=1
10/04/2017

BUKAN JIWA YANG GELISAH
 
Kemana pun engkau pergi
Engkau pasti akan kembali ke asalmu
Selalu ada bumi yang diinjak
Selalu ada langit yang dijunjung
Jika tubuhmu berasal dari bumi
Maka akan kembali ke perut bumi
Akhirnya membusuk dan menghilang
Tetapi bukan pada jiwanya
Jiwa seseorang tidak berasal dari bumi.
Jiwa juga akan kembali ke asalnya

Dalam relasi antar jiwa
Jiwa yang absolute dan jiwa yang relatif
Maka ada pertautan keberadaannya dalam kesemestaan Kesemestaan di balik realitas unik keaneka-ragaman
Jiwa yang tenang, bukan jiwa yang gelisah
Jiwa yang gelisah semakin jauh dari Tuhannya
Hidup bergelimangan dalam dosa
Akan tetapi jiwa yang tenang
Selalu memantulkan cahaya Ilahi dalam kehidupannya
Dan menemukan keunikannya dalam kesemestaan
Menemukan keabadiannya dalam Tuhan

Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan suka-cita
Masuk lah bersama jiwa-jiwa hamba-Ku
Masuklah ke dalam sorga-Ku (alquran 89:27-30)

 

Musa Asy’arie : Guru Besar dan mantan Rektor UIN Yogjakarta

FB_IMG_1491775665274.jpg?fit=720%2C718&ssl=1
09/04/2017

KENAPA TUHAN

Jutaan orang terkapar dan tewas

Karena perang terus terjadi tiada henti

Kenapa Engkau biarkan semua ini terjadi

Kezaliman demi kezaliman tiada ada habisnya

Penderitaan membuncah di mana-mana

Di negerinya sendiri tempat mereka dilahirkan

Sudah tidak memberinya rasa aman dan nyaman

Mereka meninggalkan tanah kelahiran membawa kegetiran

Sejuta doa permohonan kepada Engkau

Tetapi penderitaan rasanya makin meluas

Adakah doa sudah tidak Engkau dengar lagi

Atau Engkau memang membiarkan semua ini terjadi

Agar akibatnya mereka tanggung sendiri

Dan akhirnya mereka mau kembali

Akan tetapi para pemimpin itu sudah mati rasa

Hatinya terbungkus oleh kegelapan

Sementara tokoh agama asik sendiri dengan ketokohannya

Mereka bahkan saling menyalahkan dan menyudutkan

Para politisi berburu dan saling berebut kekuasaan

Para pebisnis berdagang senjata

Jangan biarkan mereka menangguk untung besar

Di atas mayat bergelimpangan bau amis darah

Hamba yang dlo’if  sungguh tidak mengerti

Apakah makna di balik semua ini

Tuhan berikan pencerahan pada hamba

Agar iman ini tetap terjaga

 

Musa Asy’arie : Guru Besar dan mantan Rektor UIN Yogjakarta