Rektor-UMS-di-Malaysia.jpg?fit=1024%2C1024&ssl=1
19/09/2019

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, MALAYSIA – Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si bersilaturahmi dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiah (PCIA) Malaysia, Selasa (17/9/2019).

Seminar-Nasional-Perilaku-Penyimpangan-seksual.jpg?fit=1200%2C900&ssl=1
07/09/2019

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO –  Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) menggandeng Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)  melaksanakan seminar nasional dengan tema “Menyelamatkan Generasi Penerus Bangsa dari Malapetaka Moral pada Perilaku Penyimpangan Seksual Sejenis” di Auditorium Muh. Djazman, kampus I UMS Solo, Kamis (5/9).

JP-Kejuaraan-Dunia-Tapak-Suci-I-Tahun-2019.jpg?fit=1024%2C683&ssl=1
29/08/2019

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Untuk pertama kali, Pengurus Pusat (PP) Tapak Suci Putra Muhammadiyah akan menyelenggarakan Kejuaraan Dunia Tapak Suci pada 1-5 September 2019. Kota Solo akan masuk dalam sejarah sebagai kota pertama yang menjadi tempat penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Tapak Suci untuk pertama kalinya ini.

VIP-Soft-launching.jpg?fit=1040%2C780&ssl=1
19/08/2019

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Usai menggelar peresmian awal Muktamar Muhammadiyah ke-48 (soft launching) pada Rabu (31/7/2019) lalu, panitia siap-siap menggelar Grand Launching Muktamar Muhammadiyah ke-48 pada November 2019 mendatang.

Rektor-UMS_.jpg?fit=832%2C624&ssl=1
16/08/2019

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO –  Rektor UMS, Prof.Dr. Sofyan Anif, M.Si mengatakan rencana impor rektor yang diwacanakan pemerintah dari sejumlah aspek tidak pas. Sofyan Anif menyebut aspek kultur sebagai salah satu aspek pembeda.

Din-Syamsuddin.jpg?fit=1040%2C780&ssl=1
15/08/2019

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar pembukaan besar (grand opening) Masa Taaruf 2019 di lapangan Fakultas Psikologi UMS, Rabu (14/8/2019), dengan tema “Membumikan dakwah ikatan menuju peradaban kampus yang mencerahkan”. Setelah tahun lalu menghadirkan Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Grand Opening Masta 2019, UMS menghadirkan pembicara mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode, Muhammad Sirajuddin Syamsuddin (Din Syamsuddin).

Sofyan-Anif-dikukuhkan.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1
09/08/2019

Reporter: Pujoko
MENTARI.NEWS, SUKOHARJO – Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof.Dr. Sofyan Anif, M.Si, dikukuhkan menjadi guru besar ke-25 yang dimiliki PTM terbesar di Jawa Tengah tersebut dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Kamis (8/8/2019) di Gedung Auditorium Mohammad M.Djazman.

Menandai pengukuhan guru besarnya, Prof.Dr. Sofyan Anif menyampaikan Pidato Pengukuhan Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan FKIP UMS dengan judul Pengembangan Sumberdaya Pendidik Berbasis Continuous Professional Development pada Era Disruption.

Guru besar bidang Manajemen Pendidikan ketiga yang dipunyai UMS tersebut menyampaikan bahwa perkembangan iptek yang sangat cepat ditandai munculnya era industri 4.0, bahkan sudah 5.0 di beberapa negara maju, membuat dunia saat mengalami disrupsi luar biasa besar dalamsemua aspek kehidupan termasuk pendidikan.

Menurut Rektor UMS, era disrupsi tidak hanya fenomena hari ini (to day) melainkan fenomena masa depan (the future) yang dibawa oleh para akademisi, pen-didik dan tenaga kependidikan ke saat sekarang ini.

‘Namun banyak pemimpin, pengusaha, dan birokrat, termasuk guru-guru kita masih mendalami logika “masa lalu” untuk diterapkan sekarang,” kata Rektor UMS yang kelahiran Kudus itu.

Di bidang pendidikan, fenomena berpikir dengan logika masa depan untuk diterapkan masa sekarang masih jauh dari harapan. Sehingga perlu ada reformulasi manajemen strategic dengan melakukan disruption mindset, yang mengedepankan faktor-faktor manajerial lebih berperan sebagai faktor penentu keberhasilan (critical success factor).

Dengan demikian, disruption di bidang pendidikan telah menginisiasi pengembangan strategi tata kelola model pembelajaran yang lebih inovatif, kreatif, dan selalu berorientasi masa depan yang semuanya ini harus didukung SDM pendidik yang berkualitas.

Salah satu strategi yang dijalankan sebagai model pembelajaran lebih inovatif dan berorientasi masa depan adalah pengembangan sumberdaya pendidik berbasis Pengembangan  Keprofesian Berkelanjutan atau Continuous Profesional Development.

Sofyan Anif menerangkan, berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Guskey (2000) dalam Day & Sachs (2004), bahwa kualitas pengembangan pro-fesional guru secara berkelanjutan (Continuing Professional Deve-lopment for Teachers) sangat dipengaruhi oleh konten, proses, dan konteks, yang semuanya itu akan menentukan efek peningkatan pengetahuan dan praktik pengajaran di sekolah.

Aktivitas CPD harus memenuhi kebutuhan profesional guru secara individu dan dapat menunjukkan korelasi antara kebutuhan pengembangan profesi guru dengan kebutuhan pengembangan sekolah.

Day & Sachs (2004) menambahkan bahwa di samping kesesuaian dengan kebutuhan individu guru dan pengembangan sekolah, kualitas pengembangan profesional guru secara ber-kelanjutan juga dipengaruhi oleh adanya aktivitas monitoring dan evaluasi kepala sekolahnya. Monitoring yang dilakukan sebagai bentuk pengawasan yang dilakukan kepala sekolah untuk melihat keseriusan dan perkembangan yang ada, dan sekaligus kegiatan evaluasi terhadap kelemahan-kelemahan yang terjadi selama guru mengikuti kegiatan pengembangan.

Sistem CPD cukup banyak dijalankan di negara-negara Eropa seperti Inggris Raya seperti di Inggris, Wales, Irlandia, dan Skotlandia.

Apa yang berbeda dengan sistem CPD yang dikembangkan Sofyan Anif dengan sisten CPD yang sudah ada?

Sofyan Anif telah mengembangkan model tersebut menjadi sebuah model yang tidak saja berkelanjutan tetapi lebih komprehensif dan terpadu dengan menambahkan aspek pengawasan dan material content yang berorientasi pada perkembangan industri 4.0 dalam rangka menyongsong era disrupsi.

Model pengembangan kompetensi guru pasca sertifikasi yang dikembangkan oleh Anif ini, lebih mendasarkan pada kebu-tuhan guru kedepan yang menjadi tuntutan pengembangan profesi guru seiring dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang telah memasuki era industri 4.0.

Model yang dikembangkan Anif tersebut memiliki lima karakter pengembangan dari model-model sebelumnya. Pertama, model ini diawali dengan uji kompetensi awal oleh guru yang akan dijadikan dasar untuk analisis kebutuhan kompetensi yang akan dikembangkan melalui perencanaan kegiatan peningkatan kompe-tensi di masing-masing MGMP sesuai dengan bidang mata pela-jaran.

Dengan demikian, guru akan lebih fokus mengikuti kegiatan peningkatan kompetensi sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kelemahan kompetensi yang dimiliki guru, yang masing-masing guru berbeda.

 

Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Manajemen Pendidikan FKIP UMS oleh Rektor UMS, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si yang dikukuhkan jadi Guru Besar pada Kamis (8/8/2019). (dok.Humas UMS).

Kedua, model ini memiliki aspek keberlanjutan atau berbasis continuous professional development (CPD) dan bersifat terpadu. Artinya, pengembangan kompetensi bersifat terus menerus dan memadukan antara kompetensi yang dibutuhkan dalam era disrupsi dengan peningkatan kemampuan penguasaan ipteks yang berorientasi pada era industri 4.0.

Dengan demikian, kegiatan peningkatan kompetensi yang dilakukan oleh guru-guru lebih diarahkan dalam rangka pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan sekaligus menyiapkan kompetensi guru dalam menghadapi era industri 4.0.

Guru harus merubah maindset-nya dalam proses pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada aspek sebagai motivator, inspiratory, dan fasilitator sehingga mampu membangun karakter siswa yang kreatif, inovatif, dan handal dalam pengertian mampu menghadapi perkembangan ipteks yang berkembang begitu cepat dan dinamis (Choudhary & Bhardwaj, 2011). Inilah disruption yang harus dihadapi secara holistic dalam pemenuhan kebutuhan SDM pendidik ke depan.

Ketiga, adanya penguatan aspek pengawasan oleh atasan (pengawas mata pelajaran atau kepala sekolah) yang dilakukan secara periodik setiap kegiatan akademik dan pengembangan profesi.

Tugas kepala sekolah lebih diarahkan pada aspek fungsio-nal, artinya tidak saja untuk memenuhi tugas administratif tetapi lebih menonjolkan pada fungsi akademik serta mensinergiskan antara pengembangan kompetensi guru yang menjadi kebutuhan sekolah untuk mengantisipasi perkembangan Ipteks ke depan dengan visi misi sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan secara umum (Sandholtz & Shea, 2010).

Keempat, penguatan aspek evaluasi untuk mendapatkan feed-back dalam perencanaan kegiatan berikutnya. Evaluasi meru-pakan salah satu fungsi manajemen pendidikan yang memiliki peran penting dalam mewujudkan kualitas pendidikan.

Peran dan fungsi evaluasi tidak sekedar memberikan informasi tentang capaian sebuah program tetapi lebih pada memberikan penyam-paian informasi yang aktual dan faktual kepada pemangku kebijakan pendidikan sebagai dasar dalam rangka perencanaan dan pengembangan sistem pendidikan ke depan yang lebih baik

Kelima, Adanya kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan Perguruan Tinggi dalam kegiatan akademik maupun pengembangan profesi guru secara kontinyu dan terpadu.

Hal ini menjadi tahapan yang sangat penting karena sekolah dan guru membutuhkan informasi lengkap tentang perkembangan ipteks mutakhir, sekaligus bisa menjadi sumber pembelajaran akademis dalam era disrupsi seperti sekarang ini, yang pada gilirannya akan mampu memberi penguatan kompetensi akademik bagi guru maupun peserta didiknya. (*)